Engineering Traveler

Engineering Traveler
CHAPTER 8 : Kerajaan WaterScape


__ADS_3

“Santai Sejenak Menikmati Suasana Pemandangan Air.”


Suara mesin scooterku terdengar jelas namun sedikit nyaring, karena saking sepi dan tentramnya jalur ini. Sejauh mata memandang terlihat jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh 2 kendaraan kecil seperti scooterku ini. Ditepi jalan hanya ada rerumputan hijau yang tumnuh beberapa centimeter dihiasi bunga-bunga, betapa indahnya dunia ini semua terasa seperti di tempat lain. Dibelakangku Vio duduk menyamping sembari memeluk pedang kepalanya bersender ke punggungku. Sepertinya dia tertidur.


Aku melihat dari kejauhan sebuah kota dengan pintu gerbang sangat besar, dengan bentuk kota itu di kelilingi oleh tembok tembok yang tinggi, aku membuat goncangan agar Vio bangun, dan itu berhasil.


“Emmm?.” Saut dia sambil setengah sadar.


“Kau liat, sepertinya kita akan singgah disana untuk beberapa jam membeli kebutuh kita.” Jelasku.


“Itu?... Kota??.” Tanya dia sambil tidak karuan seperti orang yang kehilangannya nyawa.


“Aku rasa.” Jawabku.


“Ohhh aku ingat! Itu kota Flora.”


“Itu kota pengelana disana hanya kota bisa bagi orang orang pengelana.” Lanjut dia.


“Kita pengelana dan kita akan kesanakan?.” Tanyaku.


“Emmmm! Let’s Go!.” Seketika kembali semangat. Aku menarik gasku lebih dalam agar cepat sampai kesana.


Sampailah kami, didepan kami ada dua penjaga yang membawa tongkat pendek dan bajunya lengkap penuh dengan baju besi hanya bagian mata yang terlihat, mereka  memberhentikan kami.


“Ada keperluan apa kalian kesini?.” Tanya penjaga itu dengan tegas. Vio mulai berbicara “Kami pengelana dan kota ini adalah tempat singgah bagi pengelanakan?.” Penjaga itu melihat kepenjaga lain.


“…” penjaga itu terdiam sejenak.


“Kami minta maaf, kota ini sudah 7 hari tidak akan menerima pendatang. Begitu pula kami tidak bisa membiarkan penduduk didalam keluar.”


“Heh?.” Kami berdua binggung.


“Bagaimana bisa seperti itu?.” Tanyaku.


“Kota ini terserang virus yang dimana virus ini bisa membuat orang sakit bisa menjadi semakin parah hingga bisa sampai berujung kematian, dan orang yang tidak sakit tidak akan merasakan apa-apa, didalam sana tidak ada aktivitas sama sekali orang-orang mengurung diri dirumah mereka masing-masing. Kota ini akan dibuka lagi 7 hari lagi untuk menghilangkan Virus ini. Jadi kami mohon pergi dari sini sebelum virus ini menyerang kalian juga.”


“Jika kalian terus mengikuti jalan ini, 50 Kilo meter lagi kalian akan sampai ke kerajaan Waterscape kalian bisa kesana dengan selamat.” Salah satu penjaga yang lain memberi kami saran.


Kami cukup binggung dengan kota ini, ini adalah satu satunya kota yang ditutup dan aku pribadi merasa penasaran dengan itu semua. Sebuah virus bisa menghentikan aktivitas orang - orang. Tanpa banyak bicara aku dan Vio melanjutkan perjalan kami 50 kilometer lebih jauh lagi menuju kerajaan Waterscape. Aku menarik gasku lagi, sepertinya vio juga penasaran dengan kota itu dia memandangi kota itu sampai hilang tertelan khatulistiwa.


“Semoga cepat sembuh, Flora.” Vio mengucapkan kalimat pelan namun terdengar olehku.


