Erbe

Erbe
Résurrection


__ADS_3

Entah kenapa tiba-tiba aliran udara seolah terbelah, putaran waktu menebus alur berlawanan. Erland seperti terseret dalam kabut hitam yang pekat, ada perisai sihir yang menghalangi siapapun untuk menolongnya. Maizar bukan main cemasnya tatkala mendapatkan Erland terseret putaran sihir waktu yang entah dari mana datangnya.


Satu menit, dua menit, bahkan lebih dari satu jam dia menunggu perisai sihir menghilang. Dia sendiri tak mampu menembusnya. Sungguh Maizar akan sangat menyesali dirinya atas dosa yang terjadi jika sesuatu yang buruk menimpa Erland.


"Demi Penguasa Langit! Atau apapun itu, perisai jahanam ini tak tergoyahkan. Semoga Anda baik-baik saja Yang Mulia. Aku akan sangat mengutuk diriku jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anda."


Makian Maizar tak merubah keadaan sedikitpun, sekeras apapun dia berusaha, gagal. Bahkan tenaganya nyaris terkuras untuk mematahkan perisai sihir itu. Malam semakin larut, gerak waktu tak bisa terhentikan. Mungkin sudah saatnya untuk menyerah, tapi jika itu terjadi, dia lah orang yang bertanggung jawab atas kelalaian ini. Kedua tangannya menangkap di wajah, rona keputus adaan begitu tergambar. Sesal dan rutuk silih berganti, sampai asa itu hadir.


Pendar keemasan muncul dari pekatnya kabut yang kembali memecah aliran udara dan waktu. Maizar bersiap untuk menyambut apapun yang terjadi. Bukan main terkejutnya dia saat merasakan âme murni yang muncul di antaranya. Hangat dan penuh kelembutan, tapi ada buncahan kekuatan dahsyat di dalamnya. Pedang tajam sudah bersiap menyambut apa yang datang.


"Luar biasa! Âme apa ini? Mirip dengan klan Laszlo, tapi .... Ah! Aku tak yakin!" serunya pada diri sendiri.


"Apa yang membuatmu tak yakin, Maizar?"


Sebuah suara lembut datang dari pancaran energi tadi, ini adalah suara Erland. Namun, kali ini sosok yang hadir di hadapannya bukanlah Erland yang biasa. Pakaian mewah, dan pedang Luzaro yang berada di sisi kanannya, menambah kharisma pemuda kecil itu. Rambutnya yang berkilau seperti lembaran benang emas, dan matanya yang hijau terlihat begitu sempurna menyiratkan ketampanan Erland.


Maizar tertegun dalam beberapa lama, dia menatap Erland dari atas kepala hingga ujung kaki. Takjub. Itulah yang dia rasakan, bukan hanya paras dan penampilan, tapi juga âme yang di pancarkan Erland kini berbeda. Dan untuk detik berikutnya dia tersadar bahwa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Erland si bocah ingusan, tapi Erland sang pewaris tahta kekaisaran.


"Hamba, Maizar Hubertg memberi hormat pada Yang Mulia Putra Mahkota. Mohon ampuni kelancangan hamba tadi, Yang Mulia," ucapnya seraya berlutut di hadapan Erland.


"Bangunlah, Maizar. Aku Erland, bukan putra mahkota seperti yang kamu katakan barusan. Aku hanya seorang jelata yang bergaul dengan nestapa. Bangunlah!" titah Erland.


"Tidak! Aku mohon jangan berkata hal yang sangat menyakitkan itu, Yang Mulia. Hamba, pantas mendapatkan hukuman."

__ADS_1


"Bangunlah!"


Maizar bangun dengan tetap menjaga etika dan rasa hormatnya pada Erland. Dua buah garis lengkung terukir di ujung bibir pemuda kecil itu, ya ... Erland bukanlah pemuda kecil biasa. Erland Javier Laszlo, satu-satunya keturunan langsung dari almarhumah permaisuri pertama. Artinya dia adalah putra mahkota Kekaisaran Grazepodhia.


Artinya kelak dialah yang akan bertahta di atas singgasana kekaisaran. Bukanlah Jorvik yang saat ini didapuk menjadi kandidat putra mahkota yang berasal dari garis keturunan kedua, dari darah selir.


"Apa yang terjadi, Yang Mulia?" tanya Maizar.


