
"Hahaha, kamu masih tetap saja gadis kecil yang lucu", balas Indra.
"Puffft... iyaa, kamu benar", sahut Eva.
Felona pun hanya tersenyum kecil karena ragu. Dan karena ini dia mengetahui bahwa Hecnor lah orang yang akan dijodohkan dengannya tetapi karena ragu, ia memilih bertanya.
"Om, ayah, dan tante... saya ingin bertanya sesuatu hal...."
"Tanyakan saja nak", balas sang ayah.
"Hummm, apakah pak Hecnor yang akan dijodohkan dengan saya?".
Ketiga orang tua itu saling beradu pandang, seolah menunjukkan tanda.
"Emm Felona, mari ikut tante duduk sebentar".
Mereka duduk di ruangan itu juga, karena juga luas terdapat beberapa bangku.
"Tante sebenarnya tak mau mamemaksamu, tetapi kamu tahu putera tunggal kami adalah Hecnor. Sebelum Hecnor lahir aku juga mengangkat seorang anak laki - laki karena dulu aku susah hamil...
Jovan, namanya... kamu ingat?",
Seketika mata Felona terbelalak, karena Jovan saat kecil sangatlah kurang ajar. Dimana saat itu ia masih kelas 3 SD, Hecnor kelas 6 SD, dan Jovan kelas 8 SMP. Jovan mengganggu Felona, seperti seseorang yang berengsek.
Anak kecil yang harusnya bermain menyenangkan, Jovan justru ingin merusaknya dengan hal memalukan. Jovan yang awalnya mengajak Felona bermain permainan tangkap aku, menutup mata Felona dengan kain. Tetapi setelah itu, Jovan justru menurunkan resleting belakang pakian Felona. Felona pun berteriak....
"Kak Jovan... JANGAN !!!*
Teriakan itu didengar oleh Hecnor , yang lalu bergegas menuju sumber suara itu. Hecnor mendorong Jovan sebelum melakukannya lebih.
Hecnor membuka ikatan Felona dan memeluknya.
"KAK APA KAU GILAAA?", tanya Hecnor penuh amarah.
Jovan menyeringai...
"Memang kenapa jika aku melakukannya? Toh dia akan jadi milikku nanti".
Hecnor sambil menutup pakaian Felona. Felona kecil pun memeluk Hecnor dari belakang untuk berlindung.
"Apa maksudmu kak?", tanya Hecnor.
"Hahaha... kamu belum tahu? Felona akan dijodohkan denganku, aku mendengar ayah dan ibu berbicara".
Karena tak mengetahuinnya Hecnor hanya diam. Seketika supaya Felona aman, Hecnor mengajaknya kembali pulang.
"Fel, aku antar kamu pulang dulu", bujuk Hecnor.
Felona hanya menganggukkan kepalanya. Mereka pun kembali....
Felona yang terlantun dalam lamunanya, di panggil - panggil oleh ibu Hecnor.
"Nak, Felona?....".
"Ouh iyaa tante, maaf saya mengingatnya...", jawab Felona.
"Ya walau pun anak angkat, tetapi kami memerlakukannya sama dengan Hecnor. Bahkan lebih... Tetapi Hecnor yang mengetahui bahwa Jovan adalah anak angkat, Jovan sendiri belum tahu hal ini.... Jadi, bagaimana? Kamu bisa memilih ingin menerima siapa? Jika butuh waktu lagi...".
"Hecnor saja", sela Felona.
Hal itu yang membuat ketiga orang tua itu kaget.
"Benarkah?".
Eva memeluk Felona sangat erat tanda bahagia, meskipun yang dihadapinya nanti adalah Jovan. Jovan pasti akan marah atau bahkan mengamuk karena belum mengetahui semua ini.
"Om, ayah, tante... Boleh saya menemani Hecnor sendiri?",
"Tentu, boleh... Mari kita keluar dulu".
__ADS_1
Ketiga orang tua itu keluar. Felona menyeret satu bangku untuk duduk di dekat Hecnor.
"Tak ku sangka kamu adalah orang itu, apakah kamu juga mengingatku?".
Felona sudah kembali bernada akrab sekali dengannya. Tangan Felona memegang tangan Hecnor. Hecnor pun membalasnya dengan genggamannya. Felona kaget...* Apakah sudah sadar?* batinnya.
Hecnor perlahan membuka matanya. Pandangannya yang masih kabur itu menunjukkan sosok wanita.
"Humm... Siapa?".
"Aku Felona".
Hecnor segera menjernihkan pandangannya, dilihatnya benar Felona. Entah mengapa Hecnor lalu menarik Felona dengan usahanya.
Tubuh Felona yang ringan itu seolah terbang diatas tubuh Hecnor.
"Hey, kamu masih sakit bukan? Apa yang kamu lakukan?".
"Diamlah sebentar".
Hecnor memeluk Felona, tetapi karena tubuhnya masih lemas, Felona pun bisa bangkit di atasnya.