Kami melanjutkan perjalanan kami menuju kota selanjutnya yang berjarak 50 kilometer dengan kecepatan scooterku yang hanya maksimal 40 km/jam bisa diperkirakan aku sampai kekota berikutnya dalam waktu 1 jam lebih 25 menit, itupun jika aku tidak berhenti-berhenti karena Vio adalah orang yang mudah pegal dalam perjalanan.


Sama seperti yang aku jelaskan tadi perjalanan kita baru saja 20 kilometer dari kota Flora, Vio sudah memintaku untuk beristirahat sejenak.


“Mei Mei Mei!.” Dia menempuk pundakku. Aku yang seketika kaget dengan yang dilakukan dengan sepontan menarik rem depan dengan tangan kananku membuat semua penumpang tersungkur kedepan.


“Ada apa Vio?!..” tanyaku


“Kau liat pepohonan didepan sana?.” Dia menujukan sebuah kumpulan pepohonan tinggi berada dipinggir  jalan yang kami lalui.


“Pinggangku sudah tidak bisa menanhan lebih lama lagi Mei.”


“Baiklah baiklah” aku menarik gas lagi menuju pepohonan tersebut, sesampai disana Vio langsung lompat dan bersender di salah satu pohon dengan tidur terlentang seakan akan dia sedang melurusankan seluruh tulang tulangnya.


“hahhhhhhh~ Nyaman sekali!.” Dengan wajah yang polos. Akupun ikut bersender disalah satu pohon. Seperti biasa Mog berkeliling tak jauh dari kami dia men-scan semua benda-benda yang baru saja dia liat.


"Jangan terlalu jauh Moggie..."


"Beep beep!."


Cuaca disini tidaklah panas tapi cukup sejuk untuk bersantai disiang hari, angin mulai menghembuskan nafasnya membawa udara sejuk dari ratusan kilometer. Aku sedikit demi sedikit terlelap tertidur mungkin Vio sudah tertidur duluan.


Namun, muncul suara dari kejauhan suara itu samar-samar seperti orang yang sedang minta tolong. Aku terbangun, dan mencari sumber suara tersebut perasaanku suara itu terdengar didalam hutan yang akan kita lalui setelah ini. Aku membangunkan vio.


“Hei Vio Vio bangun!!” aku membangunkan Vio dengan menggoyang goyangkan badannya.


“HAH HAH!?? Gempa??!.” Dengan tingkahnya bodohnya.


“Ayo Vio ada seseorang yang minta tolong dari dalam hutan!.”


“Paling Cuma halusinasi.” Dengan wajah yang masih ngantuk.


“Coba kau dengar pelan-pelan…” seketika Vio hening, dan beberapa saat kemudian suara terdengar samar lagi. Vio yang sadar langsung bangun, mengambil pedangnya dan langsung naik kescooter dengan memegang kedua stang motor.


“EHHHH… kau bisa membawa scooter Vio?.” Tanyaku


“Hehehe!.” Dengan muka polos dan perlahan lahan pindah ke jok belakang.


“Ayo Mei berangkat hehehe.” Masih dengan muka polosnya.


Kami bertiga mengikuti sumber suara tersebut yang sebenarnya searah dengan perjalanan kita menuju ke kota selanjutnya apa boleh buat.


Sampailah kami didalam hutan, hutan ini berbeda dengan hutan yang lain hutan ini memiliki pepohonan yang sangat tinggi. Batang-batang pohon yang besar serta kokoh membuat hutan ini sangat besar dan begitu luas, jalan yang cukup untuk dua jalur kendaraan seukuran scooter bisa dilewati dengan leluasa, yang membuatku terkagum dengan hutan ini adalah hutan yang berbeda dengan hutan yang lain, hutan ini tidak hanya berisi pohon-pohon yang menjulang tinggi dan batang batangnya yang besar serta langit langitnya ditutupi oleh dedaunan, yang menjadi hutan ini unik air terjun yang terlihat disetiap selah-selah beberapa pohon dari air terjun kecil hingga yang berukuran besar terlihat disepanjang jalan ini benar-benar membuatku terpesona, tak hanya tumbuhan hewan-hewan disini berlari kesana kemari.

