Engineering Traveler

Engineering Traveler
CHAPTER 10 : Stereoponik


__ADS_3

“Sebuah perintah mutlak yang dikeluarkan oleh seorang ratu.”


KREEEEEEEKKKK!


Langkah kakiku berhenti dan sambil memjamkan mata ketika aku membuka pintu besar yang cukup besar dipasang diruangan yang sebagai pusat tempat ini.


“Selamat datang tuan Putri.” Seorang pelayang dengan memasang tangan kanannya didadanya dan membungkukan badannya layaknya sedang menghormati seseorang yang lebih tinggi jabatannya dari dia. Ya Namanya juga pelayan, “Boleh aku tau dari mana saja kau selama ini tuan putri, sebelum bagianda ratu memarahimu lagi untuk kesekian kali.” Aku memasang wajah kesal. Panggil saja dia Missel pelayan yang mengurus semua dan selalu memperhatikan diriku selama aku ada diistana ini, berat badannya ideal untuk seorang laki-laki berumuran 19 tahun, rambutnya berwarna biru muda dia masih muda sudah bekerja kurun waktu 5 tahun diistana ini.


“Aku tidak pelgi kemana mana aku hanya belkeliling ithtana thendili.” Sambil memalingkan wajahku “ohhh seperti itu Tuan Putri, lalu kenapa saya tidak melihat anda?.” Tanya dia “Mu-Mu-Mungkin kau tidak melihatku!.” Sembari menatap dan membuang muka. “Padahal seluruh istana sedang mencarimu lhooo~.” Aku terpojok. “ehhh-ehhh—aku belthembunyi!!” “emmmm bersembunyiikah?.” Dia mulai curiga. “lalu bagaimana kau menjelaskan luka dikakimu itu?.” Gawaaat! Aku tidak bisa menghindar dengan pertanyaan ini. “ini—ehh.” Aku gugup. “Baiklah, Tuan Putri ceritakan semuanya kebaginda ratu selekas kau mandi dan makan siang!.”


Ini menyebalkan pasti aku akan dimarahi lagi oleh kakakku itu, aku pergi kekamarku selesai mandi dan makan siang aku didandani layaknya seorang putri berbeda dengan pakaianku yang sebelumnya. Sekarang aku menggunakan Gaun ala ala seorang Putri kerajaan yang sebenarnya aku tidak begitu menyukai pakaiian ini, pakaian ini membuat ku gerah tidak bisa bergerak bebas, apa lagi ditambah aku seharian harus menggunakan mahkota putih ini. lengkap sekali aku mirip seorang bangsawan, tapi aku benar benar bangsawan. Ini soal keberuntungan aku beruntung dilahirkan di keluarga bangsawan, aku tidak bisa memilih. keluarga terdiri dari 4 anggota keluarga, Ayahku meninggal saat aku masih masih kecil, ibuku sekarang sakit sakitan yang aneh dari ibu aku tidak pernah melihat dia orang-orang kerajaan bilang ibuku sedang dirawat diruangan tertentu di istana ini, karena keadaannya yang tidak pernah sembuh, maka dari itu yang sekarang memerintah adalah kakak perempuanku dia wanita paling cantik.


Aku berjalan menuju singgasana kerjaan ini dengan berjalan yang sangat feminin, tentu saja bukan gaya berjalanku yang bisanya diluar istana kegirangan. Aku dikawal oleh Misel yang ada dibelakangku sambil memperhatikan jalanku, didepan sudah terlihat penjaga yang akan membukakan pintu menju ruangan singgasana kakakku berada.


dibukakanlah pintu yang menggah itu terdengar suara nyari pintu besar memperlihatkan isi dari pusat kerajaan Waterscape ini. Terlihat seseorang yang sedang duduk di singgasana ratu sambil menahan kepalanya dengan tangan kirinya. Aku berjalan menghampirinya dan mulai berlutut sambil membungkukan kepalaku.


Ini dia, seorang ratu yang bisa memerintahkan semua orang yang ada di WaterScape sekalipun itu adik dia sendiri, paras yang begitu cantik dengan badan dan bentuk tubuh yang ideal untuk seorang wanita berumur 14 tahun, memakai pakai yang seperti gaun milikku tapi dia begitu pantas, rambut yang dikepang bagian kanan dan dihelaikan kedepan dadanya, serta dipasangkan mahkota yang begitu itu indah menambah daya tarik dia semakin tak tertandingi, panggil saja dia ratu Steiora.


"Alice..." Suara lembuat terdengar jelas.


