
Felona yang awalnya ingin pulang, tetapi memutuskan untuk mampir dahulu. Ia tak ingin ayahnya mengetahui apa yang dialaminya, itu akan membuatnya sedih. Terlebih karena ancaman Hecnor. Tak disangka Felona kata - kata kejam keluar dari mulutnya hanya karena hal sepele.
Memang benar jika Felona menyukai Edra, mereka sangat dekat setiap harinya di sekolah.
*Tapi untuk memperlakukan perempuan apakah itu pantas? Hecnor yang tak mau mendengar semua penjelasan dan alasannya.*, batin Felona.
Felona mampir ke sebuah Bar. Bar itu sangat mewah, suasana ramai menyelimuti hampir tiap sisinya. Ia memesan sebuah cocktail non alkohol dengan perisa lemon.
Musik dan keramaian itu memang membuatnya sedikit tak memperdulikan semua situasi di sekitarnya. Felona meminum cocktailnya dengan sigap ia ingin segera istirahat. tetapi entah mengapa tiba - tiba segerombol preman datang dan merusak suasana.
Felona terbersit dalam pikirannya, memori lama dimana salah satu preman itu adalah suruhan ibunya. Felona segera kabur melalui sisi belakang, ia melewati beberapa kelok kamar. Preman itu melihat Felona yang berlari segera mengejarnya.
*Tak ku sangka masalah datang bertubi - tubi Tuhan, tolong aku!*, pinta Felona dalam batinnya.
Felona lelah berlari, dia melihat sebuah kamar terbuka dan bermaksud bersembunyi dahulu. Felona mengatur napasnya agar tidak ketahuan oleh preman - preman itu..
Ia merasakan hawa mencekam, ia memalingkan wajahnya. Dan ternyata Hecnor sudah ada di situ.
"Hey, kenapa kau di sini?"
Felona segera menutup mulut Hecnor dan mengawasi para preman itu sudah tak mengejarnya. Jantung Felona berdegup kencang karena takut, Hecnor dapat merasakannya karena mereka sangat dekat. Preman - preman itu berhenti si depan kamar itu, Felona semakin merapat pada Hecnor. Hecnor yang memahami situasi itu pun, menurunkan tangan Felona dari mulutnya lalu berkata.
"Ikuti aku"
Felona hanya diam mengikutinya. Ternyata kamar itu mempunyai pintu belakang lang menuju langsung ke koridor. Hecnor menarik tangan Felona dengan sigap, dan masuk ke dalam mobil. Mobil itu ia parkirkan dekat jadi dengan cepat mereka segera bisa pergi.
"Apa kau membuat masalah dengan preman - preman hari ini?" tanya Hecnor.
"Tidak, bukan itu..."
"Lalu apa?"
"Mereka suruhan ibuku"
Suasana hening pun terjadi. Tak di sangka Felona yang akan menyelamatkannya pun adalah Hecnor.
"Lalu, kenapa kau ada di Bar itu juga?"
"Aku harusnya ada janji bisnis 5 menit lagi, tetapi aku urungkan karenamu"
Hecnor menghentikan mobilnya di tepi danau, lalu membuka atap mobil mewahnya sehingga mereka tak perlu turun untuk melihat keindahannya.Angin bertiup menghempaskan rambut Felona, yang membuatnya semakin indah dipandang.
"Fel!"
"Humm iya pak?... eeh maaf anu Hecnor"
Felona masih canggung dengan itu, tetapi Hecnor memulihkan suasana.
"Maaf tadi saat di rumah aku tak mengikat emosiku, maaf jika kata - kata dariku ada yang membuatmu terluka mungkin?"
Felona menatapnya dan berkata
"Tak apa aku paham, aku juga mengerti tak ada orang yang ingin berbagai atau terbagi... Tetapi jujur memang aku jadi ragu dan bimbang karena lama - kelamaan keadaan semakin sulit bagiku"
Hecnor melepas pengamannya, dan memeluk Felona. Felona kaget, langsung menjadi nyaman di pelukannya. Felona pun membalasnya dengan pelukan.
"Fel, kau tak memakai dalaman lagi?"
Felona yang malu pun mendorongnya pelan dan menyanggah
"Mau bagaimana lagi? Aku tak membawa ganti kan... saat di rumahmu masih basah di jemur", Felona mengatakannya dengan muka manyun.
"Hahaha... untung saja kau memilih pakaian yang cukup tebal"
"Hentikan ejekan itu!"
__ADS_1
Felona tak lagi pusing memikirkan bebannya dan bercanda lagi, Hecnor memang paling bisa memahami situasi.
"Fel peluk lagi!"
"Hufft, tidak... tidak mau"
"Kalau begitu kembalikan baju itu!", goda Hecnor
"Astaga setega itukah kamu? Seorang Hecnor meminta kembali barang yang sudah diberikan?"
"Kalau begitu peluk saja"
"Dasar menyebalkan"
Felona pun melepas pengamannya dan memeluknya, ia bermaksud sebentar tetapi Hecnor langsung menurunkan kursinya menjadi kursi mobil bersantai. Diangkatnya Felona di atasnya, Felona yang merasa malu memegangi bagian bawah gaun itu.
Angin bertiup seolah mendukung suasana mereka. Hecnor menjatuhkan Felona sehingga Felona berbaring di atas tubunya. Ia memeluk Felona erat dan menyampaikan isi hatinya.
