
Sekian lama Felona menunggu ia memantapkan diri pergi ke ruang guru.
"Permisi pak / bu... Apakah Pak Hecnor ada?", tanya Felona pelan.
"Ouh hari ini dia izin, ada perlu apa?", tanya salah satu gurunya bu Desi.
"Ouh begitu ya bu, saya hanya ingin mengembalikan barang yang saya pinjam kemarin bu.", sahut Felona.
"Ya sudah, kembalikan saja sepulangnya dari rumah sakit!", balas bu Desi.
Felona mendongak dan berkata, "R - Rumah sakit?".
"Iyaa, semalam dia kecelakaan lalu di larikan ke rumah sakit dan masuk ke UGD... Katanya belum sadarkan diri nak.", jelas bu Desi.
"B - baik bu, terima kasih banyak infonya bu.", Felona segera berbalik dan bergegas pergi.
"Iyaa", bu Desi menatap Felona yang pergi dengan cemas.
Dalam hati Felona dia berseru, mencekam seluruh rasa bahagianya hari ini.
*Apa ini? Dia mengalami kecelakaan setelah mengantarku pulang... Harusnya tak seperti itu kan? Dia bisa langsung pulang pasti akan selamat*.
Geeedhebuuggg...
Tanpa di sengaja dia bertubrukan dengan Edra.
"Kamu kenapa Fel? Kau buru - buru ke mana?"
"Aku mencari pak Hecnor, katanya dia mengalami kecelakaan Dra... Masuk rumah sakit.", jelas Felona panik
"Kan sudah di rumah sakit kamu tenang saja pasti dia akan baik - baik saja Fel!", pinta Edra memegang bahu Felona
"Tidak. Dia kecelakaan setelah mengantarku pulang! Aku tak bisa tenang Dra... Sudah aku pulang dulu.", balas Felona tegas.
Edra hanya terdiam, terbelalak matanya mendengar bahwa Felona diantar pulang oleh pak Hecnor itu.
Batin Edra seolah memendam amarah.
*Tapi bagaimana? Bukan kah kecelakaannya malam hari, apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya?*
Felona pun bergegas pulang, tak lupa ia mengambil kue pesanannya tadi pagi. Sedari tapi raut wajahnya nampak redup. Sesampainya di rumah ayah Felona sudah menunggunya sedari tadi. Ayah Felona menyadari, puterinya itu pulang dengan menekuk wajahnya. Ia mencoba menyapanya.
"Puteriku sekarang sudah sebesar ini yaa", Sambil mengelus kepala Felona.
"Ada apa tuan putri? Apakah kamu tidak suka ayah pulang?", pancingnya.
Felona bimbang akan isi hatinya, ia hanya bisa menjawab.
"Humm, bukan begitu ayah.... aku juga ingin menyambut ayah, ini kue untuk ayah".
Felona memberikan kue itu pada ayahnya. Ayah Felona merasa sangat senang, tetapi melihat puterinya itu cemberut bagaimana mungkin ia hanya bisa diam?
"Hei, tuan putri? Apakah ada masalah? Mungkin nanti ayah bisa membantumu?", bujuk ayah Felona.
__ADS_1
Felona menatap ayahnya, ayahnya pun memberi tanda mata mengiyakan.
"Sebenarnya kemarin ada seseorang yang membantuku, tetapi hari ini aku mencarinya untuk mengembalikan ini padanya...".
Ayah Felona melihat tas berisi pakaian laki - laki, dan kembali mendengarkan cerita Felona.
"Tetapi tadu saat aku mencarinya, aku mendapat kabar bahwa ia kecelakaan semalam setelah menolongku dan masuk ke rumah sakit. Apa yang harus aku lakukan ayah? Aku tak tahu apapun tentangnya.", lanjut Felona meneteskan air matanya.
Ayah Felona paham betul yang di ceritakan puterinya itu adalah Hecnor, mungkin Felona enggan mengatakan namanya karena dia laki - laki dan takut jika nanti membuatnya marah.
"Apa kamu ingin menemuinya nak?"
"Tentu ayah, tetapi bagaimana?", perlahan Felona menyapu air matanya.
"Bersiaplah, nanti ayah bawa kamu ke rumah sakit. Siapa tahu di sana ada orang yang kamu cari nanti." hibur sang ayah.
"Benarkah ayah?", Felona menatap ayahnya.
Dengan pasti ayah Felona menjawab.
"Iya".
