Football : Gold Generation!

Football : Gold Generation!
Awal pertandingan


__ADS_3

Waktu pertandingan pun tiba. Kedua tim mulai memasuki lapangan. Mereka berjalan diiringi suara ricuhnya penonton, begitu membludak dan menyebalkan, begitu berisik dan tidak ingin di dengar Eril. Karna banyak dari mereka yang mendukung SMA Trisatya dipertandingan kali ini.


Tampak Chandra dan Wilson menonton di tribun paling depan sangat dekat dengan lapangan. Chandra sendiri memfokuskan pandangannya pada Al, jujur saja sejak pertandingan kapan lalu, Chandra jadi meletakkan sebagian perhatiannya pada Al, kiper yang mampu menghadang beberapa tendangan rekan-rekannya yang lumayan kuat.


"Hm kita lihat apa yang bisa kalian lakukan saat ini." Chandra menarik senyuman smirknya. Dia penasaran dengan progres SMA 70. Sejauh apa mereka berkembang selama ini? Sama saja, atau ada perubahan yang membuat hasrat bermainnya semakin tinggi.


Al melihat Chandra di atas sana. Al membalas senyuman Chandra dengan senyuman percaya dirinya. Al juga tidak ingin repot-repot mengalihkan pandangannya, dia bahkan tidak takut pada Chandra.


Saling bertatapan, tampak kedua pemuda ini tidak sabar untuk rematch pertandingan mereka. Khususnya Al, dia ingin membalas kekalahannya kapan lalu, terlebih Chandra, dia juga masih ingin membantai habis kiper tengil yang dia temui kala itu. Tapi sebelum menghadapi Wismaraja, Al dan kawan-kawan harus melewati tembok besar SMA Trisatya terlebih dahulu.


Al mengalihkan pandangannya dari Chandra ke arah bench Trisatya. Dia melihat pelatih SMA Trisatya yang rumornya merupakan alumni sekolah sana, dan baru lulus 2 tahun yang lalu.


Dimas, pemuda tampan berumur 20 tahun. Pemuda yang digadang-gadang bisa menyaingi Chandra, bahkan bisa lebih hebat dari Chandra hanya saja beda generasi. Sepertinya itu benar, mengingat dia melatih sekolahnya di usia yang cukup muda.


Tampak Dimas sedang berbicara dengan salah satu anggotanya.


"Bang Dim. Kapan aku bermain?" Tanya salah satu pemain Trisatya yang berada di bangku cadangan.


"Santai aja Den. Kau akan bermain di 10 menit terakhir babak kedua." Sahut Dimas. Diketahui pemuda yang berbicara dengan Dimas bernama Dendy. Dia merupakan satu-satunya anak kelas 3 yang masih bertahan di ekskul sepak bola Trisatya.


"Apalah masa iya cuma 10 menit." Dendy mengeluh. Wajahnya cemberut, tentu saja Dendy ingin bermain dengan waktu yang lebih lama. 10 menit bermain bola, memangnya bisa puas?


"Ingat penyakit jantungmu Den. Dokter nyaranin kau buat main bola 5 menit paling lama. Tapi ku tambah 5 menit lagi karena ku tau kau mencintai bola. Bahkan teman-temanmu sudah berhenti di ekskul dan lebih fokus ujian kau malah tetap bertahan." Dimas mengalihkan pandangannya dari Dendy, dia tidak mau ketahuan menatap bocah itu dengan tatapan iba dan kasihan, karna Dendy benci sekali ditatap seperti itu.


Dendy di diagnosis terkena penyakit jantung saat dia masih duduk di kelas 10. Dia disarankan oleh dokter untuk berhenti bermain sepak bola. Tetapi cintanya kepada sepak bola begitu besar, dia tidak ingin penyakitnya membuat dia berpisah dengan sepak bola.


"Lagi-lagi bahas tentang penyakit ku. Penyakit kalo dipikirkan semakin parah yang ada." Dendy mengatupkan bibirnya, sedikit menggembungkan pipinya, tatapannya ia alihkan tak ingin menatap Dimas.


Kesal.


Walau memang itu berbahaya untuknya, walau Dendy tau apa yang dikatakan Dimas adalah untuk kebaikannya, tapi tetap dia masih ingin bermain bola.

__ADS_1


......................


Pertandingan antara SMA Trisatya melawan SMA 70 dimulai. SMA Trisatya mengambil kick off babak pertama.


SMA 70 memasang strategi parkir bus, semua pemain selain penyerang ikut bertahan. Bahkan Eril dan Riski yang berada di sayap ikut bantu bertahan jika di perlukan.


