
"Bagimana keadaan Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya Sege yang baru saja tiba.
Maizar diam, bibirnya tak menjawab, hanya bulir air matanya yang menjawab semuanya. Sege dan seluruh Dureté terdiam untuk beberapa saat, sampai Sege bergegas mendekati tubuh Erland dan memegang nadinya. Nol. Tidak ada denyut nadi yang dia temukan. Tangannya pun mendekat pada lubang hidung Erland. Ya ... Sege pun tak merasakan tarikan napas pemuda kecil itu. Lututnya mendadak lemas, tangannya bergetar hebat.
"Yang Mulia Putra Mahkota Erland ...."
Kali ini lirihnya menjadi beku, bibirnya tak sanggup lagi berucap. Sama seperti Erland, hanya air matanya yang menjawab semua ini. Tanpa dijelaskan pun, seluruh Dureté paham apa yang telah terjadi. Mendadak awan hitam menyelimuti langit, duka cita mendalam menyelimuti seluruh Grazepodhia.
Mereka membawa jasad Erland ke Kastil Hülse, tempat kediaman pribadi permaisuri pertama saat diasingkan. Kastil itu berada di Utara Grazepodhia, lebih tepatnya tak jauh dari ngarai Guuyo yang terkenal dengan keindahannya. Tak seorangpun memberitahu pihak istana, Baginda Kaisar Amos sedang dalam keadaan sakit dan belum sepenuhnya pulih. Sangat beresiko jika mengatakan ini, kesehatan Baginda harus diutamakan. Tak mungkin juga untuk berkabar dengan Jorvik dan sekutunya.
Pilihan yang sangat sulit, pada akhirnya mereka memilih menguburkan jasad Erland tanpa sepengetahuan pihak istana. Senja itu menjadi saksi, swastamita seolah terlihat murung mengiringi elegi sang angin. Ini adalah musim panas yang paling dingin, semua seolah beku dalam duka cita yang dalam.
***
Maizar memandang tubuh Erland yang terbujur di peti mati. Matanya terlihat nanar, sembab dan lesu. Sebagai orang terdekat Erland sejak bayi, Maizar sangat kehilangan sosok pemuda lembut itu. Lagi-lagi air matanya jatuh tanpa kompromi, isaknya masih terdengar pilu.
"Yang Mulia ... Anda begitu jahat. Dalam keadaan begini senyuman Anda masig terlihat indah. Wajah Anda yang tenang, bahkan lebih tenang dari aliran sungai, membuat aku takut. Jangan sebercanda ini, Yang Mulia. Aku mohon, bukalah matamu."
"Maizar," panggil Sege pelan.
"Lihatlah! Yang Mulia Putra Mahkota seluruh Grazephodia menunggumu. Andai saja saat itu aku tak membiarkan Anda seorang diri, tentunya .... ah, maafkan aku Yang Mulia," ratap Maizar lagi.
Beku. Sedingin es. Ya, seluruh tubuh Erland sedingin es. Tubuhnya mulai kaku, bibirnya membiru. Tubuh gagah ini tinggal raga tanpa ruh, hanya seoonggok daging dan tulang yang akan segera membusuk di dalam peti mati. Maizar berlutut di sisi peti mati, tangisnya begitu sendu. Semua orang yang ada tak sanggup menahan air matanya. Putra Mahkota harapan Grazepodhia harus mati sia-sia diusia belia. Para Dureté tak tahu harus bagaimana lagi. Bagaimana menyampaikan kabar duka ini pada Baginda Kaisar Amos?
Namun, belum lagi mereka berfikir bagaimana, tiba-tiba pintu kastil terbuka. Kaisar Amos dengan terengah-engah berdiri di ambang pintu. Matanya membulat sempurna, tubuhnya bergetar hebat, napasnya terdengar begitu dengan bak ada isak yang tertahan.
__ADS_1
"Er ... land," lirihnya.
Langkah gontainya menggapai peti mati sang putra, seluruh orang di sana berlutut dan menundukkan kepala. Antara patuh dan duka cita, air muka mereka tak lagi seri. Dalam keadaan menahan sakit, Amos yang mengetahui kejadian itu langsung menuju Hülse. Tanpa sepengetahuan yang lain, Amos mengutus seorang Vavol - kurcaci yang berasal dari kaum Fee, mengawasi gerak-gerik Erland. Amos membuka tabir penutup peti.
"Katakan! Apa yang terjadi pada putraku?" cecar Amos.
Diam. Semua orang asyik bergeming dengan diam, bercanda dengan sepi. Tak seorangpun mampu mengangkat wajahnya. Amos tak punya kesabaran lebih untuk menunggu jawaban, tangganya menggenggam tangan Erland lalu mengalirkan energi murni miliknya. Namun, usahanya sia-sia, Erland tak juga bernyawa. Tak hilang akal, Amos membuka dimensi ketiga dan membawa jasad Erland.