"Fel, aku sejak dulu sudah menyimpan perasaan padamu. Dari kecil hingga entah kapan nanti... Karena aku sudah memilikimu, jangan berpaling dariku, jika kau terluka karena kata dan sikapku katakan saja, jangan pergi lagi!"
Hecnor mencium Felona. Felona yang tersentuh pun mengikuti arusnya. Hecnor menyentuh Felona dengan lembut, dan meremas - remasnya... Felona yang sedikit melawan tangan Hecnor supaya berhenti karena geli.
kruyuuukkkk...
Suara perut Felona berbunyi, dan membuat Hecnor tertawa.
"Hahaha, apa kau lapar?"
"Humm iyaa, ini sudah siang aku belum makan."
"Baiklah, ayo kita cari makan"
Mereka merapikan kembali pakaian dan posisi mobil itu, Hecnor membawa Felona menuju suatu restoran yang khusus dalam ruangan.
Tak di sangka Felona itu adalah restoran milik keluarga Edra. Felona pun menyampaikannya
"Iyaa, aku tahu. Tak apa kau tetap milikku!", katanya sambil tersenyum kecil.
Felona pun turun bersamanya. Dipakaikannya jas milik Hecnor karena tubuh Felona begitu pas dengan gaunnya, terlebih tanpa memakai dalaman.
[Haduh Felona! Apa kamu nyaman - nyaman saja keluar seperti itu?]
Mereka pun masuk dan memesan satu ruangan, dan Hecnor sudah menentukan menu makanannya seperti biasa.
"Apa kamu sering ke sini?"
"Tidak juga tapi aku tahu menu yang enak dimakan"
Mereka masuk ke ruangan dan pesanannya pun sudah dihidangkan dalam keadaan fresh dan hangat.
"Banyak sekali? Apa kau akan menghabiskannya?"
"Ya kamu juga makan, kamu harus makin banyak makan supaya tubuhmu makin enak disentuh", katanya sambil tertawa
"Heey, memang tubuhku jelek yaa? Apa tak enak saat kau pegang? Atau kau pernah menyentuh yang lain?
Felona mengintrogasinya dengan mengetuk dua sumpit di meja.
"Tidak - tidak, aku baru menyentuhmu. Tubuhmu bagus tetapi supaya lebih bagus lagi", balasnya.
"Hummppp"
Felona yang cemberut langsung menyantap makanannya, Hecnor pun menyusul dan makan bersama.
Di saat itu datanglah Edra da keluarganya untuk pengecekan rutin. Saat Edra masuk ia diberi tahu oleh salah satu karyawannya bahwa Felona datang ke restoran ini dan sedang makan Edra memutuskan untuk menemuinya.
__ADS_1
Tiba - tiba...
sreeeek, Edra membuka pintu.
Edra melihat Felona dan Hecnor, Felona pun tersedak karena kaget...
uhuukk .... uhhuukk...
Hecnor segera memberinya minum.
"Maaf Fel aku mengagetkanmu, tetapi kenapa kamu bersamanya dan pakaianmu?"
Edra melihat pakaian Felona yang sedemikian dan ada jas laki - laki yang tak lain adalah milik Hecnor.
"Hei, apakah sopan kau tiba- tiba membuka pintu pelanggan? Apakah seperti ini pelayanannya sekarang?
Suara Hecnor yang keras pun mengumpulkan orang - orang di situ. Felona yang gugup, didekap oleh Hecnor. Hecnor tahu Felona tak nyaman terlebih karena pakaiaannya. Ibu Edra, Gracia pun datang.
"Aa, maaf tuan Hecnor atas perlakuan putra saya yang mengganggu anda hari ini"
"Tak perlu, aku akan pergi sekarang bayarannya ada di meja, ayo Fel"
Felona menurut dan mereka berjalan bersama.
"Felona", kata Edra pelan
Ibu Edra menghentikan langkah Edra dan menariknya.
"Edra apa kau tak melihat? pakaian wanita itu seperti pelacur simpanan? Ibu tak akan pernah menyetujui hubunganmu dengannya!"
"Dia bukan orang seperti itu ibu"
"Sudahlah diam dan jaga sikapmu, dia bersama dengan Hecnor sekali kita menyinggungnya lagi nama keluarga kita akan jadi bahan pembicaraan"
Edra hanya terdiam, dalam pikirannya bergelut
*Mengapa Felona berpakaian seperti itu bersamanya? Apakah mereka bersama? Apa hanya kebetulan semata?*
Felona dan Hecnor pun kembali ke mobil.
"Maaf yaa"
"Maaf untuk apa Fel? Kita tak tahu kalau dia akan ke sini kan?"
"Hummm"
"Aku hanya tak ingin dia menatap tubuhmu seperti tadi"
"Dia menatapku?"
"Iyaa, tatapan laki - laki beda Fel. Dia akan fokus melihat tonjolan dadamu"
Felona hanya diam.
"Aku antar ke toko pakaian, kamu pilih nanti dan segeralah pakai setelah itu aku akan mengantarmu pulang... Aku tak mau ayahmu berpikir aku telah menodaimu!"
"Hey memang iyaa kau sudah menodaiku, menyentuh semua tubuhku seenaknya"
"Ya tapi kan belum masuk, kamu masih perawan jadi belum rusak"
"Jika aku rusak bagaimana?", tanya Felona bernada rendah.
"Yang boleh merusakmu hanya aku, aku akan memilikimu seutuhnya... ingat itu!"
"Iya - iyaa... galak sekali"
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
〰️Lanjut di episode berikutnya yaa!〰️