Erbe

Erbe
Secret Mission


__ADS_3

Marcia Joseph Levitt. Nama yang sangat dibenci oleh Erland. Nama yang telah terbenam dalam dinginnya peti mati. Namun, entah kenapa sosok itu tiba-tiba hadir menunjukkan wujudnya di hadapan Erland. Kenapa bisa? Bukankah seharusnya jasad durjana itu telah terbenam dan membusuk di dalam tanah? Erland benar-benar yakin dengan apa yang dilihatnya.


"Maaf Yang Mulia, apakah sosok yang Anda lihat itu benar-benar menapak ditanah?" tanya Maizar hati-hati.


"Aku tak mungkin melihat hantu disiang bolong dan tak mungkin juga aku berhalusinasi. Saat itu aku benar-benar sadar dan tidak mabuk," tegas Erland.


"Maaf Yang Mulia. Saya percaya pada Anda, tapi Duchess Levitt telah lama meninggal dunia. Tak lama setelah kematian adiknya, Yang Mulia permaisuri kedua. Dan semua orang di Grazepodhia menjadi saksi bahwa tubuh Duchess telah dimakamkan. Jika saya tak salah ingat, itu kejadian setahun lalu, dan Anda hadir dalam pemakamannya bukan?"


"Kamu benar, Maizar. Kita ada di pemakaman itu, tapi siapa orang yang aku lihat tadi. Kenapa parasnya sangat mirip dengan Duchess Levitt. Apa dia punya saudara kembar?"


Keduanya terdiam sejenak. Kemungkinan itu tak boleh dilewatkan, mereka tak tahu dengan pasti silsilah sang Duchess. Namun, jika benar orang yang dilihat tadi adalah saudara kembar Duchess Levitt, kenapa selama ini dia tak pernah muncul di depan publik? Dalam silsilah keluarga Levitt pun tak tertera yang demikian, artinya minim sekali untuk mengangkat isu itu.


"Jangan terlalu dipikirkan, Yang Mulia. Bukankah Anda sudah memutuskan hubungan dengan Grazepodhia?"


"Ya, kamu benar, tapi jangan lupakan bahwa aku tak pernah menghapus nama perempuan itu dari daftar kebencianku, Maizar."


Maizar bergidik mendengar ucapan Erland, nada bicaranya kali ini terdengar serius, penuh amarah dan kebencian. Baru kali ini Maizar melihat Erland yang begitu lembut berubah menjadi semenakutkan ini.


***


"Apakah benar Yang Mulia Putra Mahkota mengatakan hal itu?" tanya Sege.


"Benar. Yang Mulia yakin melihat sosok itu sebagai Duchess Levitt. Aku takut kita tak bisa menahannya lebih lama. Jujur aku sangat ingin Yang Mulia lah yang duduk di tahta Grazepodhia, tapi jika resikonya sebesar ini, lebih baik yang mulia hidup sebagai manusia normal lainnya. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada Yang Mulia," ucap Maizar.


"Aku paham apa yang kamu khawatirkan, Maizar. Akupun demikian. Namun, apalah daya kita melawan kuasa langit. Sebisa mungkin kita harus menjaga dan melindungi Yang Mulia Putra Mahkota. Satu hal lagi yang penting, cerita ini hanya kita berdua yang tahu, jangan katakan pada yang lainnya. Dureté lain akan bertindak jika itu menyangkut nyawa Yang Mulia Putra Mahkota."

__ADS_1


"Ya, aku mengerti."


Pintu terbuka saat pembicaraan mereka berlangsung, Zeur datang dengan wajah kesal. Peluhnya terlihat membasahi tubuh. Lelah dan penat sangat bersahabat dengannya saat ini. Maizar dan Sege terdiam, mereka berharap Zeur tak mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa diam?" tanya Zeur yang langsung menegak segelas air putih dari dalam kendi.


"Ah, tidak! Hanya saja aku heran melihatmu. Ada apa? Apa yang terjadi sehingga kamu terengah-engah begitu?" tanya Maizar mengalihkan perhatian Zeur.


"Pangeran Jorvik mengerjaiku. Dia memintaku mengerjakan beberapa hal sekaligus, kesal sekali rasanya. Jika bukan saat ini dia berada diposisi putra mahkota, ingin rasanya aq mencekiknya. Mencabut pedangku ini, dan memutus pita suaranya. Entah kenapa Baginda Kaisar masih mempercayainya."


"Semua itu permintaan Yang Mulia Putra Mahkota Erland. Yang Mulia tetap menginginkan Jorvik sebagai penerus tahta."


