Engineering Traveler

Engineering Traveler
CHAPTER 2 : Buku Pemburu Harta karun


__ADS_3

“LUKA BAKAR DALAM HATI MENJADIKAN SESEORANG KUAT ATAU GOSONG.”


"Mei sayang, dengarkan ibu apapun yang terjadi jadilah dirimu sendiri dan ikuti kata


hatimu."


"Ibu?. Ibu mau kemana?."


"Ibu!!?."


    Aku terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman membuat Mog juga ikut terbangun. Syukurlah


ini hanya mimpi, Mog melihatku yang panik sedang duduk di tempat tidur.


"Beep?."


"Tenang Mog aku hanya bermimpi buruk."


"Beep beep??."


"Ya nanti akan ku ceritakan jika keadaanku sudah baik…"


"Pukul berapa sekarang Mog?."


"Beepp~"


    Mog menunjukan jam hologramnya kepadaku, itu jam 5 pagi, waktu yang tepat untuk bersiap-siap kepasar . Aku bergegas ke kamar mandi dan Mog turun  kedapur untuk menungguku dibawah. Dibenakku masih terbayang mimpi buruk itu, hati dan pikiranku mencoba untuk tenang tapi keduanya selalu bertolak belakang, dan akhirnya aku memikirkan hal  menyenangkan yang dapat aku lakukan hari ini. Ya, baru saja ingat aku dan Mog akan pergi ke tempat yang ditunjukan Mog. Ini pasti menyenangkan bisa berpetualang dengan robot kecil terbaikku.


    Selesai mandi seperti biasa turun kedapur untuk makan dan bersiap - siap. Dibawah Mog yang sedang duduk di meja makan selalu menungguku disana, itu cukup untuk dia karena badannya yang kecil seukuran bola sepak.


"Selamat pagi ibu, selamat pagi Moggieee~"


    Moggie adalah nama lengkap robot ku ini sekaligus nama sayangku padanya, atau orang orang bilang panggilan sayang.


"Beep beep" seperti biasa dia men-scan badanku setiap pagi.


"Tumben sekali bangun lebih awal hari ini?..." tanya ibuku.


"Hehehe hanya sedang bersemangat dan tidur cukup."


"Ayo cepat makan, lebih awal datang kepasar lebih baik."


"Hmmm!"


"Beep?."


    Mog mengirimkan sinyal ke ayahku, namun dengan sinyal berwarna kuning, itu terlihat dari matanya yang berubah menjadi bar loading. Ada beberapa tanda jika aku baik-baik saja bar itu akan hijau, jika aku sedang bermasalah seperti sakit, kesakitan dan lain-lain bar itu berwarna kuning dan jika aku sedang bahaya bar itu akan berwarna merah. Sementara aku makan aku tidak menyadari bar itu berwarna kuning, aku pun tidak tahu kenapa dengan diriku sedangkan keadaanku baik-baik saja. Beberapa saat kemudian Ecowristwatch ibuku berdering, Ecowristwatch ialah semacam Jam tangan teknologi modern yang bisa menerima panggilan layaknya telepon genggam, Lalu Dia menggambil sebuah earphone di saku bajunya, memasangnya ditelinga kiri dan menerima panggilan yang tentu itu dari ayahku.


"Hallo sayang?." Tanya ibuku.


"Mei?. Dia baik-baik saja sedang makan dirumah?."


"Bar kuning?."


"Ohh baiklah..."Wajah seorang ibu langsung panik menghampiri ku yang sedang makan, langsung mengecek jidatku dengan tangannya.


"Kau sedang sakit sayang?." Tanya dia.


"Ehh?." Heranku.


"Suhunya normal..."


"Mog scan ulang Mei."


"Beeep~" Mog men-scan ulang badanku dan aku cukup heran.


"Barnya kuning.. lagi" rasa herannya semakin tinggi.


"Mei kau tidak apa apa?.-"


"Apa ada yang sakit?." Ibuku menanyakan lagi


"A-aku baik baik saja ibu." Tegasku.


"Kau diam saja dirumah ya hari ini."


"Tidak tidakkk aku akan pergi kepasar lagian dirumah juga membosankan."


"Hmmm kau yakin tidak apa apa?.."


