
“Teruntuk Bunga yang Selalu Membuatmu Tersenyum!.”
“Kau ingin bertemu dengan orang tuamu kan gadis kecil?.” Orang gendut itu mengancam Vio.
Semua penduduk sudah panik keadaan sudah mulai kacau sebagian mulai teriak dan sebagian penduduk mulai panik tak karuan. Kakek mencoba berdiri berkali-kali berharap dia bisa menyelamatkan cucunya.
“Lepaskan dia!.” Kakek teriak dari kejauhan, orang itu tidak menghiraukan kakek, penyembur api sudah menempel didada Vio seakan-akan sudah siap untuk membakar Vio.
“hmmm! Sudah buang buang waktunya.” Jari orang tersebut mulai menarik pelatuk untuk membakar Vio. Suasana mulai tegang semua penduduk mulai terdiam menyaksikan Vio akan dibakar hidup-hidup.
“Shield!!.” Api besar keluar dari alat itu membakar badan Vio tapi itu semua hanya terlihat dari luarnya saja, perisaiku melindungi Vio.
“Apa itu?.” Pria itu melepaskan Vio dan lompat menjauh beberapa meter, dia kaget karena melihat perisaiku melindungi vio.
“Cukup!!.” Teriakku dari kejauhan sambil memegang tongkat ini, tongkat ini beraksi dengan Mog, Mog memberikan kekuatannya dengan mengontol lewat tongkat, ini aku bisa merasakan beberapa kekuatan pada tongkat ini aura pernafasanku bisa merasakan angin sejuk mengitariku, dan bunga-bunga yang berterbangan mengelilingiku, dan tongkat itu memiliki pusat yang diujung pusatnya awalnya kosong setelah bereaksi dengan mog cahaya berwarna ungu seperti kristal salju mengambang ditengah - tengahnya, Ini ajaib.
“Kau pikir menghilangkan nyawa orang adalah hal mudah!!!.” Tegasku sambil menodongkan tongkat ke orang gendut itu. Ini menakjubkan aku merasa sebuah aura dari bunga-bunga disekitar sini seperti memerintahku untuk melakukan hal yang muncul tiba-tiba dalam pikiranku. Mereka seperti berbicara padaku!.
Aku menutup mataku, seketika mulutku berbicara “Jasmine!.” Aura berwarna putih bercampur dengan hijau muda mengitari Vio kemudan masuk kedalam tubuh Vio, ini seperti sihir beberapa detik kemudian Vio bangun dengan luka dia yang sudah sembuh kembali.
“Mei?.” Dia syok melihatku. Aku memberi isyarat menganggukan kepala menandakan untuk serangan balik, dia memasang kuda kuda kembali. Pria gendut dan para pengawalnya mulai panik.
Aku memejamkan mataku lagi mencoba berkomunikasi dengan para bunga ini dan berfokus pada Vio mulutku mulai mengucapkan kata lagi “Rose!.” Aura merah muncul disekitar Vio berbentuk serpihan bunga mawar dan masuk kedalam pedang vio. Pedang vio dilapisi aura berwarna merah. Dia mulai berlari ke arah beberapa pegawal orang gendut itu mulai menebas satu persatu dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Kelima pengawalnya tumbang, pria gendut itu marah, melihat pengawalnya kalah dengan sekali tebasan.
Dia mulai bersiap-siap untuk serangan Vio, Vio mulai menyerang lagi kali ini pria gendut itu kewalahan menangkis serang Vio. Dia menahan serang vio dengan tenaga yang dia punya. Kemudian Vio seketika menendang perutnya sehingga pria terpental beberapa meter. Dia bersiap siap menodongkan penyembur api sembari berlari mulai mendekati Vio, namun vio berhasil mengelak dari sisi lain dia menebas punggung pria gendut itu. Vio berhasil menebasnya.
