Erbe

Erbe
Monter


__ADS_3

Bias cahaya itu memecah kekisruhan yang terjadi, semua orang terdiam, berdiri membatu di antara takut dan kepatuhan. Tiba-tiba, dari arah ruang aula kekaisaran, seseorang berjalan gagah menuju singgasana. Alangkah terkejutnya semua orang, tapi mereka buru-buru berlutut memenuhi sebuah kepatuhan. Sang kaisar yang terbaring koma bertahun-tahun, saat ini duduk di atas singgasana. Manik matanya yang hijau menatap tajam seisi ruangan yang sudah bersimbah darah.


Dari kejauhan pun terlihat dada sang Kaisar yang turun naik, dengan tangan terkepal dan wajah yang mulai merah. Matanya membulat sempurna menatap kearah Putra Mahkota lalu berkata, "Apa kamu sudah tak menganggap aku ada, Putra Mahkota?"


"Dengan seenaknya kamu tumpahkan darah saudara-saudaramu demi kekuasaan. Aku kecewa padamu, Putra Mahkota," sambung Kaisar.


Semua orang tertunduk, asik bercanda dengan diamnya. Antara takut dan kepatuhan. Mereka tahu akan terjadi sesuatu yang besar jika Kaisar sudah murka. Napas mereka terasa sesak menanti detik demi detik yang berlalu.


"Mulai detik ini, aku mencabut status Putra Mahkota, dan kamu harus menghabiskan hari-hari di dalam penjara bawah tanah. Aku rasa itu cukup setimpal dengan apa yang kamu lakukan. Pengawal! Seret dia ke dalam penjara bawah tanah!"


Tanpa menunggu dua kali ucap, para pengawal menyeret putra mahkota kepenjara bawah tanah, tentu saja jejeran menteri yang masih punya hubungan kekerabatan dengan permaisuri kedua melakukan protes. Namun, Kaisar menolak keras ajuan protes tersebut, bahkan Kaisar menyebut putra mahkota sebagai kegelapan di kekaisaran.


***


"Apa kamu sudah mencarinya dengan benar?" tanya Kaisar Amos pada sang perdana menteri.


"Mohon ampun, Baginda. Kami belum menemukan apa yang Anda minta. Mungkin butuh waktu lama untuk menemukannya," jawab Berneth.


"Berapa lama?"


"Ah ... soal itu, tidak bisa dipastikan, Baginda."

__ADS_1


Untuk sesaat keduanya terdiam, tapi ada delik syakwasangka dibalik tatap mata Kaisar Amos.


Tak seperti biasanya, entah ganjalan apa yang ada di hati ini. Aku sulit sekali mempercayai Berneth. Dia adalah perdana menteri terpercaya di kekaisaran ini, pengabdiannya untuk kekaisaran tak bisa diabaikan. Namun, ada hal aneh yang membuat aku tak mempercayainya saat ini. Ah! Apa yang harus aku lakukan?


"Baiklah! Kamu boleh kembali, Berneth," titah sang Kaisar kemudian.


Sepeninggal Berneth, Kaisar Amos terdiam, pandangannya terlihat kosong, seperti memikirkan banyak hal. Helaan napasnya yang kuat, sesekali memecah kesunyian kamar pribadi Kaisar. Ya, ini hal yang besar. Sejak Kaisar Amos mencopot gelar putra mahkota pada Jorvik, posisi putra mahkota kosong. Hal ini tak boleh terjadi, demi keberlangsungan tirani, Amos harus memiliki pewaris.


Akibat kejadian kemarin dia kehilangan putranya dan juga putra mahkota. Yang tersisa hanya dua orang putri. Anelka dan juga Bareth, tak mungkin Kaisar menunjuk salah satu dari keduanya untuk menjadi pewaris tahta. Anelka adalah anak dari selir yang berasal dari rakyat jelata, sedangkan Bareth memiliki fisik yang lemah sejak lahir.


Satu-satunya pewaris yang berhak adalah putra kandungnya dari permaisuri pertama. Tak seorangpun yang mengetahui dimanakah anak itu berada. Sejak tragedi menakutkan enam tahun silam, semua orang bungkam. Mengunci mulut dan ingatan mereka, karena jika kebenaran terungkap, maka akan banyak nyawa yang melayang.


