Engineering Traveler

Engineering Traveler
CHAPTER 4 : Android Terakhir


__ADS_3

“SEMUA YANG HIDUP MEMILIKI MASA”


    Hawa panas menyerangku, telapak kaki ku sudah Lelah menahan badanku dan kaki sudah Lelah melangkah juga. 39 Derajat, itu terlihat jelas di Ecowristwatch-ku hawa yang panas membuatku tidak kuat lagi berjalan. Tidak ada pepohonan disini hanya jalan raya yang kosong dan tihang – tihang listrik yang menjulang saling terhubung oleh kabel kabel.


“Berapa kilo kita berjalan Mog-?“ Aku tanya sambal mengambil nafas dengan cepat.


“Beep!” 10 Kilometer, terlihat jelas hologram yang Mog tunjukan.


“Seharus kita sudah sampai diKampung sebelah.” Aku menyempitkan mataku dan melihat ke ujung katulistiwa.


“Mog kita tersesat?.” Tanyaku.


“Beep!.” Jawab untuk mungkin.


“Aghhhh tidak mungkin, tapi Kai bilang aku hanya tinggal mengikuti jalan raya ini saja!.” Aku kesal.


    Tidak ada tempat untuk berteduh disini semua tempat terbuka, aku tidak bisa bersembunyi dari sang matahari yang sangat panas ini. Aku terus berjalan, berjam-jam aku berjalan sampai aku tidak bisa mau berbicara lagi. Namun sampailah aku menemukan sebuah harapan diujung ada 2 jalan kekanan terus mengikuti jalan raya, kekiri aku melihat semua jalan dengan batu kerikil menuju ke sebuah perkampungan. Perkampungan yang cukup tua.


“MOG! Apa kah itu? “ tanyaku.


“Beep..”


“Akhirnya kita sampai.” Aku mengambil jalan kekiri dan menuju ke perkampungan itu.


    Waktu di Ecowristwatch-ku menujukan pukul 18:02. Waktu dari aku kepanasan sampai aku sampai kesini lumayan cukup membuat kaki ku pegal dengan penuh harapan aku bergegas ke perkampungan itu. Perkampungan Hillwon, terlihat jelas tertulis di papan gerbang perkampungan mereka. Sampai disana aku merasakan hal yang aneh, berbeda dengan kampung kampung lain. Sekarang pukul 18:10 sang mentari sudah tertidur, perkampungan ini tidak ada penerangan satupun, dan tidak ada orang yang terlihat disini.


“Mog, Kemana orang orang disini?.”


“Beep beep?.”


“Eh-Hallo, ada orang disni?.”


    Tak ada seorang pun yang menjawab hawa disini dingin sekali, Mog mulai memberikan penerangan seperti biasa matanya layak lampu senter. Perkampungan ini seperti baru saja ditinggalkan.  Kreekkkk bunyi pintu dari salah satu


rumah terhempas oleh angin.


“Hahhhh!.” Aku kaget bersembunyi dibelakang badan kecil Mog.


“Mo-mo-Mog! Su-su-suara apa itu?.”


“Beep beep?”


“Aku tidak takut aku hanya kaget kau tahu!.” Tegasku


    Aku dan Mog memeriksa setiap rumah yang kami lewati setiap rumah yang kamu masuki tak ada orang satupun didalamnya, semua barang barangnya masih terawatt tidak seperti sudah ditinggalkan lama. Rasa penasaranku semakin tinggi. Ada satu rumah yang membuatku penasaran rumah itu mencolok dari rumah-rumah lain. Rumah ini terlihat seperti geraja namun bukan geraja bentuknya sajayang mirip.


“Beep beep!.”


“Kenapa Mog?. Aku melihat Mog mendorong pintu yang tak terkunci dengan bada kecilnya.


“Hey!. Robot nakal!. Aku tidak pernah memerintahkanmu untuk meninggalkanku.”


“Beeep!”

__ADS_1


“Aku ingin kita memeriksa rumah ini?.”


