
Sebelum petang, mereka berlima segera menyudahi acara bermain mereka. Dan pulang ke rumah masing-masing. Meskipun Ten agak kecewa karena penundaan hari pertama berburunya, tapi ia cukup senang dengan janji yang diucapkan oleh Ayahnya tadi siang, yaitu membawakan banyak kelinci hasil buruan.
"Ibu, aku pulang," Ten membuka pintu rumahnya. Sepi. Kemana semua orang?
"Ibu, ibu dimana? Apakah Ayah belum pulang?" Ten membuka semua pintu kayu bilik rumahnya, dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orangtuanya.
Apakah Ayah dan Ibu belum selesai bekerja? tanya Ten dalam hati. Karena rumahnya kosong, Ten segera keluar dan menuju ke halaman belakang. Sambil menunggu kedua orangtuanya yang belum pulang, ia akan memotong-motong kayu untuk dijadikan bahan bakar untuk membuat api nanti malam yang akan keluarganya gunakan untuk memanggang kelinci.
Namun saat tiba di halaman belakang, ia justru menemukan Ibunya telah berada disana. "Ibu, sudah pulang bekerja?" sapa Ten.
Ibu Ten, Meisha Fei, menoleh karena mendengar suara anaknya. "Oh, Ten. Ibu sudah pulang sedari tadi dan menunggumu. Ayo kita potong kayu ini bersama-sama," ucap Fei.
Ten mengangguk patuh, "Iya, Bu. Kukira Ibu belum pulang tadi karena rumah sepi. Apakah artinya Ayah belum pulang?" Ten mengambil alat pemotong kayu dan mulai memotong.
"Ayahmu sudah pulang barusan. Dia membawa banyak kelinci untuk kita pesta malam ini. Apakah kamu yang memintanya?" tanya Fei sambil tersenyum. Fei sangat tahu kesukaan anaknya, dan makanan favorit Ten adalah kelinci panggang.
Ten menggeleng, "Ayah sendiri yang menawarkannya Ibu, karena tidak jadi mengajakku berburu."
Fei menolehkan kepalanya menghadap anaknya. Ia tahu bahwa suaminya tidak jadi mengajak anaknya berburu karena alasan mitos manusia kayu yang tidak masuk akal. Sebenarnya Fei tidak ingin mudah percaya, namun mendengar alasan suaminya ia takut juga kalau-kalau mitos itu benar. Setidaknya untuk berjaga-jaga, Ten tidak ikut dulu karena masih kecil, terlebih Ten belum bisa menjaga diri dengan baik.
"Sudah jangan sedih," ucap Fei menenangkan anaknya. "Kalau kamu tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan bisa melindungi diri sendiri, Ibu yakin Ayahmu pasti mengizinkanmu untuk ikut berburu bersamanya," lanjut Fei.
Ten menatap Ibunya, "Tapi, Ibu. Apakah selama itu aku harus menunggu? Lagipula, apakah mitos itu beneran ada? Kata Zou, bila belum ada bukti, maka belum bisa menjadi fakta," Ten berusaha menyanggah Ibunya dengan opini yang disampaikan Zou tadi siang.
Fei tersenyum, "Temanmu tidaklah salah, Ten. Tapi, meskipun belum ada bukti, sudah ada saksi. Kami melarangmu bukan karena mudah percaya dengan mitos itu, namun hanya untuk berjaga-jaga Ten. Karena, segala kemungkinan bisa terjadi, kan?" dengan lembut Fei menjelaskan pada Ten agar ia paham.
Ten lagi-lagi mengalah dan mengangguk, "Baiklah, Bu."
"Oh, ya, dimana Ayah?" Ten celingukan, pasalnya sedaritadi ia belum melihat batang hidung Ayahnya padahal Ibunya berkata bahwa Ken sudah pulang.
Fei melanjutkan aktivitasnya memotong kayu, "Setelah pulang, kepala kampung memanggil warga tadi. Dan Ayahmu ikut pergi bersama yang lain."
