Felona and Her Boy Friend

Felona and Her Boy Friend
Rasa Ingin


__ADS_3

Selepas pelajaran itu usai, murid-murid kelas itu pun beranjak keluar kelas termasuk Felona. Akan tetapi tubuh besar Hecnor menghadang di depannya. Sangat tak di sangka, Hecnor meminta maaf padanya.


"Hey, maaf kan aku! Maaf tadi sudah berkata yang tidak - tidak sebelumnya", ucapan itu dilontarkan Hecnor sambil menggaruk belakang kepalanya.


" Ahh, iya pak... Lupakan saja hal tadi!", pinta Felona menjawab.


Tanpa basa basi Felona keluar kelas dan beranjak pulang. Karena dia sudah memutuskan untuk jalan saat pulang Felona pun melangkahkan kakinya dengan pasti tetapi pikirannya yang berantakan tak dapat ia tutupi dari kerut di dahinya.


Apa yang Felona pikirkan?


Felona berpikir tentang perjodohannya yang sudah ditentukan, tetapi dia masih sekolah. Tentu dikalangan bangsawan hal seperti itu adalah wajar - wajar saja. Tetapi Felona sangat ingin melanjutkan belajar desain di Universitas.


*Apakah aku harus menutup cita-cita ku juga?*, tanya dalam benak itu pun seketika mengikis semangatnya.


Terhenti dalam renungannya karena tanpa ia sadari rintik hujan turun sedangkan rumahnya masih jauh.


"Ahhh, Tuhan apalagi ini?.... Hari ini nampak berat sekali ", ucapnya dengan suara pelan.


Felona berlari mencari tempat berteduh dilihatnya halte bus, dia pun berhenti di situ, sayangnya dia tak tahu kapan bus akan datang.


Felona melihat ponselnya, ternyata pulsa dan paket datanya habis.


"Astaga, Tuhan... Hari ini benar - benar menyebalkan bagiku!", seru Felona memasukkan ponsel sambil meremas tasnya.


Bajunya yang basah nampak menembuskan pakaian dalamnya. Felona sangat takut dan khawatir karena hari mulai gelap, hujan pun masih turun lebat.


"Tin - tinnnn", suara klakson dari satu mobil yang menghampirinya.


Keluarlah sosok laki-laki yang tak asing baginya.


"Pak Hecnor? Aaa... Ada apa ya pak?", tanya Felona


"Apanya yang apa? Kau mau di sini sampai kapan? ", tanya Hecnor sambil menyeru.


"Ahh, tak apa pak saya menunggu bis saja", balas Felona mengeles.


"Kau tahu tidak? Bis transit sekolah paling akhir ada jam 5, sekarang sudah hampir jam 7 ... Apalagi kau perempuan dan bajumu basah seperti itu?".


Ucapan tegas Hecnor sambil memalingkan wajahnya dari badan Felona yang basah. Felona yang malu menutupi dadanya dengan tas. Hecnor pun menarik tangan Felona masuk ke dalam mobil.


" Ahh, terima kasih pak.. Anu maaf mobilnya basah pak", ucap Felona yang nampak tak nyaman.

__ADS_1


"Sudah tak apa biar nanti dikeringkan di rumahku. Kau tak nyaman yaa?", ucap Hecnor meliriknya sambil menjalankan mobil.


" Iii... iya pak", balas Felona dengan menundukkan kepalanya.


" Aku ada baju ganti di kursi belakang, jika kau mau bisa pakai, ambillah ... Ya mungkin ukurannya terlalu besar untukmu.", kata lembut Hecnor merasa iba.


" Apakah boleh? T-tapi di mana saya gantinya pak?", ucap Felona polos.


Hecnor membalas, " Tentu di mobil".


Felona tercengang dengan ucapan itu.


" Aku tak akan melihatnya, aku fokus menyetir!", ucap Hecnor tegas meyakinkan.


Felona pun mengganti pakaiannya, melepas satu persatu kancing bajunya. Dilepasnya semua pakaiannya yang basah itu. Hecnor yang tak sanggup menahan hawa napsunya seketika melirik melalui kaca mobilnya. Felona tak menyadarinya karena percaya.


[Polos sekali diaa huhuuuuuu]


Hecnor menelan ludah, melihat tubuh Felona yang sangat ideal. Tubuhnya putih rambut panjang, dan seketika dia menatap bayangan dada Felona di cermin itu. Seolah ingin berpaling tapi enggan, Hecnor menyetir dengan lamban. Tapi tubuhnya memang indah, dadanya besar merata seperti buah delima dengan p****g menonjol, seolah menarik Hecnor untuk menyentuhnya.


*Sadar Hecnor dia masih sekolah! Tapi aku akan memilikinya hanya aku!*, bersit kata dalam hatinya memalingkan.