“beep!.”


“Aku tidak yakin Mog rumah ini sangat besar.”


    Mog menarik tanganku seakan akan dia menyuruhku untuk membuat pintu rumah ini. Aku membukanya, didalam begitu gelap hanya penerangan Mog yang kita punya. Mog menyorot setiap sudut rumah ini dari pintu depan yaitu pintu yang aku buka terlihat rumah ini memiliki 2 lantai dengan lantai pertama memiliki 2 pintu kanan dan kiri di setiap sudut, yang kiri bertulisan dapur yang terlihat gambar orang sedang menuruni tangga. Ditengah tengah terdapat tangga yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2 diujung tangga terdapat 2 jalankekanan dan kekiri, biasanya rumah besar seperti ini lantai 2 adalah kamar tidur.


“beep!.”


Tangan mungil Mog menarikku, membawaku kepintu sebelah kanan. Pirasatku tentang pintu ini sangat tidak enak, aku merasakan aura yang tidak menyenangkan disini. Aku membuka pintu itu perlahan pintu ini tak berat sangat mudah untuk dibuka. Sebuah tangga menurun, pandanganku tidak bisa melihat ujung dari anak tangga ini. Tapi Mog masih memaksaku turun dengan memegang tangan kiriku. Dia menuntunku menuruni anak tangga ini.


“M-Mog aku tidak yakin dibawah tempat yang aman untuk kita.” Hati ku mulai ragu.


“BEEP!”


Dia begitu yakin dengan yang dia lakukan, dengan percaya dirinya Mog membuatku berani untuk turun. Sampailah diujung tangga. Pencahayaan di sini masih gelap gulita. Namun, diujung ruangan ini terlihat sesuatu hal yang membuat bulu kuduk ku merinding. Terlihat jelas di kegelapan dua cahaya tampak seperti mata merah menunjukan semakin seramnya apa yang aku liat. Cahaya itu bergerak seperti sebuah kedipan mata.


“M-M-M-Mog!.” Aku mulai syok melihat apa yang ada didepanku.


“MOG!! Ayo pergi dari sini!.” Aku menarik Mog tapi Mog menolaknya


Kedua cahaya itu semakin dekat dan ketika hampir mendekati kami, Penerangan Mog mulai menampakan wujud asli dari cahaya itu. Dia adalah sebuah robot tua berwarna coklat dengan mata berwarna merah. Syok berubah kaget karena melihat ada robot disini. Dia terus berjalan melewati kami, menarik tuas yang ada diujung tembok dekat tangga. Seketika lampu disini menyala dan penglihatanku terlihat jelas. Aku berada di sebuah Gudang tempat penyimpanan barang-barang sudah tidak layak pakai  disekitar ku terlihat barang-barang rongsok seperti berada di bengkel ayahku, besi berkarat dimana-mana dan alat-alat mesin ada disini. Robot itu pun terlihat jelas. Sebuah robot tua yang berbentuk seperti kapsul besar ukurannya besar memiliki kaki dan tangan namun tidak bisa terbang seperti Mog. Dibadannya tertulis jelas A-01 itu nama seri dari robot A untuk Namanya dan 01 adalah seri dari robot ini. Ya, dia adalah robot pertama dari semua type yang mirip dengannya.


“wip wip?.” Dia bisa berbicara seperti Mog.


“bepp beep!.”


“wipp?.”


“wippp!.”


“EHHHHH???! Teman temanan??” selama aku hidup baru melihat robot  berbincang.


“Beep!.” Mog berbicara padaku.


Mog berusaha memberitahu ku dan menariku ke sudut ruangan ini dan aku dihapakan dengan sebuah benda. Aku tahu benda ini, benda ini adalah Scooter mengambang mereka mengambang beberapa meter dari permukaan tanah. Scooter ini sudah rusak tapi masih bisa diperbaiki. Robot A-01 itu mendekat padaku dia melihatkan sebuah blueprint sebuah sketsa dari scooter ini. Aku mengamati dan mencoba membacanya, melihat sekitar barang-barang disini bisa aku pakai untuk memperbaiki scooter ini. Hari sudah larut aku akan memperbaiki esok hari aku dan kedua robot ini kembali keruangan atas aku tidur disopa yang ada diruangan utama cukup untukku dan Mog tidur disopa yang lain. Sedangkan robot A-01 sepertinya sudah tidur kembali, waktunya tidur.