"Hey, kamu sadar atau belum"
"Hecnor melihatnya... sudahh sayang ..."
"Heeh, apaan sayang - sayang?"
"Aku mendengar semuanya meski aku tak sepenuhnya sadar tadi..."
"Hummm?" Felona merasa malu lalu ingin turun.
"Heeh mau kemana?", cegah Hecnor.
"Kamu tahu tidak?"
Felona sedikit kesal membalasnya.
"Posisi ini lohhh nggak sopan".
Hecnor yang sedari tadi tahu, Felona menduduki sesuatu miliknya itu...
"Tidak apa, aku nyaman kok". Hecnor membenarkan posisi duduk Felona di atasnya.
Felona tampak menggeliat karena geli.
"Hey Fel"
"Humm?", Felona masih tampak malu.
"Apa kita ingin melakukannya di sini?"
"Hah melakukan apa?
"Ini...."
Hecnor menggerakkan sesuatu kearah intim Felona... Seketika Felona kegelian dan merapatkan kakinya.
"Heey kamu tidak sopan, ini rumah sakit.... itunyaa hentikan", pinta Felona dengan muka memerah.
"Lagian kamu memakai rok pendek tanpa celana lapis".
Felona menutup roknya tanpa sengaja menekan luka Hecnor.
"Arghh, sakit Fel".
Felona segera turun, lalu menekan tombol panggilan dokter.
"Aissh, kenapa kamu menekannya? Mereka akan kemari nanti mengganggu kita..."
__ADS_1
Hecnor seperti anak kecil, menggerutu dan cemberut.
"Apa sih, ya kali kita melakukan itu?", Felona memegangi kepalanya.
"Ya nggak apap, kalau kamu mau... aku sih mau - masu saja".
"Heeh mulutmu itu yaa".
Mereka bercanda tawa, lalu dokter datang dan Ketiga orang tua mereka ikut masuk. Mereka kaget ternyata Hecnor sudah sadar. Dokter pun memeriksa keadaan Hecnor.
"Keadaannya sangat baik hanya untuk lukanya harus di jaga dengan baik... Apakah karena nona ini anda sadar?", tanya Dokter.
"Entahlah...", jawab Hecnor
"Sedari semalam dia memanggil nama Felona".
"Haaah, namaku?", sahut Felona
Mereka saling bertatapan Hecnor yang tak sadar pun hanya terdiam.
"Karena sudah membaik bisa dirawat jalan di rumah saja ya", jelas Dokter.
"Baik Dok", sahut Indra.
Dokter pun meninggalkan ruangan itu.
"Anak nakal, gegara gadis kau bisa kecelakaan seperti ini?", tanya ayah Hecnor.
"Tentu bukan, seingatku hujan sangat deras dan angin juga kencang, pandanganku kabur... dan entah aku menabrak sesuatu lalu di sini", jelas Hecnor.
"Sebelumnya dia mengantar saya pulang om, mungkin karena itu dia jadi memanggil nama saya", sahut Felona
Ibu Hecnor pun memiliki ide.
"Begitu rupanya, karena kalian sudah saling kenal... Bagaimana untuk acara pertunangan dahulu?"
"Pertunangan?", jawab Felona dan Hecnor bersamaan. Mereka pun bertatapan.
"Iya dari pada nanti timbul banyak gosip, mending kita buat sekalian berita di seluruh kota ini"
"Ibu jangan berlebihan", bujuk Hecnor.
"Ayah? Bagaimana?", tanya Felona.
"Kenapa nak? Menurut ayah jika kamu sudah memilihnya tak ada salahnya".
"Lalu jika aku menikah nanti ayah bagaimana? Ayah akan sendirian?", tanya Felona lesu.
"Tidak, ada paman Ero dan semua pengurus rumah... ayah pasti juga sibuk dengan urusan perusahaan", jelas ayahnya.
"Felona tak perlu cemas, ada kami yang akan menemani ayahmu juga", kata ibu Hecnor.
Felona sedikit merasa lega. Mereka pun mengurus kepulangan Hecnor. Hecnor memilih pulang ke apartemennya sendiri, dibanding ke rumah... Karena Jovan, ayah dan ibunya pun mengerti.
Hecnor diantar oleh Felona dan ayahnyadengan paman Ero yang mengemudikan mobilnya, karena ayah dan ibu Hecnor sudah meninggalkan urusan perusahaan sedari merawat Hecnor.
"Kamu tinggal di mana?", tanya ayah Felona.
"Ke apartemen Hexagon om", balas Hecnor.
"Wah itu apartemen elit terkenal itu kan?", sahut Felona.
"Iya, aku yang membuatnya", kata Hecnor.
"Haah, keren sekali", jawab Felona
Mereka pun sampai di apartemen tersebut. Bangunan yang sangat kokoh dan indah dilihat, dengan pemandangan taman dan pantai yang menggelar keindahannya.
〰️ Lanjut episode berikutnya yaa! 〰️
__ADS_1