
Hecnor mengajak Felona ke toko pakaian, Hecnor membiarkan Felona berjalan duluan. Sampai di depan store pakaian dalam Hecnor tetap mengikutinya. Wanita - wanita di sekitar mereka melihat mereka dan berbisik - bisik.
Felona yang menyadari itu kemudian menarik Hecnor sedikir ke belakang.
"Aduh, Kenapa mengikutiku sampai sini?"
"Aku hanya menemanimu membeli saja"
"Kau tidak malu ini store pakaian dalam wanita, kamu laki - laki sampai sini?"
Felona menepak kepalanya sendiri.
"Sudah terserahmu mau ke mana jangan ikuti aku dulu!"
Felona pun berbelanja, demikian dengan Hecnor yang menggunakan sedikit akalnya untuk membeli beberapa set pakaian.
Felona langsung mengambil barang yang diperlukannya dan langsung menuju ke kasir, tak lama Hecnor datang dengan gunungan pakaian yang ia bawa. Pelayan dan pelanggan sekitar pun terbelalak, laki - laki berani membeli pakaian untuk wanita bahkan set pakaian malam. Hecnor dengan percaya dirinya menyodorkannya ke pelayan kasir dan berkata
" tolong bungkus ini semua!"
"Baik", sahut pelayan kasir.
Felona menginjak kaki Hecnor, dan berbisik padanya.
"Apa kau sudah gila?"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Kau gila membeli pakaian wanita seperti itu, kau tak melihat sekelilingmu menatapmu?
"Aku sih cuek, kan aku beli pakai uangku", tegasnya.
Hecnor pun membawar tagihan dna membawa beberapa totebag berisi belanjaannya tadi. Felona mengambil barang yang dibutuhkannya tadi dan langsung menuju ke kamar mandi untuk memakainya. Hecnor tetap mengikutinya.
"Apa kau sudah menjadi tidak waras tuan Hecnor?"
"Apa lagi salahku?"
"Ini toilet perempuan dasar bodoh, kau tunggu di luar!", usirnya.
Seselesainya mereka menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Apa kau ingin ke suatu tempat Fel?"
"Tidak, aku sudah cukup pusing hari ini... tolong antarkan aku pulang saja", ucapnya sambil memegangi pelipis kepalanya.
"Baiklah..."
Sesampainya di rumah, Felona mempersilakan Hecnor untuk masuk tetapi Hecnor menolaknya. Alasannya wajar karena kesibukannya, jadi Hecnor langsung pergi setelah memasukkan belanjaannya tadi ke dalam rumah Felona.
Felona mencari - cari Ayahnya, tetapi ia tidak menemukannya. Kemudian dia bertemu dengan Paman Ero.
"Paman, di mana Ayah?", tanya Felona.
"Hmm, maaf Non... Beliau sudah kembali tadi pagi", ucap Paman Ero.
Felona hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia menuju ke kamarnya dan membantingkan tubuhnya ke kasur.
Dalam pikirannya bergumul tentang hal yang ia alami sedari kemarin seolah terlalu cepat baginya untuk menerima keadaan. Bahkan untuk Hecnor yang terlihat dingin dan cuek bisa berubah seketika.
Felona mencoba menyalakan ponselnya. Tak ia sangka banyak notifikasi dari Edra baik pesan dan panggilan tak terjawab.
Felona yang sudah dekat dengan Edra merasa nyaman tetapi keadaan berubah seketika kejadian tadi.
Semua itu membuat pening kepalanya, ia kemudia membuka buku novelnya dan membacanya hingga tertidur.
Hecnor kembali mengurus berbagai pekerjaan yang telah ia tinggalkan beberapa waktu lalu. Ia mendapat pengajuan kontrak dari keluarga Edra untuk mendesain sebuah resort di pantai Tangsi . Saat Hecnor membaca dengan teliti ajuan itu ternyatai balik kontrak itu terdapat pesan
"Temui aku di pantai ini, aku ingin bicara"
ttd
Edra.
Dalam benak Hecnor berpikir sejenak,
*Apakah aku harus bersaing dengan bocah tengik ini juga?*
Edra memutarkan bangkunya, diambilnya segelas wine untuk menenangkan pikirannya. Seteguk demi seteguk ia minum... tanpa sadar ia pun tertidur di kursi itu.
Edra yang memberanikan dirinya untuk menemui Hecnor yang tidak lain adalah asisten gurunya di sekolah. Seolah menghadapi tameng besar di hadapannya.
Ibu Edra melarangnya dekat dengan Felona, padahal dulu Ibunya pernah sangat menyukainya melalui ceritanya.
__ADS_1
Ya, dulu bahkan setiap pulang sekolah Edra selalu menceritakan kejadian - kejadian yang dia alami, kegiatan yang dia lakukan, dan kebanyakan dia menceritakan tentang Felona.
Akan tetapi karena melihat Felona berasal dari keluarga broken home dan bertemu saat bersama dengan Hecnor, membuat penilaian Ibunya berubah drastis.
Edra mulai mengechek hp'nya lagi, ia melihat pesannya sudah tersampaikan beberapa menit lalu akan tetapi tak ada respond. Edra menelpon Felona lagi.....
...berdering.......
Tak ada respond dari Felona, Edra masih menelponnya berkali - kali. Sedangkan Felona mematikan dering hp'nya.
Tentang Ibu Felona, apa kau tahu?
Ya, memang Ibu Felona terkesan jahat sebelumnya. Tapi ia tetap seorang Ibu yang sejatinya menyayangi anaknya. Dengan suaminya yang sekarang alias Ayah tiri Felona ia tak mempunyai keturunan karena suaminya yang mandul. Jadi satu - satunya keturunan dan pewaris dari keluarganya adalah Felona.
Ibu Felona selalu memantau Felona dari kejauhan, jika pun ada kesempatan tersendiri Felona harus di bawa menemuinya. Akan tetapi belum ada satu pun yang berhasil membawa Felona kehadapannya berkat keamanan dari Ayah Felona dan Paman Ero .
Restlesss....
Kalian sedang membaca cerita kehidupan yang berantakan baik dari keluarga dan juga perasaan. Seolah hidup ini penuh permainan dan konspirasi yang tertata rapi menjadi jalan hidup.
Rasa yang ditikan oleh tajamnya kenyataan dan beratnya belenggu dari permasalahan.
Capek? Lelah? Pasrah?.... Pasti ada saatnya hampir menyerah....
Semua orang mempunyai masalah hidupnya masing - masing, mungkin bisa jadi ada yang serupa tapi mental tiap - tiap orang berbeda.
Dia yang sering kamu lihat tertawa padahal batinnya terluka, dia yang suka membantu padahal sedang dalam belenggu. Kita tidak dapat melihatnya dari orang sekuat itu kecuali saat ia menunjukkan sisi aslinya.
MENGAPA TIDAK BERSUKUR???
Mereka bersyukur bodoh!
Lihatlah mereka masih berjuang!
Mereka menutupi semua lukanya!
Mereka menyimpan hulu air matanya!
Dengan harapan harinya akan lebih baik dari sebelumnya..
Jika mereka tidak bersyukur mungkin mereka sudah mengakhiri hidupnya sejak dulu.
__ADS_1
Jangan menganggap sepele kehidupan seseorang, karena perjuangan dan pengorbananmu belum sebesar mereka.
~tunggu kelanjutan bab ini ya!~