Felona and Her Boy Friend

Felona and Her Boy Friend
Pekerjaan Rumah dan Pertimbangan


__ADS_3

Felona pun terbangun di tengah malam terlebih dulu, di singkirkannya tangan Hecnor yang sedari tadi menyentuhnya. Hecnor tak terbangun karena lelapnya.


Felona menutupi tubuhnya dengan selimut, membiarkan Hecnor tertup sprei kasur itu untuk mengganti selimutnya. Ia hendak membereskan kamar yang berantakan karena ulah mereka tadi.


*Hufft... kali ini kamu selamat Fel, belum tentu nanti atau besok, ganas sekali si serigala ini*, Batin Felona menggerutu sikap Hecnor sambil dilihatnya bekas ciumannya ada di sekujur tubuhnya.


Felona kembali ke ruang pakaian, bermaksud untuk mengganti pakaian. Syukurnya di sana juga ada baju rumah, jadi Felona memunguti pakaiannya dan juga pakaian Hecnor yang tersebar di ruang itu tadi.


Felona berjalan mencari mesin cuci, ternyata mesin cuci ada di ruang bawah dekat dapur. Ia memasukkan pakaian kotor itu, lalu karena merasa lapar ia bermaksud memasak sesuatu sekalian belajar pekerjaan rumah untuk persiapan nantinya. Felona nampak berantusias untuk melakukannya.


Ia melihat isi kulkas, banyak bahan masakkan di situ. Ia akan membuat orak - arik, sup daging, dan jus jeruk.


Ia memulai nya dengan mencuci semua bahan, lalu di ambilnya peralatan dapur yang diperlukannya. Ia memotong bahan" itu dan menyalakan kompor lalu melanjutkannya dengan memasukkan minyak dan bumbu.


Hecnor mendengar suara berisik, dan terbangun. Ia sadar ia dalam keadaan telanjang.


[Laki - laki jika bangun itu berdua yaa atas dan bawah .... Xixixixixi]


*Ohh yaa, tadi... Felona mana?*, batinnya kebingungan


Ia menarik sprei kasurnya untuk menutupinya. Diciumnya bau bumbu masakan. Dan ia berjalan ke Dapur.


Dilihatnya Felona yang sibuk memasak, lalu ia mendekatinya.


"Sayangku sedang apa?", memeluknya dari belakang.


"Apa kau tak melihat? Aku memasak"


Hecnor terus memeluknya. Felona merasa ada yang aneh di bawah sana, dan memutuskan untuk melihatnya.


"Astaga, kamu belum pakai baju? Hanya sprei tipis ini?... Pantas saja aneh sedari tadi ada yang mengganjal di belakang ku", Felona menepuk dahinya"


"Hehe, aku malas sekali memakai baju seperti ini tak apap kan hanya ada kamu", candanya


" Sudah - sudah jangan ganggu aku memasak, jika macam - macam ku potong punyamu!"


"Sayang ku begitu teganya, aku sudah pernah merasakannya... Apa kau tak suka dengan milikku yang indah ini? Ini akan membuat kita punya bayi lucu", bujuknya seperti bayi kecil yang merengek.


Felona mendudukkan Hecnor di kursi meja makan. Hecnor pun memebenarkan sprei yang dipakainya dengan dibuat seperti sarung.


Felona lanjut memasak dan menyelesaikan semua masakannya tadi. Ia membawanya ke meja makan, dan meletakkannya.


"Mari makan!"


"Wah, sayangku hebat"

__ADS_1


"Tentu! Jangan remehkan aku"


Mereka memakannya bersama.


"Fel suapi aku boleh?"


"Humm?"


Felona yang sedang mengunyah makanannya pun menyuapi Hecnor.


Hecnor mengangkat Felona, dan mendudukkan Felona di atas kedua pahanya. Selesai makan Hecnor ingin bertanya.


"Apa kita percepat saja pernikahanya? Supaya kita segera bersama?", tanya Hecnor serius.


" Ehhmm, aku masih sekolah bukan?... Tunggu paling tidak saat aku sudah lulus"


"Baiklah... aku akan menunggumu selalu"


Hecnor memeluknya, dari mulut Felona terucap.


"Apa kau memiliki perasaan padaku?"


Hecnor menatapnya dan Felona pun hanya menunduk memalingkan wajahnya. Hecnor memegang bahu Felona dengan tangannya agar manatapnya.


Hecnor tak menanyakannya langsung, ia bermaksud mencari isi hati Felona.


"Humm ... Entahlah, aku hanya tidak ingin jika aku menikah dengan orang yang salah... Kau tau bukan keluargaku bercerai, aku tak ingin itu terjadi dalam keluargaku nanti... terlebih karena perselingkuhan", ujarnya.