__ADS_1


Saking terpesonanya dengan tempat ini aku lupa dengan suara yang membuat kami penasaran. Suara itu semakin jelas suara yang terdengar adalah kata ‘tolong’ semakin mendekat semakin jelas, dan dari kejauhan terlihat seorang anak kecil terjepit pohon kecil, tidak itu besar untuk badannya yang kecil dia melihat kami dan langsung meminta tolong lagi. Kami mendekatinya, disebelah dia ada scooter yang percis sepeti milikku. Vio mulai memotong dahan-dahan yang sekiranya mengganggu dan memotong batang pohonya yang menjepit kaki kanannya.


“Hei apa kah kau tidak apa apa?.” Tanyaku dengan bahasa yang begitu baku sekali.


“Awww!!.” Kaki kanannya berdarah pada bagian lutut, aku mulai mengambil obat-obatan di dalam bagasi scooterku


“Tunggu jangan bergerak, akanku obati.” Dia hanya menahan sakit dan air matanya.


Anak kecil ini dia perempuan yang memiliki warna rambut sama denganku namun memiliki mata berwarna merah muda yang pekat. Memiliki tinggi badan yang hanya 130 Cm, baju yang dia gunakan juga cukup unik berbeda dengan yang kami gunakan dia menggunakan baju yang seperti Gamis namun memiliki ikat pinggang yang dia lilitkan seperti tali sebanyak dua kali lilitan sehingga terlihat seperti memiliki dua bagian atas dan bawah dengan motif berwarna merah muda bercampur dengan warna dasar putih, terlihat lucu bagiku.


“Tahan ya, ini sedikit perih karena menggunakan obat cair antiseptik.” Aku mengoleskan cairan antiseptic, dan menutupnya dengan kapas.


“Mei, kau bisa mengobati luka?.” Tanya Vio.


“Hanya luka-luka kecil.” Jawabku.


“BEEP!!.” Mog men-scan anak kecil itu.


“HEY!! Thedang apa kau?!.” Dengan nada sedikit marah.


“Hehehe! Dia robot kecilku namanya MOG.”


“Lobot kecilmu?.” Tanya dia.


“hah?.” Vio sedikit heran, namun aku belum sadar.


“Sejak aku se-usiamu dia sudah menemaniku kemanapun aku pergi.” Jelasku.


“EMMM hehehe.” Mukanya berubah gembira.


“Aku thuka lobot thepelti ini.”


“Namamu Mei kan?.” Tanya dia


“dan kau thiapa?.” Dia langsung bertanya lagi dengan menunjuk kepada Vio.


“Ehhh?. Aku? Aku Dia Hana Violeta.” Jawab Vio.


“Nama yang baguth. Namaku Alice, dan aku theorang rhotacism.” Kami berdua terdiam.


“Ehhh Alice, apa itu rhotacism?.” Tanya Vio.


Mog langsung memperlihatkan sebuah hologram yang menjelaskan tentang rhotacism, disitu tertulis jelas ‘rhotacism adalah masalah linguistik yang menyebabkan ketidakmampuan dalam melafalkan bunyi konsonan 'R' atau ‘S’ dengan benar’ .


“Nah lobotmu pintal juga hehehe.” Sambil nyengir bangga.


“Bukan Cuma Huluf itu, aku juga tidak bitha mengatakan huluf, huluf thetelah huluf yang tidak bitha ku katakan tadi.”


“HAH!!.” Kami berdua binggung.


“huuruf yang setelah huruf yang kau tak bisa ucapkan?.” Tanya Vio making binggung.


“Oke okee bengini saja, tapi kau bisa menulis hurufnya?.” Dia mengangguk.


“Oke sekarang kau tulis huruf apa yang kau tak bisa ucapkan selain huru ‘R’” tegasku.


Dia mulai menulis ditanah, mulai membuat bentuk huruf dan kami kaget dia menulis huruf ‘S’. Ternyata dia tidak bisa menggucapkan huruf 'R' dan 'S'.