"Ada yang thisa thaya bantu Yang Mulia.." aku masih menundukan kepalaku menandakan masih menghormatinya.


"Angkat kepalamu, kau bangsawan Alice, dan kau sedang berbicara dengan kakakmu sendiri." aku ngangkat kepalaku.


"Baik Yang Mulia.."


"Panggil aku seperti biasanya Alice!." nadanya mulai naik.


"Baik kakak." Dia turun dari singgasananya dan mulai mendekatiku. suasana disekitar ruangan begitu tegang karena ratu Steiora adalah orang yang tegas terhadap siapapun, bahkan kepada adiknya sendiri yaitu aku. Dia tahu kalau hari ini aku kabur lagi dari istana, pasti dia akan memahariku habis habisan sekarang. Aku sudah pasrah.


Dia mulai merangkul bahuku dengan kedua tangannya dan mengajakku untuk berdiri.


"Alice sayang, Kakakmu khawatir. Kemana saja kau selama ini." sambil memeluk badanku dia tidak memarahiku seperti biasanya, ini aneh. Semua orang didalam ruangan mengeluarkan nafas panjang karena lega. karena yang bisanya ratu Steiora adalah orang sangat tegas bisa saja dia menampar atau melukaiku tapi kali ini dia malah mengkhawatirkanku.


"A-ku keluar itht-"


"Sttttt sudah sudah itu sudah tidak apa apa." sambil mengelus kepalaku.


"Ini yang terakhir Alice!." suaranya terdengar jelas pada bagian telinga kiriku sebuah ancamankah?.


"Yang Mulia, sudah waktunya." seorang perajurit dari luar ruangan memberitahu Kakakku.


"Bawa dia masuk..."


"...dan semua orang disini keluar!." Tegas dia. aku bergegas membalikan badanku dan berjalan keluar.


"Kau tetap disini Alice." suaru itu memberhentikan langkahku, aku berbalik lagi.


"B-baik."


Tak lama seseorang datang dari luar dengan berjalan penuh percaya diri, kakakku menatapnya penuh dengan keseriusan. dia berhenti tepat setelah pintu singgasana tertutup rapat.

__ADS_1


"Ada apa pemimpin Alterego datang jauh jauh kesini?." Tanya kakakku. siapa orang ini?. dengan rambut berwarna putih dan penutup mata sebelah kanan serta memakai pakaian dengan logo elang merah didadanya.


"Aku bukan Pemimpin Alterego jika datang langsung ke kediam keluarga kerajaan." jawab dia.


"Terserah, untuk apa putra dari pemimpin ibu kota Magnifique datang kesini?."


"Sudah seminggu yang lalu aku sedang mencari seseorang." jelas dia.


"Siapa?." tanya kakakku. Dia mengeluarkan hologram yang dimunculkan lewat  Ecowristwatch nya.


"Apa wargamu ada yang memiliki robot kecil ini?."


Itu MOG robot milik Mei, aku melihatnya langsung syok untuk apa dia mencari Mog. aku yang syok terdiam dan tidak berkata kata apa apa hanya memperhatikan situasi, siapa orang ini dan kenapa dia mencari Mog?.


"Tidak." jawab kakakku.


"Sebenarnya yang aku cari adalah seorang anak perempuan seumuran denganmu, yang telah mencuri buku milik kakekku."


"Lalu apa hubungannya dengan robot itu?." tanya kakakku.


"Robot itu selalu bersama dengannya."


"Aku tidak tahu, tapi mungkin bagian kependudukan dan pengunjung tahu." jelas kakakku.


"Hmmmm... Steiora, apa kau mau berkerja sama dengan ku?."


"Bekerja sama soal apa?."


"Bantu aku mencari gadis kecil itu, kau tanyakan kebagian kependudukan dan pengunjung wilayah Waterscape ini jika pencarianku tidak ada disini aku akan pergi, tapi jika kau menolak. hari ulang tahun kotamu akan ku ratakan."


"Tidak ini hanya sebuah ajakkan." kakakku terdiam.


"Penjaga!." Kakakku memanggil salah satu penjaga diluar


"Panggil petugas kependudukan dan pengunjung, tanyakan siapa saja penduduk baru dan pengunjung baru selama seminggu ini. Sekarang!"


Apa maksudnya ini. Mog dan Mei berurusan dengan anak dari pemimpin ibu kota negara. Apa yang akan orang ini lakukan jika dia tahu kalau Mei sedang di Waterscape. Sepertinya niat orang ini tidak baik, dan juga kenapa Mei mencuri buku milik kakek orang ini. Aku harus melakukan sesuatu, mei dan mog sudah menyelamatkanku tadi siang.


