
"Apa?"
Kata tanya yang terlontar dari Baginda Kaisar Amos mengelegar menembus keheningan ruang kerja Kaisar. Matanya membulat sempurna, dan kepalan tangannya terlihat begitu kuat di atas meja. Semua tertunduk. Wajah Kaisar yang memerah menandakan bahwa emosi Kaisar berada di puncak amarah.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Para pengawal penjara bawah tanah bukanlah prajurit biasa. Kenapa Jorvik bisa lolos tanpa jejak? Kalian membuatku kecewa. Cari dia sampai dapat!" titah Kaisar.
Seantero istana dibuat geger oleh hilangnya, Jorvik dari penjara bawah tanah. Pengamanan istana makin diperketat, pelosok negeri didatangi demi menemukan Jorvik. Dilain pihak Erland memulai petualangannya. Menikmati dunia yang luas dan indah.
***
Jejeran pohon crashberry membuat hamparan tanah berwarna oranye segar, crashberry adalah berry asli dari Grazepodhia. Buahnya lebih kecil dari anggur dengan bentukan yang mirip anggur berwarna oranye, kecil sebesar kacang polong dan rasanya manis. Para petani sibuk memanennya.
Jenis berry ini biasa digunakan untuk campuran chylos, bubur gandum yang dicampur dengan potongan buah dan sedikit garam. Rasanya yang unik, perpaduan manis tawar dan asin. Cocok dinikmati dengan segelas rebusan bunga Momoe sebagai pengganti teh yang mahal untuk menu sarapan. Makanan khas ini hanya ditemukan dikalangan rakyat jelata.
Di sisi lain desa ada sekumpulan lelaki yang asyik bercengkrama di kandang kuda. Mereka mempersiapkan kuda-kuda terbaik mereka untuk pacu kuda pekan depan. Ajang seperti ini menjadi hiburan berarti bagi rakyat kecil di Grazepodhia.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?" tegur seorang lelaki paruh baya.
"Aku hanya melihat-lihat kuda-kuda itu. Mereka terlihat sehat dan kuat."
"Kamu suka kuda?"
"Suka sekali. Aku belajar berkuda setahun lalu di Minelfild," jawab Erland dengan wajah berseri-seri.
"Minelfild? Wah! Di sana adalah kampung para kesatria dan Aigner, banyak kesatria hebat dan juga Aigner yang berasal dari sana."
Wajah lelaki itu sedikit berubah, ada kerutan dikedua ujung alisnya. Matanya menatap Erland dengan penuh tanya, karena tak sembarang orang bisa keluar masuk Minelfild. Pemuda kecil itu tahu arti tatapan lawan bicaranya, tapi Erland bersikap tenang.
"Pamanku seorang kesatria, tadinya aku tinggal di sana, tapi aku tak betah dan berpetualang seorang diri," jelas Erland.
__ADS_1
"Berpetualang? Hei! Di mana kedua orang tuamu? Kenapa anak semuda kamu berkeliaran seorang diri. Itu sangat berbahaya."
Lagi, Erland menyunggingkan senyum menanggapi ucapan laki-laki tadi. Dia tetap terlihat santai sambil bersandar di batang pohon, sambil berkata,"Aku seorang anak yang malang. Ibuku meninggal dunia saat aku berusia tiga bulan, sedangkan ayahku entah di mana keberadaannya. Kalaupun masih hidup, aku tak berharap bertemu dengannya. Aku dibesarkan oleh Hutan Azaldes, hal itu membuatku terbiasa sendirian. Lebih tepatnya aku belajar untuk berdamai dengan kesepian."
"Aku menaruh simpati dan empati pada nasibmu. Kamu anak yang kuat, Nak. Semoga saja kamu bisa bertemu dengan ayahmu," ucap sang lelaki.
"Terima kasih, Paman. Tapi, aku sangat tak mengharapkannya," jawab Erland sambil berlalu.
Langkah kakinya kembali menyusuri pinggiran desa, kali ini dia ada di aliran sungai Yorash. Alirannya sedikit lebih deras di bandingkan sungai Dish, banyak bebatuan besar di sana. Salah satu sisinya menampakkan empat buah air terjun berjejer, dengan aliran yang besar dan deras. Keempatnya memiliki ukuran yang nyaris sama, seperti kembar empat.
Erland merebah tubuhnya di atas rerumputan, aroma khas dedaunan membutanya nyaman. Namun, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Satu. Ah, tidak. Mungkin lima atau delapan ekor kuda menuju kearahnya. Manik mata Erland terlihat sangat awas saat merasakan âme yang sangat dia kenal.
