Erbe

Erbe
Tabir Sukma


__ADS_3

Keduanya saling berhadapan, Jorvik dan juga Erland. Masing-masing memegang pedang kesayangannya. Wajah keduanya terlihat tak sedang bercanda. Namun, lagi-lagi Erland terlihat tenang. Usianya jauh lebih muda dari Jorvik.


Bahkan dercit pedang mereka membuat langit tertunduk takut, tingkatan ilmu Erland tak kalah dari Jorvik yang sejak kecil dilatih khusus oleh para jenderal pilihan di istana. Mereka bertarung di ruang udara berbeda, yang lain hanya dapat melihat, tanpa dapat mendengar dan menyentuh keduanya.


Dalam jurus yang kesekian, Erland berhasil menekan Jorvik. Ini bukan kebetulan. Erland memang lebih unggul dari kakak tirinya. Baik dari segi ilmu maupun mental. Dan dengan sekali tarikan pedang, Erland mengalirkan hawa murninya sehingga Jorvik tersingkir dan luka parah.


Erland menyarungkan kembali pedangnya, dan tersenyum. Sedetik kemudian dia membungkukkan sedikit badannya tanda hormatnya pada sang kakak. Darah segar mengalir dari ujung bibir Jorvik, dadanya membiru dan lengannya tersayat pedang Erland.


"Kenapa? Kenapa kamu masukkan lagi pedangmu? Cabut dan tebaslah leherku. Aku sudah siap menerima taruhan ini, jika memang itu yang kamu inginkan."


Erland hanya tersenyum menanggapi ucapan Jorvik. Dia mendekat dan mengulurkan tangannya. Semula Jorvik ragu menerima uluran tangan itu, tapi dia melihat ketulusan dari wajah adik tirinya. Saat tangan keduanya berjabatan, Erland lagi-lagi mengalirkan energi murni dari dalam sukmanya, dia menyembuhkan luka dalam dan fisik Jorvik. Dalam sekejap Jorvik kembali sehat dan segar.


"Apa maksudmu? Kenapa kamu malah menolongku?" tanya Jorvik heran.


"Kakak sudah terluka, itu sudah cukup untuk mengakhiri pertarungan ini. Aku tak ingin melanjutkannya," jawab Erland.


"Kenapa?"


Kali ini Jorvik bertanya dengan penuh kesungguhan, manik matanya menatap tajam pada Erland. Meninta penjelasan yang bisa diterima oleh akal sehatnya. Dan lagi-lagi dia mendapat kejutan dari sang adik.


"Aku hanya tak ingin bertarung. Kebencian tak akan menghadirkan kebahagiaan. Cukup sampai di sini saja, Kak. Pulanglah!"


"Tapi ... kamulah pemenang pertarungan ini. Aku berhak me dapat sangsi dari taruhan kita tadi. Katakan apa yang harus aku lakukan?"cecar Jorvik.


"Aku tak menginginkan apapun darimu, Kak."


"Kamu bodoh!"


Erland hanya tertawa mendengarnya. Dia tahu Jorvik tak seburuk itu, hanya saja ambisi dan egonya memang berlebih. Semakin diperlakukan selembut ini dengan adiknya, Jorvik semakin merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Kenapa kakak ngotot memintaku untuk menghukum mu?" tanya Erland.


"Karena kamulah pemenang dari pertarungan tadi, seorang kesatria yang kalah dan mendapat ampunan dari lawannya akan menjadi olok-olok. Aku tak ingin itu terjadi pada diriku."


"Rupanya harga dirimu terlalu mahal, Kak. Baiklah jika itu keinginanmu, akan aku kabulkan," ucap Erland.


Sejenak keduanya diam, mata keduanya bertemu, ada jalaran rasa yang tak pernah dirasakan oleh keduanya. Aneh dan tak biasa. Cepat-cepat Erland melanjutkan ucapannya.


"Kakak kembalilah ke Istana. Bersikaplah biasa saja. Perbaiki kesalahan yang terjadi. Hanya kakak yang bisa Ayahanda andalkan saat ini. Aku akan mencari jalanku sendiri. Anggap saja semua ini tak pernah terjadi. Maaf aku harus pergi," ucap Erland yang langsung beranjak.


"Tunggu!" cegah Jorvik.


"Mau kemana? Kamulah satu-satunya pewaris tahta yang sah. Bukan aku. Kembalilah ketempat yang seharusnya kamu berada. Aku cukup tahu diri."


