
Saat Chandra menendang bola, beberapa pemain yang menjadi pagar betis maju sedikit guna mengganggu konsentrasi Chandra.
Konsen Chandra sedikit tergoyahkan membuat bola yang ditendang Chandra sedikit tidak sempurna seperti biasa. Ditambah pemosisian yang baik dari Al membuat dia sangat mudah menangkap bola dari tendangan bebas itu.
Strategi yang dilakukan Al berhasil menyelamatkan gawangnya dari tendangan bebas Chandra.
"Cih sial." Ucap Chandra sedikit kesal. Tidak masalah, dia akan balas di kesempatan berikutnya.
Bagus Al pemosisian yang bagus.
Batin Pak Edi, dia merasa cukup bangga dengan anak didik yang sudah dia latih selama beberapa bulan terakhir. Bukan sembarang latihan yang dia ajarkan, ini latihan yang selalu ia terapkan. Sebuah firasat kembali muncul, bocah tengik yang ada di depannya mungkin memang memiliki takdir istimewa.
Al memberikan bola pendek kepada Ridwan.
"Baiklah 5 menit ayo kita cetak gol." Ucap Ridwan yang sedang memegang bola.
"Gol'in lah kalo emang kalian hebat." Chandra menantang SMA 70 untuk mencetak gol di 5 menit terakhir. Bukan tanpa alasan, Chandra harap dengan provokasi yang dia ucapkan barusan, mampu mengacaukan ritme alur permainan SMA 70. Dengan sedikit desakan yang membahas waktu, mungkin irama permainan bisa hancur karna mereka terburu-buru mengejar waktu.
"Ayo cepat lakukan formasi menyerang." Pak Danang berteriak di bench pemain.
Bola kini berada di kaki Ridwan. Dia langsung saja mengoper bola itu kepada Leo.
Leo kembali mengoper kepada Ridwan. SMA 70 tampak memperlambat tempo permainan mereka untuk mencari celah agar bisa menyerang.
"Wilson lakukan intersep." Teriak Pak Erwin dari bench pemain.
Sesuai perintah Pak Erwin, Wilson mencoba mendekati bek SMA 70 untuk melakukan intersep.
Sialan, dia mencoba mencuri bola kami.
Batin Leo. Dia sedang memegang bola fokusnya terganggu karena diintersep oleh Wilson.
"Leo sini." Ridwan meminta bola kepada Leo. Leo pun mengoper bola kepada Ridwan.
"Jangan anggap remeh aku bocah." Wilson mencoba mencuri bola dari kaki Leo, sayang Wilson terlambat sedemikian detik.
"Cih sial." Ucap Wilson dengan nada kesal.
"Huh untung saja." Leo menghela nafasnya karena berhasil mengumpan kepada Ridwan terlebih dahulu sebelum direbut oleh Wilson.
Ridwan pun memberikan bola kepada Riski yang turun ke lapangan tengah.
Seketika beberapa pemain SMA 70 berlari ke depan ketika bola sudah berada di kaki Riski.
__ADS_1
"Hah apa yang kalian lakukan." Tanya Chandra dengan terheran heran.
"Apa kau lupa bahwa Riski memiliki senjata rahasianya." Ucap Doni sebelum berlari dari hadangan Chandra.
"Sen... senjata rahasia?" Chandra hanya terdiam mendengar itu. Dia benar-benar lupa karena Riski pertama kali memakainya saat dia SMA.
Ya senjata rahasia, aku benci memiliki senjata rahasia ini, tapi karena inilah aku mendapatkan tempat di tim inti saat kelas 9. Ini adalah senjata rahasia yang ku benci. Striker pemantul.
Batin Riski.
Riski mengoper bola kepada Bara. Dia langsung mencari posisi yang bagus untuk melakukan pantulan kepada Bara.
"Bang Bara sini." Ucap Riski meminta umpan dari Bara.
Bara mengoper bola kepada Riski, dengan cepat Riski memantulkan bola langsung ke arah kaki Bara kembali.
Kini Bara berada satu lawan satu dengan Alfian.
"Shoot Bara." Ucap Eril.
Bara melakukan tendangan lurus ke arah gawang. Alfian gagal mendapatkan bola itu.
*ting...
Melihat itu Doni langsung berlari ke arah bola dan melakukan tendangan mendatar ke arah kiri gawang.
Bola berputar dengan sempurna menuju gawang. Alfian mencoba menjangkau tapi dia kurang cepat kali ini. Tangannya tak sampai, jari-jarinya nyaris menyentuh bola itu.
*goal...
Doni mencetak goal penyama kedudukan untuk SMA 70.
