Erbe

Erbe
Ezquzo


__ADS_3

Petualangan Erland dimulai dari sini, dia sudah memutuskannya. Meninggalkan segalanya demi kenyamanan hati. Menyeberangi lautan, membelah belantara dan menjajaki berbagai negara. Timur laut Grazepodhia adalah daerah kerajaan Perla yang sangat terkenal subur dan berada di garis lintang tengah. Lazuardi menghiasi langitnya di pagi hari, jikalau senja datang swastamita cantik setia menemani. Malamnya bertaburkan bintang. Sangat indah, membuatnya di juluki negeri mutiara malam.


"Langit malam di sini indah, mengingatkan aku pada langit di hutan Azaldes. Hangat sekali," ucap Erland.


"Anda benar, Yang Mulia. Langit malam memang sangat indah, bertaburkan bintang. Tentunya Anda saat ini sedang teringat akan indahnya malam di Azaldes, Yang Mulia," balas Maizar.


"Kamu benar sekali, Maizar. Seingatku, bukankah aku sudah melarangmu untuk memanggilku Yang Mulia. Panggil saja namaku, aku tak nyaman dengan itu."


"Mohon maaf, Yang Mulia. Hamba tak berani selancang itu. Ini sudah sepantasnya. Mohon Anda untuk tidak terbebani, ini sudah menjadi kewajiban hamba, Yang Mulia," jawab Maizar tegas.


Helaan napas Erland terdengar di keheningan malam, dia menoleh pada Maizar dengan senyumannya. Saat sedang berdua saja Maizar memanggilnya 'Yang Mulia', jika di keramaian Maizar akan memanggilnya 'Tuanku'. Keduanya kembali berjalan menyusuri desa kecil tempat mereka tinggal saat ini. Obor-obor terpasang di setiap rumah, jalanan yang sepi membuat suasana semakin senyap.


Keduanya sampai pada sebuah lapangan besar yang di jaga beberapa perajurit, di tengahnya terdapat meja batu besar dengan perlangkapan sesaji lengkap. Seperti akan ada sebuah upacara di sana. Namun, keduanya merasakan hawa yang berbeda. Pekat dan sangat jahat melingkupi tempat itu. Maizar siaga, pedangnya siap di cabut kapan saja.


"Banyak sekali Rown di sini. Apa yang mereka inginkan?" tanya Erland.


"Entahlah, Yang Mulia. Jika ini adalah ritual biasa, kenapa para Rown ada di sini. Apa mungkin .... Ah! Ya, Tuhan. Aku melupakan sesuatu, Yang Mulia."


Nyaris saja Maizar berteriak, jika saja Erland tak menariknya untuk bersembunyi. Keduanya menutupi âme-nya dengan rapi, sehingga tak seorangpun dari Rown yang menyadari kehadiran mereka. Perlahan langit terlihat sedikit membiru, ada semburat cahaya biru yang mulai merata, seolah pagi datang bersamaan dengan malam. Erland tersenyum.


"Kashaye," bisik Erland.


"Anda benar, Yang Mulia. Sebentar lagi tepat tengah malam, Zamora akan keluar dari persembunyiannya. Ini sangat berbahaya," ucap Maizar.


"Pergilah dengan beberapa Dureté, lindungi warga. Sisanya serahkan padaku."

__ADS_1


"Ini sangat berbahaya, Yang Mulia. Anda ...."


Maizar menghentikan ucapannya lalu memberi hormat dan pergi, manik mata Erland terlihat sangat serius dengan titahnya tadi. Dengan cepat Maizar melakukan telepati memanggil beberapa Dureté dan pergi membuat perisai pelindung di desa. Setelah merasa aman, dia segera menyusul Erland yang masih berada di lapangan tadi.


***


Dalam hitungan menit, lapangan tersebut tertutup kabut abu-abu berbalut pendar jingga, perisai telah terpasang. Persiapan ritual ezquzo hampir sempurna. Ezquzo adalah sebuah ritual pemanggilan iblis yang bertepatan dengan terjadinya puncak hujan meteor quadrantid. Hujan meteor yang titik radiannya berasal dari konstelasi quadran muralis yang dipercaya tempat terbukanya pintu neraka dan keluarnya para iblis. Target mereka adalah menghancurkan Perla tanpa sisa.


Erland mencabut pedangnya lalu mengarahkan kepuncak langit, matanya terpejam dan kedua tangannya menggenggam pedang tepat di depan wajahnya. Perlahan tangan kirinya meraba pedang sampai keujungnya, lalu dari balik telapak kaki Erland menyembul cahaya keemasan berpadu dengan âme-nya yang berwarna hijau lembut.


