
Ten mengangguk, "Benar. Kukira awalnya akan dijadikan orang-orangan sawah. Tapi ternyata sebagai media aku berlatih menyerang mereka."
"Berlatih menyerang mereka? Maksudmu patung manusia kayu itu sebesar orang dewasa? Kukira hanya miniatur kecil," ucap Kai yang manggut-manggut paham.
"Wah, itu hebat! Aku jadi ingin ikut berlatih bersamamu saja, agar aku bisa melindungi diri ketika aku pergi berburu," seru Hiro antusias yang mengundang perhatian Kai untuk menoleh.
"Hanya kau saja? Aku ikut juga dong berlatih!" ucapan Kai diikuti anggukan semangat dari Zou. Hanya Kyo saja yang sedari tadi masih diam. Mungkin dia masih takut.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bilang ke Ayah untuk melatih kalian juga, besok waktu bermain kita gunakan untuk berlatih saja bagaimana?" tanya Ten mengusulkan idenya. Karena tidak mungkin mereka meninggalkan pekerjaan demi latihan, jadi satu-satunya cara adalah mengganti waktu bermain mereka menjadi waktu berlatih.
"Aku setuju! Jadi sudah diputuskan kalau besok kita langsung kerumahmu begitu pekerjaan kami beres," ucap Kai sepihak. Karena tidak ada yang membantah, jadi Kai mengira semua orang setuju.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, aku masih ingat perkataanmu tadi, Ten. Kau bilang karena patungnya besar, jadi kau mengira akan digunakan untuk orang-orangan sawah kan? Orang-orangan sawah itu apa, dan gunanya untuk apa?" tanya Zou, sebenarnya ketimbang berlatih untuk melindungi diri saat berburu, ia lebih tertarik dengan urusan bercocok tanam yang selama ini menjadi pekerjaan utamanya.
Ten terlihat berpikir sejenak, "Oh, itu. Orang-orangan sawah itu sebenarnya hanya sebagai pengganti kita menjaga sawah dari burung yang memakan padi. Cara ini lebih efektif daripada kita harus berbolak-balik ke sawah dan kecapekan mengusir para burung itu."
Zou menjentikkan jarinya paham, "Wow, tak kusangka idemu ini sangat hebat, Ten. Aku selama ini memang selalu capek dan lelah mengusir mereka memakan padi di sawah orangtuaku. Setelah mengusir mereka satu persatu, burung-burung itu selalu saja bandel dan kembali tak lama kemudian. Membuatku menjadi kesal saja," ucap Zou berapi-api. Tangan kanannya bahkan mengepal dan meninju-ninju udara memperlihatkan seberapa geram dia. "Tak tahukah para burung itu seberapa keras usaha petani menanam padi, membajak sawah, dan lamanya menunggu panen?" lanjut Zou dengan wajah yang sudah benar-benar jengkel.
Ten hanya tertawa hambar melihat Zou mencurahkan kekesalannya selama ini. Yang lainpun merasa kasihan juga karena tugas mereka sepertinya tak seberat yang dialami oleh Zou.
"Sudahlah, Zou. Cepat ceritakan ideku ini ke Ayah dan Pamanmu, suruh mereka untuk membuat patung manusia dari kayu juga dan segera memasangnya di sawah!"
Zou segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa lagi. "Baiklah, aku sungguh berterimakasih pada idemu itu, Ten. Aku pulang dulu, sepertinya aku tidak bisa bermain bersama kalian hari ini, dah!" pamit Zou dan berlari meninggalkan kami berempat di pinggir lapangan.
"Dah," mereka berempat melambaikan tangan pada Zou yang sudah hampir tak terlihat.
"Zou benar, idemu kali ini sangat hebat, Ten. Zou yang pintar saja mengaguminya, apalagi diriku," lagi-lagi Hiro mengucapkan pujian dan sedikit bertepuk tangan, menandakan apresiasinya kepada Ten.
Merasa diperhatikan, Hiro menoleh ke sebelah kirinya dan melihat Kai yang menunjukkan raut sebal kepadanya, "Apa? Kau mau aku puji juga?"
Bukannya senang, Kai menjadi semakin kesal dibuatnya. "Kau sengaja mengejekku, ya?"
Tiba-tiba, Kyo yang sedari tadi diam akhirnya bersuara, "Kalian ini suka sekali ribut. Damai sehari saja apakah tidak bisa?" sepertinya Kyo mulai jengah dengan pertengkaran Hiro dan Kai.
__ADS_1
"Apakah kau dendam kepada kami?"
"Kau dendam ya sama kami?"
ucap Hiro dan Kai berbarengan. Mendengar itu Hiro dan Kai otomatis saling menoleh sebelum kemudian langsung memalingkan muka masing-masing.
"Kau meniruku, ya Hiro?" tuduh Kai masih tak menatap Hiro.
"Enak saja, mungkin itu kau yang meniruku," tukas Hiro tak terima.