"Mognya saja yang sedang error." Tuduhku.


"Beep?."


"Setelah ini akan ku perbaiki kau Mog, sepertinya aku salah memasukan perintah lagi." Tidak ada yang salah dengan Mog, aku hanya menyembunyikan rasa gelisah ku karena mimpi semalam. Semuanya terasa begitu nyata aku berharap ini tidak akan lama, aku harap.


    Aku pergi bersama ibuku kepasar, namun hari ini aku membawa tas kecilku yang berwarna Kuning untuk perjalanan ku mencari tahu ujung dari batu yang semalam aku scan bersama Mog, ditengah perjalan kami terhenti karena jarang sekali ada mobil besar dengan muatan yang cukup untuk 2 gajah dewasa lewat dihadapan kami. Mobil itu berhenti di depan bar diperkampungan kami bar itu memang sering didatangi oleh para pengelanan dan orang orang dewasa dikampung ini. Aku berpikir itu hanya kelompok pengelana yang membawa mobil besar kedaerah sini.


     sampailah ditempat pasar, hingga jam 8 seorang pengelana menghampiri kami dia menceritakan mobil yang baru saja kami lihat. Dia menceritakan kalau mobil itu dari perusahaan terkaya di dunia, dengan logo mobil berbentuk elang berwarna merah. Dia menjelaskan juga bahwa rumornya anak pemimpin mereka sedang mencari sesuatu yang berharga di dunia ini. Sesuatu itu tidak begitu ia jelaskan dan dia pergi begitu saja setelah membayar dan membeli beberapa aksesoris.


"pelanggan yang aneh." kataku.


    Saatnya pergi, aku meminta izin kepada ibuku untuk pergi ke bengkel ayahku, tapi itu tidak benar dengan kata lain aku berbohong. Dipertengahan jalan aku mengetuk kepala Mog dan memasukan batu turqouise palsu itu kedalam tubuh Mog. Mog sempat menolak karena dia tahu apa yang akan aku lakukan tapi aku menceritakan rencanaku, untungnya dia selalu setuju denganku. Dia mulai men-scan batu itu lagi, aku tahu ini akan memakan waktu lama.


"Ayoooo Moggiee~"


"Beeep beep~"

__ADS_1


    Muncul!. Arah panah itu menjukan ke pertambangan tua, Jaraknya agak jauh sekarang menjadi 1 KM. tentu saja karena pertambangan itu berada tepat dibelakang bukit dan bukit itu ada dibelakang rumahku.


"Baiiiklaaaahh! Mog apa kau siap? Pertualangan pertama kita?!."


"Beep!"


"Hehehe itu ku anggap siap!"


"Let's go!"


    Aku berjalan memutar, menghindari jalan menuju kerumahku, agar tidak ada orang yang melihat. Jalan menuju pertambangan tua itu cukup curam dengan kemiringan 45 derajat membuat lutukku pegal dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut, bagaimana aku bisa tahu se-detail itu selama diperjalanan Mog memberitahuku dengan kekuatan scan-nya dia dapat mengetahui suatu objek yang sedang dia scan. Perjalanan ini dimulai dengan menaiki bukit dan menuruni bukit pintu dari tambang ini berada disisi lain kaki bukit ini, perkampunganku berada dibelakang tambang tersebut jadi aku harus memutar, ini memang perjalanan yang merepotkan orang-orang terdahulu mempunyai alasan kuat kenapa tidak menggali didepan perkampungan alasan karena diprotes oleh warga agar anak-anak dibawah umur tidak masuk ketambang tersebut dan menyembunyikannya di sisi lain bukit ini, Alasan yang cukup aneh. Sampailah aku di bibir tambang yang disana tertulis jelas sebuah peringatan 'tambang dihentikan sejak Tahun 2286, siapapun dilarang masuk.' seperti itu lah tulisannya, tapi penghalang rantai yang menghalangin jalan masuk sudah putus dan sepertinya sudah ada yang pernah membobolnya.


"Beep beep!"


"Ada apa Mog?." Tanyaku


"Beeep.." jarak terbang Mog menjauh dari bibir pintu tambang.


