
“DUNIA TERLALU INDAH UNTUK DISEBUT KERIPUT”
Arah panah pada scotterku menunjukan pada kecepatan 40 Km per jam yang artinya aku sedang tidak buru buru. Setelah beberapa hari aku di hujani panas nya matahari, akhirnya aku memasuki sebuah kawasan yang penuh dengan pepohonan hijau cahaya matahari tertutup oleh daun-daun pohon, sesekali cahaya matahari menerobos masuk kedalam sela-sela daun pohon membuat ada sedikit cahaya. Berjalan melawati hutan kecil ini yang disetiap sisinya berjajar pohon-pohon menjulang tinggi. Pertama kali aku melihat pemandangan seperti ini, disini sangat sejuk.
Aku memutuskan untuk berhenti sejenak, meluruskan tulang-tulang punggungku yang terus duduk mengendarai scotter, dari melewati tanah gersang menuju tempat indah ini perjalananku terbayar sudah. Aku duduk bersender kepohon besar, Seperti biasa Mog men-scan semua hal yang dia temukan. Sesekali dia bicara padaku seakan akan dia ingin menunjukan hal yang baru dia temukan.
Suasana sejuk dan tentram membuatku mengantuk, aku duduk dan bersender sambil memeluk tas kecilku dengan kaki lurus, dan akupun mulai menutup mataku. Suasana disini menghipnotisku suara burung dan suara suara angin yang menyapu dedaunan membuatku tertidur. Setelah lama terhipnotis aku terbangun, perlahan aku membuka mataku yang pertamaku lihat adalah Mog sedang duduk dikaki.
“Beep?.”
“Ya ampun Mog… Aku tertidur.”
“beep!.”
“pukul berapa ini?.”
Mog menunjukan jam hologramnya lagi waktu menunjukan pukul 12:40, aku mengusap mataku kemudian berdiri. Sambil melihat peda pada sistem Mog, tujuan ku lebih dekat menuju kepenjara Alkasban berjarak 500 Km dari tempat ku sekarang dibanding menuju ibu kota. Sejujurnya arah kepenjara dan ke ibu kota itu berlawanan. Untuk keibu kota kau harus pergi kearah timur sejauh 1000 Km lebih melewati beberapa kota, sedangkan untuk pergi kepenjara aku harus pergi ke utara yang berjarak 500 Km. Aku sedikit berpikir.
“Baiklah sudah ku putuskan.” Penuh kenyakinan.
“Aku akan pergi ke utara, Tuan A-01 Sudah berhutang budi padaku jadi aku kan menolong dia…”
“Beep?.”
“Sepertinya aku harus lebih lama meminjam buku ini.”
Aku menaiki scotter ku dan mulai perjalanku lagi. Aku benci harus meninggalkan tempat ini, tempat ini terlalu nyaman. Seperti biasa Mog duduk di bagian depan sembari memperhatikan jalan tapi dia tidak menghalangi sepedo meternya. Sampailah aku diujung hutan kecil ini cahaya putih mulai terlihat dari kejauhan sedikit-sedikit
mulai menunjukan pemandangan berikutnya. Aku tidak percaya kalau ujung dari hutan ini lebih indah dibanding dengan hutan ini, hamparan bunga luas atau bisa disebut dengan padang bunga tumbuh disini sejauh mata memandang hanya bunga yang terlihat,ini sangat indah. Bermacam macam bunga tumbuh disini.
“Mog butuh berapa lama kau akan men-Scan semua Ini?.”
“beep!?.”
Aku tak bisa berhenti memandang tempat yang indah ini, hati ku tenang melihatnya sekitarku hanya bunga dan bunga sejauh khatulistiwa. Tapi ada yang mengganggu pandanganku seseorang melambaikan tangannya dari kejauhan mulai mendekat. Seorang anak perempuan seumuranku, rambutnya panjang berwarna putih, memakai pita dengan ikat kepala yang dirangkai dari Bunga, mata yang menunjukan warna ungu agak transparan, tinggi badannya lebih tinggi dia hanya beberapa sentimeter, dan berpakaian menggunakan Dress Putih panjang menggambarkan dia perempuan yang cantik dan lucu.
