Engineering Traveler

Engineering Traveler
CHAPTER 6 : Untuk yang Berwarna Ungu


__ADS_3

“Bunga tidak perlu Make-up untuk cantik.”


            Suara anak-anak kecil yang ricuh dipagi hari membangunkanku dari tidur lelapku, aku terbangun di tempat tidur Vio melihat disampingku Vio sudah tidak ada disampingku. Mog pun sudah bangun, aku bangun dari tempat tidur sembari duduk ngumpulkan semangat, aku mengikat rambut panjangku yang setiap pagi pasti berantakan menjadi pony-tail. Mog mulai melakukan kebiasaanya setiap pagi men-scan diriku. Aku bangun dan merapihkan tempat tidur, kemudian aku turun kebawah melihat makan sudah tersedia di meja makan, Vio sudah bangun pagi pagi buta. Dia cantik, dia kesatria dan dia pandai masak suatu saat dia kan jadi orang yang banyak di idamkan oleh banyak lelaki.


“Oh Selamat pagi Mei Mog.” Sapa dia. Dilanjutkan dia menunjukan kearah toilet yang memang aku ingin pergi ketoilet.


“Kau tidak usah repot repot untuk menyediakan makanan, persediaan makannku masih banyak di scooter.” Jelasku.


“Tidak tidak kau adalah tamu disini dan aku harus melayanimu.” Balas dia.


“ayo bergegas siap siap, setelah kau selesai dengan urusanmu kita makan dan pergi berlatih bersama kakek, kakek benci orang yang lelet hehehe.” Aku pergi kekamar mandi dan bersih bersih seperti biasa Mog menunggu dimeja makan, setelah dikamar mandi aku dan Vio makan makanan yang dihidangkan olehnya.


Kami pergi ketempat latihan Vio, disebuah lapangan yang cukup luas untuk latihan dua orang. Kakeknya sudah menunggu dengan jenis pedang yang sama dengan Vio yaitu rapier. Aku duduk melihat mereka latihan disebuh batu besar seperti biasa Mog berkeliaran mencari hal baru yang akan dia Scan.


“seperti biasa lambat 10 menit!.” Kakek itu langsung berbicara keintinya. “Aku menunggu Mei kek.”.


“Tidak ada Alasan!. Pasang kuda-kuda kalian.”


Aku memeluk lutut ku sambil melihat mereka berlatih Vio memasang kuda-kuda layaknya dia sedang menghadapi seorang musuh.


“Apa kau tidak dengar! Pasang kuda-kuda kalian!!.” Suaranya lantang sebuah perintah yang harus segera dilakukan.


“aku sudah memasangnya kakek! Apa kau tidak lihat?.”


“Aku bilang kalian!!.”


“Mei sedang apa kau duduk manis disitu!!.” Kakek itu ternyata menyuruhku ikut dalam latihan mereka berdua, aku protes karena aku tidak memiliki bakat menjadi petarung seperti vio.


“aku?. Aku tidak punya bakat untuk itu kek!."


“Kau berkelana mau tidak mau kau harus bisa menjaga dirimu, diluar sana banyak orang berbahaya yang bisa saja melukaimu, perempuan harus bisa menjaga dirinya sendiri juga. TURUN KESINI!!.” Aku dibentak oleh kakek tua itu, aku turun dan mendekat ke samping Vio.


“Vio bagaimana ini aku tidak tau cara bertarung.” Sembari berbisik.


“heheh sudah ikuti saja kata kakek, kau menghindar, lari atau terserah pokoknya jangan sampai terpukul.”


“heeeeeeehh!” Aku syok. “Gunakan apapun agar kau tidak terluka. Itu cara untuk bertahan hidup” Lanjut kakek itu.


“Aturannya kalian harus bertahan jangan sampai keluar lapangan ini!.” itu adalah sebuah tantangan yang sulit bagiku aku harus lari agar kakek itu tidak menyerangku. “tenang mei aku akan melindungimu aku sudah sering berurusan dengan dia.”


Ini latihan tapi suasana sangat tegang, serangan bisa terjadi kapan saja secara kecepatan bertarung Vio sangat cepet, apa lagi kakek ini aku tidak mau menggangap remeh dia.


Lapangan ini dikelilingi bunga bunga seperti biasanya. Aturannya jika seluruh badanmu keluar lapangan kau kalah. Kakek itu memasang kuda-kuda yang serius bahwasanya dia akan mulai menyerah dia melihat kearah kami antara aku dan Vio yang akan jadi sasaran.


WUSHHHHH! Pedang kakek itu mendekat tepat sekali didepan  wajah Vio tapi Vio berhasil menangkisnya, ini gila kakek tua itu masih bisa bergerak secepat itu. Aku lari menghindari pertarungan mereka.