"Tenang saja Mog disini tidak ada yang masuk, lagian ini tempat terlarang untuk orang dewasa bukan untuk anak remaja sepertiku." Aku dengan percaya dirinya


"Beep.."


"Ayoo Mog temanin aku."


"Beep."


    Aku masuk kedalam gua tersebut gua ini terasa hangat, beberapa meter kedalaman yang aku lalu mulai terasa sejuk, bau tambang dan besi-besi tua sekitar sini terasa menyengat. Jalan disini cukup aman dengan jalan rel pengirimanan barang disetiap jalannya. Semakin dalam semakin gelap, penglihatanku mulai menipis.


"Aku lupa membawa senter Mog."


"beep beep bepp."


    Tiba-tiba mata Mog menyala bagaimakan lampu senter yang membuat penglihatan ku terbantu dengan cahayanya. Ya itu fitur yang baru aku ketahui lagi. Diujung penglihatanku terlihat sebuah cahaya berwarna putih kemudian semakin aku deka, cahaya memudar menjadi warna biru muda. Tidak dipercaya aku dan Mog sampai disebuah tambang dengan batu-batu turqouise yang begitu banyak, batu palsu itu menuntunku kesini. Bongkahan bantu yang begitu banyak varian bentuk dan ukurannya dari kecil hingga besar, aku berjalan mengikuti jalan yang dipinggir-pinggirnya terdapat batu berbentuk bunga itu indah sekali. Diujung jalan setapak yang aku temui adalah sebuah altar sebuah tempat untuk menyimpan benda berharga yang menjadi suatu titik perhatian di suatu ruangan, aku melihat sebuah buku dan batu yang sama dengan yang aku punya namun dia lebih jernih dan bagus dibanding punyaku yang kusam dan lecet. Sampul Buku itu bertuliskan, 'Dunia menyimpan banyak harta karun. karya Willian Gerec ke-11'.


"Beep be-"


"Tunggu Mog. Untuk kali ini kau ku perintahkan jangan kirim hasil scan yang ini ke ayah kalau tidak aku dan kau akan berpisah beberapa hari karena aku pasti akan di hukum kabur dari rumah." Tegasku.


"Beep?."


"Ayolahh Moggiee!"


"Beep beep!"


"Anak baik" aku mengelus bagian kepala Mog.


    Mog men-scan kedua benda tersebut, awalnya Mog men-scan batu itu aku yakin berbeda dengan batu yang ku punya. Mog memunculkan hologram dengan tulisan 'batu mulia turqouise. Aku akan melindungimu dari apapun'.


"Hmmmm?. Aku akan melindungimu dari apapun?. Maksudnya apa?." Ini berbeda dengan yang aku punya benda lain jika selesai di-scan tidak memiliki tulisan apapun semua data akan masuk kedalam database Mog.


"Beep beep?."


"Tuan, Buku dan batu itu hilang."


"Apa!?." Dia syok.


"Bagaimana bisa hilang?." Tanya dia.


"Sepertinya ada seseorang yang mengambilnya."


"Ini pasti salah satu warga sialan itu, mereka tahu bahwa mereka tidak suka aku kesini. Aghhh awas saja kalian."


"Tuan?."


"Pergi dari sini mereka harus membayar karena telah mencuri buku kakekku!"


Dia pergi dengan kesal karena buku yang dia cari hilang yang sebenernya ada ditanganku, aku tidak diajari untuk mencuri oleh ibuku. Aku merasa bersalah, aku bergegas keluar dan memberikan buku ini kepadanya aku berlari keluar gua namun hal nahas menimpaku bebatuan tambang ini jatuh menghalangi pintu keluar tambang. Bagimana ini bisa terjadi!.


"Oh tidak, Mog bagaimana ini?." Aku panik.


"Mog, bagaimana ini kita terjebak di tambang ini."


"Beep beep!"


"Mog?. Kau tidak punya fitur tambahan, kan kau akhir akhir ini sering membuat ku terkejut dengan hal yang baru aku temui didalam sistemmu, ayo lakukan Mog!."


"Beepp..."


"Ya ampun bagaimana ini." Aku semakin panik.


"Beepbeep?."


"Tidak tidak jangan mengirim sinyal keayahku, aku tidak mau mereka khawatir."