Tidurku lelap aku bangun seperti biasa namun hari ini aku bangun bukan berada dirumahku itu membuatku sedikit sedih karena aku terbiasa bangun melihat ibuku. Setidaknya aku bangun masih bisa melihat Mog.


“Mog?.” Aku melihat Mog sedang duduk melihatku.


Dihadapku terlihat sebuah makan yang sudah siap untuk disantap. Roti bakar dan segelas susu ini makanku setiap pagi ketika dirumah. Tunggu, Mog tidak bisa memasak aku belum pernah memasukan perintah masak kedalam sistemnya. Tanpa disadari aku melihat A-01 sedang membawa Nampan.


“Mog kau tanyakan pada dia apa dia bisa masak?.” Aku sembari berbisik.


“bbeep beeep?”


“wipp!.”


“Beep!.” Mog Berbicara padaku, ya ampun aku sudah gila.


Aku memakan roti dan susu yang disediakan oleh robot A-01 itu, aku yakin pemilik rumah ini adalah seorang Engineering Seperti ayah dia biasa membuat robot dan robotnya bisa masak hebat sekali. Aku terkagum-kagum dengan seorang Engineering mereka hebat bisa membuat robot yang bermacam macam. Aku harus bisa hebat seperti ayah dan bahkan melampauinya, jadi untuk itu aku harus bisa membereskan scooter kemaren yang rusak, aku harus bisa. Aku mulai membetulkan scooter tersebut digudang rumah ini, aku dibantu oleh kedua robot ini Mog dan A-01 yang ntah siapa tuannya. Waktu terus bergulir detik berganti menit menit berganti jam sampai akhirnya aku selesai membetulkan scooter ini. Aku dibantu oleh robot-robot itu menyeluarkan Scooter ini keluar rumah. Semua sistem dan beberapa perangkat kerasnya aku ganti. Sistem pengaman dari scooter ini adalah sidik jari, sidik jarinyapun sudah aku ganti dengan sidik jariku. Jadi tidak mudah diambil orang. Aku menyalakan mesinya indikator pada mesin ini menyala menandakan semua mesin bekerja, scooter ini pun mengambang beberapa meter dari tanah. Aku mencobanya berkeliling perkampungan. Scooter ini memiliki kecepatan maksimal 60 kilometer perjam dan bisa ditambah nantinya. Namun, untuk saat ini aku memasang hanya 60 kilomter perjam cukup untuk perjalanan jauhku.

__ADS_1


“Mog, A-01 berhasil scooter ini berjalan dengan baik.” Aku kegirangan. Hanya saja warnanya yang usang tidak terlihat bagus, tapi tidak apa akan ku warnaiin seiring waktu.


“Tapi Mog ini bukan scooter ku, aku tidak boleh membawanya.”


“Bbeep?.”


“Ya Mog kita harus  tetap jalan kaki untuk mencari ayah dan ibu.”


“Wwip!.” A-01 memberikan sebuah buku yang percis dengan yang buku aku curi dipertambangan, dengan bertulisan ‘Sistem yang terhubung dengan Harta karun. karya Willian Gerec ke-12'.Buku yang ditulis oleh Willian Gerec lagi. Siapa sebenarnya dia, kenapa dia menulis buku yang sama. Tidak, ini orang yang berbeda. Buku yang aku curi adalah buku sebelum buku ini. Orang yang menulis ini adalah orang yang satu silsilah dalam keluarganya.


“wip wip!.” Robot itu mengisyaratkan bahwa aku harus menjaga buku ini.


