
Tepisan Alfian menghasilkan tendangan sudut untuk SMA 70. Doni kembali menjadi eksekutor tendangan sudut.
Wilson tampak mundur untuk menjaga Ridwan yang di laga sebelumnya mencetak gol.
"Sundulan mu tadi sangat mengerikan kapten, tapi sayang di laga ini kau tidak akan ku berikan kesempatan untuk mencetak gol." Ucap Wilson kepada Ridwan.
"Bukankah kau striker Wilson? Kenapa kau ikut bertahan? Sana berdiri di kotak pinalti dan berharap ada rekan tim yang memberikan umpan kepadamu." Sahut Ridwan dengan sedikit tengil.
"Haha boleh juga lelucon mu."
Bola sudah di tendang. Beberapa pemain SMA 70 mencoba menjangkau bola itu dengan kepalanya. Tapi Alfian berhasil meninju bola itu dengan mudah. Bola menggelinding ke arah Chandra yang tidak ikut bertahan.
"Nice Alfian." Ucap Chandra memuji performa Alfian.
"Tinjuan yang sangat baik dari Alfian mengarah langsung ke arah Chandra berada. Jendral lini tengah Wismaraja kini memegang bola." Ungkap komentator pertandingan.
Wismaraja mencoba melakukan serangan balik. Para pemain belakang SMA 70 mencoba untuk balik ke posisinya untuk menghentikan Chandra.
Chandra merasa bebas karena Ridwan dan para bek lainnya belum kembali. Tapi, bak seperti pahlawan Riski langsung muncul di hadapan abang kelasnya saat SMP dulu.
"Sejak kapan kau disini?" Tanya Chandra.
"Aku ditugaskan untuk menjaga mu agar gak melakukan counter attack. Makanya aku gak masuk ke dalam kotak penalti." Sahut Riski.
"Bocah tengil sepertimu butuh waktu 10 tahun lagi untuk menghentikan ku." Ucap Chandra. Dia benar-benar membuktikan omongannya, dengan cepat dia berhasil melewati Riski.
Tetapi Chandra sepertinya tidak sadar bahwa Ridwan dan bek SMA 70 lainnya sudah kembali ke posisinya.
Sialan, anak itu hanya mengulur waktu untuk membiarkan rekannya kembali ke posisinya. Kali ini aku benar-benar terpancing olehnya.
Batin Chandra, dia kesal karena merasa ditipu oleh Riski.
"Perkuat pertahanan jangan sampai dia melewati kita." Ridwan memerintah rekannya untuk memperkuat pertahanan.
Riski melakukan tugasnya dengan baik. Jika dia tidak mengulur waktu mungkin Chandra sudah berhadapan dengan Al.
Batin Ridwan.
"Oi Chan kesini." Wilson berlari meminta bola kepada Chandra.
Chandra memberikan umpan matang kepada Wilson. Melihat itu Leo dan Ilham mencoba menghentikan Wilson sedangkan Ridwan masih mengawasi Chandra.
Kenapa si kapten itu tidak mengejar ku. Apa mereka meremehkan ku dan memberikan tugas kepada dua orang lemah ini.
__ADS_1
Batin Wilson. Dia sempat kepikiran tentang keputusan Ridwan yang tidak mengejar dia.
Leo dan Ilham berusaha mengejar Wilson yang mendrible bola.
Mereka berdua menunjukan hasil latihan selama ini.
Semakin dekat, Leo mencoba menahan Wilson dengan tangannya berharap itu bisa menghentikan Wilson.
Melihat itu, Wilson menjatuhkan dirinya ke tanah.
*prit..
Wasit langsung memberikan hukuman kartu kuning kepada Leo.
"Sit gada dorongan lo." Leo mencoba menjelaskan.
Wasit tidak menghiraukan itu. Leo tetap di ganjar kartu kuning serta Wismaraja mendapatkan tendang bebas.
"Kau diving sialan." Leo terlihat kesal dengan Wilson, ia merasa dicurangi.
Wilson menarik sudut bibirnya. Dia tersenyum melihat Leo terkena kartu kuning karenanya.
Ini bukan pertama kalinya Wilson diving. Saat pertandingan persahabatan Wilson menjatuhkan dirinya dan menghasilkan tendangan bebas yang berhasil dimanfaatkan Chandra menjadi gol. Tampaknya Wilson mulai menyukai taktik haram satu ini.
Chandra kini bersiap untuk melakukan tendangan bebas. Hanya berjarak 19 meter dari gawang yang Al jaga.
Al sudah bersiap-siap. Tampak dia memberikan intruksi kepada pagar hidup SMA 70.
Chandra bersiap menendang, dia mundur ke belakang untuk melakukan tendangan bebas.