“Hoooo oke oke oke!!” Vio makin penasaran.


“Jikalau kau tidak bisa mengatakan Huruf ‘R’ sehingga ‘R’ menjadi ‘L’ lalu ‘S’ menjadi apa?.”


“Th” jawab dia.


“Hoooooooo!” rasa penasaran Vio terjawab.


“Tidak apa-apa alicee kau tetap lucu dengan gaya bicara Theperti itu.” Vio sambil merangkul Alice dan meniru gaya bicara Alice sehingga dia kesal.


“Hehehe maafkan dia Alice, dia emang seperti itu.” Jelasku.


“Tuhkan tuhkan thantai thaja alice hehe.” Vio mulai lagi.


“VIO!.” Tegasku.


“Hehehe hey hey aku bercandaa!.”


“Tidak lucu! Kau tahu.”


“Dimana rumahmu Alice?.” Tanyakku.


“Lumahku ada diujung hutan ini, jika kalian teruth maju kalian akan menemukan kerajaan WatelThcape dithanalah aku tinggal.”


“Hey kita juga sedang perjalanan kesana.” Jawab Vio tapi dengan gaya Bahasa normal.


“kalian dali mana, dan mau apa ke Watelthecape?.” Tanya dia.

__ADS_1


“Ceritanya panjang, butuh seharian menceritakannya.” Jelasku.


“Baiklah kalau begitu kita pelgi Ke watelthecape berthama-thama thaja.” Mungkin dia mengajak kita kerumahnya.


“Tapi kau tidak bisa menggunakan Scootermu kakimu sedang sakitkan.” Jelasku.


“Aku ikut denganmu dan olang ini memakai thcooterku.” Menujuk ke Vio.


“Hah!??, Aku hehehe, aku tidak bisa menggunakan benda ini.”


“HAA??? Hahahahaha!. Zaman Thekarang mathih ada yang tidak bitha menggunakan thcooter. PAYAH!” Dia mulai balas dendam ini adalah urusan pribadi yang baru muncul beberapa menit yang lalu.


“Hey!!! Kau mulai berani yaaaa?.” Vio mulai terpancing.


“PAYAH!.” Alice lagi lagi memanas manasi Vio kedua tangannya sambil memegang pinggangnya.


“HOOOO siapa yang tadi menyelamatkanmu dari tumpakan batang pohon hmmmmm???.”


“Mei!” dia tak mau kalah.


“OKE OKEE sudaah sudaahh” aku sebagai orang tengah tak bisa diam dengan perdebatan mereka.


“Vio kau harus belajar Menggunakan itu sekarang.” Jawabku.


“HAH? Mei yang benar saja, kau membela dia?. Maksudkuu, ayolah meiiii ini tak semudah mengayunkan pedang.” Vio membela diri.


"Iyaiyaaa dulu juga aku tidak bisa sama sepertimu.” Gertakanku. Vio terdiam dan memandang scooter milik Alice dan sesekali melihatku dengan wajah acuh.


“Baik baik!!! Akan aku cobaa!.” Aku tersenyum. Vio mencoba menaiki Scooter milik Alice dia benar benar awam, kemudian dia mulai mencoba memegang stang scooter itu.


“Ayolah kawan-kawan bagaimana cara menghidupkan ini beri aku intruksi.”


“Baiklah thebagai pemula akan aku belitahu calanya.” Tegas Alice.


“Emmm ini adalah methin melayang yang dulunya di thebut thepeda motol kemudian dunia mulai belkembang menjadi thcootel melayang dulu methin ini hanya cukup menggunakan kunci thiapa pun yang memiliki kuncinya pathti bitha memakannya.” Jelas Alice


“Lalu bagaimana?” tanya Vio.


“thekalang kau hanya memellukan akun dengan keamanan thidik jali thetheolang, contohnya Thcootel ini milikku dan hanya thidik jaliku yang bitha menyalakannya. Namun kau bitha menambahkan thidik jari olang lain agal tidak libet mencali thidik jali pemilik thecooter.”