“lebih baik aku mengincar sasaran empuk tadi.” Kakek itu bicara pada Vio. Vio masih menahan serangan kakek. Dia melepaskan serangannya dan dia mengarahku dia mulai mendekat serangan yang menusuk membuat ku reflek menggulingkan badanku ketanah, setengah badanku keluar lapangan setengah badanku yang lain terbaring di tumpukan bunga-bunga diluar lapangan untung masih ditoleransi.


“Mei!.” Teriak Vio, dia menyerang kakeknya, dengan mudah tentunya kakek itu menangkisnya.


“serangan mendadak ya?. Cukup Mengejutkan.”


“cihhhhh!.” Vio Kesal.


Saat aku terbaring di tumpukan bunga bunga tangan kanan ku tak sengaja menyentuh sebuah tongkat tua yang panjangnya 500 meter dan ujung dari tongkat itu membentuk spiral setiap sisi tongkat itu di kelilingi akar


kecil yang membelitnya. Aku menggambilnya untuk bertahan dari serangan kakek. Tak lama kemudian setelah aku bangun kakek itu meluncurkan serangnya sedang aku belum siap.


“Mei tidak!!.” Vio berlari kearahku dengan bertaruh waktu antara vio yang akan menyelamatkanku atau kakek yang akan berhasil menyerangku aku syok dan tidak bisa apa apa. Lagi dan lagi serangan kakek itu gagal dia


terpental beberapa meter membuat dia keluar dari lapangan ternyata Mog lah yang melindungiku perisai Mog muncul lagi tanpa aku perintah dari kejauhan Mog sedang Melihatku dengan matanya seperti biasa berwarna batu Turqoiuse. Vio dan kakeknya kaget melihat Mog membantuku.


“ADUDUDUDUUHHHHHHH~ Pinggangku!.” Penyakit alami orang tua kambuh kakek itu kesakitan pinggangnya karena terpental oleh perisai Mog. Vio membangunkan kakeknya diluar lapangan pertanda latihan hari ini selesai kakek itu duduk sambil mengusap usap pinggangnya.

__ADS_1


“jadi ini Kekuatan dari robot Prototype Circle. Pertahanan yang sangat sempurna membuat pemiliknya tidak terluka sedikitpun.”  Aku mendekat kakek itu dan perisai Mog mulai hilang.


“Kau tidak apa apa kek?.” Sambil ngengulurkan tangan.


“tenang saja anak muda, kau berhasil mengalahkan kakek tua hehehe.” Dia nyengir.


“kerja tim yang bagus anak muda.” Lanjut dia.


Latihan selesai itu membuatku kelelahan, aku mengambil minum yang aku bawa ditas kecilku aku masih menarik nafas karena kelelahan. Tangan kanan ku masih memegang tongkat aneh ini yang tak sengaja aku temui.


“Tongkat apa itu?.” Tanya Vio.


“ntahlah aku menemukannya saat aku hampir kalah dalam latihan.” Jelasku.


“Hmmmm unik.”


“EHhh?.”


“stttt Mei ayo kita pergi ketambang akan ku tunjukan yang semalem kita bicarakan.” Dia menariku  kami berjalan menuju tambang yang berdekatan dengan perkampungan ini. Sepanjang jalan kamu bertemu beberapa penduduk yang selalu menyampa Vio, sepertinya dia terkenal disini banyak orang yang ramah padanya dari mulai orang tua, lanjut usia bahkan anak anak, tentu pemuda pemuda gombal juga menyapa dia.


Jalan setapak terus kami lalui sampailah kami di sebuah lembah sekitarnya tebing membuat tempat ini seperti lobang besar yang sejauh mata memandang tidak ada lagi bunga disini hanya tumpukan basi besi tua dan alat alat tambang yang sudah berkarat. Di ujung lembah ini adalah pintu masuk kedalam tambang.


“Vio, ini tidak apa apa?.” Tanyaku.


“Tenang saja tambang ini sudah tidak berfungsi.”


“Maksudku orang orang desa tidak terlihat disekitaran sini.”


“tempat ini tidak penting bagi mereka mei.” Aku dan Vio terberjalan kebawa menuju pintu tambang disusul dengan Mog yang mengikuti dari belakang. Sampailah kami di pintu tambang, pintu ini tertutup rapat dengan kawat yang sudah karatan. Vio berjalan kesisi lain menunjukan ada celah yang rusak dari kawat ini.


“sebelah sini mei.” Dia sambil masuk dari selah selah kawat yang rusak tersebut. “kau sudah tau tempat masuknya?.” Tanayku.


“Seminggu yang lalu aku pernah masuk kesini. Aku mendengar suara raungan yang aneh didalam sini.”


“HEHH?.” Aku kaget.


“Beep beep!.”