Felona memakai baju Hecnor yang sangat besar baginya mwnutupi tubuhnya hingga lutut.


Felona sudah agak nyaman karena hangat dari baju itu. Diciumnya parfum dari baju itu, wangi seolah tak bisa hilang dari sekitarnya.


F : " Ahh, pak sudah!".


Hecnor menatapnya dari cermin. Ya Felona sudah memakai baju itu, tetapi tonjolan dadanya tak dapat di tutupi masih terbercak di baju itu.


H : " Rumahmu di mana?".


F : " Kediaman Santosa pak".


H : "Ok"


Perjalanan cukup panjang pun usai, tiba di kediaman Santosa segeralah Felona turun dan mempersilahkan Hecnor untuk mampir.


F : " Pak, silahkan turun... mampir dahulu".


H : " Ah, tak usah Fel.. saya langsung saja".

__ADS_1


Hecnor yang memanggil nama Felona tiba-tiba seperti akrab dan langsung mengendarai mobilnya pergi.


Datanglah Paman Ero dari dalam rumah.


"Non Felona sudah pulang syukurlah... Astaga saya sangat cemas Non hujan sangat lebat.", ucap Paman Ero


"Tak apa Paman, tadi ada yang mengantarku", balas Felona menenangkan


"Siapa Non?", tanya Paman Ero.


"Humm, guru ... Eh bukan asisten guru di sekolah Paman, dia menolongku dan meminjamkan bajunya.", jelas Felona


"Apakah Non disentuhnya?", tanya Paman Ero curiga.


" Aahh, tidak paman... Dia baik kok", jelas Felona sambil tersenyum memastikan pada pada Ero.


Masukklah Felona dan Paman Ero ke dalam rumah. Felona langsung menyantap makan malam yang sudah disiapkan untuknya dan menyalakan wifi ponselnya. Tak di sangkanya banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Paman Ero.


*Paman pasti sangat khawatir, dia merawatku seperti putrinya sendiri*, dalam hati Felona merenung.


Sejak dulu Felona dijaga oleh Paman Ero, beliau yang melihatnya tumbuh hingga sebesar ini. Kasih sayangnya seperti Ayah Felona sendiri, meskipun demikian Ayah Felona yang sangat menyayanginya Felona paham betul hal itu.


Meskipun membuat Felona mengorbankan masa depan impiannya. Karena dulu Ibunya pergi meninggalkan Felona sendirian di jalanan kumuh.. Felona menangis terisak - isak tak berhenti, sampai Ayah Felona menemukannya di jalan. Menenangkannya dan berjuang sendirian membangun perusahaan Santosa menjadi sebesar sekarang, tetapi karena ikatan janji yang tak bisa dipungkiri Ayah Felona sangat meminta maaf karena menyayangkan waktu dulu itu, tetapi jika tidak mana bisa mereka bertahan hidup tanpa bantuan dari teman Ayahnya itu.


Renungan Felona itu terbawa hingga ia berjalan ke kamar, menggeletakkan tubuhnya ke kasur. Dirasakannya baju Hecnor.


*Baju ini sangat nyaman. Tapi kenapa dadaku menonjol sekali, Apakah dia melihatnya? Oh tidak memalukan sekali ... Ya ampunnn Felonaa kok kamu gak sadarrrr?* teguran hati Felona yang merasa sangat malu.


Felona pun beranjak dari kasur melepaskan baju itu dan menatap tubuhnya di cermin.


*Apakah dia juga melihat tubuhku saat mengganti pakaian di mobilnya?*, pikir felona sambil melihat tubuhnya.


"Ahhh, tak mungkin kan? Dia tadi sudah bilang fokus menyetir bukan?", seru Felona.


Felona pun mandi dengan air hangat, ya walau sudah malam dia selalu rajin mandi merawat tubuhnya dan supaya tak sakit karena kehujanan tadi.


Pikiran Felona berjalan, *Pak Hecnor itu baik, tapi kenapa sebelumnya dia mengira aku anak nakal? Apakah dia baik karena telah bersalah? Tapikan sudah minta maaf. Apa benar karena kebetulan lewat?* Felona terus memikirkan tanpa ada jawaban.


[Namanya perempuan ya kan pikirannya banyak bercabang - cabang seperti akar pohon beringin]


Pikiran tak jelas itu pun berhenti ketika dia sudah mulai mengantuk dan ingin tidur untuk beristirahat. Besok dia harus sekolah lagi dia mencharger ponsel dan menyiapkan alarm supaya tak terlampat, lampu terang dibuatnya mode tidur tetap menyala tetapi dengan cahaya redup. Matanya mulai terpejam dan jalan di dunia mimpi terbuka.

__ADS_1


〰️ lanjut episode berikutnya yaa! 〰️


__ADS_2