
Setelah mobil Danu tidak kelihatan, Ana melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dengan langkah pelan, Ana masuk kedalam rumahnya.
Melihat putrinya masuk ke dalam rumah, dengan segera Ratna berkata, "Kamu uda pulang An?" melihat ke arah putrinya "Sini makan dulu."
Mendengar ucapan Mamanya, Ana pun berkata. "Aku ngak lapar Ma." ucapAna pelan.
"Kamu uda makan?" Ratna kembali melihat ke arah putrinya.
Mendengar nada suara pelan yang keluar dari mulut kakaknya, Adi pun berkata. "Itu bos kaka ya?" melihat ke arah Ana "Keren banget, dan mobilnya, astaga sumpah itu mobil yang sangat keren yang pernah aku lihat." tersenyum "Kapan ya kita bisa punya mobil seperti itu?" melamun.
Mendengar ucapan adiknya, Ana pun berkata. "Tunggu sampai tahun gajah, kita pasti bisa membeli mobil seperti itu." tersenyum mengejek.
Mendengar ucapan Ana, Adi kembali berkata. "Itu bosnya kaka, atau pacarnya?"
Mendengar ucapan Adi, Ana terlihat sangat kesal, Ana pu berkata. "Iss, apaan sih! dia itu bukan teman aku, bukan pacar aku, melainkan dia adalah bosnya aku. Aku telah salah, tadinya aku berfikir, kalau dia itu sama pekerjaannya di kantor, namun ternyata, dia adalah bos di kantor aku." Ana menjelaskan semunya.
Mendengar penjelasan keluar dari mulut Ana, Ratna hanya bisa terdiam, sementara Adi kembali berkata.
__ADS_1
"Bangus dong, kalau kakak punya pacar bos di kantor tempat kakak bekerja" tersenyum melihat ke arah Ana "Kakak kan bisa bekerja santai, kaka tinggal menyuruh karyawan lainnya untuk mengerjakan semua pekerjaan kakak."
Mendengar ucapan Adi, Ana terlihat sangat kesal, Ana pun berkata. "Biarpun Danu mau sama gua, gua ngaka akan pernah mau sama di, gua sadar diri, gua ngak sepadan dengannya, dia itu orang kaya, sedangkang kita hanya rakyat jelata, miskin." Ana menekannkan kata miskin.
Itulah Ana yang selalu menghindar dari semua pemuda kaya, ia selalu merasa hidupberdampingan dengan orang kaya, sama halnya membuat malu diri sendiri. itulah yanga selalu Ana fikirkan, soal orang kaya.
Mendengar itu semua, Adi kembali berkata. "Lalu bosnya kaka itu, siapanya kakak dong?" kembali melihat ke arah Ana.
Mendengar pertanyaan adiknya, Ana menrik nafasnya pelan, lalu membuangnya secara perlahan, lalu berkata.
"Danu bukan siapa-siapanya kaka, kaka berteman dengannya karna kakak tidak tau kalau Danu itu adalah bos di kantor kaka bekerja. Seandainya dari awal kaka tau kalau Danu itu bosnya kaka, kaka tak akan pernah mau berteman dengannya.
Setelah mengatakan itu, Ana berjalan menuju ke arah kamarnya.Ana masuk ke dalam kamarnya dengan perasaanyang sangat sedih tak menyangka, kalau selama ini Ia terlalu dekat dengan bosnya itu.
Setelah selesai membersikan diri, Ana merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, karna merasa sangat kelelahan. Baru saja Ana ingin menutup kedua matanya, tiba-tiba Hapenya berdering.
Trinzzzzz.
__ADS_1
Ana mengambil hapenya yang ada di atas meja, lalu membaca nama pemanggil.
Danuarta calling...
Ana kembali meletakkan hapenya di atas meja, ketika melihat nama Danu di layar hapenya. Ana sengaja tak mengankat panggilan Danu, karna mulai saat Ia tau, kalau Danu adalah bosnya, Ana akan mulai menjahuinya.Bagi Ana menjahui Danu lebih cepat, itu akan jauh lebih baik itu yang mulai ada fikiran Ana saat ini.
Pagi-pagi sekali, Ana telah berangkat ke kantornya, Ana sengaja berangkat pagi, karna Ia tak mau bertemu dengan Danu. Setelah sampai di kantor, Ana melihat sekeliling, memastikan Danu tak melihatnya masuk ke dalam kantor, dengan cara sembunyi-sembunyi Ana berjalan masuk ke dalam ruangan yang Ia tempati bekerja, Ana duduk, sambil melamun.
Lamuna Ana buyar ketika Hana datang mengghampirinya. "Elo kenapaa An? dari tadi aku perhatikan kamu terlihat ada masalah gitu." tersenyum "Cerita dong sama aku."
Mendengar ucapan Hana, Ana tersenyum, lalu berkata. "Sebenarnya?" ucapan Ana menggantung.
Dan itu membuat Hana penasaran. "Sebenarnya apa?" Hana melihat ke arah Ana ketika mengatakan itu.
Ana menarik nafasnya pelan, lalu berkata "Sebenarnya Danu itu adalah bos kita."
Mendengar ucapan Ana, mata Hana membulat taka percaya dengan apa yang tengah Ana katakan. Hana pun berkata. "Apa!" terkejut "Yang benar? kalau Danu itu bos kita." menatap wajah Ana yang terlihat seperti biasanya.
__ADS_1
"Memangnya kamu tau darimana? kalau Danu itu bos kita."
Ana pun menjawab semua pertanyaan Hana. "Kemarin Danu ajakin gua weekend bersama di risort keluarganya, awalnay aaku juga tidak tau, kalau dia itu bosnya kita, kalau saja aku tau, aku tak akan pernah mungking menerimaajakan weekendnya. Dan mulai hari ini, aku akan mulai menjauhinya, karna gua sadar, gua ngak pantas jadi temannya" setelah mengatakan itu, Ana menghembuskan nafasnya pelan.