Ridwan, Doni, dan Firja menjadi pagar betis kali ini.
*prit...
Wasit meniup peluitnya.
Chandra melakukan tendangan pisang yang bagus. Putaran dan lengkungan bola berhasil membuat Al tidak bergerak sedikit pun.
*Gol
"Gol... gol yang sangat cantik dari seorang Chandra Abinawa yang berhasil membuat Al Fein tidak bergerak sedikitpun. Ini gol terlalu bagus untuk seukuran anak kelas 11 SMA." Ungkap komentator kegirangan melihat gol spektakuler dari Chandra.
Lagi-lagi Al gagal dalam menepis tendangan bebas dari Chandra.
__ADS_1
Wismaraja unggul 1-0 dari SMA 70 dimenit 18 ini. Penonton bersorak bergirangan. Mereka tampak senang melihat Chandra mencetak gol.
"Sial." Al memukul rumput untuk melampiaskan kekesalannya.
"Baru 18 menit masih banyak waktu. Ayo semangat pertandingan baru saja dimulai." Ridwan mencoba menyemangati rekan-rekannya.
Sebelum kick off dilakukan. Pak Danang memanggil Doni ke bench pemain.
"Don, saya mau kamu menjaga Chandra. Jangan kasih dia kesempatan untuk memainkan bola. Kalo gak bisa menghentikannya buatlah dia frustrasi karena kamu ikuti terus. Jika diperlukan pelanggaran, lakukanlah dan hati-hati jangan sampai kena kartu kuning. Saya percaya sama kamu." Pak Danang memberikan kepercayaan kepada Doni untuk menghentikan Chandra.
"Yah Bapak bisa mempercayai ku. Sudah dua tahun aku bermain sebagai rekan setimnya. Aku tau cara untuk menghentikannya." Doni meneguk air minumnya. Mengelap bibirnya yang basah dengan tangannya. Dia serius ingin mengalahkan Chandra.
Bara menendang kick off. Pertandingan dimulai kembali.
Bola kini berada di para pemain tengah SMA 70. Pemain lainnya tampak bersiap untuk melakukan serangan. Tapi tampaknya SMA Wismaraja sudah menutupi jalur bola yang akan digunakan SMA 70 untuk mengumpan.
Febri pemain tengah SMA 70 yang memegang bola saat ini tampak bingung ingin mengoper ke arah mana. Melihat hal itu pemain Wismaraja langsung merebut bola dari kakinya.
"Sial."
Kini Wismaraja langsung menyerang dengan membabi buta. Tampak semuanya pergi ke arah gawang yang dijaga Al.
Ridwan mencoba menghentikan serangan itu.
*pus...
Ridwan berhasil merebut bola dari kaki pemain Wismaraja yang membawa bola. Dia langsung melakukan umpan lambung ke pemain depan.
Riski berhasil mendapatkan umpan lambung dari Ridwan.
Riski masih berada di dekat garis tengah lapangan. Tapi karena melakukan keasikan nyerang tampak SMA Wismaraja lupa dengan pertahanannya.
Riski mencoba menggiring bola itu dengan dibayangi oleh bek Wismaraja.
Ketika sudah hampir memasuki kotak penalti. Alfian keluar dari sarangnya. Menendang bola itu dari kaki Riski. Tabrakan terjadi, Riski terjatuh ke tanah. Tapi wasit tidak meniup peluitnya karena Alfian menendang bola bukan kakinya Riski.
"Hei kau serius lah dikit kan bisa menghindari ku. Kau juga bisa mencongkel bola itu jika kau hebat. Ups lupa kau kan cupu hahaha." Alfian mencoba memprovokasi Riski berharap dia bertambah kesal setelah menyianyiakan peluang emas yang diberikan Ridwan.
Riski kesal, dia menghentakkan satu kakinya, tangannya mengepal erat. Matanya tajam menatap Alfian, dia ingin marah tapi sialnya Riski sadar, dirinya juga salah. Kemarahannya tertahan di ujung lidah, ingin melampiaskan pada siapa? dia sendiri yang kurang mampu.
Jelas-jelas umpan yang Ridwan berikan begitu sempurna tadi, harusnya Riski bisa mencetak gol untuk timnya. Tapi sayang, dia gagal.
"Oh begitu ya? Kata orang, selama pertandingan belum berakhir, maka pemenangnya belum tau siapa? mungkin aja, beberapa menit lagi, si cupu ini yang akan mengobrak-abrik gawang mu." Riski menatap sinis Alfian di tempatnya. Kekesalan yang menumpuk, rasa malu dan amarah yang dia pikul, membuat badannya semakin membara untuk segera mencetak gol yang dijaga kiper bermulut ular itu.
__ADS_1