Football : Gold Generation!

Football : Gold Generation!
SMA 70 VS SMA Wismaraja (1)


__ADS_3

...****************...


"Oh iya makasih informasinya Oliv." Dimas menutup telfonnya ia baru saja menelpon Olivia, bertanya soal kelangsungan pertandingan tadi. Dan hasilnya,


"Kita kalah." Kata Dimas, menatap adiknya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Sial andaikan aku ada disana pasti kita bisa memenangkan pertandingan itu." Dendy kesal tangannya menggenggam dengan kuat. Dia sangat mencintai sepak bola. Tapi penyakitnya membuat dia tidak bisa bermain bola bebas seperti dulu lagi.


Dendy punya bakat, tapi tidak dengan raga yang sehat. Mungkin benar, bisa saja Dendy memenangkan pertandingan itu jika dia memiliki tubuh yang sehat.


Dendy kesal. Dia ingin marah dengan segala yang terjadi saat ini, dia benar-benar membenci keadaannya yang terbaring lemah, dia benci dirinya yang terkapar disini sebelum mencetak sebuah gol, gawang SMA 70 belum berhasil ditembusnya.


Dendy benci saat-saat seperti ini, ketika dia merasa lemah atas segala sesuatu yang tidak bisa dia ubah bahkan dengan usaha gila-gilaan sekalipun.


Sedalam apa kekesalan Dendy? Maka sedalam itu pula kesedihan Dimas. Melihat Dendy yang membenci situasi seperti ini, pun dengan Dimas. Dia tidak benci kalah, dia hanya benci karna adiknya merasa bersalah.


Dimas memeluk Dendy, mencoba menenangkan adiknya.


"Aku gak peduli tentang pertandingannya. Yang penting kau selamat Dendy." Bagi Dimas, kesehatan Dendy yang utama, kemenangan itu nomor dua, kesehatan Dendy yang pertama. Tak masalah dia harus kalah, asal Dendy tetap selamat.


"Aku benci sakit ini, aku ingin bermain sepak bola dengan mu lagi Bang ingin bermain dengan yang lain." Ia mengepalkan tangannya erat pun percuma, tidak akan ada yang berubah. Dendy benci, dia ingin sembuh, dia ingin bermain lagi.


"Ya cepat sembuh, aku yakin suatu saat kita dapat bermain bola seperti dulu lagi." Dimas tersenyum hangat, begitu menenangkan, retina matanya yang mencakup segala kasih sayang dan ketulusan itu, setidaknya mampu membuat Dendy yang sekarang merasa lebih tenang.


Walau tetap, Dendy benci menerima kekalahan saat dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


...****************...


Di lapangan, tampak senyuman bahagia terlukis jelas di wajah para pemain SMA 70, mereka cukup puas dengan poin yang sudah mereka dapatkan dari bermain dengan SMA Trisatya.


Pertandingan terakhir akan dimulai 30 menit lagi masing-masing tim diminta untuk melakukan pemanasan dan latihan terakhir di lapangan sebelum kick off babak pertama. Ridwan dengan semangat mengajak teman-temannya untuk masuk ke lapangan.


"Sudah saatnya ayo!!"


"Wuu liat semangat sekali mereka untuk kalah." Chandra meledek para pemain SMA 70 yang sedang masuk ke lapangan untuk pemanasan.


"Tenang aja Bang Chan gue akan lakukan save save hebat nantinya." Ucap Alfian yang merupakan kiper baru SMA Wismaraja.


"Sudah ku bilang jangan makai kata lo gue lagi." Wilson kembali memeringati Alfian. Tampaknya Wilson tidak suka dengan gaya bicara gaulnya Alfian.


"Oi kapten mana tunjukan semangatmu dong kek Ridwan. Dasar kapten tidak becus." Chandra menarik sudut bibirnya. Lagi dan lagi dia meledek orang lain. Emang deh sifat tengil Chandra ini agak lain.


"Ngomong sekali lagi ku hantam kau." Sahut Wilson.


