Emerald Soulmate

Emerald Soulmate
09. Berbaikan


__ADS_3

Zou dan Kyo tiba lebih awal di rumah Ten. Mereka sepakat menunggu yang lain disana sebelum berangkat memanah ke tempat latihan. Tiga tahun lalu, kampung ini membangun sebuah dojo latihan atas usulan Midorizawa Ken, Ayah Ten. Karena semua warga setuju, mereka sepakat untuk menggalang dana demi membangun dojo latihan.


Tujuan awalnya untuk melatih para anak muda belajar karate dan beladiri. Namun karena masih ada ruang yang tersisa, tempat tersebut digunakan untuk latihan tambahan, seperti bermain pedang kayu dan memanah.


"Hiro dan Kai mana? Dojo sudah hampir buka dan kita harus pergi kesana secepatnya, atau tempat memanah di dojo akan penuh," ucap Kyo cemas.


"Kyo, tenanglah. Aku yakin mereka pasti datang," balas Zou. Namun ia sebenarnya tak kalah cemasnya dengan Kyo.


"Daripada kita menunggu disini tanpa kepastian, bagaimana kalau kita menyusul ke rumah Kai dan Hiro saja? Setelah itu kita langsung berangkat," usul Ten.


Kyo dan Zou mengangguk bersama. "Ayo."


Mereka berjalan melalui jalan setapak menuju rumah Hiro terlebih dahulu, karena rumah Ten lebih dekat dengan rumah Hiro daripada rumah Kai.


"Permisi, Hiro. Hiroo," panggil Kyo begitu tiba di halaman rumah Hiro.


"Apakah Hiro ada?" teriak Zou sambil memasang tangannya di kedua sisi mulutnya, membentuk gestur berteriak.


Hiro keluar dari dalam rumah. "Oh, kalian," sapa Hiro.


"Hiro, ayo kita cepat berangkat ke dojo untuk memanah. Kalau terlambat sedikit, nanti dojo penuh baru tahu rasa," ujar Kyo begitu batang hidung Hiro tampak.


"Iya, kita juga belum menghampiri Kai. Kita harus bergegas sekarang," timpal Ten.


Hiro bingung menanggapi satu persatu perkataan teman-temannya. Ia mengusap tengkuk belakangnya. "Uhm, teman-teman. Apa kalian tidak marah padaku karena masalah kemarin? Aku yang membuat kekacauan tersebut," ujar Hiro lirih.


Zou menggeleng. "Ini bukan saatnya membicarakan hal tersebut. Waktu kita tidak banyak lagi, ayo pergi sekarang," dengan segera Zou menarik pergelangan tangan Hiro dan berlari. Kyo dan Ten menyusul di belakang.


Zou berlari menuju rumah Kai. Hiro yang masih ditarik Zou paham kemana arah mereka akan pergi. "Tunggu-tunggu, kita ke rumah Kai? Kenapa?" tanya Hiro bingung, tampaknya sedari tadi dia belum fokus dan tak menyadari bahwa temannya kurang satu.


"Tentu saja menghampirinya, dia kan belum berkumpul dengan kita," balas Zou sambil melirik sedikit ke belakang.


Tiba-tiba Hiro menghentikan larinya. Zou yang masih memegang tangan Hiro reflek ikut berhenti. Kyo dan Ten pun sama, mereka juga berhenti.


"Ada apa?" tanya Ten. "Kenapa berhenti?"

__ADS_1


"Aku tidak berani bertemu dengan Kai, aku sangat merasa bersalah padanya. Meskipun selama ini kami selalu bertengkar, tapi kemarin malam ketika merenung, aku sadar, aku benar-benar keterlaluan terhadapnya. Mungkin kesalahanku tidak bisa dimaafkan, karenanya aku pantas dimarahi oleh Kai kemarin," Hiro mengucapkannya dengan tertunduk.


Zou, Ten dan Kyo menghela napas. Mereka bertiga sudah mengakhiri masalah itu kemarin, berharap kelimanya segera berbaikan, namun sepertinya tidak semudah itu.


"Sudah kubilang, ini bukan saat yang tepat membahas hal ini. Simpan saja untuk nanti setelah kita selesai memanah, kita sedang dikejar waktu sekarang," lagi-lagi Zou menarik pegelangan tangan Hiro tanpa persetujuan.


Kyo dan Ten mengikuti lagi di belakang. Ten sedikit mempercepat langkahnya untuk menyamai posisi di sebelah Hiro.


"Hiro, dengarkan aku," masih sambil berlari, Hiro menoleh ke samping dimana Ten berbicara. "Masalah kemarin, jangan terlalu merasa bersalah. Itu semua salah kita bersama, jangan terbebani. Kau harus fokus pada memanah sebentar lagi, tidak baik jika masih memikirkan masalahnya," lanjut Ten.


Kyo ikut menimpali dari belakang, "Ya. Hilangkan pikiran tentang masalah itu untuk sementara, baru nanti kita bisa membicarakannya."


Hiro mengangguk. Dan mereka sudah sampai di depan pagar rumah Kai. Kebetulan, Ibu Kai sedang menyiram tanaman di halaman rumah, sehingga mereka tak perlu repot-repot berteriak mencari Kai seperti yang mereka lakukan di rumah Hiro tadi.


"Permisi, Bibi Han. Kami sedang mencari Kai, apakah Kai ada?" tanya Zou sopan.