    Aku duduk sambil memandangi batu-batu yang menghalangi. Sambil mencoba tenang tapi kaki kanan ku terus gemetar menadakan aku panik. Hati ku panik otakku berpikir bagaimana agar semua berjalan dengan lancar, aku duduk sambil memeluk buku yang aku curi dari orang tadi, ditambah lagi aku mencuri buku orang lain, aku pencuri. Hukuman apa yang akan ayah lakukan jika dia tahu anaknya pencuri.


"Beep!"


“Ada apa Mog?.”


"Beep!"Mog menarik buku itu menandakan aku harus membuka buku ini.


"Kau yakin Mog aku buka buku ini?."


"Beep.."


"bagaimana jika buku ini buku pribadi orang itu?."

__ADS_1


"Beep!."


    Mog terus bersi keras menyuruhku membuka buku ini, perlahan aku membuka buku tersebut buku tua berumur lebih dari 100 tahun ini ku baca dengan seksama, selama dua jam aku membaca buku ini sesuatu hal yang aku dapatkan adalah buku yang berisi tentang sebuah harta karun terpendam diseluruh dunia dan bagian lain buku ini menjelaskan bahwa sebuah mesin menakjubkan yang disebut prototype circle atau yang disebut nama panggilan untuk sitem dasar sebuah robot. Didalam buku itu digambarkan semua alur atau bentuk mesin robot berbentuk bulat, alur itu percis sekali dengan alur Mog.


    Buku itu menjelaskan bahwa seseorang sedang membuat robot yang bisa men-scan segalanya, robot yang dapat melihat dimana letak semua harta karun didunia ini yang kita butuhkan hanyalah sample dari apa yang akan kita cari tak peduli palsu atau bukan asal struktur dan bentuknya 90% sama, semua ciri-ciri dan bentuk yang buku ini jelaskan ada pada sistem Mog. Didalam buku tersebut dijelaskan bahwa sistem prototype circle memiliki kekuatan berdasarkan 7 batu mulia, apabila sistem ini sudah men-scan satu batu mulia kekuatan itu akan permanen bersama dia. 7 batu mulia tersebut adalah Diamond, Ruby, Sapphire, Emerlard, Kalimaya, Amethyst, Turqouise.


"Turqouise?. Tunggu..." Sadarku.


"Beep..."


"Waw Mog kau adalah sistem paling istimewa!!"


"Beep!"


"Hehehee, kau semakin berharga dihadapanku!" Rasa panik ku hilang dan berubah jadi kegembiraan karena


buku tersebut menjelaskan sebuah sistem yang dimana sistemnya adalah robot kecilku sendiri, dan satu lagi membuatku penasaran. Apa yang akan terjadi jika Mog men-scan batu turqouise yang asli ini. Alih-alih penasaran ku semakin tinggi tapi Mog pernah men-scan batu itu, tapi itu palsukan?. Bagaimana dengan yang asli. Tapi tunggu bukankah Mog sudah men-scan batu itu sekali dan muncul tulisan 'batu mulia turqouise. Aku akan melindungimu dari apapun'.Rasa penasaranku masih bergejolak, kemudian aku pun menyuruh Mog untuk memasukan kedalam sistem pelacak seperti batu palsu yang menuntunku kesini.


"Mog scan!." aku mengetuk kepala Mog 2 kali seperti biasa


"Beep beep!" Dia men-scan batu tersebut lagi, responnya berbeda kali ini mata Mog berubah menjadi warna mataku berwarna biru seperti warna batu turqouise pula dan tak lama kembali normal.


"Mog?..." Tanyaku.


"Beep beep?."


"Kau tidak apa apa?." Aku melihat matanya.


"Beep!"


"Tidak terjadi apa apa. Aneh sekali alur, struktur, dan bentuk sistemnya percis sekali tapi tidak terjadi apa apa." Putus harapan.


    Aku kesel, melakukan hal bodoh yang jelas hanya dongeng belaka, padahal aku sedang kebingungan disini malah bermain-main. Aku tidak bisa keluar dari sini. Satu jam berlalu, aku mulai putus asa. Perutku mulai lapar, tapi aku membawa roti ditasku dan aku memakannya.