"Kalau begitu, Ayah pasti sudah menaruh kelincinya, dimana Ayah meletakkannya, Bu?" tanya Ten tidak sabar.
__ADS_1
Fei terkekeh kecil melihat antusias berlebihan anaknya, ia menunjuk ke atas sebuah meja menggunakan dagunya karena kedua tangannya masih sibuk memotong.
Ten segera berlari menghampiri meja tersebut. Ia tidak kuasa menahan air liurnya yang menetes melihat banyaknya daging kelinci hasil buruan Ayahnya. "Bu, aku akan segera menguliti kelinci ini, urusan memotong kayu aku serahkan pada Ibu," teriak Ten semangat.
Fei tertawa lagi mendengarnya, "Ya, baiklah. Lakukan sesukamu, Ten."
Dan tak lama setelah itu, Ten menaruh kelinci-kelinci itu ke sebuah wadah kayu dan membawanya menuju sungai, berniat menguliti dagingnya dan membersihkan darahnya.
Sementara itu, perkumpulan warga desa tadi sudah selesai. Ken segera pulang dan disambut istrinya yang masih memotong kayu di halaman belakang. "Apa pengumuman yang disampaikan oleh kepala kampung?" tanya Fei.
Ken melirik sekitarnya dengan was-was, seolah takut jika ada yang akan mendengarkan. "Mitos manusia kayu, makin kesini makin diperbincangkan, bukan hanya kampung kita saja, sudah banyak kampung yang telah mendengar mitosnya juga. Karena itu semakin beredar, kepala kampung menjadi takut akan musibah yang mungkin akan datang kedepannya. Jadi beliau menghimbau agar semua orang berhati-hati dan mewanti-wanti agar tidak membiarkan anak kecil masuk hutan dulu," jelas Ken dengan sangat pelan.
Fei mengangguk paham. "Oh iya, dimana Ten, apakah ia sudah pulang?" tanya Ken menormalkan nada suaranya. Seolah-olah tidak ada perbincangan serius sebelumnya.
"Sudah. Dan ia sekarang berada di sungai untuk menguliti dan membersihkan daging kelincinya," jawab Fei. "Cepat susul dia, ini hampir petang dan kelincinya sangat banyak jadi Ten pasti kesusahan," ujar Fei kemudian.
"Baiklah," Ken segera menyusul Ten dan membantunya.
Setelah pekerjaan Ten maupun Ken beres, mereka segera kembali ke rumah mereka. Fei yang juga telah selesai memotong kayu sedang menyiapkan bumbu untuk kelinci panggang.
Baik Ken maupun Fei, mereka berdua tidak memberitahukan pengumuman dari kepala kampung tadi kepada Ten. Mereka tidak ingin Ten bersedih karena tidak bisa pergi berburu entah sampai kapan. Biarlah sekarang Ten bahagia menikmati santapan kelinci panggang.
✨✨✨
Keesokan paginya, seperti biasa, rutinitas Ten adalah membantu orangtuanya, dan setelah selesai nanti, ia akan bermain bersama teman-temannya.
Namun yang mengherankan adalah, Ayahnya belum juga bersiap untuk pergi berburu padahal hari sudah menjelang siang. Ten justru mendapati Ayahnya sedang sibuk membuat orang-orangan dari kayu setinggi orang dewasa.
"Apa yang sedang Ayah lakukan?" tanya Ten heran. Ken menoleh, "Oh, ini. Ayah sedang membuat patung manusia kayu. Anggap saja seperti miniatur besar."
Ten semakin bingung, "Patung manusia kayu? Untuk apa, Yah? Untuk menakut-nakuti burung di sawah?" sedetik kemudian, ekspresi wajahnya berubah kagum, "Ayah memanfaatkan mitos untuk hal yang berguna. Ayah hebat."
Ken tertawa mendengar pujian dari anaknya, "Bukan. Sebenarnya Ayah ingin ini untuk sarana melatih dirimu. Tapi, ide orang-orangan sawah tidak buruk, kamu yang hebat, Ten," ujar Ken bangga sambil mengusap pucuk kepala anaknya gemas.