***
Seorang laki-laki berumur mendekati Erland, tujuh orang laki-laki lainnya berpakaian kesatria. Setia mendampingi lelaki tua tadi. Walaupun terlihat tenang, tapi Erland dalam posisi siaga. Dia memprediksi segala kemungkinan yang terjadi.
"Kamu ... Erland?"
"Apa benar kamu putra Zoisea?"
"Ya, Zoisea adalah ibuku," jawab Erland sambil memalingkan wajahnya.
"Artinya kamu ...."
Belum sempat Kaisar melanggar ucapannya, Erland bangun dari tidurnya dan berdiri tepat di hadapan Kaisar Amos. Manik matanya terlihat tajam menatap Kaisar. Ada amarah yang terlihat, tapi Erland berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya.
"Kamu putra Zoisea, permaisuri pertama. Itu artinya ...."
"Kenapa Anda mencariku? Mungkin aku bukanlah yang Anda maksud, Baginda. Aku tak pernah merasa punya hubungan darah dengan siapapun, bahkan dengan Anda sekalipun. Dan aku tak punya banyak waktu untuk sekedar basa-basi."
__ADS_1
"Tunggu!"
Erland berjalan menjauh, di tak berniat untuk lebih lama lagi berhadapan dengan Kaisar Amos. Tangan Baginda yang segera menahan langkahnya pun ditepiskan. Para kesatria bersiap, jika saja Kaisar tak menahannya, mungkin mereka akan menyerang Erland. Ini adalah perlakuan tak layak dan sangat tak beretika terhadap seorang kaisar.
Ketegangan keduanya terputus dengan hadirnya seseorang di antara mereka. Semua mata memandang kaget, para kesatria segera mencabut pedangnya dan membuat barikade untuk melindungi Kaisar Amos. Ya, kehadiran Jorvik di sana sangat diluar dugaan.
Jorvik mencabut pedangnya dan mengarahkannya pada Erland. Manik mata Jorvik seperti sudah dirasuki iblis, begitu besar dendam yang terpancar dari manik matanya. Dia sangat membenci Erland, satu-satunya orang yang berhak atas tahta, jika benar dia terbukti sebagai putra kandung permaisuri pertama.
"Cabut pedangmu dan lawanlah aku!" titah Jorvik pada Erland.
"Untuk apa aku harus melawanmu?"
"Untuk apa? Jangan berpura-pura lugu anak kecil. Aku tantang kamu bertaruh, jika kamu kalah dariku, maka menjauhlah dari Grazepodhia, jangan meletakkan harapanmu pada negeri ini."
Mendengar ucapan saudara tirinya, Erland tersenyum. Dia malah mendekatkan langkahnya pada sang kakak tiri. Jarak mereka hanya beberapa kaki. Mata keduanya bersitatap, ada pancaran energi yang tak terlihat saling beradu, mental merekapun ikut bertarung.
"Bagaimana jika kamu yang kalah?" tanya Erland penuh percaya diri.
"Aku akan mematuhi semua perintahmu seumur hidupku," jawab Jorvik yang tak kalah percaya diri.
"Baik! Aku terima tantanganmu."
"Heh! Aku puji keberanianmu, bocah. Namun, jangan keluarkan air matamu jika tubuh kecilmu tergores pedangku," ejek Jorvik.
Kaisar Amos yang menyaksikan kedua putra kandungnya bertarung hanya berdamai dalam diamnya. Dia tak mencegahnya. Walaupun, hati kecilnya sangat ingin membela Erland, putra kecilnya yang terbuang. Akal sehatnya bekerja lebih cepat, Erland pasti akan menolaknya dan Jorvik akan bersikeras dengan keinginannya.
Hati kecil Amos terluka, sebagai seorang ayah, tentunya dia tak ingin salah satu anaknya terluka. Terlepas dari kesalahan yang dilakukan Jorvik, dia tetap anak kandungnya. Begitupun, Erland. Ada kerinduan saat dia menatap manik mata hijau milik Erland. Perasaan seorang ayah harus mengalah terhadap kepentingan kekaisaran.
Siapapun yang memenangkan pertarungan ini, tetap anakku yang akan terluka. Rasanya ingin aku melerai keduanya, tapi aku tak bisa memihak. Seorang Kaisar harus bersikap adil, walaupun aku harus mengesampingkan nurani seorang ayah.
__ADS_1
***