“Tidak Mog! Aku tidak Takut!.” Aku membuka pinggang dengan nada kesal.


“Hahahaha.” Vio tertawa.


Didalam sini cukup gelap hanya beberapa lampu yang masih menyala sisa ada yang mati menyala seperti di film horror. Mog mulai menyalakan lampu otomatisnya membuat matanya menjadi senter seperti waktu lalu. Vio sudah membawa senter ditangannya sendiri. Sembari berjalan aku memeluk  Mog dialah lampu senterku. Semakin dalam kami masuk tambang, perasaanku sudah tidak nyaman disini beda dengan tambang tua didekat rumahku, semakin dalam suasana semakin dingin.


“hampir sampai mei.” Aku hanya dia berjalan dengan perasaan yang tidak nyaman.


Aughhhh. Suara pelan itu terdengar dari dalam tambang.


“IHHHHH!.” Aku kaget.


Suara itu semakin mendekat dan terdengar semakin jelas pula, Vio sudah siap dengan kuda kudanya insting seorang kestaria yang didepan ada hal yang berbahaya, suara itu semakin jelas terdengar.


“DEIMONS!.” Ucap Vio, Mahluk Kerdil yang gerakannya lumayan gesit, dengan wajah seram mulut yang keluar air liur menandakan dia sedang kelaparan jalan agak bungkuk dengan posisi dia siap kapan saja menerkam yang ingin dia makan, tangan kanan yang terbuat dari besi.


“Aku tidak percaya ada mahluk seperti ini didalam gua ini.” Vio masih dengan kuda kudanya dia menunggu waktu yang tepat. Deimons itu lompat dan akan menerkam Vio, namun dengan cekatan dia langsung mengelak kesebelah sisi kiri dilanjut dengan tebasan pada bagian tulung rusuk. Seketika Deimons itu terpenal, dan tergelatak di tanah dia tak berdaya sehingga membuat dia kesakitan tak lama deimons itu menghilang menjadi aura ungu ke hitam hitaman.


“Fyuhhhh! Hampir saja tadi.” Vio mengaitkan pedang di pinggangnya. Aku hanya bisa melengo melihat kejadian tadi, Vio sungguh keren dengan tehnik pedangnya.


“Mereka Hidup kembali.”


“Deimons itu?.” Tanyaku.


“Ya, kakek pernah cerita padaku dulu selama zaman peperangan ibu kota membuat sebuah experiment yang sangat rahasia mereka mencampurkan semua mahluk hidup dengan mesin. Mau itu tumbuhan atau hewan bahkan mahluk aneh seperti tadi, yang satu tadi adalah jelmaan dari manusia kerdil yang di jadikan deimons mencampur mesin dengan DNA manusia kerdil.” Jelas dia, aku baru tahu soal itu.

__ADS_1


Vio dan aku melanjutkan perjalananku, sampailah kami ke tempat dimana sebuah tempat yang mencolok sebuah altar dengan dikelilingi batu barwarna ungu transparan, kami mendekati altar tersebut disana ada batu yang aku cari selama ini salah satu batu yang Mog bisa scan, ya Mog akan mendapatkan kekuatan baru.


“Ini dia Mei batu yang kau cari kan?.”


“tunggu aku tidak tahu ini batu yang mana aku tidak bisa membedakan mereka. Maksudku, aku hapal Namanya tapi aku tidak tahu mana batu ruby mana batu Emerland atau yang lain.” Jelasku.


“Mei, kau inget nama perkampungan ini apa?.” Tanya Vio. Aku mencoba mengingat dan aku ingat. “Amethyst.” Vio tersenyum dan menandakan kalau jawabanku benar. Kami mendekati batu itu, namun ketika Mog paling dekat dengan batu itu, batu itu bereaksi batu warna ungu transparan itu menyala dengan cahaya yang tidak begitu terang. Seketika Mog men-scan batu itu. Batu itu berhasil di scan mata Mog berubah lagi namun tidak berwarna seperti mataku, warna matanya berubah sesuai dengan batu yang dia scan. Kami terdiam beberapa saat.


“Hei mei mei?. Mog akan mengeluarkan kekuatan baru kan seperti perisai kuat mu itu.” Dia penasaran.


“ehmmmm?. Kejadiannya sama sih Cuma aku harus menyebut sesuatu tapi apa.” Aku masih kebinggungan.


“maksudku saat aku pertama mengaktifkan perisai pertama kali aku hampir putus asa dan Mog mendorongku mengatakan matra atau semacamnya, aku mulai mencupkan hal hal yang aneh dan secara kebetulan aku menyebut Shield untuk perisai.” Jelasku.


“hmmmmm!. Dibuku itu tidak dijelaskan?.” Tanya Vio.


“Emmmm.” Aku menggeleng kepala.


