
Ting!, pintu
lif terbuka, Danu keluar dari dalam lif di ikuti oleh Ana di belakangnya, Ana
melihat ke arah Danu lalu berkata.
“Kita mau
kemana pak?” melihat ke arah Danu yang kini tengah berjalan di hadapannya.
Mendengar pertanyaan
Ana dengan segera Danu berkata. “Gua pengen ajakin lo kepasar.” Tersenyum tipis
“Ya gua pengen ajak elo ke raungan aku lah.” Danu terlihat santai ketika
mengatakkan itu.
Mendengar ucapan
Danu, Ana pun berkata. “Is, nyebelin banget sih.” Dengan nada suara pelan. Namun
suaranya itu masih terdengar jelas di telinga Danu.
Mendengar ucapan
pelan Ana, Danu pu berkata. “Awas, An, gua dengar apa yang barusan elo katakan.”
Tersenyum tipis “Nanti gua akan potong gaji lo.”
Mendengar kata
potong gaji keluar dari mulut bosnya, dengan segera Ana berkata. “Maaf pak.” Nada
suara pelan.
Setelah sampai
di depan pintu ruangan Danu, dengan tegasnya Danu berkata. “Masuk.” Melihat ke
arah Ana “Kalau tak mau masuk, bulan ini setengah darigajimu aku potong.”
Mendengar itu
dengan segara Ana masuk kedalam ruangan bosnya sambi berkata. “Is, sih bos
killer ini, kerjanya cuman ngancam gua terus. Mentang-mentang bos disini,
seenaknya saja main perintah-perintah, seandainya elo bukan bos gua, uda gua
geprek kepala lo.” Grutu kesal Ana.
Danu berjalan
ke arah sopa yang ada di dalam ruangannya, lalu duduk. Melihat Ana masih
berdiri di hadapannya, Danu pun berkata.”Duduk, lalu makan.” Perintah Danu.
Mendengar itu
dengan segera Ana berkata. “Maaf, saya udah makan.” Tersenyum melihat ke arah
Danu.
“Memangnya
kamu makan apa?” menatap wajah Ana.
“Makan bekal
saya dari rumah pak.” Dengan santainya Ana mengtakan itu, tampa Ia tau kalau
semua bekal makan siangnya Danu yang tengah menghabisinya.
Mendengar ucapan
Ana, Danu tertawa melebar, membuat Ana merasa sedikit bingun.melihat itu Ana
pun berkata, “Kenapabapak tertawa? Seperti orang gila saja.” Berkata pelan dan
santai.
Mendengar Ana
__ADS_1
mengatainya seperti orang gila, Danu menatap tajam ke arah Ana, Lalu berkata. “Apa!
Elo mengatai gua gila?” sedikit kesal.
Mendengar itu
dengan segera Ana berkata. “Maaf pak bukan maksud saya berkata begitu,” Ana
menundukkan wajahnya ketika mengatakan itu.
Melihat Ana
menundukkan wajahnya, Danu berdiri lalu berjalan mendkat ke arah Ana, Danu
meraih tangan Ana lalu mengajaknya berjalan ke arah kursi, lalu menyuruhnya
duduk, setelah Ana duduk.
Danu pun
berkata. “Makanlah An, gua tau elo belum maka.” Berkata pelan dan lembut “Maaf
tadi gua yang udah habiskan semua isi kotak makan siang lo.” Melihat ke arah
Ana yang tengah melihat ke arahnya.
Mendengar ucapan
Danu, Ana membulatkan matanya, lalu berkata. “Apa! Jadi elo yang udah
menghabiskan semua makan siang gua?” menatap tajam ke arah Danu, dengan nada
suara tinggi.
Mendengar ucapan
Ana yang terlalu sangat keras, Danu pun berkata. “Pelangin suara elo, nanti
asisten pribadi gua dengar, kan ngak enak jadinya kalau dia dengar,” tersenyum
melihat ke arah Ana.