Parkir bus adalah strategi yang sering digunakan untuk bertahan, tim yang menggunakan strategi parkir bus umumnya lebih memprioritaskan pertahanan dibanding penyerangan, mereka akan menyerang balik ketika ada celah atau ada blunder yang dilakukan oleh tim lawan. Biasanya para pemain menggunakan umpan-umpan panjang, atau yang biasa dikenal dengan longball.


Biasanya, strategi parkir bus ini digunakan oleh tim non unggulan, saat melawan tim unggulan.


Chandra yang sedang menonton pertandingan di tribun menilai bahwa SMA 70 sangat naif.


"Permainan seperti apa itu? Mana serangan cepat kalian saat melawan kami." Chandra menaikkan sebelah alisnya, ia memegang dagunya, cukup heran dengan pemikiran SMA 70.


Menurutnya pertahanan terbaik itu adalah menyerang.


Chandra agak bosan melihat pertandingan yang begini-begini saja, dia jadi sedikit mengantuk.


"Parkir bus sialan. Sangat sulit melewati pertahanan mereka." Ucap Bagas yang merupakan striker SMA Trisatya. Dia kesal, pertahanan yang kuat itu menguras emosi dan kesabarannya.


"Pertahanan sekuat apapun pasti masih ada celah, kita pasti bisa menembusnya." Sahut Andi sembari mengelap keringat di dahinya.


Bagas dan Andi merupakan pilar di SMA Trisatya. Walaupun tidak semenonjol Chandra dan Wilson, tetapi kedua pemain kelas 11 ini adalah harapan SMA Trisatya di lapangan.


Permainan yang membosankan.


Bukan hanya Chandra yang merasa begitu, tapi tampaknya para penonton di lapangan juga merasakan hal yang sama, bosan dengan ritme permainan SMA 70. Dalam waktu 43 menit SMA 70 hanya dua kali melakukan serangan lewat serangan balik, tapi serangan balik itu masih bisa dipatahkan oleh bek SMA Trisatya.


Hingga pada akhirnya


Pemain SMA Trisatya frustasi, bahkan Andi bingung ingin mengoper bola kepada siapa karena tidak ada yang bisa melewati pemain bertahan SMA 70. Sulit menembus pertahanan SMA 70.

__ADS_1


Doni yang berada di dekat Andi menyadari itu, dia mencuri bola dari kaki Andi saat ia sedang lengah.


Kaki kiri Doni menjangkau bola yang tepat berada di depan kaki kanan Andi. Doni benar-benar memanfaatkan kelengahan Andi untuk mengambil bola dan melakukan serangan balik.


Tetapi bukan seperti serangan yang sebelumnya. Kali ini semua pemain SMA 70 maju untuk menyerang meninggalkan Al yang berada di garis pertahanan. Mereka benar-benar bertaruh di dua menit terakhir babak pertama ini.


Penonton yang tadinya hening mendadak ramai melihat momen SMA 70.


Doni menggiring bola melewati para pemain SMA Trisatya dengan keahlian driblenya. Doni memiliki keahlian tersebut sejak SMP, hanya saja dia selalu kalah pamor dengan Chandra sebagai pemain tengah.


"Don oper sini." Melihat Doni yang sudah dekat dengan kotak penalti. Riski mencari posisi yang bagus untuk menerima umpan dari Doni. Diapun tidak segan-segan meminta umpan dari Doni.


"Yah lakukan gol yang spektakuler Riski Ronaldo." Doni menarik senyuman smirknya, dia melakukan umpan terbosan kepada Riski yang sudah siap untuk melakukan shooting.


Riski berhasil menerima umpan terobosan matang dari Doni. Dia berhadapan satu lawan satu dengan kiper Trisatya.


Riski menembak ke arah sudut kiri bawah gawang.


*goal


Kiper tidak bisa menjangkau shootingan dari Riski.


Teriakan penonton sontak bergema di lapangan. Setelah bermain parkir bus, akhirnya SMA 70 berhasil mencetak gol di akhir babak pertama. Permainan yang cantik dari Doni di tambah pemosisian yang baik dari Riski membuat SMA 70 unggul dari lawannya saat ini.


Riski berselebrasi di depan tribun Ferza. Dia menutup kedua telinganya dengan menggunakan tangannya di depan Ferza. Jangan lupa, senyuman tengil yang dia tunjukkan terang-terangan.


Melihat itu Ferza hanya diam, tidak memperlihatkan ekspresi apa-apa.


Ridwan memperingati tentang selebrasinya Riski yang seakan mengejek Ferza.


"Oi udah-udah sana cepat ke posisimu."

__ADS_1


Tidak lama setelah Bagas menendang kick off peluit panjang dari wasit dibunyikan tanda babak pertama sudah usai.


__ADS_2