Football : Gold Generation!

Football : Gold Generation!
3 point pertama


__ADS_3

"Dendy!!"


Dimas berlari ketempat Dendy berada. Dendy sudah terkapar di rumput, tampak dia sudah tidak sadarkan diri lagi.


"MEDIS CEPAT MANA MEDIS!" Dimas tidak bisa menahan tangisannya melihat Dendy yang sudah tak sadarkan diri lagi.


Tidak lama kemudian ambulance datang ke lapangan. Tidak memakan waktu lama Dendy akhirnya dibawa oleh ambulance tersebut ke rumah sakit.


Dimas juga ikut bersama Dendy meninggalkan tim yang dia latih. Dia memberikan tanggung jawabnya kepada Olivia yang merupakan Menejer SMA Trisatya.


"Oliv tolong nanti masukan Juna untuk menggantikan Dendy, lalu minta mereka bermain sebagus mungkin aku akan menyusul Dendy terlebih dahulu." Dimas lari dengan terburu-buru meninggalkan timnya demi adik kesayangannya.


"Aduh gimana ini mana aku gatau lagi cara latih bola." Oliv bingung dia tidak mengerti dengan sepak bola apalagi dia perempuan, soalnya Oliv masuk menjadi manajer di tim ini karena dia sendiri bingung mau masuk ekskul mana lagi.


"Sangat naif sekali si Dimas itu meninggalkan timnya demi adiknya." Chandra mengkomentari tentang tindakan Dimas yang lebih memilih menemani adiknya dari pada memantau pertandingan SMA Trisatya.


"Manusia tidak berperasaan seperti mu memang tidak mengerti perasaan manusia ya." Wilson melipat kedua tangan dibadannya, lalu menghina Chandra. Jelas, memangnya Abang mana yang akan mementingkan tim yang dia latih dibanding nyawa adiknya sendiri.


"Matamu aku gak berperasaan." Chandra melirik Wilson kesal, dia bukannya tidak punya perasaan, hanya saja ada sesuatu yang tidak bisa dia katakan. Sialnya, Dendy yang sakit dan Dimas yang khawatir mengingatkan Chandra akan seseorang.


......................


Suasana di lapangan tampak canggung. Kesebelasan dari kedua kubu tampak trauma atas kejadian barusan. Termasuk Al yang tepat berada di depannya Dendy tergeletak ke tanah.


"Kenapa si Dendy tadi?" Tanya Al kepada Ridwan. Al belum tahu tentang kondisi Dendy yang di vonis penyakit jantung saat dia duduk di bangku kelas 10.


"Dengar-dengar sih dia ada riwayat sakit jantung. Aku pikir itu hanya rumor, pas liat dia main, tapi kalo dia jatuh kek gitu, mungkin bener sakit." Ridwan menjawab pertanyaan Al. Dia juga tidak mengira bahwa Dendy benar-benar memiliki penyakit jantung. Apalagi saat melihat Dendy begitu bersemangat berlari dan menggiring bola tadi.


Al kembali mengingatnya, permainan SMA Trisatya yang langsung melejit bagus ketika Dendy masuk, Al juga bisa melihat semangat yang Dendy berikan pada rekan setimnya melalui semangatnya sendiri dalam bermain bola. Al bukan veteran dalam sepakbola, tapi dia tau tatapan dan senyum, serta keseriusan yang sejak tadi Dendy perlihatkan adalah ciri orang-orang yang begitu mencintai sepakbola. Dia kagum dengan kecintaan Dendy dengan sepak bola.


Sakit-sakit tapi tetap memaksa bermain bola. Dia benar-benar mencintai sepak bola ya?

__ADS_1


Batin Al.


Pertandingan di hentikan selama 15 menit untuk membersihkan rumput dari darah dan memberikan waktu kepada para pemain untuk melupakan insiden barusan. Baik pemain Trisatya maupun SMA 70 turut berdoa untuk kesembuhan Dendy.


"Ngeri kali tadi tiba-tiba dia batuk berdarah terus pingsan. Aku pas kali di depannya masih teringat dipikiran ku kejadian tadi." Al berbicara kepada teman-temannya di ruang ganti.