"Kenapa Yang Mulia begitu lemah terhadap saudara tirinya. Seharusnya tahta itu jatuh pada Yang Mulia. Aku curiga, Pangeran Jorvik melakukan konspirasi untuk mempercepat pelepasan tahta kekaisaran. Dengan keadaan seperti ini akan menguntungkan beliau, terlebih Baginda yang tiba-tiba jatuh sakit. Semua tugas kekaisaran dilimpahkan pada Pangeran Jorvik. Aq tak bersedia memanggilnya Putra Mahkota, apalagi Kaisar," omel Zeur panjang lebar.


"Semua Dureté tak menginginkan itu, tapi jika terjadi sesuatu pada Baginda Kaisar Amos, Pengeran Jorviklah yang berhak mengampu tahta selama Yang Mulia Putra Mahkota Erland tak menampakkan batang hidungnya di Azualloz," potong Sege.


***


Suasana istana utama kekaisaran, tempat tinggal sang kaisar terlihat sepi. Penjagaan yang ketat membuat siapapun tak leluasa hilir mudik di sana. Dari sebelah timurnya, istana Herr- istana Putra Mahkota- telihat Jorvik sedang sibuk dengan pekerjaannya bersama perdana menteri. Hingga matahari hampir terbenam, barulah dia kembali kekamar pribadinya. Di sana sudah menunggu Grand Duke Orlands bersama beberapa orang terdekat Grand Duke Orlands.


"Salam pada Yang Mulia Putra Mahkota," sapa Orlands.


"Ada apa kalian mencariku?" ketus Jorvik.


"Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu Anda, Yang Mulia. Tapi kami sudah ...."

__ADS_1


"Aku tak mau mendengarkan lagi bualanmu Grand Duke. Silakan tinggalkan tempat ini!"


Jorvik memotong ucapan Orlands dan berlalu begitu saja. Baginya pamannya tak lebih dari sekedar penjilat yang tak tahu malu. Hilang sudah rasa simpatinya. Bahkan kini berganti benci. Kedua sekutu itu kini berseteru, tapi tak di tampakkannya di kehadapan umum.


Jejak kaki Jorvik terus melangkah masuk kekamar tidurnya, sesaat setelah melepaskan pakaiannya, Jorvik merebahkan tubuhnya di atas kasur. Nikmat yang kini dia rasakan saat raganya merasakan lembutnya buaian. Namun, dengan cepat dia bangun dari kasur dan memanggil pegawal pribadinya.


"Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan, Yang Mulia?" tanya Borand Lufter, sang pengawal pribadi.


"Aku ingin kamu menyelidiki sesuatu, tapi jangan sampai hal ini diketahui oleh siapapun. Apa kamu sanggup?" tanya Jorvik.


"Saya akan melakukan yang terbaik, Yang Mulia. Apa yang harus saya lakukan?"


"Ini! Semuanya sudah tertulis didalam berkas ini. Lakukan dengan sempurna, ingat tanpa cela dan tanpa diketahui siapapun."


Manik mata Jorvik menatap tajam pada Borand, dia ingin segalanya sempurna tanpa cela. Tangan Borand mengambil berkas yang di lemparkan Jorvik di atas meja dan membacanya. Tiba-tiba tangannya bergetar, peluhnya perlahan menetes. Manik matanya menatap Jorvik penuh ketakutan, bibirnya bergetar saat menanyakan kebenaran ini.


"A-apa Anda yakin, Yang Mulia. Aku ...."


"Jika kamu mengatakan tak sanggup, maka pedangku ini akan memutus pita suaramu segera. Karena kamu telah membaca berkas itu, jadi apa pilihanmu, Borand?"


"B-baik, Yang Mulia. Akan saya lakukan sesuai perintah Anda," jawab Borand dengan tubuh yang masih bergetar.


"Bagus! Camkan ucapanku! Jangan ada cela dan jangan ada orang lain yang mengetahuinya. Jika tidak nyawamulah yang akan menjadi taruhannya. Juga seluruh keluargamu, Borand. Jadi kuminta berhati-hatilah. Lakukan dengan baik!"


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


Borand segera meninggalkan kamar pribadi Putra Mahkota, dia segera mengambil kudanya dan menuju ke Westminwood. Daerah para penyihir dan penjahat, tempat yang sangat menakutkan di muka bumi. Di sanalah titik mula dimulai. Awal dari bencana yang kelak akan terjadi. Pertaruhan ini membuat Borand tak punya pilihan, mau tak mau dia harus mengikuti keinginan Jorvik.


***


__ADS_2