
Sesampainya di sana, Hecnor mempersilakan mereka untuk mampir. Akan tetapi karena ayah Felona yang sibuk hendak langsung meninggalkan tempatnya.
"Mari om, paman,... Fel... Silahkan masuk!", bujuk Hecnor.
"Maaf nak Hecnor, karena mengurus kepergianku sejak kemarin banyak pekerjaan yang aku tinggalkan... Aku harus pergi, tetapi Felona bisa menemanimu hari ini... Dia bisa membantumu selagi besok Sabtu dan Minggu libur kan?", rayu ayah Felona.
"Ehmm... tapi ayah apakah baik jika...", ucap Felona terpenggal.
"Tidak apapa, nak", sahut ayahnya memasuki mobil.
Ayah Felona menutup kaca jendela, seolah memberi waktu untuk mereka mengenal kembali.
"Sudah, tidak apapa... Ayo masuk Fel!"
"Humm, iyaa"
Mereka memasuki rumah itu. Felona nampak terkagum - kagum bagaimana menakjubkannya desain rumah yang elegan, disuguhi banyak pemandangan yang begitu menenangkan.
"Apakah kau suka?"
"Wahhh, yang benar saja aku sangat suka jika bisa tinggal di sini... Pasti nyaman sekali"
"Iyaa, kita akan tinggal di sini bersama."
Badan dan pikiran Felona menjadi kaku dengan kata 'kita' yang diucapkan Hecnor barusan.
"Mungkin aku akan pulang nanti karena aku tak membawa pakaian, jadi aku harua pulang kan", sanggahnya.
"Tak perlu, kamu bisa memakai pakaian ku atau aku tunjukan sesuatu"
Hecnor menggenggam tangan Felona, mengajaknya menuju ruangan yang sangat menyilaukan mata, mereka berbincang - bincang seperti teman yang sangat dekat sama saat dulu masih kecil.
"Ini adalah lemari pakaian desainku sendiri, beberapa ada yang sudab di rilis pada publik tetapi ada yang khusus karena bahannya yang lumayan mahal", tunjuknya
"Wahh, kau sangat hebat bisa membuat pakaian sebagus ini bahkan pakaian wanita."
Felona melongo melihat luar biasanya ruangan itu, begitu banyak perhiasan dan pakaian indah yang sangat menawan.
"Kamu boleh mencobanya!"
"Hah?"
"Cobalah!"
Hecnor memberikan beberapa pasang baju untuk di coba Felona, dan menuntunnya ke ruang ganti.
"Perlu ku bantu tidak Fel?"
"Ahhhh, tidak - tidak", Felona menutup ruang gantinya.
Hati Felona berdegup sangat kencang. Felona pun mencoba pakaian itu.
*Astaga pakaian - pakaian ini memang sangat bagus dan bahannya pun nyaman tetapi dia mendesainnya begitu terbuka*
Felona keluar dengan pakaian pertama, gaun indah berwarna kuning salem bernada dengan ikat coklat.
"Lumayan tetapi kenapa kamu masih memakai dalaman atasmu? Begitu mengganggu, gaun itu kan atasnya terbuka Fel"
__ADS_1
"Yahhh, masa aku lepas ?", gerutunya malu.
"Kenapa malu? Aku sudah pernah melihatnya!"
Felona tecengang perkataan Hecnor.
"A - a... Apa?"
Hecnor membenahi cara berpakaian Felona.
"Eeeh, apa yang kamu lakukan?", Felona coba menghentikan tangan Hecnor.
" Sudah tenanglah, aku hanya membenarkan cara berpakaianmu"
Hecnor membuka resleting gaun belakangnya, karena melorot Felona pun memegangi bagian gaun di depan dadanya. Hecnor membuka pengait branya, membuat Felona kaget.
"Eeh, tu -tunggu.... jangan!"
"Menurutlah!", ucap Hecnor sedikit bernada.
Felona seperti terpaku diam, dan membiarkan Hecnor melepaskan itu. Sampai saat tangannya telat di depannya.
" A- ah cukup... aku sendiri yang lepaskan!"
" Humm oke!"
Felona kembali masuk ke ruangan ganti itu, dan melepaskannya. Felona tampak lebih gugup saat keluar. Ia berjalan menunduk dengan tangannya seolah berusaha menutupi buah dadanya.
Hecnor lalu mendekatinya.
"Fel, apakah kamu segugup itu?"
Hecnor pun memeluknya, dirasakannya benar tubuh Felona, seolah mendayu - dayu napsunya. Hecnor mendekap Felona ke tembok
"Fel, boleh kah aku?"
"Aa - aku belum siap untuk berhubungan intim!... Aku masih sekolah...." jelasnya hampir menangis.
"Aku tidak akan memaksamu untuk itu, tapi boleh kah aku menyentuhmu saja? Jujur aku laki - laki normal.... melihatmu seperti ini aku sangat ingin"
Hecnor menekan bagian intim Felona, gaunnya yang tipis membuat seolah tubuhnya saling melekat.