"Tidak, Kak. Maafkan aku," sanggah Erland lagi.


"Sebegitu bencikah kamu pada Baginda, tidak pada ayahmu?"


Kali ini Erland mantap melangkah tanpa menoleh, tabir tipis yang membelenggu keduanya perlahan terbuka. Bahkan, Erland tak memandang pada sang ayah. Walaupun Kaisar Amos terlihat acuh tak acuh, hati kecilnya seolah tersayat sembilu. Ada rasa ngilu di sana. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk Erland, anak yang tak pernah ditemuinya sejak lahir.


***


"Kali ini aku hanya ingin pembuktian darimu, Jorvik. Buktikan kesetiaanmu pada kekaisaran. Sampai itu terjadi statusmu tetap sebagai tahanan luar. Jika sekali lagi kamu membuat kesalahan, maka aku sendiri yang akan memutus pita suaramu," ancam Baginda Kaisar Amos.


"Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Baginda."


Seisi ruangan terdiam, pengampunan pada mantan putra mahkota ini menjadi titik balik bagi sayap kiri kekaisaran. Mereka merasa senang melihat keadaan ini. Bahkan ini akan menjadi bumerang bagi sang kaisar.


Setelah memberi hormat, Jorvik pergi meninggalkan aula utama istana kekaisaran. Namun, saat dia hendak memutar tubuhnya, kaisar Amos menegurnya.

__ADS_1


"Apa ... apa anak itu tak mengatakan sesuatu?" tanya Baginda Kaisar Amos.


"Tidak!"


Jawaban Jorvik yang mantab dan tegas membuat sebuah keyakinan berbeda pada diri Kaisar Amos. Ada sedikit rasa kecewa yang tersirat dari binar matanya, tapi dia berusaha untuk menerima kenyataan ini. Sangatlah wajar jika Erland membencinya. Tragedi itu benar-benar sudah mematahkan hati Erland, bahkan mungkin harapannya.


Mungkin aku adalah ayah yang paling durhaka di dunia. Ayah yang sangat kejam. Namun, aku tak berdaya melawan langit. Jujur aku menyayangi anak itu. Wajahnya mengingatkan aku pada ibunya. Dia sangat mirip dengan ibunya. Perempuan malang berhati lembut yang menjadi korban dari keangkuhan tirani.


Bukan aku tak menyayanginya, hanya saja hati ini tak bisa berdusta. Pernikahan kami hanya sebuah sandiwara yang menyakitkan. Ah! Jika begini jadinya, harusnya sejak awal aku tolak perjodohan itu. Maafkan ayah, Nak.


Amos turun dari singgasananya menuju kamar pribadinya. Perasannya saat ini campur aduk, hatinya tak tenang. Rasa bersalah itu begitu menyiksanya. Kamar mewah yang nyamanpun tak bisa membuatnya lena. Seolah memori kelam itu berputar lagi dalam otaknya kini.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Amos duduk ditepi ranjang besarnya. Kedua tangannya menjambak rambut, seolah rasa putus asa itu mengental dinadinya. Mata nanarnya menatap sendu pada setiap dinding kamar seolah berharap ada keajaiban terjadi.


"Seandainya pun anak itu memaafkan aku, diriku sendiri pun tak pernah memaafkan diriku sendiri."


***


"Kami turut bahagia melihat Anda berada di istana kembali, Yang Mulia," ucap Grand Duke Orlands.


"Apakah ini suatu hal yang patut dirayakan?" sindir Jorvik.


"Maaf Yang Mulia, saya tak paham maksud Anda. Bukankah ini hal yang membahagiakan?"


Jorvik memutar tubuhnya menghadap pada sang paman. Hatinya masih kesal dengan perlakuan yang dia terima selama di penjara bawah tanah. Terlebih saat ini dia harus menerima kekalahan telaknya dari Erland.


"Kemana saja kalian saat aku di penjara bawah tanah? Tak seorangpun berusaha menyelamatkan aku dari tempat terkutuk itu. Dan sekarang kamu katakan sebuah hal yang membahagiakan? Apa aku harus bahagia? Aku harus tersenyum saat ini?"

__ADS_1


Semua terdiam, ada amarah dari nada bicara Jorvik. Merekapun tahu dengan pasti sifat Jorvik yang ambisius dan mempunyai harga diri tinggi. Sangat berbahaya jika saat ini mereka salah bicara, nyawa mereka akan menjadi taruhannya.


***


__ADS_2