"Ayo ayo ayo lupakan insiden tadi, jangan buat kejadian tadi bikin kalian gak fokus main nantinya. Tetap semangat ikuti strategi kita, percaya kita akan menang di pertandingan ini." Intruksi Pak Danang agar anak asuhnya tidak trauma.


"Ingat ya walaupun mereka gada Dendy, Trisatya tetaplah Trisatya mereka tetaplah sekolah yang lebih baik dari kita jangan lengah." Ridwan tidak ingin ketinggalan dari Pak Danang, ia juga menyemangati teman-temannya.


......................


15 menit berlalu. Lapangan sudah di bersihkan dari bekas darah Dendy. Sekarang kedua kubu kembali masuk ke lapangan untuk melanjutkan pertandingan.


Tendangan gawang Al menjadi penentu pertandingan dimulai kembali.


"Ya saudara saudara sekalian pertandingan kembali dimulai setelah dihentikan selama 15 menit. SMA 70 masih memimpin pertandingan dengan skor 1-0." Ungkap komentator pertandingan.


Sial Bang Dendy dan Bagas sudah tidak ada lagi di lapangan apa yang harus kami lakukan Bang Dimas juga meninggalkan kami disini sendirian.


Batin Andy. Dia terlihat frustrasi dengan keadaan SMA Trisatya saat ini. Tetapi sebagai kapten ditim dia tidak ingin memperlihatkan ekspresi frustrasi dari wajahnya.


"Baiklah ayo kita menangkan pertandingan ini untuk Bang Dendy dan Bang Dimas." Andy berteriak menyemangati teman-temannya. Setidaknya, meski dia tidak bermain sebagus Dendy, tidak memiliki kebijakan seperti Bagas. Setidaknya, Andy masih bisa menjadi satu orang yang memberikan semangat kepada teman-temannya. Setidaknya untuk menghilangkan rasa gugup yang ada pada SMA Trisatya sekarang.


...----------------...


Sementara di pertandingan SMA 70 menyerang dengan membabi buta. Ridwan dan kawan-kawan tampak tidak aman dengan skor 1-0 ini.


"SMA Trisatya tampak kehilangan permainannya di banding yang tadi. Apalagi pelatih mereka tidak ada. Mereka pasti lebih sulit untuk menang." Ucap Wilson kepada Chandra.


"Sepertinya SMA 70 yang akan memenangkan pertandingan ini." Sahut Chandra.

__ADS_1


"Dah berpindah pihak kau?" Tambah Wilson matanya sinis menatap Chandra.


"Aku gada berpihak kepada siapapun. Aku malah berharap mereka imbang dan lanjut ke adu penalti agar kita tidak ada beban pikiran mikirin point akhir nanti. Ngomong ngomong matamu biasa aja keles." Chandra menaikkan sebelah alisnya, tatapan sinis rekannya ini cukup mengganggu.


"Emang kenapa sama mataku? Gak suka kau?" Wilson menarik kerahnya Chandra.


"Nanya aja salah." Chandra mengalihkan pandangannya kembali fokus pada permainan di depan sana.


"Kau emang tempatnya salah."


"Sialan."


*******


SMA 70 mendapatkan tendangan sudut di menit 87. Doni menjadi penendang tendangan sudut kali ini.


*prit...


Peluit dibunyikan.


Doni langsung menendang bola tersebut ke arah kotak penalti, berharap ada rekannya yang menendang bola itu ke arah gawang Trisatya.


Ridwan menjawab harapan Doni tersebut. Dengan cepat dia menuju ke arah bola yang diumpan Doni. Tampak bola masih berada di udara. Dengan sekuat tenaga Ridwan menyudul bola itu ke gawang. Kiper Trisatya tidak dapat menjangkau sundulan Ridwan tersebut.


*goal...


"Goll sukardi percaya saudara saudara umpan manis manja mempersona diperlihatkan oleh Doni dan disambut dengan sundulan kepala besi dari Ridwan menghantarkan SMA 70 unggul 2-0 dari SMA Trisatya." Ungkap komentator pertandingan.


Penonton tercengang seakan tidak percaya bahwa SMA Trisatya bisa dikalahkan oleh tim sekelas SMA 70.


Tidak lama kemudia peluit panjang dibunyikan menandakan akhir pertandingan.

__ADS_1


SMA 70 berhasil memenangkan pertandingan perdana mereka di turnamen mini ini.


__ADS_2