“Hallo~” sapa dia.
“E-ehh hai..” jawabku.
“Kau bukan orang sini kan?.”
“Aku baru melihatmu.” Tanya dia.
“Ehmm.” Aku mengganguk.
“Kau lucu” dia sambil tersenyum, sebenarnya aku gadis yang sering bertempur dengan obeng dan mur tak layak dipanggil lucu.
“Sini biarku tunjukan sesuatu biar kau semakin cantik.” Sambil menarik tanganku.
“Oh iya nama ku Dia Hana Violeta, kau boleh panggil aku Dia atau Hana atau bahkan Vio hehehe, orang orang perkampungan memanggilku Hana, Dan kau?” Dia berhenti sambil melihat kebelakangku.
“Me-Mei.” Jawabku.
“Nama yang adil.”
“Huh?.” Aku heran.
“Dan siapa si kecil ini?.”
“Dia robot kecil ku Mog.”
“beep!!.”
“Ohhhh! nama yang lucu dan dia bisa bicara?, Oke Mei Mog kesini.” Dia menariku sampai ke tengah padang bunga ini.
Dia memetik beberapa bunga dan merangkainya menjadi ikat kepala yang terbuat dari bunga, dia memasangkan bunga itu dikepalaku dan kepala Mog.
“Hehe, kau tambah cantik sekarang.” Dia memuji lagi.
“Bagaimana aku bisa tahu kalau aku cantik?.” Tanyaku.
“Disini tidak ada kaca, tapi dirumahku ada.”
“Rumah?.” Aku semakin penasaran.
“Ya, diujung khatulistiwa itu ada perkampungan, aku tinggal disana bersama kakekku.” Dia berdiri dan berlaga mencari sesuatu. Dia memutarkan badan.
“kau mencari sesuatu?.” Tanyaku.
“Ya aku mencari rapierku” sambil melihat lihat kanan kiri. Rapier adalah pedang, ramping tajam menunjukkan, idealnya digunakan untuk serangan menyodorkan, digunakan selama abad 16 dan 17.
“Ohhh itu diaa!.”
Dia mengambil sebuah pedang dengan panjang yang berukuran 1 meter, diantara gagang pedang dan bagian tajam pedang tersebut terukir sebuah bunga yang memiliki lima mahkota bunga berwarna ungu.
“Kau bisa menggunakannya?.” Tanyaku.
“Tentu!.” SRIIIINGGGGG!! Dia menyodorkan pedangnya kedepan mukaku dan secara bersamaan perisai yang pernah mengeluarkanku dari tambang keluar secara otomatis melindungi ku dan Mog secara pedang itu tertangkis.
“Waw!. Kau bisa menggunakan sihir?.” Dia terkejut membuatnya mundur beberapa langkah.
“Maksudmu apa?!!.” Aku sedikit kebinggungan disini. Satu, kenapa dia berani beraninya menyodorkan pedang hampir mengenai wajahku. Dua, Kenapa perisai ini muncul secara otomatis tanpaku perintahkan.
“Tidak tidak, aku tidak bermaksud mengenainya, biar aku jelaskan. Aku sudah ahli menggunakan pedang ini, aku tidak bermaksud mengenai wajahmu aku hanya ingin membuatmu kaget.” Dia memberikan alasan yang aneh.
__ADS_1
Aku sedikit percaya mungkin begitu dia mengekpersikan bahwa dia ahli pedang yang hebat. Disisi lain perisai ini masih bekerja, aku melihat Mog matanya berubah lagi menjadiberwarna biru batu Torqoise.
“Sudah Mog, dia hanya menggertak saja. Dia tidak akan melukaiku Mog.” Aku tahu Mog mencoba melindungi ku sistemnya membuat dia otomatis mengeluarkan perisai ketika aku dalam berbahaya, Mog mulai menghilangkan perisainya.
