Football : Gold Generation!

Football : Gold Generation!
Maniac Bola


__ADS_3

*******


Di ruang ganti Pak Danang mengapresiasi permainan anak asuhnya. Dia merasa senang dan bangga atas perjuangan mereka sejauh ini, khususnya bagian mereka yang berhasil mengatasi kegugupan sehingga mereka mampu bermain bagus dan sesuai rencana, tidak ada kegugupan yang menghasilkan kesalahan.


Setidaknya strategi mereka berjalan sempurna sampai menit ini.


"Bagus semuanya permainan yang bagus." Pak Danang tersenyum halus melihat permainan dari anak asuhnya.


"Gilak main parkir bus yang capek kami para bek rasanya kaki ku mau patah." Ucap Leo sembari mengelus kakinya. Meski begitu dia senang, lelah dikakinya terasa setimpal dengan pencapaian mereka sejauh ini, serangan Trisatya yang berhasil mereka tahan, dan sebuah gol yang berhasil Riski ciptakan untuk sekolah mereka.


"Tenang saja serahkan pada kami di babak kedua nanti, kami akan menyerang mati-matian." Eril meneguk air minum dari botol. Dia memasang wajah serius meminta rekannya untuk percaya kepadanya.


......................


Saat istirahat babak pertama. Saat Dimas menjelaskan strategi kepada anak asuhnya. Dendy meminta agar Dimas memainkannya.


"Strategi seperti ini hanya bisa jika aku dimainkan!" Dendy memperlihatkan ekspresi serius. Dia benar-benar ingin bermain saat itu.


"Tapi Den ... " Dimas mencoba menjelaskan sesuatu kepada Dendy.


"Tidak ada tapi-tapian Bang! Aku ingin bermain juga pokoknya. Percuma abangku sendiri yang jadi pelatih tapi aku hanya di jadiin pemanas bangku cadangan." Dendy memotong perkataan dari abang kandungnya tersebut.


Benar, Dendy adalah adik kandung dari Dimas, pelatih muda yang digadang-gadang memiliki skill seperti Chandra.


"Karena itulah aku menerima tawaran untuk menjadi pelatih sepak bola ini! Agar aku bisa memastikan bahwa kau tidak akan bermain! Aku tidak ingin melihat adikku terluka lagi. Cukup saat pertandingan terakhirku di sekolah aku melihatmu terkena serangan jantung." Dimas berbicara dengan suara yang besar. Dia benar-benar marah kepada Dendy saat ini.


Dimas tidak pernah berniat menjadi pelatih Trisatya, namun dia harus menerima tawaran itu agar adik kandungnya yang memiliki tubuh lemah tidak bermain terlalu sering. Dia ingin menjaga Dendy dari apapun, yang berpotensi mengambil nyawa sang adik.


"Bang! Tolong! Aku mohon! Aku menyukai sepak bola! Kalau ada yang membuat aku semangat hidup dengan segala keadaan ku, itu adalah sepak bola! Aku bertahan untuk bermain ... bola lagi." Dendy menunduk. Air matanya menetes, lengan kanannya menekuk, menutup air mata yang nyaris jatuh.


Dia diam, pun dengan Dimas.


Dimas tau, dia paham dengan jelas, sebesar apa rasa cinta adiknya pada sepak bola.


Singkatnya ... Adik ku rela mati demi sepakbola.


Namun sayangnya takdir begitu kejam, Dendy diberikan bakat luar biasa, dengan rasa cinta yang dalam pada bola, tetapi diiringi tubuh yang lemah juga sebagai wadah jiwa penuh hasrat itu.


"Aku tau perasaanmu Den. Aku ingin memainkanmu kita sedang terdesak sekarang ini."


Dimas pergi ke luar ruang ganti. Dia mencari angin segar di luar.


Ia berada di area taman. Dimas mengeluarkan rokok dari saku celananya. Ia menatap langit biru, dengan sebuah batang rokok yang terselip diantara dua jarinya. Ia menghisapnya secara perlahan-lahan, sembari terus memikirkan keputusan apa yang akan ia buat.


Tenang rasanya. Itulah yang berada di pikiran Dimas saat ini. Diapun mengingat saat bermain bersama dengan Dendy sebelum Dendy di vonis penyakit gagal jantung. Itu benar-benar masa terindah Dimas selama hidupnya, bahkan lebih indah dibanding Dimas dinobatkan sebagai pemain terbaik di Kota.


Setelah habis mengisap sebatang rokok. Pikiran Dimas tenang, diapun langsung ke ruang ganti pemain memberikan arahan kepada anak asuhnya.