Pria gendut mulai murka, dia membuang penyembur api itu dan mengambil beda yang bentuknya sama dibelakang badannya, semacam senapan mesin yang bisa mengeluarkan puluhan peluru dalam satu detik. Vio syok melihat benda itu karena mengingatkannya pada masa kecilnya.
“MATI KAU!.” Tembakan bertubi-tubi menyerang Vio, secara sepontan aku menggunakan perisai lagi.
“VIO! FOKUS!.” Teriakku, dia melihatku dan mulai sadar lagi. Beberapa serangan terus ditembangkan yang Vio lakukan hanyalah menghindar mencoba mencari celah untuk menyerang. Sampai akhirnya pria gendut itu berhenti, vio pun berhenti karena kelelahan Aura merah pada pedangnya mulai meredup, mereka berdua menarik nafas.
“HEHEHAHAHAHAHA!!.” Pria gendut itu seperti mempunyai rencana jahat.
“Kau menjadi kuat seketika itu sangat mengejutkan!.”
“Tapi aku tahu apa yang membuatmu mendadak kuat seperti ini.” Mulutnya mulai tersenyum jahat.
“KARENA GADIS ITU!!!.” Secara mendadak dia menembakan senjatanya tepat kearah aku namun perisai Mog otomatis melindungiku.
“Sekarang Vio!!.” Teriakku
"SERANG DIA KAKAK HANA!!."
"AYOOOO! HANA!!!."
"VIO!!!" Semua penduduk perkampungan berteriak menyemangati Vio. Vio langsung berlari sambil berlinang air mata dengan tatapan mata yang penuh dengan percaya diri!.
“Keluargaku, Perkampunganku, Kakeku, dan bahkan keluarga Mei!. Kalian habisi semua!!!.” Vio menebas senapan mesin itu.
"SIALAN!!! KAU!."
DUUUUAAARRRRR!!!!.
Seketika mesin itu meledak sehingga membuat dia terpental jauh. Vio menang dalam pertaruangan pria gendut itu lari kearah hutan dengan luka yang cukup parah.
__ADS_1
Semua orang bersorak melihat aksi Vio yang berhasil mengusir mereka. Vio membalikan badannya tersenyum melihat kearah kami, namun senyuman itu berubah menjadi raut wajahnya berubah syok, Pandanganku kabur, tubuhku tidak bisa menahan badanku untuk berdiri, padanganku mulai hitam hanya terdengar suara orang-orang yang teriak dan teriakan Vio paling kencang memanggil namaku, aku tak sadarkan diri.
....
“Kau telah mencuri apa yang jadi hak orang lain.”
“HAH?. Tidak tidak aku tidak bermaksud seperti itu?.”
“Kau akan merasakan Kehilangan yang penting bagi dirimu!.”
“Tidak kumohon jangan dia yang kau ambil!.”
MOG!!. Aku terbangun syok, badanku basah penuh dengan keringat wajahku penuh dengan air keringat.
“Mei?.” Sebut Vio yang sedang duduk di kursi menungguku bangun.
“Beep?.” Aku melamun dengan apa yang terjadi barusan, itu seperti nyata. Seketika aku melihat Mog, ternyata dia masih disini. Aku menghelakan nafas mencoba tenang, melihat sekitar ternyata aku ada di kamar Vio.
“Apa yang terjadi?.” Tanyaku.
“Setelah pertarungan tadi siang kau pingsang, aku khawatir dan bergegas membawamu kesini. Tenang kakek sedang membuatkanmu teh herbal.” Jelas Vio sambil memagang tanganku.
“Bagimana dengan mereka?.” Tanyaku penasaran karena setelah kejadian itu aku tidak tahu apa yang terjadi.
“Mereka kabur entah kemana.” Jelas Vio.
“Syukurlah..”
“Mei, kau harus segara pergi dari sini” suara dari lantai satu menuju lantai dua, kakek sedang membawa teh herbal.
“Tapi kenapa?.” Tanya Vio.