Refleks Chandra langsung diam, bukan karna takut, tapi karna sepertinya Wilson akan benar-benar menghantamnya nanti.


"Ayo semua." Wilson mengajak rekan-rekannya masuk ke lapangan.


Sorak penonton pecah ketika melihat SMA Wismaraja masuk ke lapangan. Benar-benar seluruh penonton kali ini memihak kepada Wismaraja. Apalagi ini adalah kandang mereka. Tentu saja bisa jadi keuntungan bagi Wismaraja dan kerugian bagi SMA 70.


"Banyak bener yang dukung, merinding aku." Ucap Eril sambil mengelus-elus tangannya.


"Semakin banyak yang dukung semakin seru juga kan? Bayangin aja kalo kita menang bagaimana ekspresi mereka nantinya haha." Al sangat percaya diri bahwa mereka akan menang dipertandingan kali ini.


"Yuhu Riski Doni apa kabar kalian?" Chandra menarik senyum smirknya. Sembari melambaikan tangannya kepada kedua adek kelasnya saat SMP dulu.

__ADS_1


"Jangan pernah tengilin adek kelasku lagi, Kalo gamau berurusan denganku." Eril langsung memperingati Chandra agar tidak menganggu Riski dan Doni lagi.


"Iyakah? Astaga ngerinya abang ini." Bagaikan kilat Alfian tiba-tiba muncul di belakang Chandra.


"Asem buat kaget aja!" Chandra memukul pundak Alfian karena mengagetkannya.


"Loh eh ini kan yang pernah Bang Chandra bilang si Riski-Riski itu? Haha dia keliatan lemah." Alfian tersenyum puas, ia dengan terang-terangan Alfian menghina Riski di depannya.


"Ha siapa yang kau bilang lemah." Riski tampak kesal, terlihat di wajahnya, dia mencoba mendekati Alfian tapi Doni menghadang Riski.


"Ki ..." Doni menggelengkan kepalanya mengisyaratkan kepada Riski agar dia tidak kebawa emosi.


Kedua kapten Ridwan dan Wilson yang melihat itu langsung membubarkan timnya masing-masing.


"Udah-udah sana latihan jangan gelud." Ucap Ridwan.


"Oi Chandra biawak kau bisa gak sekali aja gak tengil?" Wilson menarik kerah bajunya Chandra menyuruhnya agar berhenti tengil.


"Cih iya-iya gak lagi deh." Sahut Chandra.


"Kau lagi Alfian jangan ikut-ikuti si biawak ini." Tidak lupa Wilson juga memperingati Alfian yang ikut-ikutan tengil.


*******


Waktu pertandingan tiba.


Kedua tim berbaris di lapangan sebelum memulai pertandingan.


Ok ini dia waktunya balas dendam ke mereka.


Setelah berbaris wasit memanggil kapten untuk menentukan siapa yang kick off duluan.


Ridwan dan Wilson salaman mereka sangat menjunjung tinggi sportivitas.


SMA Wismaraja mendapatkan Kick Off terlebih dahulu.


Saat Wilson sudah bersiap melakukan kick off Chandra menghampiri Wilson.


"Bisa gak kali ini aku yang ambil kick off?" Chandra menawarkan dirinya untuk melakukan kick off matanya serius kali ini, ini bukan Chandra versi tengil lagi dan Wilson mengetahui itu. Dia pun langsung memberikan kick off kepada Chandra tanpa menanyai tujuannya.


Sebelum kick off Chandra langsung mengarahkan jarinya ke gawang Al. Tatapannya tertuju ke arah gawang Al. Menyadari itu Al tampak waspada apa yang akan di lakukan Chandra nantinya.


Dia menunjuk kemari apakah dia langsung lakukan shooting dari sana? Gak gak gak mungkin bahkan pemain kelas dunia seperti Messi dan Ronaldo saja tidak bisa melakukan itu.


Batin Al. Dia mencoba memikirkan apa yang akan di lakukan Chandra nantinya.


*prit...


Peluit dibunyikan.


