
Dokter keluar dari ruangan tempat Hecnor diperiksa. Bergegas Ibu Hecnor menanyakan keadaan puteranya itu.
"Dok, bagaimana keadaannya? Pasti baik - baik saja kan?", ucapnya dengan penuh rasa khawatir.
"Iyaa ibu tenang saja keadaan putera ibu sudah jauh membaik, akan tetapi ketika setengah sadar dia menyebut nama seseorang... Mungkin saja jika orang itu ada di sisinya akan membuatnya lekas pulih", balas sang dokter.
"Apa? Siapa namanya?", nampak wajah tercengan dari raut ibu Hecnor.
"Felona, ya itu nama yang disebutnya bu, mungkin bisa datangkan dia kemari?", pinta dokter itu.
*Apa? Bagaimana Hecnor sudah mengenalnya? Bukankah awalnya dia bersikeras untuk mwnolak perjodohan, tapi kali ini?... Tapi keadaannya jauh lebih penting, dia tak boleh kenapa - kenapa!* Pekik ibu Hecnor dalam hatinya.
"Baik dok, mungkin besok akan saya panggilkan orang itu... Apa saya boleh masuk?", balas sang ibu.
"Ouh iyaa, boleh ibu tapi saya harap semua bisa jaga ketenangan karena pasien belum sadar betul", jelas dokter.
"Baik dok", jawab ibu Hecnor segera menghampiri puteranya yang terbaring tanpa daya itu.
Hecnor adalah putera kesayangan ibunya, bukan karena dia adalah anak yang penurut. Melaikan karena ambisi dan tanggung jawabnya yang sangat besar. Kompeten dalam berbagai hal. Akan tetapi karena kakak Hecnor, Jovan yang merasa tersaingi dengan kemampuan adiknya itu permusuhan dalam keluarga itu terjadi.
Hecnor memilih bidang pengajar dan designer handal karena tak ingin berebut warisan keluarga dengan kakaknya itu. Jovan sebenarnya adalah kakak yang baik, dulu mereka sangat sering bermain bersama. Sampai pada masa SMP saat Jovan lulus dan Hecnor yang baru naik ke kelas 2 SMP, ayah mereka Indra sangat membanggakan Hecnor yang berperingkat 1 dan memenangkan olimpiade seni dan sains. Dimana Jovan hanya 10 besar, yang tak sebanding dengan Hecnor yang mengikuti banyak lomba.
Dari situ Jovan menimbun kebencian pada Hecnor, yang membuat hubungan mereka semakin menjauh. Jovan manjadi sosok yang angkuh dan suka bersenang- senang. Hecnor yang memang diam dalam pedulinya, sempat memergoki kakaknya itu sudah tidur dengan gadis tanpa busana sedang melakukan hal yang tak harusnya dilihatnya pada masa masih sekolah.
Hecnor yang tak sengaja melihat itu pun diancam oleh Jovan jika membicarakannya sepatah kata, Jovan tak akan segan membunuhnya. Hecnor yang masih muda sangat terperanga mendengar kata - kata itu muncul dari mulut kakak kandungnya sendiri.
Mereka tak saling bicara, bahkan untuk bertegur sapa. Sampai pada Hecnor lulus SMA yang hendek meneruskan kuliah, Jovan menyindirnya.
"Apakah kamu akan bersaing denganku di perusahaan ayah? Dasar adik tak tau diri! Kakaknya yang mengurus kau tinggal enak - enak menikmati hasilnya... Cuiiihh", kata Jovan menyeringai.
__ADS_1
Hecnor tak mau menjawabnya, bila menjawab masalahnya akan menjadi lebih rumit dari sekarang. Hecnor pergi dan mendaftarkan diri ke kampur ternama dimana memang bakat dan minatnya ada di dunia design.
Dalam hati Hecnor bertekad akan membangun perusahaannya sendiri dengan kemampuannya bukan dengan warisan.
Hanya Ibu mereka yang menyadari persaingan dan amarah kebencian dalam hati mereka masing - masing, tapi apa daya sang ibu? Jika memihak akan melukai yang lainnya. Ayah mereka hanya meminta untuk bersaing dengan sehat tanpa kekerasan karena tak bisa dipungkiri mereka adalah saudara sedarah.
*Tentang Felona, puteri keluarga Santosa itu... Bagaimana? Apakah Hecnor menyukainya sampai - sampai keadaannya seperti ini? Tapi Jovan begitu bergairah melihat foto yang kutunjukan padanya sebelumnya. Bagaimana ini? Hubungan ini??? Apakah benar?* pikiran ibu Hecnor berkecimpung membuatnya lelah dan tertidur di sampingnya.