“Tunggu yang mengeluarkan Perisai ini robot kecil mu ini?.” Tanya dia.
“Iya, dia bisa melakukan itu.” Jawabku.
“Wah bagaimana bisa?.” Dia semakin penasaran.
“Ceritanya panjang –“
“Ceritakan nanti pada kakek, ayo kita pergi ke perkampunganku.” Dia memotong Pembicaraanku.
“bagaimana dengan scotterku?.”
“Kau bawa dong, dia tak punya ban, scotter itu akan mengambang diatas bunga-bunga ini scottermutidak akan merusaknya.”
“Bagaimana kau tahu?.” Tanyaku.
“Orang orang diperkampunganku banyak yang menggukananya.”
Aku berjalan mengambil scotterku dan mendorongnya, Vio mengatakan perkampungannya ada diujung khatulistiwa itu. Di perjalan menuju perkampungannya dia banyak bertanya soal diriku. Aku sadar bahwa khatulistiwa itu tidak ada ujungnya, semakin mendekat diriku menuju khatulistiwa semakin dia akan menjauh. Sampailah aku diperkampungan yang membuatku selalu jatuh hati ketika melihatnya. Kampung ini dikelilingi oleh bunga bunga.
“Mei dan Mog, selamat datang di perkampungan Amethyst.”
“Waw!.” Aku kagum dengan kampung yang indah ini berbeda dengan kampung halamanku yang gersang dan sangat panas.
Teknologi sudah semakin maju seperti sekarang, belahan dunia lain sudah bisa hidup dengan mesin-mesin bahkan perkampungan yang masih menjaga ke asriannya bisa hidup dengan mesin-mesin ini. Aku salut dengan tepat ini alam bersatu dengan mesin itu hal mustahil dilakukan tapi mereka melakukannya. Kampung yang lumayan ramai dimana orang-orang saling sapa menyampa, anak kecil berlari kesana kemari, para orang tua mencari nafkah untuk keluarga, dibantu oleh robot-robot yang sesuai dengan fungsinya masing-masing, ada yang membantu membawa barang dagangan ada yang bermain sembari mengawasi anak anak kecil, dan bahkan robot menyiram bunga-bunga.
“Hey Vio, bagaimana mereka bisa seakur dengan para mesin ini.” Tanyaku.
Dia mengangkat bahu “Aku tidak tahu sejak kapan tapi ini sudah berlangsung sangat lama”. Kami berjalan menuju rumah Vio, ya aku nyaman dengan panggilan itu. Aku tidak menyangka mesin dan manusia bisa hidup berdampingan sepert ini. Seorang anak kecil menghampiri kami “Kak Vio, kau kemana saja, Kakek mencarimu dari tadi.”
“Hehehe aku hanya jalan-jalan sekitar kampung.” Vio jongkok yang menandakan bahwa dia sedang bicara dengan anak kecil.
“…. Dan itu siapa?.” Dia menunjukku.
“Oh dia mei, dia pengelana dan itu robot kecilnya Mog.” Aku menundukan kepalaku sebuah sapa untuk tidak berkata apapun tapi sopan.
“kau punya robot kecil?.” Tanya dia.
“Ya ayahku yang membuatkannya untukku.”
“Aku iri, disini anak kecil seperti ku belum boleh mempunyai robot sendiri, alasannya belum paham untuk merawatnya.” Aku hanya tersenyum melihatnya mengoceh.
“Dia bisa bicara juga lho…”
“sungguh?!.” Dia makin penasaran.
“Benarkan Mog?.” Tanya Vio pada Mog.
Anak itu semakin berisik dan beringas aku ditarik oleh Vio bahwa kita harus bergegas, aku melambaikan tangan pada anak itu. Sampailah aku di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, rumah yang terbuat dari batu dari pondasi hingga atap gentingnya dan memiliki empat jendela dua didepan dan dua dibelakang aku menyimpan scotterku di pinggir rumahnya. Vio mengetuk pintu.
“kek aku pulang.” Sambil membuka pintu perlahan.