Bukan mengoper keteman di belakangnya. Chandra malah melakukan dribling langsung ke arah gawang SMA 70 sendirian.


"Jaga dia!!" Al berteriak meminta rekannya untuk menghentikan Chandra.


Tapi Chandra benar-benar menunjukan kelasnya kali ini. Dia mendrible bola seperti Messi tidak ada yang bisa menyentuhnya sama sekali.

__ADS_1


"Ankara Chandra ankara Chandra." Ungkap komentator meniru momen epic Lionel Messi.


Chandra benar-benar tidak tersentuh kali ini. Tampaknya dia benar-benar ingin menghancurkan SMA 70 dari awal.


Sampai tibalah Chandra berada di 17 meter dari gawang Al. Walaupun masih ada Ridwan dan Leo di belakang, Chandra justru memperlihatkan kuda-kuda ingin melakukan shootingan


"Baiklah sepertinya disini cukup." Ucap Chandra.


Dia langsung melakukan tembakan misang ke arah gawang yang di jaga oleh Al.


*puh...


Ridwan mencoba menjangkau dengan kepalanya tapi tidak bisa bola itu terlalu cepat. Al satu satunya harapan SMA 70 saat ini.


Diluar dugaan Chandra, Al berhasil menutupi ruang tembakan Chandra. Dengan refleknya yang cepat dia langsung menangkis tembakan misang dari Chandra. Sepertinya latihan Al selama ini terbayar lunas dengan performa apiknya.


"Haha tendangan kek gini doang easy dek." Al menarik sudut bibirnya. Jarinya menunjuk ke arah Chandra. Al menunjukan sifat tengilnya kepada Chandra.


Chandra terlihat frustrasi sejenak sebelum dia kembali tersenyum jahat kepada Al.


"Dasar anak bodoh."


*puk


Wilson memukul Chandra karena ceroboh.


"Sakit tau." Chandra merintih kesakitan.


"Rasakan orang bodoh seperti mu pantas menerima itu, tau gitu aku yang ambil kick offnya." Sahut Wilson.


Ferza tersentak halus, dia dan Nando yang menonton di atas tampak kagum dengan penampilan Al di turnamen ini.


"Bang Fer siapa kiper itu? GG sekali dia dalam dua pertandingan ini." Tanya Nando kepada Ferza. Nando dulunya berasal dari luar Kota Batam. Tapi saat SMA dia pindah ke Batam dan bersekolah bersama Ferza sepupunya.


"Ntahlah aku juga baru liat ada kiper sejago dia." Sahut Ferza. Tampak Ferza kagum dengan penampilan Al, bisa tergambar di wajahnya yang dari tadi tidak berpaling ke Al. Sulit untuknya mengalihkan pandangannya dari Al, setelah segala performa Al.


Sementara di lapangan kali gini giliran SMA 70 yang melakukan serangan. SMA 70 melakukan serangan andalannya dari sisi sayap kanan melalui Ilham dan Eril.


"Serangan seperti ini lagi apakah kalian lupa dengan ku hah?" Ucap David yang berusaha mengulang kejadian yang sama seperti pertandingan persahabatan dua bulan yang lalu.


"Hei bung kali ini bukan dua orang. Kali ini adalah kombinasi tiga orang." Sahut Eril.


Doni lagi-lagi menjadi pahlawan dalam urusan lapangan tengah, dia berhasil melewati David diam-diam dari belakang dan mendapatkan umpan matang dari Eril.


"Hah?" David kaget dia melihat kebelakang bahwa Doni sudah menggiring bola.


Melihat Riski yang berada di posisi yang bagus, Doni langsung memberi umpan lambung.


Riski dengan tendangan vollynya mencoba keberuntungannya untuk menjebol gawang Alfian.


"Jangan naif lu." Ucap Alfian secara pelan.


Alfian segara menutup arah bola yang di tembak Riski. Tubuh mungilnya berhasil menepis tendangan Riski dengan indah.


"Sambutlah raja baru mistar gawang. Jangan harap kalian bisa mejebol gawang ku." Ucap Alfian sembari menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2