Ayah Hecnor yang sedari tadi sudah ada dibelakang isterinya itu sejak dokter keluar, ikut berfikir keras. Dan ia memutuskan untuk segera menemui Santosa, agar hubungan antara dua keluarga ini jelas. Bukan demi keuntungan semata tetapi karena melihat puteranya yang sedemikian memperkuat alasannya untuk menyegerakannya.
"Segera hubungi keluarga Santosa, minta untuk mengadakan pertemuan di sini nanti sore dan harus dengan Felona", perintah ayah Hecnor pada salah satu ajudannya.
"Baik Tuan", para ajudan itu menjawab serentak.
*Tak akan ku biarkan keluargaku terluka sedikit pun, seperti yang keluarga Rega lakukan!*, seolah batin ayah Hecnor menjerit mengatakannya.
Dendam masa lalu? Tentu...
Indra yang mendukung Ave sampai merka bangkit salam keterpurukan mendirikan perusahaan yang jauh lebih ternama dibandingkan perusahaan Gracia. Hal ini tak luput dari pertolongan Santosa.
Nah berganti waktu keluarga Santosa yang hancur karena perpisahan dengan isterinyanya yang bernama Edora [ibu Felona]. Uluran tangan balik diberikan oleh keluarga Hecnor itu yang mana bukan memilih untuk perjanjian biasa melainkan menyatukan keluarga mereka.
Yaa... Keadaan yang begitu rumit membuat dua insan saling betemu.
Pesan Indra pada Santosa pun tersampaikan, begitu membacanya terkejutlah ia.
*Bagaimana bisa Hecnor dan Felona sudah bertemu kembali? Sudah begitu lama sejak ibunya pergi, mereka tak saling bertemu... Tiba - tiba terjadi seperti ini, lebih baik ku jelaskan di rumah nanti*. Pikir keras ayah Felona memikirkan hubungan antara mereka.
Ayah Felona bergegas mengatur keberangkatannya menemui putri kesayangannya itu. Sudah lama tak jumpa pasti banyak kerinduan yang sudah ditimbunnya.
__ADS_1
Ayah Felona menghubungi nomor telepon rumah, kedatangannya yang mengejutkan membuat penghuni rumah baik paman Ero dan para pelayan bersuka hati.
Felona yang terbangun karena suasana ramai itu, sampai turun ke bawah. Sambil mengusap matanya yang masih menempel ingin memejamkan mata, Felona bertanya...
"Ada apa ini paman? Sepagi ini sudah ramai sekali??"
"Non, Tuan akan kembali hari ini!", jelas paman Ero meyakinkan.
"Benarkah? Aku ingin menyambut ayah!", seru Felona bersemangat.
Felona langsung mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, tak sabar rasanya menghabiskan hari ini. Tak lupa ia sudah mencuci bersih baju yang dipinjamkan Hecnor, akan ia kembalikan nanti di sekolah.
Felona mampir ke sebuah toko roti untuk memesan kue, ia mempersiapkan semua sedemikian rupa. Di sekolah pun nampak wajah cerianya sampai membuat Edra bertanya - tanya apa yang membuatnya begitu senang.
"Fel, apa kau sudah minum obat?"
"Untuk apa aku minum obat Dra? Memangnya aku sakit?", balas Felona dengan tawa.
"Iyaa seperti itu, kamu nampak sangat senang hari ini...", sahut Edra sambil menggaruk kepalanya.
" Tentu saja, apa kau tau ayahku pulang hari ini itu adalah kabar yang sangat menyenangkan", jelas Felona mendekap tangan Edra saking senangnya.
Edra seketika merasa kaku karena dada Felona seakan menempel di bahunya, Edra juga laki - laki normal ingin ia menggeserkan tangan menggesekkannya atau menyentuhnya tetapi Felona langsung melepaskan tangan Edra, dan Fokus belajar lagi.
*Astaga Edra ini di kelas, tahan lahh...*, batin Edra sambil memejamkan matanya dan mulai lanjut belajar.
[Sshuuuttt! Edra menahan sesuatu yang mulai berdiri]
Pelajaran selesai, Felona ingin mencari Hecnor tetapi tak kunjung menemukannya.
__ADS_1
〰️ Kelanjutan di episode berikutnya yaa !〰️