“Dari mana saja kau!!.” Benda tajam mengarah kewajah Vio, tapi dia berhasil menghalaunya.
“heeeh!.” Aku kaget melihat kakek tua mengayunkan pedangnya dan dia masih terlihat kuat.
“Hehe, Aku hanya memetik beberapa bunga.” Vio menggaruk garuk bagian belakang kepalanya.
“kestaria tidak bermain bunga bungaan!!.” Suara kakek ini lantang sekali.
“Dan siapa yang kau bawa?.” Tanya kakek itu.
“Dia Mei dan Mog aku bertemu mereka saat memetik bunga.”
“hmmmmmm…….” Kakek itu berlaga dia sedang berpikir sungguhan memegang jenggotnya yang sudah ikut beruban.
“Aku ingat sekarang, aku kenal kau?.”
“Kau mengenal aku kek?.” Jari ku menunjuk diriku sendiri.
“Tidak bukan kau tapi robotmu!.” Mog, dia mengenal Mog bagaimana bisa. Kakek itu memberi isyarat bahwa aku dan Mog harus masuk ke rumahnya. Kami pun masuk aku duduk di kursi aku menaru barang barangku didekat pintu masuk. Vio mengambil gelas dan mengisinya dengan air teh yang masih hangat. Dihidangkanya kepadaku yang sebagai tamu disini, dia kembali kedapur.
“Anggap rumah sendiri oke?.”
Rumah ini unik ruang tamu dan dapur satu ruangan dan ada tangga yang menuju kelantai dua, paling-paling kamar tidur. Aku mengambil air teh tersebut dengan kedua tanganku dan mulai menipu bagian ujung gelasnya, beberapa tegukan aku minum.
“Jadi dari mana asalmu?.” Kakek itu turun dari lantai 2 dan langsung menanyakan hal tersebut.
“perkampungan Crece.” Jawabku.
“kau sudah menempuh perjalan jauh ya?.”
“Ya aku rasa.. hehe.”
Aku menjelaskan semua tentang aku dan yang aku alami kepada kakek tua ini, dari dimulai aku tinggal, kejadian diperkampungan, kedua orang tuaku, dan bahkan semua hal yang berkaitan dengan Mog juga. Walaupun dia lebih tertarik terhadap Mog.
“Mei, umurku sudah 90 tahun aku tahu soal robot kecilmu Mog, dan para petinggi dunia yang ingin memilikinya.” Aku tak mengerti apa maksuddari kakek ini dan para petinggi dunia yang dia maksud.
“Maksudmu kek?.” Tanyaku.
“Dunia ini dibagi menjadi 5 benua yang dimana setiap benua di pimpin oleh petinggi atau dengan kata lain adalah orang yang memimpin benua tersebut, dari ke-5 benua itu semenjak dunia semakin maju, teknologi semakin pesat, orang-orang semakin tergila-gila oleh teknologi, kehidupan dunia mulai bisa berdampingan dengan mesin mesin berjalan. Manusia adalah orang yang memiliki perkembangan yang sangat pesat mereka membuat berbagai inovasi baru lagi dan lagi. Willian Gerec ke-12, Otak dari ProtoType Mog. Dia membuat hampir begitu sempurna, Mog adalah robot serbaguna dia bisa diperintah sebagai mana mestinya, dia bisa di perintah tidak harus pada design awalnya seperti robot – robot lain, dengan kata lain Mog adalah robot yang bisamempelajari hal baru tanpa harus me-reset ulang sistemnya. Willian Gerec ke-12, aku tidak ingat pasti kenapa Mog tidak dibuat 50 tahun lalu dan baru muncul sekarang. Mog milik mu adalah versi pertama, dengan kata lain hanya kau yang memiliki Mog. Aku mendengar kejadian 50 tahun silam Willian Gerec ke-12 ingin membuat Mog menjadi alat perang untuk mengusai seluruh benua kau sudah baca buku yang kau curi dari organisasi elang merahkan?. Kau penyelamat mei, karena inti dari buku itu adalah kekuatan asli Mog. “ Aku hanya memperhatikan kakek tua ini bercerita tentang Mog yang aku adalah tuannya pun tak tahu soal dia.
