
Ricuh penonton membeludak melihat hasil pertandingan pertama yang di menangi oleh Wismaraja atas lawannya Trisatya dengan skor 2-0. Chandra dan Wilson sama-sama mencetak 1 gol di pertandingan ini.
"Nice game Wismaraja. Pertandingan ini adalah penentu yang akan juara, tim tamu seperti SMA 70 tidak akan mungkin akan menjadi juara."
"Aku yakin Wismaraja akan memenangi turnamen mini ini karena sisa lawannya hanyalah tim medioker seperti SMA 70 hahaha."
Seperti itulah perkataan dari para penonton di tribun stadion. Tentu saja banyak yang meremehkan SMA 70 karena belum ada satupun tim tamu yang menjadi juara, jika bukan Wismaraja tentu Trisatya yang akan menjadi juara seperti itulah tradisi turnamen ini bertahun-tahun. Apalagi SMA 70 bukanlah tim kuat seperti SMA 48 yang berhasil mengalahkan SMA Wismaraja tahun lalu.
Setelah diremehkan oleh Ferza. Mereka juga di remehkan oleh seluruh penonton di lapangan. Hinaan dan cercaan itu dilontarkan terang-terangan untuk mereka, amat sangat menjengkelkan bukan? Bak karakter figuran, mereka hanya dipandang sebelah mata, seolah semuanya sudah tau, Wismaraja adalah sang pemenang, karna mungkin semuanya tau, Wismaraja adalah sang pemeran utama.
Beberapa omongan penonton sempat terdengar oleh Al dan kawan-kawan. Telinga mereka panas mendengar ocehan para penonton. Beberapa dari mereka sempat mengepal tangannya karena saking kesalnya. Tetapi sang kapten Ridwan menyadari itu, dia langsung mengajak rekan satu timnya untuk pergi dari situ.
Jangan tanya, Rizki dan Eril yang biasa sering berdebat, mendadak kompak memasang ekspresi kesal pada omongan-omongan sialan itu.
Puk! Puk!
Ridwan menepuk tangannya memberikan intruksi kepada rekan setimnya untuk pergi. Wibawa sang kapten memang terlihat jelas dari Abang kelas dua belas ini.
"Ayo kita pergi dari sini kita akan lakukan latihan terakhir untuk menghadapi SMA Tristya 3 jam lagi." Ajak Ridwan, ini jalan terbaik agar mental mereka membaik.
Setelah mendengar perkataan dari Ridwan mereka akhirnya pergi dari tribun penonton untuk melakukan latihan akhir menjelang pertandingan perdana mereka.
......................
"Kalian latihan umpan dulu ya. Ayo semua berpasangan dua orang dua orang untuk latihan umpan." Pak Danang mengintruksikan anak asuhnya dengan suara lantang.
Ridwan berpasangan dengan Eril sahabatnya sendiri. Eril latihan Sembari memegang perutnya yang habis ditendang Ferza. Tidak begitu sakit memang, namun sayangnya itu begitu membekas diingatannya.
*tuk
Eril menendang bola tidak mengarah ke Ridwan, bola itu justru menjauh dari Ridwan.
"Ayo Ril fokus fokus." Pak Danang meminta Eril fokus.
Tidak hanya Eril, Ridwan juga tampaknya tidak fokus. Operan Ridwan melenceng jauh dari Eril.
"Hadeh."
Wajah Pak Danang tertunduk kebawah dia memegang wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. Jika Eril masih bisa dimaklumin karena dia mungkin masih saja trauma, tetapi seorang kapten seperti Ridwan juga kehilangan fokusnya dalam latihan. Tidak hanya dipasangan Eril dan Ridwan, pasangan lain tampak begitu juga.
Mereka gugup.
Bagaimana tidak gugup, karena harus menghadapi dua tim kuat di hari yang sama, mereka juga masih kepikiran tentang perkataan para penonton tadi. Yah itu membuat mental mereka down.
__ADS_1
Tidak ada tim tamu yang menang, akankah berlaku juga pada mereka?
Mereka tampak lebih gugup dari biasanya.
Bagaimana aku memberikan motivasi kepada mereka, apa yang harus ku lakukan.
Batin Pak Danang. Dia benar-benar bingung bagaimana membangun semangat dari anak asuhnya.
Saat ini Dimata Pak Danang, yang mengerikan bukan lagi Wismaraja, atau bahkan Trisatya, dia lebih merasa ngeri dengan anak-anaknya sendiri yang merasa gugup.
Gugup adalah jurang kegelapan untuk melakukan kesalahan, latihan sesempurna apapun akan percuma ketika rasa gugup tidak dapat diatasi.
Dan Pak Danang bisa mengerti, kemungkinan gerakan fatal akan terjadi saat mereka semua merasa gugup.
Ketika semua pemain gugup dan banyak melakukan kesalahan. Hanya Al yang tampak semangat, dia bergairah ingin cepat bermain untuk membungkam mulut Ferza dan penonton yang meremehkan mereka.
Al latihan menangkis bola menggunakan bola kasti yang diajarkan oleh Pak Edi. Dia berpasangan dengan Adit yang sama-sama berposisi sebagai kiper.
Al jatuh bangun menangkis bola yang dilempar Adit menggunakan raket. Baju yang ia kenakan sudah kelihatan kotor oleh tanah, meski begitu wajahnya masih ceria, matanya masih bernafsu untuk terus menyentuh bola.
Tapi ada yang aneh, Al merasa Adit semakin aneh. Lemparan yang Adit berikan semakin lama semakin pelan, dan terlalu mudah ditebak arahnya. Ini jadi terlalu mudah untuk Al, tidak ada sensasi tantangan dari bola yang dilempar Adit.
