
"Anda sangat keras kepala sekali, Baginda. Berkali-kali aku menolak, berkali-kali pula Anda datang. Tolong jangan menguras habis kesabaranmu, silakan tinggalkan tempat ini," usir Erland dengan nada lembut.
Amos tertunduk, baru kali ini sang kaisar menundukkan wajahnya dihadapan orang lain dan baru kali ini dia memohon pada orang lain. Selama ini hirarki tertinggi ada di tangannya, tak terbantahkan, tak tertandingi bahkan sangat dipuja dan dipuji rakyat. Jika memang ada orang lain di sana, tentunya tak akan percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini sangat tak biasa. Amos tetap berdamai dengan diamnya, maniknya seolah mencari sesuatu di permukaan tanah.
"Apakah kata-kataku tadi bisa dimengerti?" tanya Erland lagi.
"Tentu."
Sejenak keduanya terdiam, Amos menatap lekat-lekat wajah Erland. Pemuda kecil itu terlihat tenang, ada seutas senyum kecil di wajahnya. Senyuman itu bak sebuah belati yang menyayat sukma Amos. Indah, tapi menyakitkan.
"Apa kamu begitu membenciku? Aku tak tahu cerita apa yang kamu dapatkan, tapi jika kamu izinkan, aku akan mengatakan semuanya sejujurnya," ucap Amos menurunkan egonya.
"Tidak! Maksudku, aku sama sekali tak ingin tahu apapun tentang masa lalu, karena akan banyak orang yang terluka mengenangnya. Jika memang kita bisa memilih di mana kita dilahirkan, aku memilih takdir itu. Hidupku adalah milikku. Biarkan aku bebas dengan napasku sendiri, aku tak membencimu, tapi aku tak bisa memberikan kasihku padamu. Aku memilih sendiri."
"Nak," panggil Amos lirih.
"Maafkan aku," jawab Erland sambil memalingkan wajahnya.
"Baiklah. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Kamu yang berhak atas tahta itu, bukan Jorvik. Jika ini akan menjadi penebus kesalahanku di masa lalu, aku akan lakukan apapun. Ya! Apapun itu."
Wajah Amos kembali tertunduk. Hatinya semakin hancur melihat kerasnya penolakan Erland padanya. Namun, tangannya memang tak mampu memeluk hati sang putra, dan dia sadar ini adalah konsekuensi dari apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Biarkan itu menjadi milik kakak. Aku sama sekali tak berminat dengan apa yang selama ini Anda banggakan. Aku hanya ingin memiliki hidupku seutuhnya. Jika Anda memiliki seluruh isi dunia, tolong berikan hidupku padaku."
Sejenak Erland diam, wajahnya pun tertunduk. Ada buncahan rasa yang dia tahan, harga dirinya terlalu mahal untuk terlihat lemah dihadapan sang ayah. Tangannya mendorong pintu kayu, lalu menoleh pada sang ayah dan berkata, "Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita. Anggap saja aku sudah tiada. Tolong izinkan aku memiliki hidupku sendiri, bebas dan seutuhnya."
Langkah kaki kecilnya semakin gegas meninggalkan rumah kayu yang selama ini jadi tempat bernaungnya. Tak tentu arah tujuan saat ini, yang pasti dia ingin menjauh dari bayang-bayang sang Kaisar. Entah sampai kapan keduanya bersikap seperti ini. Hubungan ayah dan anak retak akibat luka masa lalu yang tak terobati.
***
Seharian dia mengunci diri di dimensi lain, ruang udara khusus favoritnya. Tak seorangpun yang bisa menembusnya. Di sana Erland biasa bermediatas, ataupun sekedar merenung. Kali ini hatinya goyah, ada rasa sesak yang membungkus atmanya, napasnya seolah berburu dengan detik waktu. Kedua kakinya terlipat di depan dada, tangannya yang sedikit bergetar memeluk kedua lututnya. Wajahnya tertungkup di balik dua lengannya. Ada aliran kecil di kedua pipinya, baru kali ini dia meneteskan air matanya setelah kematian sang ibu dua tahun lalu.