__ADS_1
“Iya, dijelaskan Mog bisa men-scan ke 7 batu mulia.”
“Mog akan mendapatkan kekuatan dari batu-batu itu, setiap batu memiliki fungsi dan kekuatan yang berbeda beda, dan itu tergantung dirimu.”
“Aku?.”
“kau tuannya kau yang memerintah dia, kau bisa membuat dia jadi jahat, kau bisa membuat dia menjadi baik, dan bahkan bisa membuat dia cantik seperti sekarang.” Dia membicarakan Mog yang masih memakaiikat bunga yang diberikan Vio.
“Apa perisai tadi juga adalah kekuatan Mog?.” Dari dapur Vio memotong obrolan kami.
“Perisai?.” Tanya kakek.
“Ya, aku menyodorkan pedang ke wajah Mei ketika kami bertemu, tak sengaja perisai itu melindungi Mei, aku pikir dia penyihir hehe.”
“Kau sudah pernah men-scan salah satu dari ke 7 batu itu?.” Tanya kakek kepada Mog.
"Beep!.” Tentu dengan jawaban Mog seperti biasa.
“kakek sudah gila bicara dengan Robot hahaha.” Vio tertawa dari dapur.
“Diam kau cucu Durhaka!!.”
“Hehehe maaf maaf.”
“Itu untuk ya.” Jawabku.
Aku menjelaskan Mog pernah men-scan batu Turqouise, dan setelah Mog menscan batu itu dia bisa mengeluarkan perisai yang dapat melindungiku dari apapun sekeras apapun serangan atau tekanan dari luar.
“Makan sudah siap!.” Vio Membawakan makan dari dapur.
“Ya sudah kita makan dulu.”
Perutku sudah lapar juga, kami makan bersama sama setelah makan aku beristirhat vio dan kakeknya menawarkan aku untuk menginap disini karena haripun sudah mulai gelap. Beruntung Tempat tidur vio dengan Kasur untuk dua orang aku bisa tidur bersama Vio. Waktu menujukan jam 7 malam aku sudah mandi dan aku sudah siap untuk tidur, ini seperti dirumah aku bisa mandi seperti biasa. Setelah itu aku duduk-duduk di lantai dua sembari menperbaharui sistem Mog, duduk di meja yang disedia dikamar vio. Aku memperbaharui sistem Mog dengan menambahkan perintah-perintah serta menganalisis ‘perisai’ yang tiba-tiba muncul seperti kejadian tadi siang.
Dari tangga terdengar suara orang manaiki tangga mendekat,itu vio dengan membawa dua gelas susu coklat panas dan menaruhnya di meja tempat aku memperbaharui Mog. “Kau perempuan tapi kau tertarik dengan mesin seperti ini Mei.” Dia memulai pembicaraan.
“Ya sejak kecil aku sering melihat ayahku membuat sebuah robot-robot yang untuk diperjual belikan ke ibu kota, sesekali aku membantu dia.” Jawabku.
“Kau kuat ya Mei, dengan orang tuamu yang di culik oleh Organisasi elang merah kau mau bangkit dan mencari mereka, kalau aku sih sudah putus asa.” Aku tersenyum melihat dia.
“Ketika umurku 9 tahun orang tua ku meninggal karena kecelakaan. Waktu itu perkampungan ini sumber pertambangan yang didalam tambang itu terdapat air yang sangat jernih pertambangan itu sudah ditutup sekarang, tapi dulu tempat ini kumuh dan tidak berbunga seperti sekarang.”
“bagaimana bisa seperti sekarang?.”