Tidak bisa!
Al masih mengingat jelas rasanya jatuh ketanah tanpa bisa menahan bola, dia masih ingat sensasi bola yang menembus gawangnya, dan itu pun di tendang oleh Chandra, pemuda yang juga menjadi kekasih Fania.
Rasanya menyebalkan!
"Maap Bang Adit, tapi itu terlalu lambat Bang! Bisa pukul lebih keras? Aku, tidak puas hanya dengan lemparan itu. Untuk menangkis setiap tendangan entah dari monster atau mesin, aku harus jadi lebih hebat, jadi lebih cepat, tangan ku harus menangkap bola itu." Pinta Al, tatapannya serius, dia berbicara santai tanpa beban.
Diam
Semua pandangan tertuju ke arah Al.
Detik itu juga, seluruh pemain SMA 70 sadar, bahwa mereka hanya perlu bermain sekuat tenaga, mengerahkan segala kemampuan yang ada, menunjukkan pada dunia latihan mati-matian yang sudah mereka jalankan, selama dua bulan terakhir.
Melihat Al yang tampak semangat dalam latihan. Membuat semangat pemain lainnya meningkat. Mereka tidak ingin kalah oleh Al, termasuk Rizki yang memiliki sifat tidak ingin kalah dengan yang lain.
Rizki diam, tanpa siapapun sadari, dia menarik sudut bibirnya, tanpa dirinya sadari, percikan api tampaknya sudah menyebar di dalam aliran darahnya. "Oh? Udah berani ya sekarang? Lemparan bang Adit kau bilang lemah? Sini biar aku kasih tau gimana rasanya tendangan super kuat dari Rizki Ronaldo ini!"
"Oh ya? Tendangan dari mu juga bisa aku tangkis tutup mata doang, easy dek!" Al juga tak ingin kalah, Rizki memang lumayan jago, tendangan darinya mungkin bisa membantu latihan Al.
"Mereka semangat sekali. Kita gak boleh kalah ayo latihan!" Ridwan berteriak mengintruksikan agar rekan setimnya untuk latihan. Ridwan juga tak ingin kalah, masa dia harus ditenangkan oleh dua bocah kemarin sore? Ridwan kembali pada fokusnya sendiri.
__ADS_1
Pak Danang hanya tersenyum melihat ini. Dia merasa lega dan merasa ingin berterima kasih kepada Al.
Semangat anak-anak ku. Jika kalian ingin mengalahkan orang yang kuat, maka kalian harus mengalahkan diri kalian terlebih dahulu.
Batin Pak Danang, beliau sedikit melirik Al dan Riski, diakhiri dengan pandangannya yang jatuh pada Ridwan.
Mental bukan sembarang mental.
...****************...
Pertandingan melawan Trisatya akan dimulai 30 menit lagi. Kedua tim tampak sudah siap-siap untuk saling berhadapan.
"SMA Trisatya gak kayak SMA Wismaraja. Jika Wismaraja mengandalkan Chandra dan Wilson. SMA Trisatya justru bermain bagaikan tim. Gak ada pemain yang menonjol seperti Chandra. Tapi, kalian jangan anggap remeh permainan tim mereka." Pak Danang memberikan intruksi strategi kepada anak asuhnya.
"Ayo kita membentuk lingkaran seperti para pemain profesional." Eril mengajak rekan setimnya dengan tersenyum, seakan dia lupa bentroknya dengan Ferza tadi.
"Boleh tuh ayoklah." Leo memegang dagunya berpikir sejenak. Sepertinya ajakan Eril tidak buruk, ini bahkan cukup menarik.
Para pemain membentuk bundaran saling merangkul satu sama lain untuk menyemangati satu sama lain. Ridwan sebagai kapten mulai berbicara.
"Tadi pagi kita menyaksikan sendiri ocehan mereka kepada kita. Diremehkan oleh Ferza dan juga oleh penonton. Tapi jika diremehkan tapi tidak bangkit bukan SMA 70 namanya! Maka dari itu ayo bersama-sama bermain bagus saling kerja sama ikutin strategi yang di berikan oleh coach kita. Tunjukan pada mereka bahwa SMA 70 yang sekarang berbeda dengan SMA 70 yang lalu! Yang terakhir, aku senang bisa bermain bersama kalian sebelum lulus." Ridwan berbicara dengan lantang dia benar-benar mencerminkan sikap seorang kapten.
"Yok semangat yok." Rizki berteriak diruang ganti. Tampaknya pemuda satu ini tidak gugup seperti menghadapi Wismaraja saat pertama kali.
Dibanding gugup, rasa-rasanya Rizki lebih tidak sabar menghadapi mantan Abang kelasnya itu. Dia, ingin menunjukkan dirinya versi baru pada Wilson.
Seluruh pemain mengumpulkan tangannya ke tengah bundaran.
"MENANG KALAH APAPUN HASILNYA AYO KITA BUKTIKAN HASIL LATIHAN KITA SELAMA INI!" Berapi-api seperti itulah ekspresi dari Ridwan.
"Yaaa!!"
Pak Danang tersenyum melihat semangat anak asuhnya.
......................
Waktu pertandingan pun tiba. Kedua tim mulai memasuki lapangan.
Ricuh penonton pecah. Banyak dari mereka yang mendukung SMA Trisatya dipertandingan kali ini.
Tampak Chandra dan Wilson menonton di tribun paling depan sangat dekat dengan lapangan.
"Hm kita lihat apa yang bisa kalian lakukan saat ini." Chandra menarik senyuman smirknya. Dia penasaran dengan progres SMA 70.
__ADS_1
Al melihat Chandra di atas sana. Al membalas senyuman Chandra dengan senyuman dirinya.