"Maaf sudah menunggu lama. Untuk babak kedua. Dendy akan bermain." Dimas menatap adiknya, kedua bola matanya tidak dia alihkan dari adiknya. Dimas masih khawatir dengan kondisi Dendy, tapi Dimas ingin melihat Dendy tertawa lagi bersama sepak bola.


......................


Tampak SMA Trisatya melakukan pergantian pemain. Dendy masuk ke lapangan menggantikan Bagas.


Dendy sangat bersemangat, wajahnya penuh hasrat ingin bermain bola, dia tidak sabar melangkahkan kakinya untuk berlari di tengah lapangan untuk mencetak sebuah gol nanti. Dalam sepersekian detik itu ia lupa, bahwa dia memiliki sebuah penyakit yang menjadi penghalangnya.

__ADS_1


"Siapa dia? Sepertinya dia striker." Al melirik fokus Dendy yang masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti. Al merasa tidak enak dengan masuknya Dendy.


Melihat wajah Dendy yang penuh semangat tanpa tekanan itu, membuat Al merasakan firasat sendiri. Firasat yang biasa dirasakan oleh seorang kiper terhadap striker.


"Kau ingat anak kelas 3 yang masih bermain di SMA Trisatya? Dialah orangnya." Demi menjawab rasa penasaran Al. Ridwan memberi tahukan bahwa Dendy adalah satu-satunya anak kelas 3 di ekskul sepak bola SMA Trisatya yang masih bertahan.


Satu-satunya anak kelas 3? Artinya dia lumayan jago.


Batin Al. Dia merasakan ada aura yang mengerikan dari Dendy, sulit dijelaskan dengan kata-kata, firasat itu datang sendiri secara natural. Firasat seorang kiper yang berhadapan dengan striker.


......................


Babak kedua dimulai.


Dendy sudah memasuki lapangan.


Kick off dimulai dari Bara.


*pritt


Peluit di bunyikan.


Bara memberikan bola kick off kepada Doni.


*sesh


Tanpa sadar, seolah secepat kilat, dalam sepersekian detik Dendy sudah berhasil merampas bola dari kaki Doni. Semua mata tertuju ke arah Dendy, kecepatannya benar-benar gila. Waktu seolah melambat, Dendy berhasil merebutnya dengan cepat.


Sangat cepat, hingga Doni sendiri tidak menyadarinya. "Ah, bolanya!"


"Wow kita liat perebutan bola dari Dendy. Sepertinya dia meniru Doni tadi ya." Ungkap komentator pertandingan


Tetapi walaupun tidak parkir bus lagi sepertinya pertahanan yang di pimpin Ridwan sangat sulit untuk ditembus.


Tidak ada pilihan lain, Dendy membuka tutup jari-jari tangannya seperti memberikan kode kepada Andy yang di belakang. Andy paham kode itu, ia pun langsung mendekati lari ke arah Dendy.


Menyadari Andy sudah berada di dekatnya. Dendy memberikan bola kepada Andy lalu lari ke depan, Andy mengoper balik ke arah Dendy ketika sudah melewati pemain bertahan.


Satu persatu lawan berhasil mereka lewatkan dengan permainan cantik umpan satu dua mereka. Hingga pada akhirnya mereka berhadapan dengan Ridwan.


Aura Ridwan seperti monster penjaga. Tatapannya serius menghadap ke bola yang berada di kaki Dendy. Semakin lama berpikir maka bola itu akan direbut pemain lainnya dari belakang, ya itulah yang dipikirkan oleh Dendy saat ini.


"Bang Den sini."


Dendy mendengar teriakan Andy dari sayap kanan. Melihat Andy kosong tanpa penjagaan Dendy melakukan umpan terobosan kepada Andy.


Umpan yang begitu cepat langsung melesat di kaki Andy dengan sempurna.


"Sialan kenapa dia kosong." Ridwan reflek lari ke arah Andy tanpa memikirkan Dendy.


"Jangan Bang Ridwan jangan kesana!" Al dari depan gawang berteriak, melarang Ridwan untuk menjaga Andy.


Benar saja Andy melakukan umpan silang yang terukur ke arah Dendy. Ridwan benar-benar tertipu kali ini.


Dendy langsung berhadapan dengan Al. Dendy dengan sekuat tenaga menembak bola ke arah gawang Al.

__ADS_1


Al memperlihatkan reflek gilanya kepada penonton yang meremehkannya. Al berhasil menutup ruang tembakan Dendy, ia merespon dengan baik tembakan itu. Al berhasil menangkis tendangan Dendy yang kuat.