“Mereka ingin menciptakan lebih banyak lagi robot yang ber-type seperti Mog dan mereka akan menggunakannya untuk menguasai dunia ini.” Jelas kakek itu.
“Aku akan pergi, lagi pula aku harus pergi mencari ayah dan ibuku, aku tidak akan tinggal disini terus.”
“Kau boleh tinggal disini sampai besok mei, aku tidak bermaksud mengusirmu dan Mog.” Jelas kakek itu terdengar benar, karena jika aku disini lambat laun mereka akan kesini lagi.
“Kau punya misi besar Mei, Mog hanya tunduk padamu kau yang harus menghentikan para elang merah itu.” Aku tidak pernah memikirkan itu sama sekali aku yang seorang anak kecil harus menghentikan organisasi yang begitu besar, yang bahkan mungkin sebelum aku lahir mereka sudah ada bagaimana caranya, yang aku pikirkan adalah bagaimana aku harus bisa membawa pulang kembali kedua orang tuaku hanya itu.
“Tunggu dulu!!.” Vio memotong obrolan kami.
“Kakek! Aku ikut pergi bersama Mei!.” Tegas Vio.
Kakek menutup mata dan mulai menampakan wajah kesalnya. “Dasar bodoh!! Tidak usah teriak saja aku akan menyuruhmu pergi!.” Sembari memoles kepala Vio.
“adududuh!!.” Vio mengelus kepalanya karena kesakita yang cukup serius.
“Hahahaha..” aku tertawa.
"Mei bisa kau bawa dia bersamamu?.” Tanya kakek.
“Emmm.” Aku mengangguk. Aku menyetujuinya karena aku butuh Vio untuk menemaniku mencari ayah dan ibuku, aku juga perlu kekuatannya untuk membantuku dalam perjalanan. Ngomong-ngomong aku harus memodif scooterku agar Vio bisa naik bersamaku, akan ku buat satu kursi lagi dibelakang sehingga vio bisa duduk dibelakang dan pergi kemanapun kita mau, akan ku kerjakan sekarang.
Aku mulai mengumpulkan beberapa barang- barang tua di Gudang milik kakek ada beberapa barang yang bisa aku gunakan. Aku mulai membuat satu tempat duduk lagi yang akan menjadi tempat duduk Vio, ini akan menyenangkan kini kita tidak lagi berdua sekarang aku ditemanin seorang yang akan menjadi kestaria hebat, aku percaya. Memodif Scotter ini sangat memakan waktu lama hingga larut malam. Pada keesokan harinya scotterku sudah selesai.
__ADS_1
“Wahhh!.” Vio kagum.
“Mei mei! Kau hebat, kita akan pergi kemana kita mau kan kan??.” Rasa senang dia muncul.
“Hmmm!.” Aku mengangguk.
Hari ini kita akan pergi, aku bersiap-siap membereskan barang-barangku, barangku bertambah yaitu tongkat ini aku binggung harus seperti apa membawanya. Ini Panjang dan sedikit besar.
“Nih!.” Vio memberikan sebuah sarung untuk tongkatku ini semacam tas soren namun untuk senjata yang panjang, ini cukup untuk tongkat ku yang ku simpang dipunggungku. Ya setidaknya tidak sulit untuk dibawa juga, Semua siap.
“Kau belum siap-siap Vio?.” Tanyaku.
“Heheheh sebentar aku ganti baju dulu.” Dia berlari kekamarnya. Didepan pintu terlihat kakek menuju keluar rumah, dia tersenyum.
“Tolong jaga anak itu, dia orangnya ceroboh, bahkan orangnya asal menambil tindakan.” Jelas kakek itu, Aku mengangguk.
“Mei tujuanmu selanjutnya kemana?.” Tanya kakek itu.
“Aku akan ke penjara Alkasban, Aku harus bertemu dengan seseorang, banyak sekali yang ini aku tanyakan tentang Mog.”
