Erbe

Erbe
Hutan Azaldes


__ADS_3

Pesona lembayung menutup batas cakrawala dengan kehangatan, ada gemerecik air di aliran sungai Dish yang jernih, dari belahan utara terlihat taman bunga terindah yang pernah ada. Cloverosse, adalah bunga berwarna seindah Lilac, lebih harum dari kesturi dan juga dirinya yang halus melindungi kecantikannya dari serangga pengganggu. Desir angin menggoda dedaunan untuk menari bersama. Burung Yarth pun ikut dalam senandung senja bersama kehangatan penghuni hutan lainnya. Entah alam sedang riang atau langit yang bermurah hati memberikan pesona yang luar biasa ini. Siapapun yang pernah menginjakkan kaki di hutan Azaldes, yang konon terkenal dilindungi para Aigner, membuat mereka tergila-gila pada keindahannya. Namun, tak sembarang orang bisa memasuki kawasan Hutan Azaldes. Para Aigner tak akan tinggal diam, terlebih jika mereka berniat tak baik. Dari ujung timur, ada sebuah gua besar yang tertutup sulur lebat. Ini bukan sulur sembarangan, sulur inilah yang melindungi mulut gua dari mahluk asing.


Dinding yang tinggi dan lembab membuat orang sedikit bergidik memasukinya, stalaktit dan stalakmit yang ada membuatnya tambah perkasa. Namun, tak ada yang tahu bahwa di ujung gua yang terhubung dengan dimensi lain itu, terdapat sebuah dunia yang indah. Tak kalah indah dengan keasrian Hutan Azaldes. Dari kejauhan terlihat sebuah rumah berdindingkan kayu yang terlihat tak kokoh, dengan sebatang pohon uzhi di depannya. Suara senandung seorang pemuda kecil terdengar dari dalam rumah kayu itu.


"Anda sedang bahagia rupanya," sapa Maizar, si rajawali hitam dengan kepala berwarna putih.


"Apa tak boleh hatiku gembira, Maizar?"


"Tentu saja boleh, Tuanku. Bahkan itu membuat seisi langit ikut gembira."


"Jangan terlalu memuji. Aku bukan sesiapa yang bisa menggetarkan langit sedemikian hebat. Anak gelandangan yang miskin dan tak berdaya seperti aku, hanya pantas untuk menjadi penikmat nestapa. Ah, maaf kalau aku terlalu melankolis. Namun, itulah yang terjadi," papar Erland.


Maizar menatap wajah tuannya begitu dalam, dia tak menampik apa yang dikatakan tuannya, tapi ada hal yang tak diketahui oleh Erland dan hanya Maizar yang memegang kunci dari semua misterinya. Sejenak keduanya terdiam, lalu Erland kembali melanjutkan senandungnya. Lincah tangan bocah tampan berusia tujuh tahun itu membersihkan seisi rumah. Menjelang malam dia sudah menyiapkan sepotong roti gandum tanpa selai ataupun daging dan juga segelas air putih.


"Selamat malam, Maizar."

__ADS_1


Erland menutup pintu kamarnya dan kembali tidur. Tiba-tiba, tubuh Maizar diselimuti kabut putih gading yang pekat, ada pendar jingga dibalik kabut, pancaran energi yang kuat begitu kental terasa. Dalam hitungan detik tampak sosok laki-laki bertubuh kekar dengan seragam khas kesatria.


"Selamat beristirahat, Yang Mulia," ucapnya sambil berlutut di depan pintu kamar Erland.


***


"Sampai kapan kita harus bersabar. Aku rasa sudah saatnya Yang Mulia Putra Mahkota tahu kebenarannya. Kita harus segera bergerak," ucap Zeur, salah satu dari delapan Dureté - Kesatria Penjaga Kekaisaran.


"Aku rasa belum saatnya kita bergerak. Butuh sedikit lagi waktu untuk membuka tabir kepalsuan ini. Bersabarlah."


"Aku harus kembali kesisi Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Maizar yang kembali berubah wujud menjadi seekor burung.


Ada hal yang menyebabkan dia harus menyamar menjadi seekor burung, sumpahnya untuk setia menjaga keturunan murni kekaisaran. Bagi seorang kesatria sumpah di atas pedang dan darah adalah kewajiban, nyawa pun rela diberikan untuk menebusnya.


***

__ADS_1


Erland meletakkan kapak yang digunakannya untuk membelah kayu, tubuhnya terlihat lelah. Kakinya yang tak beralas kaki terlihat kumuh dan penuh lumpur. Seteguk air pelepas dahaga benar-benar dinikmatinya. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon oak.


"Kemana saja kamu, Maizar?" tegurnya lembut.


"Aku hanya berkeliling hutan, Tuanku. Menghilangkan rasa jemu dan penat," jawab Maizar.


"Kamu bosan denganku? Bersamaku terasa penat sekali rupanya."


Erland tertawa kecil menanggapi Maizar yang terlihat kikuk. Cukup lama keduanya khusuk dalam kebisuan, Erland sibuk melanjutkan pekerjaannya, sementara Maizar bertengger di dahan pohon oak. Manik matanya mengamati gerakan Erland dengan seksama. Matanya begitu awas menjaga Erland.


"Tuanku, alangkah baiknya Anda beristirahat sejenak. Jangan menekankan diri Anda terlalu keras."


Erland tersenyum, dia hanya menoleh sedikit pada Maizar, lalu melanjutkan pekerjaannya. Selang berapa lama, sekujur tubuhnya terasa lemas seolah tak bertulang. Dengan cepat Maizar berubah wujud jadi manusia dan menyambar tubuh Erland yang terkulai tak sadarkan diri. Perlahan tubuh pemuda kecil itu terlihat membiru, ada tetesan darah yang mengalir dari sela hidungnya.


"Aku mohon bertahanlah, Yang Mulia," ucap Maizar ketakutan.

__ADS_1


***


__ADS_2