Erbe

Erbe
Di Antara Pilihan


__ADS_3

"Apa yang aku lakukan? Bodoh! Kenapa aku mau melakukan ini? Aku ... ah! Aku menghianati Laszlo, Putra Mahkota Jorvik sungguh membuatku tak memiliki pilihan lain. Maafkan aku, Baginda. Maafkan aku ... Yang Mulia Putra Mahkota Erland, anda junjunganku. Aku ikhlas menyerahkan nyawa ini demi kejayaan Laszlo di bawah titah Anda, Yang Mulia Putra Mahkota Erland."


Dalam dua detik berikutnya, setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, Borand memutus pita suaranya sendiri.Tubuh kakunya tergeletak di tanah. Selama seminggu tak ada yang mengetahuinya, dan istana geger saat mayat Borand ditemukan. Banyak spekulasi yang mencuat, entah itu sengaja atau tidak, nama baik Borand rusak karenanya.


"Sial!" maki Jorvik.


Manik matanya membulat sempurna, tangannya mengepal dan dadanya terlihat turun naik tak beraturan. Jelas sekali terlihat rona kebencian dari paras Jorvik. Dia mengusir semua orang keluar dari ruang kerjanya.


"Bedebah kamu, Borand! Bisa-bisanya kamu menghianati aku, kamu memilih bunuh diri dari pada mengikuti titahku. Orangku yang paling setiapun memilih bocah sialan itu, apa kehebatannya. Dia hanya memiliki hati yang lemah dan otak yang tak cerdas. Sayangnya dialah pewaris sah kekaisaran ini," gumam Jorvik.


"Aku harus cari tahu, apakah Borand membocorkan titahku pada orang lain atau tidak. Ini akan jadi bahaya besar jika dokumen itu jatuh pada orang lain. Tampaknya aq harus turun tangan sendiri."


Beberapa pengawal masuk kedalam bersama kepala pelayan istana. Jorvik melakukan perjalanan rahasia dengan dikawal tiga orang prajurit pilihan. Tentu saja tempat yang dia tuju adalah lokasi dimana mayat Borand ditemukan. Penyelidikan besar rahasia dilakukan, Jorvik sendiri yang memimpin penyelidikan kali ini. Satu bulan. Dua bulan. Tiga bahkan bulan keempat penyelidikan tak membuahkan hasil. Jorvik mulai ragu akan keyakinannya semula.


***


Berita kematian Borand sampai ditelinga Erland, semula dia hendak mengacuhkan kabar itu, tapi ada hal yang membuatnya terusik. Westminwood adalah tempat yang sangat ingin dia datangi selama hidupnya. Tempat terkutuk dan naas, dimana ibunya harus menukar nyawanya untuk sebuah kehidupan. Ya, disana ibunya dibunuh dengan kejam. Demi Erland yang saat itu masih terkena racun sihir. Erland berhasil diselamatkan oleh Sege, tapi ibunya tewas dengan cara yang mengenaskan.


Dia hanya tahu jika ibunya tewas bunuh diri, tapi ada cerita kelam bahkan menakutkan dibalik semua itu. Hingga saat ini Erland tak pernah tahu kenapa dan bagaimanapun ibunya meregang nyawa. Hanya sebuah surat dan janji yang dia pegang teguh, yang membuatnya bersabarlah hingga saat ini.


Putraku sayang, tolong jangan kamu cari ibu. Tetaplah hidup untuk ibu dan Grazepodhia. Biarlah ibu yang memutus semua ini, kejarlah cahaya itu. Tegakkan pilar kekaisaran Grazepodhia, dan tundukkan hatimu pada kebenaran. Ibu sangat mencintaimu, Anakku sayang. Berjanjilah kamu akan memegang janji ini demi ibu.

__ADS_1


Walaupun berulang kali Erland membaca surat itu, tapi tak satupun petunjuk yang dia temukan. Tak seorang pun yang berani menjelaskan semua ini untuknya. Kenapa harus ada kematian? Kenapa harus ada tumbal untuk sebuah kekuasaan? Kenapa harus ada airmata yang tumpah? Dan ... kenapa ini harus terjadi padanya?


Semakin dia mencari jawaban, semakin pelik semuanya. Untuk otak kecilnya yang seharusnya hanya memikirkan bermain bersama teman sebaya, kini memikirkan beratnya beban sebuah sandiwara dalam hirarki kekuasaan. Erland muak dengan semua ini, sehingga dia menjadi antipati terhadap kekaisaran, bahkan ayahnya sendiri.