"Aku mengerti, aku mau menjagamu dari dulu...Dari saat kita kecil, aku menyayangimu dan ingin bersamamu... Tetapi karena ayahmu membawamu pergi, kita jadi tidak terhubung. Aku menyadari saat kita bertabrakan di sekolah kala itu... Dan aku tahu aku tak salah orang, malah kau menduduki milikku duluan"


"Heiii bukan... waktu itu tanpa sengaja kita saling bertabrakan, dan sesuatu yang keras seperti mendorong milikku... aku kaget sekali saat itu"


"Ya aku normal Fel, aku tak bisa mudah menahan milikku... Aku sensitif juga, makanya aku sering bernapsu... tetapi belum pernah aku berani melakukannya dengan wanita"


Hecnor pun mengajak Felona kembali ke kamar, Hecnor pun memakai pakaiannya dan memasang sprei baru.


"Tidur saja Fel, besok juga libur... kamu pasti lelah"


"Humm iyaa"


Mereka pun kembali tertidur, seolah malam yang panjang telah mereka lewati. Felona yang merasa kedinginan disaat tidur, dipeluk Hecnor dengan penuh kasih sayang. Hecnor benar menjaganya sampai ia pun terlelap kembali ke alam mimpi.


Dalam benak Felona terpikirkan satu hal, mungkin ada hubungan yang berjalan normal, ada yang terlalu diam, ada pula yang terlaku aktif. Tergantung dengan mereka yang memilih orang yang benar atau salah. Hecnor dan Felona sudah terikat perjodohan dan saling setuju. Dalam hal ini mereka sudah mendapat restu dari masing - masing keluarga.


Mungkin salah karena Felona masih sekolah, tetapi Hecnor akan bertanggung jawab sepenuhnya. Dalam memilih orang yang tepat banyak pertimbangan yang diperlukan, semua yang ada dalam diri orang tersebut. Jangan sampai karena terbuai kita merelakan diri pada orang yang salah. Felona mempercayakan dirinya pada Hecnor karena sudah mengenalnya sejak kecil, melihat sikapnya memperlakukannya sesuai dengan kata - katanya, dan Hecnor sudah mapan dengan dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang tuanya.

__ADS_1


Tetapi Felona tak bisa mempungkirinya dia masih merasa takut, terlebih dia masih menyukai Edra. Edra yang menjadi reman masa remajanya, dan menjadi tempatnya bercerita.


Lalu bagaimana? Apakah Felona akan menetap pada Hecnor setelah semua yang dilakukannya itu? Atau malah meninggalkannya?


Di saat pagi Felona membereskan rumah itu dari menyapu, mengepel, mencuci, dan lain sebagainya. Dalam benaknya maaih ada rasa tak nyaman. Meski sudah Felona lakukan, tetapi dalam hatinya masih mengganjal.


Terlintas di pikirannya nama Edra. *Apakah aku benar menyukainya?*


Tiba - tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang menyentuh bahunya.


"Edra !", Felona menyerukan namanya.


Saat berbalik, ternyata Hecnor. Hecnor menjadi berwajah suram dan kesal.


"Apa kamu memikirkan anak itu?"


"A - a, Aku tidak bermaksud seperti itu aku hanya.."


"Sudah lah jangan bohong! Jika di hatimu masih ada orang lain untuk apa menyetujui perjodohan ini?"


Felona hanya terdiam.


"Kau sudah tahu isi hatiku, tetapi kamu tak jujur dengan perasaanmu sendiri. Kenapa?"


Felona masih saja terdiam, kali ini ia sudah digenangi air mata yang hampir menetes. Hecnor melanjutkan katanya lagi.


"Aku kira kamu masih seperti Felona yang dulu, jujur dan penurut.... Ternyata aku salah, kamu banyak berubah"


Felona mengusap air matanya yang sudah menetes satu per satu.


"Mengapa menangis? Harusnya aku yang bersedih karena kamu masih berhubungan dengan orang lain!"


"Aku tidak berhubungan kok", ucapnya sesenggukkan.


"Lalu apa?"


"Aku dan Edra hanya berteman, mungkin karena kami dekat aku sedikit merasa nyaman"


"Oh, kalau begitu belajarlah jauhi anak itu... Kau sudah memilih perjodohan ini bukan? Jika ingin membatalkanya aku tak segan lagi melakukan apa pun yang aku mau, entah terhadapmu atau orang disekitarmu"


Hecnor mengatakannya sebagai ancaman, ia sangat marah dan tak menjaga kata - katanya. Felona yang masih menangis ditinggalkannya kembali ke ruangannya.


Felona memutuskan untuk memesan taksi dan kembali ke rumah, matanya yang sembab tak bisa menutupi apa yang sudah terjadi.


〰️Lanjut episode berikutnya yaa !〰️

__ADS_1


__ADS_2