"Boleh juga kau sialan."


Setelah masuknya Dendy, permainan dikuasai oleh SMA Trisatya. SMA 70 tidak punya kesempatan buat menyerang. Bahkan mereka tidak punya kesempatan untuk memegang bola. Trisatya benar-benar menunjukan kelasnya sebagai peringkat ketiga di Kota.


"Liat mereka hahaha. Babak pertama parkir bus. Babak kedua juga parkir bus." Chandra tertawa mengejek SMA 70 yang sedang menjadi bulan-bulanan SMA Trisatya.


"Tidak ini berbeda. Babak pertama mereka sepertinya sengaja memasang strategi parkir bus. Tapi babak kedua ini SMA Trisatya yang memaksa mereka parkir bus lagi." Sahut Wilson.


"Wah wah wah mas mas no 10 itu benar-benar menunjukan kelasnya ya." Ucap Chandra berbicara tentang Dendy yang merubah permainan SMA Trisatya.


Waktu pertandingan sudah memasuki menit ke 58. Walaupun menguasai pertandingan SMA Trisatya belum mencetak satu gol pun, tentu saja mereka juga frustasi dengan ini.


Sudah 13 menit pertandingan babak kedua berjalan tetapi kami tidak bisa mencetak gol satupun. Pertahanan mereka sangat kokoh dan saat berhasil melewati beknya kami harus melewati tembok besar di dalam diri kiper itu.


Batin Dendy. Dia frustrasi karena serangannya selalu gagal saking kokohnya pertahanan SMA 70.


Sudah 13 menit Den. Semoga kamu baik-baik saja.


Batin Dimas. Dia memantau kondisi Dendy dari bench pemain. Rasa khawatir belum hilang dari dirinya.


Dari tadi aku bermain aman terus agar jantungku tidak kambuh. Apa aku harus bermain seperti dulu. Aku takut jika tidak bisa bermain sepak bola lagi.


Batin Dendy. Dia bingung beserta takut tidak bisa bermain sepak bola lagi jika sakit jantungnya kambuh mendadak.Dia melihat tatapan Dimas dari bench pemain.


"Ah bodoh amat jika gak bisa main bola lagi. Yang penting aku harus bersenang-senang dengan sepak bolaku kali ini." Seakan menerima pikiran dari Dimas. Dendy akan bersenang-senang dengan sepak bolanya sekarang.


"Hei sini." Dendy mengangkat tangannya memberikan kode kepada rekannya untuk mengoper bola kepadanya.


"Oke saatnya serius. Nyalakan musiknya." Dendy menarik senyum smirknya. Tatapannya fokus ke arah gawang yang akan dia jebol nantinya.


Ridwan langsung menjaga Dendy di depan.


"Sini maju kalo bisa."


"Oke bersiaplah kapten kita lihat apakah kau bisa menghentikan teknik ku ini." Ucap Dendy. Aura membunuh keluar dari dalam dirinya.


Dendy mengolah bola dengan baik. Dia melakukan Marseili Turn untuk melewati Ridwan. Penonton kagum dengan skill yang di perlihatkan Dendy, begitu juga dengan komentator pertandingan.


"Wow marseili turn dia benar-benar seperti Zinedine Zidane kali ini. Kali ini Dendy berhadapan satu lawan satu dengan Al siapakah yang akan menangin duel kali ini?" Ungkap komentator pertandingan.


Dendy langsung melakukan tembakan ke arah Al. Seperti biasa dengan reflek gilanya Al berhasil menangkis tendangan Dendy. Al jatuh ke tanah dengan senyuman karena bisa menangkis tendangan Dendy.


"Nice Al." Ucap Ridwan memuji performanya Al.


"Jangan naif kalian." Ucap Dendy.


Melihat bola masih hidup Dendy dengan gercap ke lambungan tepisan Al. Dia memasang ancang-ancang untuk melakukan tembakan. Al sudah mati langkah dia masih tertidur di tanah.


Kesempatan emas Dendy bersiap-siap untuk menendang.


Al hanya pasrah tergeletak dirumput melihat Dendy akan menendang bola dari muntahan tangkisannya, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain meliat Dendy melakukan tembakan. Hanya keberuntungan yang bisa menyelamatkan gawang Al kali ini, berharap tendangan Dendy meleset dari target.


....

__ADS_1


"Huk huk huk." Dendy batuk darah dia tidak sempat menendang bola itu. Sepertinya penyakit jantung dendy kambuh akibat kelelahan.


"DENDY!!" Dimas langsung lari menuju adiknya yang sudah terkapar di tanah.


__ADS_2