"Yang Mulia," panggil Maizar.


"Ada apa?"


"Apa yang ada pikiran, sehingga terlihat jelas beban di wajah Anda, Yang Mulia Putra Mahkota? Anda tak perlu menekan perasaan Anda sendiri, Yang Mulia. Lupakan semua. Bukankah Anda memilih untuk memulai hidup baru sebagai rakyat biasa? Apapun yang Anda pilih, aku akan setia di sisi Anda, Yang Mulia," ucap Maizar seolah mengerti apa yang ada dipikiran Erland.


"Kenapa? Apa aku salah jika aku memilih bahagia seorang diri? Apa aku salah jika menjauh dan tidak mendekati mereka?" tanya Erland.


"Tidak."


Hati Maizar terenyuh mendengar keluh kesah seorang anak yang notabene adalah calon kaisar masa depan Grazephodia. Dia tahu, tapi dia tak punya hak untuk menjelaskan semuanya. Maizar memilih menutup mulut dan telinganya. Wajahnya tertunduk, dia tahu Erland akan kecewa padanya.


"Maafkan aku Yang Mulia," lirihnya.


"Aku tahu Maizar. Sumpah seorang kesatria tak mungkin dipatahkan, itu artinya dia harus menukarnya dengan nyawa dan darah. Aku tak menyalagkanmu, jika ada yang harus aku salahkan, aku ingin menyalahkan langit yang begitu kejam menyusun takdirku. Aku ingin memaki semesta yang jahat padaku. Lelah, aku lelah dengan semua ini. Kenapa aku harus selemah ini, Maizar?" tanya Erland sambil menutup pintu kamarnya.


Tidak, Yang Mulia Putra Mahkota. Anda adalah manusia terkuat, darah suci yang Anda milikilah saksinya. Dan aku berani bersumpah, keagungan Anda tiada ban

__ADS_1


dingnya dengan apapun. Namun, Anda memilih jalan sederhana ini. Aku hargai itu. Anda sungguh berhati mulia, Yang Mulia.


***


"Ada apa kamu kemari, Maizar?" sapa Sege.


"Aku iba melihat kehidupan Yang Mulia. Tak tega aku melihatnya. Seharusnya Yang Mulia berada di istana yang mewah dengan segala hak istimewanya, tapi dia memiliki hidup menggelandang seorang diri. Aku rasa dia mulai goyah, ketakutan itu terlihat jelas di matanya, Sege."


"Ketakutan?"


"Iya, ketakutan akan takdirnya. Yang Mulia berfikir jika dia hanya benalu dalam kehidupan, dia merasa amat kehilangan dan berduka cita atas kematian permaisuri pertama. Bahkan kematian Borand membuatnya bimbang. Aku takut jika Yang Mulia akan mengejar masa lalu dan membalas dendam," keluh Maizar.


"Jangan meremehkan darah suci yang mengalir pada tubuh Yang Mulia. Dia pasti bisa melewati semua ini. Dan jika darah suci itu sudah bangkit, maka Yang Mulia lah satu-satunya orang yang memiliki âme suci dan terkuat di muka bumi. Jangan kamu lupakan itu, Maizar," tegur Sege.


"Aku tahu itu, Sege. Dan aku tidak meragukannya, hanya saja aku takut terjadi hal buruk terhadap Yang Mulia Putra Mahkota. Dia akan jadi sasaran empuk para penyihir. Jadi ...."


Maizar tak meneruskan ucapannya, dia merasakan sesuatu. Begitu pula Sege. Sebuah energi hebat yang menembus tujuh lapis dimensi dan menuju kearah Erland. Energi ini bukanlah energi yang baik. Alih-alih takut terjadi hal buruk, keduanya memacu kuda mereka dengan cepat. Kode bahaya dikirimkan pada para Dureté.


Benar saja, ketika memasuki perkampungan, bau amis darah terasa begitu menyengat. Mayat-mayat yang tergeletak di tanah juga jeritan manusia dibalik kobaran api, menambah kesan mengerikan pada malam itu. Tak berpikir lama, Maizar menembus kerumunan itu menuju rumah dimana Erland tinggal. Namun, semua terlambat. Sangat terlambat. Rumah itu terbakar dan hancur menjadi debu. Dari balik pohon Oak, terlihat sesosok tubuh terhunus pedang sedang tergeletak di tanah. Darah segar masih mengalir dari sang mayat. Maizar mengejarnya histeris.


"Yang Mulia Putra Mahkota!"

__ADS_1


***


__ADS_2