Engineering Traveler

Engineering Traveler
CHAPTER 11 : Nuansa Bening


__ADS_3

“Disinilah  aku memulai segalanya.”


Air, air dan air selama aku berjalan dikota ini. Aku berjalan mengikuti jalan setapak yang disetiap langkahku terdengar suara gemercik air, kota ini terlalu indah untuk di hancurkan. Kaki terus melangkah mataku tertuju pada bagunan besar melingkar dengan suara sangat gaduh sekali seakan akan suara sorak laki laki, perempuan, anak kecil hinggal orang dewasa bercampur. Aku tak menghiraukan langkah ku, sampai aku hampir sampai ketempat itu. “Aduuuh!.” Aku terjatuh untung yang mendarat duluan adalah bokongku sehingga pedanku terlempar beberapa meter. “Maaf aku yang salah” jelas jelas aku yang salah mataku tidak melihat kemana kaki ku berpijak dan tidak melihat ada apa didepanku. “kau baik baik saja?.” Seorang laki laki menggunakan pedang besar dipunggungnya sedang mengulurkan tangannya padaku, seolah olah ingin membantuku berdiri. Laki laki dengan tinggi badan yang lebih tinggi beberapa meter denganku, rambut berwarna kuning dengan gaya rambut Spike cukup keren dihadapanku. Aku berdiri sambil menyapu bagian kecalanaku yang kotor “ini kau menjatuhkan benda berharga milikmu.” Dia mengambilkan pedangku yang jatuh. “Ohh terimakasih, sampai kau repot mengembilkannya.”


“Sepertinya kau bukan orang sini?.” Tanya dia.


“Ya dari luar kota.” Jelasku.


“Hooo!.”


“Jarang sekali ada seorang perempuan menggunakan pedang jenis rapier disini.” Sembari menempelkan tangan kanannya didagunya layaknya orang yang sedang berpikir.


“Pedang ini pemberiaan kakekku.”


“Bisa aku lihat sebentar?.”


“Tentu.” Aku memperlihatkan pedangku kepadanya, aku terkejut dia sangat lihai dalam menggunakan pedang rapier miliku, dia mengayunkan pedangku.


“Pedangmu tajam tapi cukup ringan, aku penasaran dengan bahan pembuatan pedang ini. Kau tau pedang se-level Rapier ini harusnya memiliki berat yang tidak akan mudah perempuan sepertimu bawa kemana mana.” dia menjelaskan seperti seorang yang ahli pedang hingga keakar akarnya.

__ADS_1


“Pedang ini turun temurun dari keluargaku, aku tidak tahu cerita dan pembuatan pedang ini.” Jawabku.


“Ini ku kembalikan, tapi sebelumnya boleh kau menyerangku?.” Pertanyaan yang membuatku kaget, aku disuruh menyerang dia.


“Maksudmu?.” Tanyaku kembali.


“Gampang, cukup serang dengan serangan biasa saat kau menggunakan pedangmu.” Dia berbalik dan berjalan menjauh dariku, sambil mengangkat pedang besarnya dengan tangan kanan langsung berbalik menghadapku sambil memasang kuda kuda bertahan.


“Ayooo! Serang aku. Aku ingin tau seberapa kuat pedangmu itu.”


“A-apa kau yakin?.” Tanyaku, dia mengangguk.


SRINGGGGGGG!~ dengan kecepetan yang aku miliki aku menyerang dia dengan sekecap. Aku sudah mengira serangan ku pasti ditahan dengan mudah menggunakan pedang besar seperti ini. “Wahhhh serang yang membuatku kaget.” Dia tersenyum kepadaku. “siapa namamu?.”


“Ehhh nama?.” Aku gerogi kuda kuda ku melemah. “Ya namamu..” tegas dia. “ehhhh namaku?.” “ehhh tunggu.. kakek bilang tidak boleh asal memberi tahu nama keorang yang baru ku kenal.” Aku gugup, mataku melirik kekanan dan kekiri sepertinya wajahku memerah juga, hei tunggu perasaan apa ini. “Baiklah jika kau tidak mau memberitahu namamu. Aku akan membuat panggilan sendiri.” Tangannya membentuk seperti orang yang sedang berpikir lagi. “Hmmmm tampilanmu bukan seperti kesatria, kau lebih seperti pedansa hmmmm…” ehhhhhh “tampilanku?.” Selama ini aku tidak pernah memperhatikan penampilanku aku berpakaian seinginnya aku saja. “Dapat!!.” Dia menjetikan jempol dan jari tengahnya. “akan kupanggil kau dengan nama…. Hana!.” Aku terkejut, dia bukan orang yang aku kenal tapi kenapa dia bisa tahu namaku. ahhh mungkin hanya tebakan yang kebetulan. “Ke-kenapa kau memberi panggilanku Ha-hana?.” Tanyaku “ahaha. Penampilanmu mengingatkanku pada sebuah bunga bernama Lavender.” Aku tak habis pikir dia begitu sepontan.


“Hei Hana.” Dia mulai memanggilku dengan nama tebakan dia.


“Hemmmm?.” Jawabku.

__ADS_1


“Kau mau ikut denganku?.” Tanya dia.


“ikut kemana?.” Tanya balik.


“Battle Royal Dikolosium, aku akan mendaftar sebagai campuran.” Jelas dia yang aku tidak mengerti maksudnya.


“Tu-tunggu aku masih belum mengerti..” aku masih belum fokus dengan kejadian tadi.”kau dengan suara riuh gemuruh dikolosium itu?. Sekarang sedang diadakan festival hari ulang tahun kota ini, aku berencana akan mengikuti perlombaan dia kolosium itu dengan hadiah yang lumayan untuk hidup 5 bulan kedepan dan sertifikat sebagai penari pedang yang bisa kau tukar dengan uang 60 juta gold. Jadi bagaimana?, kau dan aku bertarung bekerja sama dikolosuim ngalahkan 50 orang didalam kolosium kita hanya bertahan jangan sampai keluar jalur itu saja intinya.”


“Ayoooo akan kutunjukan.” Dia menarik tanganku dengan genggamana yang begitu kuat kedalam kolosium.


Tapi


Aku menarik kembali tanganya. "Ada apa?." tanya dia.


"Na-Namamu?." tanyaku.


"Oh aku lupa hehe maaf maaf!."


"Alfian!." Sambil menarikku kembali kedalam Kolosium.

__ADS_1


Ada yang aneh dalam dadaku aku merasakan sebuah keganjalan yang entah apa itu, dicampur dengan perasaan gembira. Perasaan apa ini?.


__ADS_2