
Setelah selesai makan bersama, Danu pun betkata.
"Terimakasih ya." menatap wajah Ana.
Mendengar itu Ana berkata. "Terimakasih untuk apa?" tanya Ana pelan.
"Makanannya, sumpah ini makanan, sangat lezat." Danu memuji makanan yang Ana bawa.
Ana tersenyum manis mendengar ucapan Danu, Ana pun berkata.
"Tentu sangat lezat, karna itu maskan nyokap gua." dengan bangganya Ana mengatakan itu.
Mendengar ucapan Ana, Danu berkata. "Yah, gua fikir ini masakan lo! ternyata bukan." Danu memperlihatkan wajah sedikit kecewa.
Melihat itu Ana tersenyum manis. Dan itu membuat jantung Danu berdetak tak karuan. Danu menarik nafas dengan pelan, agar suara detak jangtungnya tak terdengar oleh Ana.
Ana pun betkata. "Emang lo, mau makan masakan gua?" tersenyum "Kalau elo mau, nanti gua masakin."
Mendengar itu ucapan Ana barusan, Danu terlihat sangat senang, lalu berkata.
"Benar, elo mau masak buat gua?" Danu terlihat sangat senang ketika mengatakan itu.
"Benar, janji."Ana menaikkan angka dua di jari tangannya.
Mendengar semua ucapan Ana, Danu merasa sangat senang, tampa berfikir panjang Danu mengulurkan tangannya, lalu berkata.
"Kenalkan, nama gua Danuarta, dan biasa di panggil Danu."
Ana membalas uluran tangan Danu, lalu berkata.
"Ana Rasidi dan biasa di panggil Ana"
Mendengar nama gadis yang ada di hadapannya, Danu kembali berakata.
"Oya, apa boleh gua meminta nomor Hapenya?" tersenyum melihat ke arah Ana.
"Boleh." membalas senyuman Danu "Sini Hapenya, biar gua ketik nomor Hapeku."
Jam makan siang telah berlalu, para stap dan karyawan kembali ke tempat bekerja mereka masing-masing, begitu pun dengan Danu.
"Ana, gua kembali bekerja dulu ya?"
"Ok, kerjanya yang rajin ya." Ana memberi semangat.
Setelah itu Danu kembali ke ruangan kerjanya, dengan senyuman Danu duduk di kursi kebesarannya, sambil berkata.
"Gila, gua fikir dia gadis yang paling judes! namun ternyata." tersenyum "Dia adalah gadis yang sangat baik, dan satu lagi, ternyata dia bisa berbicara lembut seperti itu ke gua, dan itu membuat hati gua meleleh." Danu tak berenti tersenyum setelah mengatakan itu.
Sementara di ruangan kerja Ana. Hana menghampiri meja kerja Ana. Hana pun berkata.
"Ana." panngil Hana.
__ADS_1
"Hem." Ana hanya menyahuti panggilan Hana dengan kata Hem.
"Elo, uda kenal, sama tu cowo?" Hana duduk di meja kerja Ana.
"Udah." menjawab tampa melihat ke arah Hana, karna saat ini Ana tengah menyelesaikan pekerjaanya "Tadi gua makan bersama di pentri! gua juga uda tau namanya." tersenyum.
Mendengar itu Hana, terlihat penasaran dengan apa yang tengah Ana katakan.
"Namanya siapa Ana?" Hana penasaran.
"Namanya Danuarta." berkata pelan "Kenapa? apa lo naksir?" melihat le arah Hana yang kini tengah menatap ke arahnya.
"Ngak lah, gua cuman penasaran aja, karna tadi gua lihat lo, lagi bicara berdua dengannya."
Setelah mengatakan itu, Hana berjalan kembali ke arah meja kerjanya. Namun belum lama Hana pergi dari meja kerjanya Hape Ana berdering.
Ting.
Suara nada pesang Ana masuk ke dalam Hapenya. Ana mengambil Hapenya, lalu melihat pesan masuk.
Tampa nama
Hei, lagi sibuk ngak?
Ana
Tampa nama
Gua, cowok tampan yang makan bersama lo😂
Ana
Oh, elo Dan, pede banget sih! bilangin diri sendiri tampan.😁
Tampa nama
Lah, emang gua tampan,😁
Ana
Is, kepedean banget sih, uda ya, gue mau kerja dulu, bay.
Tampa nama
Selamat bekerja ya cantik.😘
Setelah mendapat pesan terakhir dari Danu, Ana tak berenti tersenyum sendiri. Di tambah emo yang dikirim Danu.
Ana merasakan ada perasaan aneh yang terlintas dalam hatinya. Namun dengan cepat Ana menepis perasaan aneh itu. Namun tidak dengan wajahnya.
__ADS_1
Wajah Ana saat ini, seperti tomat masak, sangat merah, Mira yang kebetulan berjalan di hadapan Ana, dan mlihat wajahnya sangat merah.
Mira pun berkata "An, kenapa wajah lo? merah kaya gitu, kamu sakit ya?" memegan dahi Ana "Tidak, suhu badan kamu biasa-biasa saj."
Mendengar itu, dengan segera Ana mengeluarkan, cermin bedak yang selalu ia bawa, Ana menatap wajahnya di pantulan cermin, lalu berkata.
"Iya, benar, wajah aku sangat merah. Ini kenapa ya?" Ana balik bertanya pada Mira yang ada di hadapannya.
Mira menaikkan kedua bahunya, lalu berkata. "Elo aja ngak tau, bagaimana dengan gua."
Setelah mengatakan itu Mira kembali ke meja kerjanya.
Ana kembali menatap wajahnya yang terlihat sangat merah. Namu setelah beberapa saat Hape Ana berdering.
Tringggg.
Danuarta calling....
Ana tersenyum melihat nama yang tercantum di layar Hapenya, dengan segera Ana menggeser tombol hijau pada layar Hapenya.
"Iya, halo."
"Ana, pulang nanti gua ikut lo ya, gua pengen ikut ke tempat dimana mobil gua mogok tadi."
Setelah sambungan telponnya, terputus dengan Danu. Ana melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Waktunya pulang." tersenyum senang.
Ana berjalan ke arah meja kerja Hana dan Mira.
"Ayok kita keluar." Ana tersenyum melihat ke arah kedua temannya itu.
Setelah mereka bertiga sampai di luar. Ana tak berenti melihat ke arah pintu keluar kantor. Melihat itu Mira bertanya.
"Elo nunggu siapa An?" Mira melihat ke arah Ana.
Ana tersenyum, lalu berkata. "Gua nungguin Danu."
Mendengar nama Danu di sebut Hana ikut bicara. Hana pun berkata.
"Danu yang lo temani makan siang?" tanya Hana penasaran.
"Iya, tadi gua uda janji." tersenyum "Gua mau anterin dia, untuk mengambil mobilnya yang mogok." Ana sedikit menjelaskan.
Setelah menjelaskan pada kedua temannya.
Seorang pemuda tampan berlari ke arah Ana.
"Maaf." mengatur nafasnya "Maaf banget ya, karna uda bikin kamu menunggu."
"Ngak apa." tersenyum.
__ADS_1
Melihat itu. Hana memberi kode pada Ana, agar Ia dikenalkan dengan pemuda tampan yang ada di hadapannya itu.