Krak!


Bunyi patahan terdengar keras, seolah bumi yang dipijak ini terbelah menjadi dua. Tak menunggu lama, buncahan kabut tadi menipis dan perisai pelindung terbelah. Dengan leluasa Erland masuk ketengah lapangan terbuka itu. Beberapa Rown menyerangnya. Tidak! Ada puluhan bahkan ratusan Rown menyerbu datang dan tanpa basa-basi menyerang Erland bertubi-tubi. Dengan tenang bocah kecil pemberani itu menebas mereka dengan pedangnya. Jumlahnya semakin banyak, tapi Erland tak terlihat kewalahan menghadapi serangan para Rown.


"Yang Mulia!"


"O nychterinó ouranó, xekourásou stin koúnia. Kleísou me tin isychía sou. Fotíste ton ouranó me to fos ton asterión."


(Wahai langit malam tenanglah dalam buaian. Tutuplah diri dalam kedamaian. Terangi langit dengan cahaya bintang.)


Dalam sekejap langit malam yang tadinya bergemuruh, tiba-tiba menjadi tenang dan benderang setelah Erland mengeluarkan cyfunol dan mantra pengalihan. Alih-alih tak terima ritualnya dirusak oleh seorang bocah, sang mágos balik menyerang Erland. Namun, dengan sigap Erland mematahkan serangannya, telapak tangannya terbuka dan memutar, seolah sedang mematahkan sesuatu. Dan dari tempat sang mágos berada, terdengar suara patahan dan genangan darah dari batang leher sang mágos yang patah.


Maizar dan ketiga Dureté bergidik. Anak kecil berusia tujuh tahun dapat mematahkan sihir mágos dan membunuhnya dari jarak jauh. Ini lebih mengerikan dari pada bertarung dengan ribuan Rown. Kali pertamanya mereka melihat sosok lain dari seorang Erland yang berlaga dengan gagah di medan pertempuran. Antara kagum, takjub dan ngeri melihatnya. Wajah Erland terlihat tenang dan tetap tersenyum menyaksikan lawannya tumbang. Darah Laszlo memang mengerikan, sangat pemberani dan tangguh.


"Bereskan mereka!" titah Erland.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia," jawab ketiga Rown serempak.


"Bagaimana dengan para penduduk, Maizar?"


"Anda tak perlu khawatir, Yang Mulia. Sage dan Dureté lainnya sudah menangani semuanya."


Maizar berlutut di hadapan Erland. Dia tahu bahwa Erland yang saat ini ada di hadapannya bukanlah Erland yang biasa. Jiwa seorang Laszlo-nya bangkit. Laszlo adalah klan terkuat di dalam peradaban Eustazia, peradaban yang tumbuh dan berkembang ratusan ribu tahun lalu. Di mana saat itu tak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari serangan Gozha dan pasukannya. Gozha adalah reinkarnasi dewa iblis yang terkuat saat itu, haus darah dan punya birahi yang tinggi.


Laszlo lah yang berhasil menumpasnya. Sejak saat itu Laszlo berdiam di salah satu benua yang terbesar dan menjadi pemimpin di sana sampai saat ini. Dinasti yang di bangun selama ribuan tahun ini tetap kokoh dan dipercaya umat manusia. Bak sebuah legenda hidup, darah murni Laszlo di percaya bisa membawa kedamaian di muka bumi. Artinya mereka yang mempunyai âme dengan jiwa suci dari keturunan Laszlo yang berhak atas tanah leluhur. Dan itu jatuh pada Erland Javier Laszlo, silsilah ke delapan ratus delapan dari klan Laszlo.


***


"Yang Mulia," panggil Maizar di depan pintu kamar Erland.


Pagi itu matahari baru saja muncul dengan malu-malu, Erland membuka matanya perlahan. Rasa nyaman kasurnya menggoda dia untuk lebih lama lagi di sana. Namun, ketukan pintu dan panggilan Maizar membuatnya kembali terjaga.


"Masuklah!"


"Selama pagi, Yang Mulia. Maaf jika membangunkan Anda sepagi ini," sapa Maizar santun.


"Ada apa?" tanya Erland sambil menyandarkan punggungnya dikepala ranjang.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Beliau sudah menunggu sejak pagi buta. Apakah Anda berkenan menemuinya?"


Kedua ujung alis Erland bertemu di depan dahi. Entah siapa yang datang pagi ini, dia tak merasa punya janji dengan siapapun. Bahkan selain Maizar, tak seorangpun dia kenal di tanah ini.

__ADS_1


"Siapa dia, Maizar?"


***


__ADS_2