“Thekarang aku akan menambahkan thidik jarimu kethini agar ketika kau menggunakan thecootel ini, jikalau thecootel tiba-tiba mati kau tak perlu aku. TAPI JANGAN KAU AMBIL THCOOTELKU! INGAT!!.” Tegas Alice, sembari mendekat ke scotter yang Vio tumpangi dengan kaki yang sedang sakit dia berjalan perlahan.


“Tunggu…. Emmm” dia mulai mengoprasikan Scotternya.


“okeee thudah masuk”


“thistem..”


“tambahkan akun.” Dia sibuk sendiri vio melihat layar didepan yang ada pada setiap scooter.


“okee aku beli nama Vio saja ?.” tanya dia sambil mengoprasikan.


“emm” jawab Vio mereka sibuk berdua, dan aku membereskan obat obatan bekas luka alice


“Okeee thekalang mathukan jari jempolmu.”


TITTT!. Bunyi suatu mesin.


“thelethai. thekalang kau thwipe Up jempol mu ke layal mati itu.” Vio melakukan perintah alice, dan Mesin Scooter itupun menyala, ya itu proses yang selama ini aku lakukan dan tak pernah memberitahu Vio.


“Wohohooo, Nyala!. Lalu lalu?.” Vio Kegirangan.


“Tinggal kau talik gas yang ditangan kananmu, genggam, lalu talil kebelakang“


“Sepert-“


NGENNNNNNNNNGGGGGGG!!!!!


“Waaaaaaaa!!!!!!” Vio menarik gasnya sekaligus membuat scooter itu terpental, semua orang berteriak.


“Viooo!.” Teriakku. Vio menabrak salah satu pohon besar.


“Adududuhhh.” Sambil memegang bokong dan kepalanya.


“Muahahaahha! Bodoh!. Kenapa kau menaliknya thekaliguth hahahaha.” Alice malah tertawa kegirangan sambil memegang perutnya.


“Kau yang menyuruh menariknya!!.”


“Hahaha! Ya kenapa kau tidak pelan pelan thaja menaliknya.” Mereka mulai berdebatlah, tapi itu bukan pertikayan yang begitu serius Vio mencoba lagi lagi dan lagi serta alice masih tetap mengajarinya untuk beberapa jam kedepan, tidak dipungkiri Vio seorang yang mudah gampang dalam belajar sesuatu hanya beberapa jam saja dia sudah bisa memnggunakan scooter namun hanya dengan kecepetan pelan tapi itu akan terbiasa.


Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Kerajaan Waterscape dimana disana alice tinggal dan tujuan kami selanjutnyanya juga. Aku dan Alice dalam satu scooter aku mengendari Scooter dan membonceng Alice, Vio


bersama Mog membawa Scooter milik Alice duduk didepan percis seperti biasa dia duduk di scooterku. Kami melaju cukup lama karena kami tidak bisa melaju lebih dari 20 km/jam. Itu tak masalah karena pemandangan disini sejuk dan begitu indah dimana mana air, sesekali kali melewati lorong lorong dibelakang air terjun seakan akan kami didalam air terjun itu sangat indah sekali. Hewan hewan dan ikan ikan yang ada didalam air tak menghiraukan kamu mereka menikmati keindahan seperti biasa.


Sampailah kami di ujung perjalan kami, sebuah tempat yang kami tidak percaya tempat ini terlalu indah untuk dibakar terlalu indah untuk dihancurkan dan bahkan aku tak rela itu semua terjadi.

__ADS_1


Sembari menarik gas Scooterku dengan perlahan karena aku tidak mau lewatkan sedetikpun keindahan tempat ini sebuah kerajaan yang penuh dengan air ditengah hutan seperti ini, Kerajaan ini semua benar benar berisi air, dan aku tak percaya didunia ini masih ada yang seperti ini.


“Ayah, ibu jangan marah ya aku keluar rumah sejauh ini.”


__ADS_2