“Aku dan warga disini yang menanamnya dari 1 biji bunga hingga sekrang ratusan bahkan miliaran bunga terlihat dimana-mana, Hari itu ketika aku umur 9 tahun ayah dan ibuku bekerja di tambang tersebut, karena ditambang tersebut tidak boleh ada yang masuk kecuali pekerja bahkan anak kecil, tapi karena kenakalanku aku manyusup dengan alasan aku hanya ingin bertemu dengan ibuku. Disana banyak sekali penjaga aku ingat mereka dengan baju berlogo elang merah dibaju yang mereka kenakan. aku memanfaatkan badan kecilku untuk bersembunyi di gentong, papan, alat-alat tambang, dan mobil-mobil tambang yang untuk mengangkut hasil tambang. Semakin dalam aku masuk kepertambangan pertambangan itu bukan pertambangan biasa disana semua warga dipekerjakan secara paksa tanpa diupah sedikitpun, mereka penjajah perkampungan ini banyak dari warga sini yang meninggal karena kehusan dan kepalaran bukan hanya itu mereka akan disiksa jika melakukan kesalahan sengaja maupun tidak disengaja - “
“Tunggu, aku tau elang merah itu. Dia yang membakar perkampunganku.” Aku memotong cerita Vio.
“Mereka sudah beroprasi puluhan tahun Mei. Mereka membuat tambang diseluruh dunia mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk ibu kota.”
“Apa yang digunakan untuk ibu kota?.” Tanyaku.
“Mereka Mencari 7 batu mulia, mereka membuat robot seperti Mog untuk menguasai dunia.”
“Pantas saja dulu di perkampunganku terdapat pertambangan juga sekarang sudah ditutup, aku pernah kesana dan aku menemukan buku dan salah satu batu itu, Mog men-scan batu itu dan dia mendapatkan kekuatan yang dimana dia bisa melindungiku dari apapun.”
Vio melipat tangannya didugunya seperti sedang mikirkan sesuatu “Ahaa!!.” Serentak membuat ku kaget. “Mei, kau tau apa saja batu mulia yang bisa Mog scan?.” Tanya dia dengan mata yang penuh penasaran “emmmm Diamond, Ruby, Sapphire, Emerlard, Kalimaya, Amethyst, dan Turqouise. Mog sudah men-scan Turq-”
“Amethyst. Aku tahu batu itu ada dimana,”
“Heh?.”
“Sejak aku menyusup kepertambangan aku melihat sebuah jeruji besi yang didalamnya terdapat pilar diatasnya terdapat benda yang cahaya membuat orang bisa berpaling. Batu dengan warna ungu transparan memancarkan cahaya terang ditempat itu membuatku terpesona. Saat itu aku mendekat batu itu, saking terpesonanya aku tak sadar tertangkap basah oleh para penjaga. Aku dibawa oleh pejaga ketempat para pekerja sedang bekerja. Penjaga itu berteriak sambil menggakat badan kecilku yang hanya diangkat oleh satu tangan. Dia menanyakan siapa yang membawa anak kecil sepertiku ketambang. Semua pekerja disana adalah warga perkampungan ini, aku melihat ibuku dan ayahku.”
“Merekapun syok karena yang sedang mereka lihat adalah anaknya sendiri aku mencoba mengertak mengoyangkan badanku agar lepas dari tangan penjaga itu, karena ibu tak tahan melihat anaknya di lakukan seperti itu dia menyebut namaku semua orang melihat ibuku. Secara tidak sengaja ibuku mengaku bahwa aku adalah anaknya. Penjaga yang memagangku berbisik kepada penjaga lain, aku masih mencoba melepaskan diri dari penjaga itu. Genggamannya keras, tak lama seorang berbadan besar berkulit hitam sedang merokok dengan ditangan kanannya sebuah tangan robot yang seperti senjata api menanyakan kepada ibu siapa aku. Ibuku tidak menjawab dia hanya menutup mulutnya. Orang tersebut semakin mengancam dengan menodongkan tangan robotnya kewajahku, membuat ibu dan ayahku semakin panik. Ayahku teriak dan berkata ‘dia anakku’ karena aturan disini sangatlah ketat, ayahku berlari namun di tahan oleh para penjaga ayah dan ibu di sekap. Orang bertangan robot itu membuat isyarat kepada para penjaga dengan meletakan jempol dilehernya dan menggeser dibagian tenggorokan aku tahu itu isyarat untuk hal yang tidak baik.”