Ten dan Kyo menghela napas, sedari tadi Ten hanya diam berharap sahabatnya akan akur dengan sendirinya ketika dibiarkan. Tidak tahunya justru bertambah parah saja.
"Kalian," panggil Ten membuat semuanya serempak menoleh kearahnya. "Masih tidak puaskah ribut? Aku yang melihat saja bosan," bagai sihir, ucapan Ten membuat semua orang terdiam.
Namun apa yang dikatakan oleh Ten selanjutnya membuat semua orang tercengang, terutama Kyo. "Kalian ribut sendiri itu tidak seru, lainkali ajaklah aku juga."
"Apa?" semua orang merasa ingin menjatuhkan rahangnya karena terkejut. "Kukira kamu bijak, Ten. Ternyata sama saja," gumam Kyo kesal namun masih bisa didengar oleh Ten.
Mereka bertiga yang sadar baru saja dijahili Ten serempak berucap dengan kesal, "Dasar Ten jahil."
Ten menghentikan tawanya setelah puas menertawakan mereka, "Baiklah, maafkan aku. Hanya aku memang bosan mendengar perdebatan tak berguna kalian itu."
Kai mendengus, "Oke, maafkan kami juga. Nah, sekarang karena Zou sudah pulang, bagaimana kalau kita kerumahmu saja, Ten? Aku ingin melihat patung manusia kayu itu."
Ten mengangguk tak keberatan, "Silahkan saja, ayo."
Ketika Ten membalikkan badan menyusul Hiro dan Kai yang sudah berjalan dahulu, Ten merasakan ada yang menarik lengan bajunya.
"Ada apa, Kyo?" tanya Ten setelah menoleh ke belakang.
"Aku...," Kyo berujar ragu, ia menundukkan pandangannya. "Aku takut, Ten," ucap Kyo lirih.
Ten tersenyum lembut, memaklumi Kyo yang mungkin saja menurut pandangannya manusia kayu adalah monster kayu hingga setakut itu. "Jangan takut, Kyo. Ini hanya sebuah patung, bukan asli. Kita juga tidak tahu apakah mereka benar ada atau tidak," Ten berusaha menenangkan Kyo.
__ADS_1
Melihat Kyo masih tak berkutik, Ten melanjutkan, "Tenang saja, lagipula jika itu buatan Ayahku, patungnya sama sekali tidak menyeramkan kok."
Akhirnya Kyo berani mendongakkan kepalanya, tangannya yang mencengkeram lengan baju Ten perlahan terlepas, meskipun Ten masih melihat ada gemetar di tangan itu. "Benarkah?"
Ten mengangguk semangat, "Tentu saja! Untuk apa aku membohongimu? Anggap saja itu patung manusia biasa yang terbuat dari bahan kayu."
Kyo ikut mengangguk, "Baiklah, aku akan menganggapnya begitu."
"Bagus, sekarang, ayo kita susul Kai dan Hiro," ajak Ten sambil menarik tangan Kyo untuk diajak berlari.
✨✨✨
"Wow," berbeda dengan Kyo yang hanya diam saja, Kai dan Hiro sibuk mengagumi patung manusia kayu di depan mereka.
"Bagus sekali patung manusia kayu ini, mirip sungguhan saja," puji Kai. Ten hanya tersenyum, diam-diam, dia bangga dengan karya Ayahnya yang tak pernah mengecewakan.
Hiro yang mendengar itu segera mengejek Kai, "Kau berkata seperti itu seolah telah bertemu dengan manusia kayu yang asli saja."
"Kau juga mengaguminya, kau tak berhak mengolokku seperti itu, Hiro," desis Kai sebal.
Abaikan tentang pertengkaran mereka, sepertinya Ten, Kyo, dan Zou harus banyak-banyak bersabar kedepannya karena sebanyak mereka melerai Kai dan Hiro, ujung-ujungnya mereka pasti berdebat lagi.
"Ten, Ayahmu bisa membuat patung manusia kayu sebagus ini, apakah pernah bertemu dengan manusia kayu asli?" tanya Hiro tiba-tiba.
"Eh?" tentu saja Ten terkejut. Ia sejenak ragu akan menjawab, "Entahlah...? Aku sendiri juga tak yakin."
Kyo angkat bicara, "Tunggu, katanya manusia kayu hanya mitos, mengapa kau berbicara seakan kau mempercayai ada manusia kayu sungguhan? Kau tidak takut?" tanya Kyo ditujukan untuk Hiro.
Sementara Kyo, Hiro berargumen dan Kai ikut menimbrung di obrolan mereka. Ten hanya diam, memikirikan perkataan Hiro.
Apakah benar Ayah telah bertemu dengan manusia kayu sungguhan? Bukankah itu hanya mitos? Tapi kalau hanya mitos, bagaimana Ayah bisa membuat manusia kayu itu sangat bagus, seolah mirip dengan manusia kayu yang asli?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Ten hanya berharap Ayahnya cepat-cepat pulang dan ia bisa menanyakan kebenarannya pada Ayahnya.
__ADS_1