Sejenak Erland terdiam. Pikirannya terbawa pada beberapa saat setelah dia terseret dalam pusaran waktu. "Aku .... Aku melihat semuanya. Semua yang terjadi delapan tahun yang lalu, ah ... tidak! Bahkan lebih dari itu. Kenapa tak seorangpun yang mengatakan kebenaran ini padaku, Maizar? Katakan padaku!" tegasnya kemudian.


"Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba tak berani menentang perintah langit. Tak berani melawan takdir semesta. Hamba hanya bertugas menjaga dan melindungi Anda sampai saatnya Anda kembali ke istana kekaisaran. Jangan khawatir, kami ada berada di barisan terdepan untuk melindungi Anda, Yang Mulia," papar Maizar.


"Untuk apa?" tanya Erland.


"Untuk apa kembali ke Rubell? Aku tak mau menginjakkan kaki kesana. Cukup aku kenang kematian yang buruk itu dalam hati dan itu ... sangat menyakitkan."


***


"Apa benar Yang Mulia menyatakan hal itu?" tanya Sage Fortaleza.


"Ya."


Jawaban singkat Maizar membuat Zeur kesal, dia sangat ingin mendapat penjelasan terperinci tentang apa yang telah terjadi. "Apakah kamu tak bisa sedikit lebih serius, Maizar? Kamu masih sebercanda itu untuk masalah sepenting ini," omel Zeur.

__ADS_1


"Aku tak bergurau, Zeur. Yang Mulia Putra Mahkota terperangkap dalam xymo selama setengah hari. Dan apa kamu tahu? Yang Mulia Putra Mahkota sudah tahu segalanya, tubuhnya terlempar jauh menembus dimensi waktu."


"Tapi .... Bukankah kamu katakan bahwa sebelumnya Yang Mulia Putra Mahkota tak sadarkan diri dan tubuhnya membiru?" cecar Zeur lagi.


"Iya, itu benar. Yang Mulia Putra Mahkota tak sadarkan diri dengan tubuh membiru lalu ...."


"Itu artinya Yang Mulia Putra Mahkota melakukan cyra. Alam bawah sadarnya yang menuntun beliau melakukan cyra diusia semuda ini. Tidak mustahil itu terjadi, karena Yang Mulia Putra Mahkota adalah keturunan langsung klan Laszlo, penguasa dinasti Klynard pendiri kekaisaran Grazepodhia. Artinya langit dan semesta mendukung Yang Mulia Putra Mahkota," terang Sege.


Semua yang ada di sana terdiam, mereka tak menampik apa yang dijelaskan Sege. Adalah benar kalau Erland Javier Laszlo adalah pewaris sah kekaisaran Grazepodhia. Salah satu kaisar besar yang tercatat dalam legenda. Kaisar yang bergaya dan hangat, yang akan membawa Grazepodhia pada gerbang keemasannya.


Namun, dibalik kebenaran itu, ada para rival yang siap mengadang mereka. Para pendukung Putra Mahkota saat ini, Jorvik, yang konon bersikap arogan dan diktator. Terlebih saat dia menggantikan Sang Kaisar sementara. Kaisar Bendirk terbaring sakit bertahun-tahun, tak satupun ramuan sihir yang bisa menyembuhkan sang Kaisar.


Tahta sementara diserhakan pada Jorvik sebagai putra mahkota. Dari para selir, Kaisar memiliki tiga orang putra dan dua orang putri. Pangeran ketiga yang lahir dari permaisuri kedua, menolak tahta, dia tak serakus Jorvik.


***


Dercit pedang memekakkan telinga, Jorvik menghunuskan pedangnya pada saudara laki-lakinya, tanpa segan dia menebas pedang itu pada pangeran kelima dan putri kedua. Entah iblis dari mana yang membutakan Jorvik.


"Hentikan!" pekik pangeran kelima.


"Tetaplah disana, Alford. Atau aku tak akan sungkan padamu lagi. Jangan menghalangi langkahku!"


Tanpa basa-basi Jorvik hendak menebaskan pedangnya pada Alford, tiba-tiba muncul pendar keemasan yang menghalangi serangan Jorvik. Tubuhnya terpental dan memuntahkan banyak darah. Bumi ikut bergetar menyambut pendar keemasan yang singgah tadi. Semua terdiam, kelu dan membisu.

__ADS_1


***


__ADS_2