"Goal... gol di menit-menit akhir pertandingan. Doni Ardianto berhasil menjadi pahlawan SMA 70 dalam menyamakan kedudukan."
Seriusan? Wismaraja kena comeback?
Ini aku gak mimpi kan?
Ungkap penonton yang tidak percaya dengan kejadian tersebut.
Siapapun tidak yakin, mereka berhasil membalikkan keadaan. SMA 70 nyaris kalah, tapi pada akhirnya mereka bisa menyamakan kedudukan.
Banyak yang menganggapnya hoki dan menjadi keberuntungan semata, para penonton juga bilang itu hanya keberuntungan takdir.
__ADS_1
Tapi? Tidak tahu kah mereka, keberuntungan adalah kesempatan yang datang pada orang-orang yang sudah menyiapkan dirinya. Tapi SMA 70 berusaha keras untuk mencetak angka itu. Gol itu, adalah gol yang diraih dengan dedikasi tinggi, dan usaha yang keras.
"Doni!!."
Beberapa pemain SMA 70 mendekati Doni untuk melakukan selebrasi bareng.
"Nice gol Doni." Al tersenyum tipis melihat gol Doni tadi.
Pemain Wismaraja tidak percaya bahwa mereka kebobolan di menit akhir. Kemenangan sudah di depan mata. Hanya beberapa menit lagi mereka akan mengangkat piala.
Prit... prit... prit...
3 menit setelah gol Doni peluit panjang dibunyikan. Pertandingan selesai dengan skor imbang 2 sama. Sesuai aturan kedua tim akan melakukan adu pinalti untuk menentukan siapa yang menang dan menjadi juara di turnamen ini.
Kedua tim berkumpul di bench pemain masing-masing untuk mengatur strategi.
"Adu pinalti lagi padahal sedikit lagi menang kita." Ucap salah satu pemain Wismaraja. Kesal rasanya, kemenangan sudah di ujung, tapi mereka kalah di saat-saat terakhir.
"Makanya kalian berguna dikit. Jangan cuma jadi beban ku aja. Jika gak bisa cetak gol minimal tahan kek!" Chandra kesal dengan rekan setimnya. Padahal dia pikir dia bisa menang dengan mudah, seperti terakhir kali saat mereka bertanding.
"Berisik Chan, diem! Istirahat sana, dinginin kepala, kita harus menang adu pinalti ini!" Wilson menarik napasnya, sebagai kapten dia harus memimpin timnya agar tetap satu dan tidak cekcok. Apalagi pertandingan belum sepenuhnya usai, mereka akan berebut poin lagi nanti dalam adu pinalti.
"Harus menang!" Wilson tidak ingin kalah, hasrat untuk menangnya sangat tinggi sekarang, mengingat wajah Ridwan membuat Wilson benar-benar ingin memberikan perasaan kalah untuk sang kapten SMA 70 itu.
Sementara dikubu SMA 70 perasaan mereka bercampur aduk. Rasa senang karena berhasil mencetak gol di menit akhir bercampur dengan rasa gugup dan cemas akan adu pinalti.
Stamina mereka yang tidak sebugar sebelumnya, rasa gugup yang sekaligus lega karena berhasil sampai ke babak ini. Semua perasaan yang bercampur aduk itu, membuat mereka tidak bisa berpikir jernih.
"Urusan mencetak gol adalah urusan kalian. Tapi urusan menghadang gol adalah urusan ku!" Ucap Al dengan percaya diri.
Ucapan Al menyita perhatian seluruh timnya, entah itu bualan semata atau tekad yang kuat dari sang kiper. Rasanya mereka jadi lebih tenang, Al sendiri mempercayakan gol pada mereka, lantas mereka juga harus percaya pada Al kan? Mungkin memang tidak akan ada gol yang tercipta untuk tim musuh.
"Mas Al benar-benar bisa diandalkan deh." Ucap Riski dengan sedikit tengil.
"Geli cok dengar nada omongan mu." Al melirik Riski, tatapan menusuk yang ia harapan Riski tidak mengatakan itu lagi.
"Yah, tapi kalian semua bisa tenang, yang jelas aku bakal sumbangin satu gol." Kata Riski dengan percaya dirinya, yang ternyata juga kembali membangkitkan semangat dan kepercayaan rekan setimnya.
"Siapkan saja selebrasi yang bagus saat aku menepis tendangan si jenius Chandra." Al menaikkan sebelah alisnya.
Terkadang Al dan Riski bisa satu frekuensi jika soal seperti ini.
"Hahaha yang terpenting jangan gugup kalian ya." Ucap Pak Danang, beliau masih ingat, kegugupan adalah petaka dadakan.
__ADS_1