"Apa yang terjadi?" tegur seseorang pada Amos.
"Erlandku ... meninggal. Dia terbunuh oleh para penyihir terkutuk itu. Aku tak terima dengan semua ini Yang Mulia Eze. Bagaimana caraku untuk mengembalikan putraku lagi," jawab Amos sambil sesenggukan.
"Anak ini masih bisa diselamatkan, jika ruhnya dibebaskan. Ruh Erland berada di Holewelt lapis sembilan. Para Phabos menahannya di sana, dengan tujuan menghancurkan ruh Erland agar raganya bisa digunakan lagi untuk menghancurkan dunia."
"Ya. Raga Erland bukan raga biasa, demikian ruhnya. Raga terkuat dari Laszlo, jika mereka melakukan parallèle zios - peleburan jiwa saat lima planet dalam posisi sejajar. Raga itu akan menjelma menjadi makhluk sihir titisan. Tentunya bisa dibayangkan kekuatan apa yang terjadi, bahkan raja iblis pun tak bisa menandinginya."
Keduanya terdiam sejenak, memang sejak kelahiran Erland, para Sagerin - peramal sakti - sudah meramalkan jika Erland akan berada di puncak tahta Grazepodhia. Dunia akan bertekuk lutut padanya, raga dan jiwa Laszlo yang dia miliki bukan lah penampakan biasa. Ibunya, permaisuri kedua adalah keturunan dari kaum Fee - para peri dan bidadari. Tentunya mereka memiliki kekuatan yang istimewa, yang berbeda dari manusia pada umumnya, bahkan dari para iblis dan penyihir.
"Apa yang harus aku lakukan, Yang Mulia Eze? Aku tak ingin putraku menjadi korban sia-sia. Dia harus hidup. Jika seluruh dunia binasapun, aku hanya ingin dia tetap hidup," ucap Amos.
"Tidak! Lebih baik jangan. Satu-satunya jalan adalah merelakannya. Mungkin ini jalan yang terbaik, karena jika di teruskan ...."
"Apapun itu. Apapun yang jadi gantinya akan aku berikan, asalkan putraku tetap hidup. Aku ingin itu. Ya ... itu saja keinginanku," lirih Amos lagi.
"Tanangkan dirimu Baginda Amos. Jangan emosional begini. Jangan egois. Grazepodhia menunggumu. Kembalilah," titah Eze.
__ADS_1
"Tidak!"
"Jangan keras kepala Amos!"
"Katakan apapun! Asal aku bisa mendapatkan putraku lagi," ucap Amos.
Sosok Eze perlahan lenyap dari pandangan Amos. Kini tak seorangpun ada disana bersamanya. Almos memeluk tubuh Erland begitu erat, air matanya tak henti mengalir. Ada sesal dan kesal di sukmanya kini. Namun, seolah semua ini sia-sia dan Amos harus takluk pada takdir. Dari sudut belakang, sekumpulan kabut tiba-tiba muncul, ada aroma manis yang tercium dari balik kabut tipis itu.
"Apa yang Anda sesalkan, Baginda?" tegur suara itu.
Amos menoleh, dia sangat mengenal suara ini. Aroma manis yang sedari tadi menyeruak di sekitarnya pun tak asing baginya. Manik mata Amos menangkap sosok itu, perempuan bertubuh tinggi dan kurus. Parasnya cantik, tapi terlihat sangat pucat. Manik matanya berwarna hijau seperti butiran zamrud. Gaunnya yang berwarna lilac, sangat padu dengan warna rambut dan matanya yang indah. Ziosea Loire Laszlo, permaisuri pertama kekaisaran Grazepodhia.
"Loire. Kamu kah itu?" tanya Amos.
"Kenapa dengan Ercie-ku?"
"Dia terbunuh," jawab Amos nyaris tak terdengar.
"Ercie-ku tak boleh mati. Kenapa kamu tak menjaganya Baginda? Bukankah dia juga darah dagingmu? Kenapa Ercie-ku harus menjadi korban?"
"Maafkan aku, Sayang. Permaisuriku. Percayalah, aku sangat tak menginginkan hal ini terjadi. Namun, aku tak bisa menolak takdir. Jika ada yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan putraku, apapun itu, pasti akan aku lakukan. Apapun taruhannya," ucap Amos.
Kali ini Amos tidak berdusta, dia benar-benar menyesali segalanya. Matanya menunjukkan kesungguhan, dan juga penyesalan teramat sangat. Bahkan kematian yang paling dia tangisi di dunia ini adalah kematian putranya, Erland.
***
__ADS_1