Mendengar itu
“Kalau elo
ngak mau makan, gaji lo bulan ini gua potong dari setengahnya. Elo mau?”
menaikkan alisnya melihat ke arah Ana “Bagaimana, apa kamu mau gaji kamu di
potong? Cuman karna tak mau makan.” Tersenyum melihat wajah kesal Ana.
“Makanlah.” Tersenyum
“Dan gua ngak mau mendengar satu kalimat lagi keluar dari mulut lo.”
“Biak pak,
saya akan makan.” Pasrah dengan apa yang tengah bosnya katakan.
Ana mulai
membuka kotak makanan yang ada di depannya, Ana tersenyum melihat makanan yang
ada di hadapannya, lalu mulai malahap semua makanan tersebut hingga tak
tersisa. Sementara Danu tak berenti melihat ke arah wajah Ana yang kini tengah
makan di hadapannya.
Danu pun
berkata dalam hati. “Semakin gua melihat wajah Ana, semakin gua merasa, kalau
gua prnah bertemu dengannya, tapi dimana?” guman Danu.
Ana melihat
ke arah Danu yang kini tengah asyik melihat ke arah wajahnya, Ana pun berkata. “Pak,”
memanggil “Bapak kenapa lihatin wajah saya? Apa ada makanan di wajah saya? Atau
bapak melihat wajah saya, karna aku cantik.” Ana tersenyum ketika selesai
__ADS_1
mengatakan itu.
Mendengar ucapan
Ana, denga santainya Danu berkata. “Tapi menurut gua, elo itu tidak cantik,
biasa saja, yang ada elo itu gadis yang paling cerewet yang pernah gua temuin.”
“Tapi
kangenin kan pak.” Menaikkan kedua alisnya melihat ke arah Danu “Maaf pak gua
cuman bercanda, ya sudah terimaksih banyak ya pak, karna telah mengantikan
makan siang saya, dan sekarang saya harus kembali bekerja.”
Setelah mengatakan
itu, Ana berangjak dari tempat duduknya. Namun belum sempat Ana berdiri,
tangannya di tarik oleh Danu.
Danu pun
berkata. “Siapa yang ngijinin lo berdiri?” melihat ke arah Ana.
“Bapakkan
cuman suruh saya makan, sekarang saya sudah selesai, jadi ingin kembali bekrja
lagi.” Ana tersenyum manis ketika mengatakan itu.
Mendengar itu
Danu pun berkata. “Nanti saja An, ada yang mau gua katakan sama lo.” Menatap ke
arah wajah Ana.
“Bicara saja
pak, aku akan menjadi pendengar yang setia untuk bapak.”
Danu menarik
nafasnya, lalu mengbuangnya secara perlahan, setelah itu Ia mulai brbicara. “An,
kenapa elo hindarin gua?” menatp wajah Ana.
“Maaf pak,
gua ngak merasa hindari bapak.” Berkata santai.
“Ana
berhenti panggil gua bapak, di saat kita tengah berdua seperti ini.” Menatap
wajah Ana.
“Memang
salah ya pak? Kalau gua panggil elo bapak?kan disini anda bosnya.”
Mendengar semua
kata yang keluar dari mulut Ana, Danu melihat ke arah Ana, lalu kembali
berkata.
“Jawab
pertanyaan gua An, kenapa elo hindarin gua?” menatap wajah Ana, sambil menunggu
jawaban yang keluar dari mulutnya.
Mendengar pertanyaan
itu lagi, Ana kembali berkata, “Hiya, pertanyaan itu lagi, maaf ya pak seperti
yang uda gua jelaskan tadi, ah sudah deh pak, gau malas menjelaskan semuanya.” Setelah
mengatakan itu, Ana berlari keluar dari dalam ruangan Danu, dan Danu juga
ikutmengejar Ana, namun Ana keburu masuk ke dalm lif.
__ADS_1