Vio menggambil batu itu, mengambil tangan kananku dan menaruh batu itu ditanganku “bawa ini aku yakin ini akan berguna nanti.” Jelas dia.


Aku membawanya dan kami pun keluar dari tambang ini, sampai dibibir tambang beberapa saat anak kecil melambaikan tangannya mendakan kami harus bergegas. Kami bergegas beberapa anak itu ada yang panik dan ada yang


seperti buru buru menjelaskan.


“kak Vio, itu eh kakek sedang dalam pertarungan dengan orang jahat yang datang kesini.” Salah satu anak mencoba menjelaskan situasi. “kak Vio ayo cepat.”


“Mereka ada Digerbang perkampungan!!.” Vio mulai kaget.


“ayo! Mei!.” Kami berlari menuju gerbang Perkampungan disana sudah mulai ramai meilhat situasi yang sangat tegang sepertinya kami mendekati kerumunan mencoba masuk kedalam dan ketika melihat kakek sedang kewalahan melawan sekumpulan orang lebih tua dariku, membawa Penyembur api ditangan mereka, mereka berjumlah 6 orang dengan salah satu pemimpin mereka yang sedang berdiri paling depan sisanya sedang membakar bunga bunga yang terhampar di depan gerbang. Pemimpin mereka berbadan gemuk dia juga memegang penyembur api ditangan kanannya yang terbuat dari besi dan bibir sedang  menggigit sebuah rokok dan mata melotot kearah kakek.


Vio mendekati kakek dan mencoba membangunkannya yang sedang kelelahan karena umurnya yang sudah tua. Vio terdiam, dan dia menatap orang gendut tadi didadakannya terlihat logo elang merah.


“Aku kenal kau!.” Mata vio berlinang air mata dan menjukan ekpersi wajahnya sangat marah. Orang berbadan Besar itu mengangkat sedikit kepalanya “Mata itu. Aku juga kenal Kau.” Sambil tersenyum jahat. “Kau adalah bocah penyusup yang masuk pertambangan itu!.” Aku kaget orang ini kembali lagi kesini setelah sekian lama.


Tak tanggung tanggung dengan marah yang meluap Vio langsung menyerang orang tersebut dengan mencoba menebas dadanya namun orang berbadan gendut itu berhasil menahan dengan lengan besinya.


“Ohhhh!. Kau sudah bisa melawan sekarang.” Dengan badan yang besar tak sebanding dengan badan Vio, dia membalikan serangan Vio dan berhasil membuat Vio terpental beberapa meter.


“Vio!.” Tariakku.


“Cihhhh!.” Marahnya semakin memuncak.


Vio mencoba berdiri, dia mencoba menarik nafas semacam mengontrol emosinya. Dia menancapkan pedangnya tanah dan mengikat rambut panjangnya, mengambil kembali pdangnya bersiap siap untuk menyarang lagi.


Pertarungan pun terjadi vio yang mencoba mengenai serangnya terus ditahan oleh orang gendut itu berapa kali seranganpun tak bisa mengenai orang itu, tapi nahas saat pertarungan itu terjadi Vio lengah pria berbadan besar itu berhasil mengenainya, vio tergeletak ditumpukan bunga, pria berbadan besar itu mendekati vio, dengan badannya yang besar dengan mudah menggangkat dan mencekik Vio.


“Kau terlalu cepat 10 tahun untuk melawanku.” Orang itu mempelkan penyembur apinya kebadan Vio.


Aku yang melihatnya dengan sadar dia akan membakar hidup hidup vio, kakeknya yang melihat itu mencoba bangun namun apa daya dia tidak bisa bergerak, semua warga mulai panik dan histeris keadaan tegang sekarang.


Aku syok dan aku binggung, Aku melihat sekitar tak ada orang yang bisa menolong dia. Seketika Mog memegang tanganku dia mengambil batu Amethyst di tas kecil yang aku simpan. Mog menunjukan nya padaku dengan kedua


tanganya yang mungil. Aku duduk dengan lutut ku dan menaruh tongkat yang aku temui pada saat latih tanah selama ini aku bawa.


“Ada apa Mog?.” Tanyaku.


“beep! Beep.”


“beep beep!.” Aku tidak paham apa yang dimaksud Mog tapi ada yang membuatku paham dia melihat tongkat yang aku simpan ditanah.


“aku ingin aku memegang ini?.” Tanyaku lagi.


“Beep!.”

__ADS_1


“baiklah.” Aku mencoba perlahan memahami Mog. Posisinya sama, aku memegang tongkat dengan kedua tanganku posisi tongkat itu vertikal. Aku tidak sadar seketika aku menutup mataku. Terpikir dalam pikiranku yang terbayang hanya bunga dengan spotan mulutku berkata.


“Rising Blossom!”


__ADS_2