“Seseorang?.” Dia bertanya lagi
“Aku tidak tahu orangnya tapi dia yang menulis buku ini.” Aku menunjukan
“Willian Gerec ke-12!.” Kakek itu terkejut.
“Ada apa kek?.” Tanyaku penasaran.
“Jika orang ini masih ada kau harus temui dia segara, karena dia adalah otak dari terciptanya Mog.”
Kakek itu menjelaskan bahwa buku ini di tulis oleh orang yang dulunya yang membuat Mog, disini aku binggung tapikan yang membuat Mog adalah ayah. Aku harus segera bertemua Dia.
“Baiklah aku siap kapanpun kita berangkat Mei!” dibalik pintu terlihat Vio sudah selesai ganti baju dan membawa barang bawaan dia, kini dia berpenampilan berbeda.
Rambutnya diikat, Dia menggunakan baju dan bagian roknya dalam satu jaitan, dengan panjang rok yang hanya selutut dengan ikonik yang selalu menggambarkan Vio, warna baju Ungu transparan dan berpadu dengan
warna putih, membuatku kagum dia semakin cantik.
“Ada apa mei? Apa penampilanku tidak cocok untuk berpergian?.” Tanya dia sembari mengecek bajunya memastikan tidak ada yang salah.
“Kau mirip sekali dengan Hana!.” Potong kakek itu.
“Hana?.” Kami berdua sepotan bertanya.
“Hana adalah ibumu, dan yang kau pakai adalah baju ibumu. Dia dulu seorang kestria juga.”
“Owwww!!.” Kami berdua kaget.
“Aku tidak tahu aku menemukan baju ini di tumpukan baju di lemariku pantas saja aku tidak pernah ingat kapan membeli ini” jelas Vio.
“Kau sudah tumbuh dewasa Vio, saat ibumu seumur denganmu dia berkeliling dunia ini bersama para kesatria lain, di perjalanan dia bertemu dengan ayahmu. Ayahmu yang menyelamatkan ibumu ketika sekarat karena diserang DEIMONS diperjalanan. Maka dari itu, ini saatnya kau harus pergi dari perkampungan ini.” Sambil batuk kakek itu lanjutkan pembicaraannya
“Dia Hana Violeta, pergilah dan carilah musuh yang bisa membuatmu menjadi hebat seperti ibumu dulu. Kau akan menemukan beberapa orang yang akan membuatmu kuat. Satu pesanku, jangan remehkan siapapun meskipun dia lebih lemah darimu itu adalah dasar untuk tidak jadi sombong, karena sombong adalah kehancuran untuk dirimu sendiri. Dan kau Mei, suatu hari kau akan mengerti dunia ini sedang membutuhkanmu, cepat atau lambat kau akan berhadapan dengan suatu kejadian yang akan membuatmu menangis saja tidak bisa.” Aku hanya terdiam menundukan wajahku ketanah aku hanya anak kecil yang belum siap untuk hal itu, vio memegang bahu seakan di memberitahu bahwa aku harus tenang karena aku tidak sendiri sekarang.
Kami pun siap berangkat semua orang sudah siap aku sebagai supir Mog seperti biasa duduk didepan dekat speedometer dan sekarang ditambah Vio yang duduk dibelakangku dengan posisi duduk menyamping karena dia menggunakan rok membuatnya tidak mungkin untuk duduk menghadap punggungku.
__ADS_1
“Kakek, sampai nanti! Aku kan kembali lagi jika aku selesai membantu Mei! Jaga diri baik baik!.”
Sambil melambaikan tangan semakin jauh kami pergi. Perjalanan baru saja dimulai, sekarang aku ditemanin Vio yang bisa aku ajak bicara saat aku bawa scooter, perjalanan kami dimulai lagi. Dunia baru akan menanti kami perkotaan tau perkampungan berikutnya akan melatih pengalaman kami dan aku harus siap, Penjara Alkasban aku datang.