
"Erland Javier Laszlo memberi hormat pada Yang Mulia Eze-Claus Dior Laszlo," ucap Erland sambil berlutut di hadapan Eze -mantan kaisar- Grazepodhia.
Eze adalah sebutan untuk mantan kaisar yang mangkat atau turun tahta. Claus Dior Laszlo adalah mantan kaisar Grazepodhia dua dinasti di atas kaisar Amor. Artinya dia adalah kakek buyut dari sang kaisar. Leluhur Erland yang kini usianya sudah seratus tujuh puluh lima tahun, tapi tubuhnya masih terlihat gagah. Salah satu dari kaisar terbaik pemegang hak utama tahta kekaisaran. Hak utama pemegang tahta kekaisaran seharusnya jatuh pada keturunan garis utama, tingkat pertama laki-laki. Konon katanya Yang Mulia Eze-Claus Dior Laszlo masih hidup sampai saat ini demi mengemban misi leluhur, yaitu menunggu Triagulum Noctis.¹
Saat terjadinya Triagulum Noctis hanya 1001 tahun sekali, untuk itu momen seperti ini di gunakan para pasukan iblis untuk masuk kebumi dan menyerang manusia, mereka akan bersekutu dengan para penyihir. Biasanya saat itu akan banyak mahkluk sihir berkeliaran, dan dunia akan terasa seperti neraka. Peperangan dimana-mana dan umat manusia banyak terbunuh. Muka bumi kan di banjiri darah dan air mata.
"Bagaimana kabarmu, Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya Eze.
"Berkat Anda, Yang Mulia Eze, aku baik-baik saja," jawab Erland sopan.
"Aku senang mendengarnya. Maaf jika kedatanganku membuatmu tak nyaman. Jika berkenan aku ingin membicarakan hal penting berdua denganmu."
"Tentu, Yang Mulia. Silakan duduk."
Erland mempersilakan Eze duduk di hadapannya, keduanya terpisah sebuah meja kecil. Tak lama Maizar datang menyajikan fructus tea, teh yang diambil dari sari buah yang dikeringkan dan dicampur gula batu. Tak lupa sepiring pie apel. Tanpa diperintah, Maizar keluar dan menutup pintunya. Dia berjaga di depan pintu. Cukup lama keduanya berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, tak seorangpun tahu.
***
"Anda terlihat gelisah, Yang Mulia. Apa ada hal yang membuat Anda tak tenang?"
"Tidak, Maizar."
Erland mencoba mengalihkan perhatiannya kearah perapian, tapi dia gagal untuk mengalihkan kejelian mata seorang Maizar. Tanpa dikatakan, Maizar tahu jika ada h yang menggangu pikiran Yang Mulia Putra Mahkota.
"Anda yakin, Yang Mulia? Jangan terlalu menekan diri Anda sendiri, Yang Mulia. Tolong perhatikan juga keselamatan dan kesehatan Anda," pinta Maizar sopan.
"Aku tahu, Maizar. Hanya saja, hal ini membuat aku cemas. Ah, tidak! Aku takut Maizar. Ini tentang Triagulum Noctis. Apa yang harus aku lakukan?"
Sejenak Erland terdiam. Dia menopangkan dagunya pada kedua kepalan tangannya. Kedua ujung alisnya bertemu, seolah dia sedang berpikir keras. Maizar tahu, jika membicarakan Triagulum Noctis, artinya mereka membicarakan masa depan Grazepodhia. Untuk itu, taruhannya bukan lagi emas, tapi nyawa.
"Apa yang Anda khawatirkan, Yang Mulia?"
"Apakah legenda itu benar? Jika benar, pastinya akan banyak korban jiwa. Bagaimana dengan rakyat Grazepodhia? Siapa yang akan menyelamatkan bumi ini?" cecar Erland.
"Anda memikirkan Grazepodhia? Hati Anda tak pernah jauh dari negeri itu."
Sejenak Maizar menarik napas ringan, dia tahu jika Erland mencintai negeri itu dengan sungguh-sungguh. Walaupun dia berkata tidak, tapi ada binar indah saat dia mendengar Grazepodhia
"Itu hanya legenda, Yang Mulia. Tak seorangpun yang menyakini kebenarannya. Hanya saja sudah bertahun-tahun Eze menjaga Grazepodhia dari Evarald² dengan baik. Dia sangat percaya legenda itu benar, konon katanya dia telah bersumpah tidak akan mati sebelum menyelamatkan Grazepodhia saat Triagulum Noctis terjadi. Dan sampai saat ini, Eze masih terlihat sehat. Ya, walaupun itu mungkin suatu kebetulan saja. Eze bukan manusia sembarangan, beliau berilmu tinggi," jelas Maizar.
__ADS_1
"Jika demikian, ada kemungkinan legenda itu bisa terjadi," gumam Erland.