“KBOOOOOOM!! Suara ledakan terdengar dari luar tambang, bunyi alarm peringatan terbunyi keras menandakan ada acamana datang, teriakan orang kesakitan terdengar dari Lorong-Lorong tambang suara semakin kencang mendekat terlihat dari kejauhan. Itu kakek dan para pejuang lainnya sedang memberontak para penjaga, kakek adalah pejuang dan ahli pedang saat muda. Seketika tambang itu menjadi ricuh situasi tidak terkendali yang terlihat olehku adalah kakek yang mencoba menyelamatkan ayah dan ibu namun salah satu pejaga menghancurkan tiang penyangga tambang sehingga langit langit bagian atas ayah dan ibuku runtuh kakek ku terlambat menyelamatkannya aku yang melihatnya teriak memanggil kedua orang tuaku mereka tertimbun langit-langit aku menangis sekencang kencangnya tangisanku membuat kakeknya langsung bergegas merebutku dari tangan orang bertangan robot itu. aku tidak sadar bagaimana kakek menyelamatkanku. Aku hanya melihat reruntuhan yang menimpa ibu dan ayahku, itu adalah hari dimana ku bisa melihat mereka…” vio mencoba menahan air matanya.
“Vio…”
“Hari itu perkampungan dan pertambangan kacau semua orang melarikan diri dan ada yang mencoba melawan. Aku dibawa kehutan dekat perkampungan disana adalah tempat evakuasi, ternyata hari itu adalah hari dimana kakek dan para pasukan lainnya akan memberontak pertambangan itu. sisa cerita dari ini aku tidak ingat saking syoknya aku pingsan terbangun setelah perkampunganku berhasil mengusir mereka dan pertambanganya tutup hingga saat ini.” Dia mengusap air mata yang keluar, aku menyadari betapa bersyukurnya aku yang masih mengetahui kalau ibu dan ayahku masih hidup berbeda dengan vio yang harus kehilangan kedua orang tuanya.
“Beep!~” Mog selesai di perbaharui, aku tersenyum melihatnya karena aku masih punya dia aku sangat bersyukur sekali. Tak lama Mog melihat Vio yang sedang mengusap matanya. Kedipan mata Mog cepat tak lama dia men-scan tubuh vio dari ujung rambut hingga kaki. Vio heran apa yang dilakukan Mog.
“Hehe… Selamat Vio dengan memperbaharui sistem Mog yang baru sekarang Mog mengenalimu.”
“Serius? Wahhhhh dia berarti tahu namaku?.” Wajahnya yang sedih berubah menjadi ceria kembali.
“Tentu..”
“Mog! Kau sekarang tahu aku kan?.” Dia langsung bertanya.
“Beeep!!.”
“UWAAAAHHH!!” dia memeluk Mog, disisi lain Mog mencoba kabur dari pelukan vio, itu lucu.
“Mei aku akan mengajakmu kepertambangan itu.”
“Heh!.” Aku syok. “Kau perlu batu Amethyst kan?. Akuingin sekali melihat batu indah itu lagi.” Ajakan yang tidak bisa aku tolak.
“Hemm tentu, besok setelah aku berlatih dengan kakek dilapangan kita pergi kesana. Oke?.” Aku mengangguk.
Hari ini aku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga rasa syukur yang sangat berharga membuat beban pikiranku tidak begitu berat. Karena takdirku yang kurasa begitu menyedihkan tidak yang seperti aku bayangkan, vio dengan dirinya yang harus kehilangan kedua orang tuanya. Masih bisa ceria hingga saat ini. Aku harus terus maju orang tuaku masih ada aku harus menemukannya segera. Aku tidur dengan Vio yang memiliki Kasur cukup untuk dua orang “Selamat malam Mog, selamat Malam Vio.”
“selamat malam Mei, Mog”
__ADS_1
“Beep beep!~”
“Hehehehe” Vio tertawa kecil.