__ADS_1
Ten merasa senang karena ia bisa menjadi anak yang berguna untuk orangtuanya. Tapi tadi apa yang Ayahnya katakan? "Sarana untuk melatih diriku? Apa yang Ayah maksud?" tanya Ten.
Ken terkekeh, "Ayah dan Ibumu ingin kamu kuat sebelum tumbuh menjadi pemuda yang hebat. Jadi, Ayah menyiapkan patung manusia kayu ini untuk dirimu berlatih menyerang mereka. Sekaligus Ayah belajari teknik beladiri dan memegang senjata dengan benar."
"Waahh, hebat sekali," mata Ten berbinar mendengarnya. "Aku akan belajar beladiri dan memegang senjata, wow," Ten menatap kedua telapak tangannya tak percaya. Ia kemudian mendongak menatap Ayahnya, "Apakah ini sungguhan?"
Melihat Ken mengangguk, Ten tidak bisa lagi menahan kegirangannya, "Yeay, aku akan belajar beladiri dan memegang senjata. Aku akan berlatih dengan kuat sehingga bisa menyerang siapa saja yang melukaiku. Ini hebat!"
Ken mengangguk sekali lagi, ia puas dengan respon anaknya yang selalu antusias. Dengan ini, maka keinginan Ten untuk pergi berburu teralihkan. "Baiklah, latihan akan dimulai besok karena hari ini Ayah harus pergi berburu. Kamu bermainlah bersama temanmu, jadi anak yang baik dan pulang sebelum petang, oke?"
Ten mengangguk, dengan masih girang, ia berlari menuju lapangan dimana teman-temannya sudah menunggunya. Lagi-lagi Ken terkekeh melihat tingkah laku anaknya.
"Sepertinya kamu senang sekali, Ten?" sambut teman-temannya begitu Ten tiba di lapangan. Ten mengangguk riang, "Tentu."
Kai memicingkan matanya curiga, "Jangan-jangan kamu hari ini dapat pekerjaan ringan? Beruntungnyaa, hari ini aku capek sekali karena ikut panen di ladang dan mengangkat beberapa ribu kilo jagung," ucap Kai mengeluh.
Hiro dengan cepat membalas Kai, "Mengeluh terus, pantas pekerjaanmu berat. Lihat Ten, apakah ia pernah mengeluh?"
Kai melotot, "Kau tidak suka padaku ya, Hiro? Sedari kemarin kamu menyanggah perkataanku terus, sementara yang lain kamu puji."
Sementara Kai dan Hiro asyik berdebat, Ten menggeleng ringan, mengabaikan mereka.
"Aku senang hari ini karena Ayah membuatkanku patung manusia kayu--"
"Tunggu-tunggu, patung manusia kayu?!" Kyo menjerit ketakutan. Setelah Ayahnya pulang dari pertemuan warga kemarin, dan menceritakan pengumumannya, sejak itu juga Kyo semakin ketakutan ketika mendengar manusia kayu disebut.
Mendengar jeritan keras dari Kyo, membuat Hiro dan Kai menghentikan perdebatan tak berguna mereka. "Berhenti menjerit, Kyo. Apa kau suka sekali mengganggu pendengaran orang-orang?" tanya Kai kesal.
Zou dengan cuek berkata, "Lagi-lagi Kyo memotong penjelasan yang akan disampaikan oleh Ten."
Kyo yang mendengar protesan dari teman-temannya menundukkan pandangannya, antara merasa bersalah, juga masih takut.
Ten dengan segera melerai mereka, "Tidak apa-apa, Kyo. Wajar saja kau takut, tapi Ayahku membuat patung manusia kayu dengan tujuan yang hebat, kok."
__ADS_1
Hiro segera menolehkan pandangannya kearah Ten, "Kau bilang apa? Ayahmu membuat patung manusia kayu?"