***
Setelah Eze kembali ke Evarald, semua kembali berjalan normal. Erland melanjutkan hidupnya sebagai anak biasa di sebuah desa kecil. Hamparan gandum yang menguning, dari ujung pematang terdapat genre, kincir air kecil yang dipasang dari tampungan air yang berasal dari sungai. Gunanya untuk menyiram ladang gandum.
Rasa kagumnya mendadak berhenti saat dia mendengar teriakan seorang anak perempuan dari balik gudang penyimpanan makanan. Teriakan itu bersahutan dengan suara anjing hutan yang menyalak kencang. Erland berlari menuju sumber suara. Benar saja, seorang gadis kecil terpojok bersama beberapa ekor anjing hutan yang lapar. Dengan cepat Erland mencabut pedangnya dan menebas mereka.
"Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" cacar Erland.
Anak perempuan itu tak menjawab, dia terduduk dengan lutut terluka dan menangis sesenggukan. Erland mengeluarkan sapu tangan dan pipa airnya, lalu membersihkan luka anak itu.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu akan baik-baik saja. Ayo!" ajak Erland sambil mengulurkan tangannya.
"Mau kemana? Kamu siapa?" tanyanya.
"Oh, maaf. Aku Javier, panggil saja Vier."
"Aku Benellie Auzle Aberco, panggil saja Ellie."
"Nama yang manis. Ayo, ikut aku. Kita ke Utara. Di sana ada beberapa pohon Crashberry liar. Kita bisa memakannya," ajak Erland lagi.
"Ayo, jangan takut. Aku tak akan menjahatimu."
Pada akhirnya Ellie mengikuti langkah Erland menuju utara gudang, di sana ada beberapa batang pohon Crashberry. Buahnya banyak yang sudah masak. Dengan cekatan Erland manjat pohon itu lalu memetik beberapa buah yang sudah masak dan membungkusnya dalam ujung bajunya. Serasa tersenyum, Erland memberikan buah-buah yang sudah dia cuci itu pada Ellie.
"Makanlah. Ini manis," ucapnya.
"Terima kasih."
Belum saja Ellie memakan buah itu, seseorang menarik tangannya, lalu memaksanya pergi. Ellie yang tak enak hati pada Erland mencoba bertahan, tapi dia kalah tenaga. Makian dan hinaan terlontar pada Erland.
"Bocah miskin tak tahu diri. Beraninya kamu memberikan makanan kotor itu pada putriku. Kotoran kuda pun lebih baik dari pada makanan busukmu itu. Entahlah kamu, anak binal!" maki Count Giant Front Aberco, ayah Ellie.
"Maaf Tuan, saya hanya berniat menghibur nona Ellie. Tadi ...."
"Jangan berdalih yang bukan-bukan! Aku tak Sudi anakku dekat denganmu. Dia putri seorang Count, derajatnya lebih tinggi dari pada gelandangan sepertimu. Jadi pergilah sebelum pengawal menghabisimu."
Sebuah tamparan keras membekas di wajah Erland, pemuda kecil itu sampai tersungkur kebumi dengan luka lebam di wajahnya. Hidungnya mengeluarkan darah, sambil tersenyum Erland menghapus darah itu. Tiba-tiba seekor burung rajawali berkepala putih menyerang Count Aberco sehingga dia mengalami beberapa luka patuk di tangan dan wajahnya. Para pengawal sang Count segera membawa Count Aberco dan Ellie meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" tanya Maizar yang sudah berubah wujud lagi menjadi manusia.
"Kamu keterlaluan Maizar. Lihat! Count Aberco sampai terluka seperti itu," ucap Erland.
"Bahkan aku ingin sekali membuat patah tangannya, Yang Mulia. Dia sudah lancang melukai Anda, itu adalah hukuman yang pantas."
"Sudahlah! Aku hanya terluka sedikit. Ayo kita kembali kerumah. Aku lelah sekali."
"Baik, Yang Mulia. Namun, kenapa Anda bisa ada di sini? Bukankah ini daerah otoritas Count Aberco yang terkenal kejam. Lebih baik kita kembali kerumah dan mengobati luka Anda, Yang Mulia."
"Aku melihatnya," ucap Erland sambil menghentikan langkahnya.
"Melihat? Apa yang Anda maksud, Yang Mulia?" tanya Maizar.
Erland memutar tubuhnya, wajahnya menghadap pada Maizar dengan mimik muka serius. Baru kali ini Maizar melihat ekspresi serius Erland, wajahnya terlihat menahan marah. Pemuda kecil itu mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya sekuat tenaga.
"Marcia Joseph Levitt," ucap Erland.
"Anda yakin?"
"Ya, aku yakin."
***
Catatan :
Triagulum Noctis adalah fenomena alam yang terjadi dari bentukan gugus bulan, mars dan Pleiades membentuk segitiga. Pleiades, Kartika, atau Bintang Tujuh adalah sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus, merupakan gugus bintang paling jelas dilihat dengan mata telanjang, dan salah satu yang terdekat dengan Bumi.
Evarald adalah negeri ajaib yang ada di dimensi berbeda, konon katanya di sana ada ramuan awet muda.
__ADS_1