    Sejam berikutnya aku tidak bisa melakukan apa apa, batu ini terlalu banyak dan tidak bisa aku hancurkan dengan tangan ku. Tidak ada sekop atau semacamnya disini, pikiranku mulai kacau bagaimana jika aku tidak bisa keluar selamanya, bagaimana jika aku mati kelaparan, bagaimana orang - orang diluar disana tidak menemukanku.


"Ayah ibu!!" Akumulai menangis.


"Mog tamatlah riwayat kita disini, aku akan jadi mayat, dan kau akan jadi besi tua tak berfungsi lagi."


"Beep?.."


"Ya Mog kita tamat..." Aku sudah putus asa.


"Ibuuuu!."


"Ayahh.."


"Beep beep?."


"Oh iya! Kirim sinyal kemereka! Mog ku perintahkan kirimkan sinyal kemereka. Sekarang!." Mog mengirimkan sinyal ke laptop yang sering ayah gunakan sekarang tinggal menunggu ayah atau yang lain kesini. Sejam kemudian, tak ada tanda tanda ayah atau ibu kesini. Bagaimana ini, Apa disini tidak ada sinyal?.


"Mog apa sinyalnya terkirim?."tanyaku.


"Beep!." Itu jawaban untuk iya.


    Wajahku murung, mukaku mulai lesu. Mog turun dia tidak terbang lagi dan melihat mataku, mataku sudah mulai terlihat penuh air mata lagi.


"Beep..."


"Aku baik baik saja Mog." Sembari menahan air mata.


"BEEPP!!!."


"ehh?." Mata Mog berubah berwarna biru lagi.


"BEEP!"


"Apa Mog?!. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan!."


"BEEP!! BEEP BEEPP!!"


"Apa!! semacam matra untuk mengeluarkan kekuatanmu?!! Aku tak tahu!."


"Beeep!!."


"Barakadabra!" Aku mengucapkan apapun yang aku tahu.


"???" Mog kebinggungan.


"lihat itu tidak berhasil Moggieeee!!!!"


"Magic!, Spear! Sword! " aku mencoba menyebut semua kalimat yang keluar dari kepalaku. Sesuatu yang kuat sesuatu yang bisa melindungiku dari apapun sesuatu hal yang tidak bisa tembus apapun. Hal itu muncul dalam pikiranku menyadarkanku sesuatu dan perasaan yang begitu kuat antara aku dan Mog, mulutku mulai membuka dan dengan sepotan aku menyebut.


"Shield!!!" Aku berteriak.


    Mata Mog berubah menjadi berwarna biru dan sebuah cahaya berwarna biru berbentuk bulat berdiameter cukup untuk menutupi semua badanku, cahaya ini berbentuk bola, layaknya perisai hologram dengan tiap lekukan terbentuk bangun datar heksagon yang memutar-mutar dan aku didalamnya. Mog terbang kembali dan dia mulai bergerak ke arah bebatuan yang menutupi pintu tambang. Menakjubkan, Perisai tersebut mendorong batu-batu yang menghalangi jalan sedikit demi sedikit kami keluar, aku mengikiti Mog yang berada didalam perisai tersebut. Kami pun berhasil keluar. Udara segarpun tercium, perisai yang melindungiku menggeser batu-batu itupun terseret. Itu sangat menakjubkan robot kecil ku bisa melakukan hal tersebut, itu adalah hal istimewa. Aku meloncat untuk menggapai Mog dan memeluknya penuh dengan bangga.


"Moggie! Robot kecil ku, kau bisa melakukan itu kau sungguh hebat!!"


"Beep bepp!." Dia ikut senang kegirangan karena sudah keluar aku bergegas memutar naik ke bukit segera mencari orang tadi dan mengembalikan bukunya.


"Mog, setelah sampai ke rumah kau harus merahasiakan ini ke ayah dan i-"  Aku memotong perkataanku sendiri karena pemandangan dihadapanku membuatku diam seketika. Terlihat seluruh kampung diselimuti asap dan kobaran api membakar semua perkampungan. Semuanya hangus, aku melihat keadaan ini syok dan langsung lemas. Perkambunganku di bakar si jago merah.


"Ini bohongkan?!."


                                                                            ......

__ADS_1


__ADS_2