Felona pun menuju ke kamarnya, mandi dan bersiap sedemikian rupa. Usai bersiap - siap ia keluar menuruni tangga, dilihatnya sang ayah yang benar - benar mempersiapkan semuanya.
"Ok mari berangkat".
Kata ayah Felona sambil merangkulnya. Mereka memasuki mobil yang dikemudikan paman Ero. Mereka mulai bercakap - cakap kembali.
Felona hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Ayah Felona pun meminta kepada paman Ero menuju rumah sakit.
"Ke rumah sakit Health Xan ya paman!".
"Baik tuan.".
Mereka menuju ke rumah sakit di mana Hecnor berada, semua sudah direncanakan. Ayah Felona mengabari Indra bahwa mereka sudah dalam perjalanan.
Di sepanjang jalan, ayah Felona yang khawatir akan perasaan putri semata wayangnya itu selalu mengelus kepalanya.
"Ayah, mengapa selalu mengelusku seperti anak kecil?", ucap Felona sedikit menggerutu.
"Ayah hanya rindu, saat kecil kamu begitu imut dan lucu .... Sekarang kamu sudah sangat besar dan cantik",
"Tentu saja", ucap Felona sambil tertawa kecil.
Setibanya mereka di rumah sakit, segeralah Felona menanyakan pada bagian resepsionis tentang daftar pasien.
"Permisi Sus?".
"Iyaa, ada yang bisa saya bantu nyonya?".
"Emmm, apakah ada pasien yang bernama Hecnor? Korban kecelakaan kemarin malam?", tanyanya lirih.
"Ouh iyaa, ada nyonya ada di ruangan no 003 di UGD unit 2.".
__ADS_1
"Baik, terima kasih Sus,".
"Sama - sama nyonya.".
Felona segera menuju ruangan itu, ayahnya dan paman Ero mengikutinya dari belakang.
Felona yang mulanya berjalan cepat memperlambat langkahnya, seakan melihat punggawa kerajaan yang begitu memenuhi jalan menuju ke ruangan di mana Hecnor berada. Felona tak berani melangkah lagi, ia pun berhenti dan menoleh ke arah ayahnya.
"Emm, ayah?", ucap Felona Canggung.
"Tak apa, mari masuk ada yang sudah menunggumu nak.", bujuk sang ayah menenangkan."
Felona bingung dengan kata - kata ayahnya itu. Perlahan mereka masuk ke ruangan itu, ada dua orang yang menyambut ramah kedatangan mereka.
*Siapa mereka ini? Kurang lebih seumuran dengan ayahku... Orang tua pak Hecnor?*, bungkam hati Felona.
"Jadi ini putrimu? Felona ya", tanya Indra melirik Felona.
"Benar", jawab ayah Felona sembari mendekatkan Felona pada mereka.
"Halo Om, .... Tante?", kata Felona sambil tersenyum.
Mereka seolah memandangi Felona dari ujung kaki hingga pangkal rambutnya. Felona seolah kaku dan tak dapat rileks.
Tetapi dilihatnya Hecnor yang masih terbaring tak sadar di atas kasur rumah sakit.
"Om... Tante... Bagaimana keadaan pak Hecnor?", tanya Felona sopan.
"Pak? Mengapa kamu memanggilnya seperti itu nak?", tanya ibu Hecnor.
*Duhhh, kok malah ditanya.... bagaimana ini jelasinnya?* batin Felona seolah ingin menjerit.
"Emm iyaa tante, pak Hecnor mahasiswa pengajar di sekolah saya. Jadi saya dan teman - teman mmeanggilnya dengan bapak", jelas Felona sedikit panik.
"Ouh begitu yaa, pantas saja dia sudah mengenalmu lagi", ucap ayah Felona.
"Mengenalku lagi? M - Maksud ayah?", tanya Felona bingung.
"Dulu kamu dan Hecnorsering bermain bukan? Kamu ingat di mana kita tinggal dulu, saat masih bersama dengan ibumu", pancing sang ayah.
Felona yang masih berfikir, diingatkan oleh memori lamanya dan ia berhasil mengingatnya.
"Anak pak Indra?", ucap Felona kaget.
"Benar, ini pak Indra loh... Masa kamu lupa?", balas ayahnya.
"Haah, maaf om Indra saya benar - benar lupa".
Felona yang benar - benar malu menundukkan tubuhya sampai setengah badan.
*Aduhhhh Felona lagi - lagi kamu berbuat hal memalukan*, batin Felona ingin lari lalu melompat karena malu.
〰️ Lanjut Episode Berikutnya Yaa!〰️
__ADS_1