“Tidak tidak, buku ini milik orang lain satu buku saja cukup untuk mengembalikannya.”


“Wipp wipp!.” Robot itu bersikeras.


“A-01 ini adalah milik tuan mu aku tidak bisa mengambilnya.”


Robot itu menampilkan layer hologram menujukanku sebuah rekaman yang dimana itu adalah sebuah rekaman yang menjelaskan kenapa perkampungan ini kosong. Aku melihat semua kejadian itu. Semua orang diseret oleh organisasi elang merah yang pernah membakar perkampunganku juga. Anak kecil dan orang dewasa dibawa,semua dibawa oleh truk yang pernah aku liat.


“KAU TIDAK BOLEH MEMBAWA DIA!!.” Seorang laki laki tua menyerahkan dirinya terlihat divideo yang aku liat.


“DIA ROBOT TAK BERGUNA! AKAN JADI SAMPAH BAGIMU.”Lanjut kakek tua itu.


“BAWA SAJA AKU,AKU YANG MEMBUATNYA AKU BISA MEMBUAT ROBOT SEPERTI ITU YANG KAU MAU.” Laki laki tua seumuran ayah itu berbicara dengan seseorang yang hanya terdengar suaranya saja.


“BAWA ORANG TUA ITU KE PENJARA ALKASBAN.” Dia berjalan menuju A-01


“SEPERTINYA MEMANG TIDAK BERGUNA” dia menendang A-10 kedalam Gudang tua rumah ini.


Video itu berakhir aku terdiam, aku melihatnya laki laki itu adalah orang yang aku curi bukunya. Dia marah sampai keperkampungan ini. Ini semua salahku, karena aku mengambilnya.


“Moog! Ini salah ku. Jikalau aku tidak mengambil bukunya tidak akan seperti ini.” Aku kembali menangis


“Wip wip!.” Robot itu memberiku buku itu lagi.


“Kau menginginkan aku membawa ini?.” Tanyaku sambal tersendu.


“WIP!.”


“Baiklah, aku akan meminjam buku ini. Aku pun akan membawa tuanmu kembali kesini.”


“Wipp!” aku anggap itu persetujuan.


Aku menghapus air mataku, aku bersiap-siap pergi ketempat dimana tua A-01 Dipenjara. Aku akan berangkat besok. Persiapanku aku siapkan malam ini. Scooter itu menggukan baterai, aku menemukan baterai itu di Gudang baterainya sebanyak 5 buah setiap buah bisa membawaku pergi sejauh 5000 km dan bisa dicharge ulang.  Dan A-01 memberikanku sebuah Microcard yang berisi sistem dari scooter itu jadi aku bisa melihat sewaktu waktu dengan memasukan Microcard ini kedalam sistem Mog yang akan membaca.


Hari mulai gelap, aku masih memikirkan semua kesalahanku. Pikiranku penuh dengan rasa bersalah sampai aku tidak sadar bahwa aku menangis ketika aku terlelap tidur. Hari mulai berganti, hari ini adalah hari aku harus pergi dari tempat ini kebiasan ku di setiap biasa terpenuhi disini dari mulai makan dan Mog masih saja men-scanku. Itu tidak masalah, persiapanku sudah selesai.


“A-01 saatnya aku dan Mog harus pergi, kau harus mejaga diri baik baik. Aku janji padamu aku akan membawa tuan mu kembali kesini. Penjara alkasban, mungkin disana aku juga bisa menemukan ayah dan ibu.”


“Wip!.”


Aku menyalakan mesin scooter dan menarik gas perlahan sembari melihat ke spion robot itu melambaikan tangannya seakan akan dia mengatakan selamat jalan, semakin jauh aku meninggalkan perkampungan lambaian tangannya berhenti. Tujuan ku sekarang menjadi dua, aku harus menyelamatkan tuan A-01 dan aku harus mencari ibu dan ayahku juga.

__ADS_1


“Sepertinya perjalanan kita akan bertambah jauh Mog!.”


“Beep!.”


__ADS_2