"Ehh... Ma-Maaf, aku boleh beltanya?." aku memberanikan diri.


"Emmm?." kakakku dan orang itu melihatku.


"Heee..." itu menyeramkan sekali.


"Siapa dia?." tanya orang itu.


"Dia adikku..."


"Ada apa Alice sayang?." tanya kakakku.


"Ji-Jikalau, kau thudah menemukan olangnya mau kau apakan dia?." dia terdiam sesaat.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." aku diabaikan begitu saja.


Mei, bagaimana ini aku takut dia akan melukai mei, selang beberapa waktu penjaga melaporkan bawah Mei dan Mog sedang berada disini. akhirnya orang itu mengetahui posisi Mei dan Mog. sekarang apa yang akan dia lakukan.


"Kau sudah punya jawaban lalu sekarang apa?."


"Aku kan ikut pesta ulang tahun kotamu." ada apa dengan orang ini.


"Sebenarnya niatmu apa kesini?."


"aku sudah jelaskan tadikan, aku sedang mencari gadis kecil, dan gadis kecil yang aku cari ada dikotamu. aku tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya."


"Yaitu saat malam haridi kolosium tepat saat pesat ulang tahun kotamu ini, Steiora!." Dia pergi menginggalakan kita.


"Kau berjanji tidak akan mengacaukan."


"Ya ya aku janji..."


"Jika tanganku tidak terpeleset.." di pergi begitu saja.


"Cih!."


"Kakak?."


"Keluar dari sini Alice." aku terdiam.


"ALICE! KAU TIDAK DENGAR!?." Dia membentakku, sehingga aku syok, aku langsung berlari dari ruang itu. sambil melihat kebelakang pintu gerbang itu tertutup aku sempat melihat kakakku mengucapkan ...


"Mother..." pintu gerbangpun tertutup rapat. aku pergi kekamarku sambil diikuti oleh Misel yang melihatku berlari.


"Tuan putri Alice!." aku terus berlari sampai aku dikamarku, aku mengunci pintuku.


Aku binggung, situasi macam apa ini. siapa orang itu, bagaimana nasib Mei dan Mog, dan kenapa dengan kakakku. semuanya belum jelas, bagimana dengan pestanya hari ulang tahun waterscape. aku harus kabur dan mencari Mei dan Mog, aku tidak mau orang yang telah menyelamatkanku dalam bahaya, aku tahu orang itu bukan orang baik.


beberapa jam aku tidak bisa melakukan apa apa semua pintu dan jendela di jaga ketat karena aku sering kabur kamarku adalah kamar paling ketat.


"Tuan Putri sudah saatnya pesta dimulai." Terdengar suaru Misel sudah memanggilku, dan ternyata pesta masih dilanjutkan tidak ada kondisi emergensi. Aku membukan pintu kamarku.


"Syukurlah kau tidak apa apa Tuan Putri. Ayo kita siap siap pergi ke kolosium."


"Mithel..."


"Ada apa Tuan Putri?." Tanya dia.


"Kau tahu plia yang tadi beltemu denganku dan kakak tadi thiang?." Misel terdiam.


"Tidak tuan putri saya tidak tahu..."  Misel memberikan pakaian yang akan aku pakai diacara ulang tahun Kota, dan langsung pergi.


Perasaan apa ini?. sepertinya akan terjadi sesuatu di pesta ulang tahun kali ini. Aku benci perasaan ini, aku bergegas mandi, memakai pakaian yang di berikan Misel, dan kali ini aku membawa tongkatku. Aku pengguna sihir, aku mempelajari seni sihir ini semenjak dari kecil, aku belajar dari sebuah buku yang aku temukan di gudang istana ini semua aku pelajari secara otodidak. Dimulai dari menyembuhkan luka kecil mengeluarkan elemen elemen Bumi ini seperti air, api, angin, tanah dan lain lain. Seni sihir ini memang populer pada zaman dulu dizaman yang serba maju ini tidak etis mengunakan seni sihir ini, tapi aku mempelajarinya karena semuanya unik.


Tokk Tokk!

__ADS_1


"Tuan putri, Ratu sudah menunggumu." Misel sudah memanggil lagi. aku bergegas, tongkatku aku masukan kedalam kapsul simple ini. sehingga muat dikantong bajuku jika terjadi sesuatu akanku gunakan.


Mudah mudahan tidak akan terjadi sesuatu.


__ADS_2