Karena mereka berlima sudah sering bersama, Ibu Kai tidak lagi asing dengan wajah keempat teman putranya.


"Loh? Kai sudah berangkat sedari tadi, apa belum bertemu dengan kalian?" Bibi Han menghentikan aktivitas menyiramnya.


Bibi Han terlihat sedang berpikir, "Tadi sepertinya ia pamit untuk pergi memanah, apa dia melupakan janjinya dengan kalian dan pergi ke dojo terlebih dahulu?"


"Sepertinya begitu," ucap Kyo.


"Kalau begitu kami pamit pergi dahulu, Bibi Han. Maaf sudah mengganggu waktu Anda," Zou menundukkan kepalanya sebentar dan diikuti yang lainnya.


Han, Ibu Kai hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, hati-hati dijalan," beliau melambaikan tangannya.


Tanpa basa-basi lagi, mereka segera melesat ke tempat tujuan, yaitu dojo. Kemungkinan besar memang Kai sudah sampai disana terlebih dahulu.


Sebenarnya mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Ten karena rumah Ten yang paling dekat dengan dojo. Namun karena menghampiri ke rumah Hiro dan Kai, membuat mereka semakin menjauh dari dojo. Alhasil mereka justru menempuh perjalanan dua kali lipat lebih jauh dan membuang waktu yang sia-sia.


Dan benar saja, ketika mereka sampai di depan dojo. Mereka dihalangi untuk masuk ke dalam oleh seorang Sensei² yang bertugas. Itu artinya, di dalam dojo sudah penuh orang yang berlatih.


"Nah, apa kataku, kita terlambat," ucap Zou yang masih ngos-ngosan. Yang lain mengangguk, dengan kondisi tidak jauh berbeda dari Zou.

__ADS_1


"Lalu kita harus bagaimana ini? Apakah Kai sudah berada di dalam?" tanya Kyo. Ten mencoba memikirkan solusinya, sebelum sebuah suara berhasil membuat mereka berempat kaget.


"Kalian terlambat," keempatnya segera menoleh ke asal sumber suara yang berada di belakang mereka, dan menemukan Kai dengan tatapan datarnya.


"Tidak tahu kah kalian aku sudah menunggu lama disini?" Kai melipat tangannya ke dada. "Apa kalian berniat melakukan hal yang sama seperti kemarin?" tanya Kai sinis.


"Kai cukup," seru Zou. "Jangan emosian terus."


Kyo berjalan mendekati Kai, "Kejadian kemarin memang salah kami. Aku tau kau berhak marah dan melampiaskannya kepada kami. Tapi tolong jangan berlebihan, itu membuat suasana menjadi semakin rumit."


"Jadi itu salahku?" nada tinggi dari Kai berhasil membuat beberapa atensi orang melirik ke arah mereka berdiri.


Ten mengisyaratkan agar mereka pergi memilih tempat yang lebih sepi. Zou mengerti, ia segera menyeret tangan Hiro lagi. Dan Kyo melakukan hal yang sama terhadap Kai.


Kai menghempaskan pegangan tangan Kyo dari lengannya begitu Ten berhenti berjalan.


"Baiklah, hari ini kita tidak bisa memanah karena dojo sudah penuh. Kalau begitu, kita harus menuntaskan semua permasalahan ini," ucap Ten tegas.


"Jadi? Apa yang mau kalian sampaikan?" tanya Kai sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak mau menatap wajah teman-temannya.


Hiro maju. "Ini murni kesalahanku. Kalau saja aku tidak menuruti egoku dan lebih memikirkan perasaan kalian. Mungkin ini semua tidak akan terjadi, jadi aku mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Hiro sambil membungkukkan tubuhnya 90 derajat.


"Terutama Kai. Kau boleh memukulku semaumu jika marah saja belum bisa melampiaskan kekesalanmu," lanjut Hiro.


Kai menyunggingkan senyum sinis, "Heh, kau menyadari kesalahanmu sampai sebesar itu, ya?"


"Ini salah aku dan Kyo juga, kalau saja kami tidak bermain lama kemarin, mungkin Hiro tidak akan mengadakan rencana pembalasan tersebut, kau boleh memukul kami, Kai," ujar Zou sambil menundukkan kepalanya dan berdiri di sebelah Hiro. Kyo mengikuti apa yang dilakukan oleh Zou.


"Ini salahku juga, kalau saja aku tidak menyarankannya menikmati pertandingan, mungkin Hiro tidak akan melamakan waktu. Dan salahku juga meskipun aku mengetahui rencana Hiro tapi aku masih mengikutinya," Ten menundukkan kepalanya juga. Ia berdiri di samping Kyo. "Pukul aku juga, Kai."


Hiro menoleh ke arah tiga temannya yang ikut menunduk bersamanya. Dalam hati ia terharu, meski teman-temannya terlibat dalam penyebab aksinya, mereka cukup tau diri untuk ikut mengakui kesalahan mereka.


Kai mendengus, ia berjalan medekati keempat temannya yang masih menunduk. "Sudahlah, lupakan. Aku sudah tidak semarah kemarin lagi. Melihat kalian yang bersedia kupukul karena kesalahan kalian, itu cukup membuktikan bahwa kalian benar-benar menyesal dengan kesalahan yang kalian perbuat," Kai mengambil napas sebentar. "Kalian, kumaafkan."


🍃🍃🍃

__ADS_1


²Sensei \= Guru


__ADS_2