"Uhh... mmm", Felona mengeluarkan suara aneh dan langsung menutup mulutnya.
"Tidak apap Fel, kamu juga perempuan normal kan? Aku akan membuatmu sedikit mengenalku"
Felona hanya menganggukkan kepalanya, dengan tangan masih menutupi bibirnya. Hecnor yang merasa itu tanda persetujuannya langsung mecium lehernya seolah seperti serigala yang lahap.
Hecnor mendudukan Felona ke sofa di ruangan itu. Di lepaskannya resleting gaun yang Felona kenakan. Felona yang terkejut bermaksud menutupnya kembali, namun tangan kuat Hecnor bergerak cepat menghalangi. Diciumnya bibir Felona, dan seolah Felona hampir tak bisa bernapas.
Gaun itu itu merosot ke bawah membuat tubuh Felona benar - benar nampak jelas.
" Aah"
Hecnor menatap tubuh itu dengan teliti, seolah tanpa sadar menyentuh tubuh Felona. Felona nampak malu dan tak tahan, dengan muka memerah.
"Uhhh, tolong sudahi .... uhmm"
__ADS_1
"Aku hanya menyentuhmu saja, aku tak mau ada laki - laki lain yang mendahuluiku! Aku pasti bertanggung jawab Fel"
Felona menyembunyikan wajahnya karena geli, tangan Hecnor meremas miliknya dengan lembut sambil menciuminya.
Felona berulang kali ingin mendorongnya tetapi tak kuasa menahan Hecnor yang sangat kuat itu.
"Aduhh, jangan kau jilati bagian itu! Itu untuk Bayi bukan untuk kamu"
"Mana bisa, aku dulu yang harus merasakannya baru bayi kita nanti"
Hecnor melakukannya lebih lagi, seolah ingin menelan semua miliknya itu.
Tubuh Felona lemas tergeletak tak mampu melawan tubuh Hecnor. Hecnor menindihinya, dan melepaskan pakaiannya.
"Kenapa kamu melepaskannya juga?"
" Kita akan melakukannya bukan?"
"Aah jangan duluu!!"
Felona ingin melarikan diri tetapi berdiri pun tak bisa karena tertimpa tubuh Hecnor.
"Fel, apa kau tau ini juga pertama kali untukku?"
Felona terdiam dan menatap wajah Hecnor, sambil menahan rasa ingiinnya.
" Yaah, baiklah... jika kamu tak mau ya sudah!"
Felona tau bahwa Hecnor sudah berusaha menahannya tetapi karena keadaannya susah begini, mau bagaimana lagi?
"Humm, baiklah... kau boleh melakukannya, tetapi berjanjilah tak akan meninggalkanku!"
Hecnor yang langsung bersemangat mengiyakan dan berjanji padanya. Dilepaskannya semua pakaian Felona. Felona yang masih malu menutupinya, tetapi Hecnor membuka tangannya dan membiarkannya puas melihat tubuh itu.
"Fel kamu sangat cantik dan menggoda seperti buah peach"
Felona hanya menahan rasa ingin dan malunya.
Hecnor melepaskan tangannya mengambil selimut segera. Felona pikir hal ini akan berakhir di sini saja.
Akan tetapi dia salah, tak disadarinya ternyata Hecnor juga melepaskan semua pakaiaannya. dan menggendong Felona pindah ke kamarnya. Felona hanya bisa memeluk Hecnor. Hecnor sangat terlihat seperti orang yang sangat menahannya.
Sampai di kamarnya, Felona melihat luka Hecnor.
"Hei cukup dulu, kamu sakit ... lukamu berdarah lagi! Dimana kotak obat?"
Hecnor baru juga menyadarinya, ia meengatakan kotak obatnya ada di samping meja di kasurnya. Gelona mengambilnya dan segera mengobati luka Hecnor.
"Aku tahu kamu sangat ingin melakukan itu padaku, tapi jangan sekarang yaa aku belum siap... Terlebih kamu masih terluka, kamu susah melihat semuanya bukan? Kamu juga menyentuhnya seenakmu? Tetapi untuk melakukan itu tunggu aku siap ya... jujur aku takut, milikmu besar san panjang".
Ucapan Felona yang awalnya bernada tegas menjadi seperti orang menggerutu dan malu.
" Iya sayang, baiklah... punyamu enak di sentuh. Hehe, lubangmu juga masih kecil... tetapi berjanjilah itu hanya untukku dan milikku !!!", ucap Hecnor berbalik canda
"Iyaa, tentu saja".
[Mereka bersama dengan satu selimut menutupinya, tetapi tangan Hecnor memang nakal. Ia memainnkan dan menekan - nekan milik Felona. Felona Hanya pasrah kau tahu? Karena ia juga menahannya....]
__ADS_1
Sampai akhir hari itu mereka tak sengaja tertidur saat itu tanpa sadar.
〰️ Lanjut di Episode berikutnya yaa! 〰️