"Aku harus bagaimana?" ucapnya lirih.
Kata-kata yang menggema itu terdengar lirih, bahkan aliran udara pun ikut berduka mendengarnya. Ungkapan jujur seorang anak yang terbuang sejak bayi, seorang perindu cinta sang ayah yang tak bisa jujur pada dirinya sendiri.
"Ercie, anakku sayang."
Tiba-tiba suara panggilan lembut menggema dari arah yang tak jauh, Erland buru-buru menghapus air matanya. Dia tahu siapa itu, sosok perempuan berambut pirang dengan mata hijaunya yang cantik. Gaun berwarna lilac yang anggun, menambah pesona sang perempuan jelita. Erland berusaha tersenyum.
"Ibunda," panggilnya.
"Kenapa kamu menangis, Sayang? Apa yang melukai hatimu, sehingga matamu begitu basah dengan air mata? Katakan pada ibunda, Sayang."
__ADS_1
"Kenapa ibu menemuiku?" tanya Erland tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan, masih ada dua kali lagi kesempatan kita bertemu. Aku merindukanmu, Anakku."
"Aku juga merindukanmu, Ibunda. Bahkan sangat. Aku kesepian, tak seorangpun bersamaku," ucap Erland sambil menjatuhkan pelukannya pada sang ibu.
Ziosea Loire Laszlo, putri tunggal dari kerajaan Burtonzulla dan juga permaisuri pertama kekaisaran Grazepodhia adalah ibu kandung Erland. Sebuah konspirasi membuatnya tersisih dari istana kekaisaran dan mengurung diri di hutan Azaldes bersama bayinya. Ziosea sengaja mengunci diri di tengah hutan demi menyelamatkan bayi kecilnya dari kekejaman para penghianat. Tujuannya hanya satu, membuatnya hidup menjadi anak yang kuat, tegar dan cukup pantas untuk merebut lagi tahta yang hilang.
Namun, yang ada dalam pikiran Erland saat ini, hanyalah keinginan tulus dari seorang anak berumur tujuh tahun. Dia memang tak butuh harta ataupun tahta, dia hanya merindukan kasih sayang dari sang ayah. Pikirannya sangat sederhana, dia akan berikan seluruh Grazepodhia asalkan sang ayah bisa utuh bersamanya.
"Bertahanlah, Nak. Teguhkan hatimu. Saatnya akan tiba, saat di mana kamu mendapatkan semua yang seharusnya kamu miliki. Percayalah pada Ibunda, Sayang," ucap Ziosea.
"Aku tak ingin apapun, Ibunda. Jika bisa aku memberikan seisi dunia, aku hanya minta satuhal saja pada langit. Kembalikan ayahanda dan ibunda di sisiku lagi. Sisanya aku tak perduli, asalkan kalian besamaku," tungkas Erland.
"Tidak, Nak. Semua yang terjadi tak sesederhana apa yang ada dipikiranmu saat ini. Mau tak mau, nantinya kamulah yang akan memimpin Grazepodhia. Karena semesta memilihmu, langit pun merestuimu. Untuk itu kamu harus kuat, baik hatimu maupun ragamu. Ibunda yakin kamu bisa. Pulihkan nama baik, Ibunda dan juga Burtonzulla. Kembalikan apa semua pada tempat yang seharusnya. Ibunda percaya kamu bisa, Sayang. Kamulah lelaki pilihan langit, kamu kebangaan Laszlo."
"Apa aku tak punya pilihan, Ibunda?" tanya Erland.
"Waktu yang akan menjawabnya. Ibunda mendoakan yang terbaik untukmu. Kamu anak yang terpilih, anak yang baik. Ibunda bangga padamu, Nak."
***
__ADS_1