Makin lama berpikir, makin gusarlah Kaisar Amos. Dia tahu apa yang terjadi padanya adalah upaya kudeta terselubung yang kejam. Bukan tak mungkin hal itu akan terjadi lagi, untuk itu dia harus segera mencari pewaris tahta bagi kekaisaran.


***


Para Dureté dan Aigner berlutut dihadapan Erland, semua tunduk pada titah pemuda kecil itu. Erland terlihat tersenyum tenang di kursinya. Wajahnya sangat kharismatik dan lembut, membuat semua orang suka padanya. Mata hijaunya menambah sensasi kelembutan.


"Kami para Dureté dan juga Aigner bersumpah setia pada Yang Mulia Putra Mahkota Pangeran Erland Javier Laszlo, dengan pengabdian dan darah."


Ucapan kompak para Dureté dan Aigner membuat langit seolah ikut bertahmid pada sosok pemuda kecil ini. Erland bangun dari duduknya, Maizar dengan setia selalu berada di sisinya.

__ADS_1


"Terima kasih atas, sumpah kesatria kalian. Namun, apakah aku yang masih muda ini pantas untuk menerima semua ini? Tolong pertimbangkan dengan baik," ucap Erland merendah.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Apa yang kami pertimbangkan ini sudah matang, kami paham benar siapa Anda. Âme yang Anda miliki sudah membuktikan kelayakan Anda sebagai pewaris tahta Grazepodhia. Sebagai Dureté kami punya kewajiban menjaga dan mengabdi kepada Anda, Yang Mulia," jelas Sege.


"Dan kami para Aigner pun demikian, jadi sudah sangatlah pantas kami menjunjung Anda, Yang Mulia Putra Mahkota," sambung Yazied Macquio, pimpinan Aigner.


Erland hanya tersenyum, dia kembali pada kursinya. Maizar kembali berdiri di sisi kanannya. Sekilas dia melirik pada Erland. Ada senyum lembut yang terukir dari bibir mungil pemuda tampan yang duduk di sebelahnya. Dia tahu dibalik ketenangan Erland, ada sebuah perhitungan matang yang bertolak belakang dengan usia mudanya.


"Terima kasih atas ketulusan kalian, tapi aku hanya anak biasa, bukan putra mahkota. Jadi berhentilah memanggil aku seperti itu," pinta Erland.


"Anda adalah putra Yang Mulia Permaisuri pertama, jadi Anda-lah yang berhak atas posisi putra mahkota dan bagi kami garis caize tak bisa diabaikan. Tolong jangan bantah kebenaran itu, Yang Mulia," ucap Zeur.


Semua yang ada di sana mengaminkan apa yang dikatakan Zeur. Walaupun Zeur adalah pemuda yang ekspresif dan sedikit emosional, jika menyangkut dedikasi, tak perlu diragukan lagi. Dia memiliki darah tiga generasi Dureté.


Helaan napas panjang Erland mencuri perhatian semua orang, sejenak pemuda kecil itu terlihat memperhitungkan beberapa hal. Lalu senyumannya kecil dari bibirnya lalu berkata, "Baiklah, aku hargai kesetian dan dedikasi kalian. Hanya saja aku tak mungkin kembali ke Andorra, mungkin untuk saat ini dan sampai waktu yang tak bisa diperkirakan."


Semua menghargai keputusan Erland untuk tetap menjadi Erland yang sekarang dan tidak kembali ke Andorra -istana kekaisaran Grazepodhia. Maizar tetap setia menemaninya, tentunya dalam wujud burung rajawali hitam. Langkah kakinya menyusui pinggiran sungai Dish, lalu menuju keluar hutan. Pengembaraan Erland dimulai dari sini.


Bukannya dia hendak menolak perintah langit dan takdir semesta. Baginya istana seperti asing, dia hanya ingin menghirup udara bebas demi menghindari kebencian. Terlebih saat dia memasuki lorong waktu dalam pusaran dimensi, Erland melihat semua. Tragedi mengerikan yang menimpa sang ibu akibat tahta. Jika boleh memilih, Erland lebih senang terlahir sebagai putra petani biasa. Alam bebas adalah napasnya, kesederhanaan adalah nadinya.


***

__ADS_1


__ADS_2