
*prit...
"Semua pemain masuk." Wasit meminta pemain bersiap untuk pinalti.
"Kapten." Wasit memanggil kapten dari kedua tim.
Wilson dan Ridwan sebagai kapten tim menghampiri wasit.
Mereka bersalaman untuk menjunjung sportivitas.
Sementara di gawang Alfian dan Al tengah bersiap siap.
"Hey lu, kenalan dulu kita." Alfian memberikan tangannya kepada Al. Dia merasa jiwa rivalitasnya bangkit setelah melihat Al, caranya menahan bola membuat Alfian cukup tertarik.
"Al Fien." Sahut Al sembari menjabat tangan Alfian. Al ingat, kiper Wismaraja ini cukup hebat, jika bukan karna karna dia yang cukup cepat, mungkin SMA 70 sudah mencetak gol yang lebih.
"Wah nama kita hampir sama. Sepertinya kita ditakdirkan untuk menjadi rival haha." Alfian mencoba bercanda dengan Al untuk mencairkan suasana diantara mereka.
"Tapi aku yang akan memenangi rivalitas kita." Ekspresi Alfian seketika berubah drastis, tatapannya serius, netra matanya tak bergetar.
"Rivalitas? Tapi, aku gak pernah menganggap mu rival tuh. Standar rival ku itu tinggi, sorry ya." Al melenggang begitu saja meninggalkan Alfian.
"Kok kesel ya?" Alfian tersenyum keji, dia sudah bertekad akan menahan segala bola yang datang padanya, dengan begitu Alfian bisa menunjukkan pada Al nilai dirinya, dan standar rivalitas sesungguhnya.
Hasil undian dari kedua kapten tim dan wasit menunjukan Wismaraja yang akan melakukan tendangan pinalti pertama.
Wilson menjadi penendang pertama Wismaraja kali ini.
Dengan percaya diri dia membawa bola ke titik putih.
Al sudah bersiap-siap di bawah mistar gawang.
*prit...
Wasit meniup peluitnya. Wilson menendang bola ke atas kanan gawang dengan keras sampai Al tidak dapat menjangkau bola tendangan Wilson.
Al menatap bola yang menembus gawangnya, padahal dia tadi yang mengatakan agar timnya percaya padanya. Padahal dia yang sudah mengatakan dengan sok keren kalau dia akan menghadang bola. Tapi bola pertama lolos begitu saja dari penjagaannya.
Cih! Riski pasti udah besar kepala nih.
Al menghela napasnya, dia memilih kembali fokus untuk menghadang tendangan-tendangan selanjutnya. Dia tidak boleh kehilangan konsentrasinya, karna bahkan, Chandra sang rival sendiri belum melakukan tendangan ke gawangnya.
Wismaraja unggul 1-0.
Penendang pertama dari SMA 70 diambil oleh Eril.
Alfian mencoba menganggu konsentrasi Eril.
"Nih gua akan lompat kesini." Ucap Alfian sembari menunjuk jarinya ke arah kiri gawang.
__ADS_1
Eril hanya diam tidak memperdulikan Alfian.
Eril melakukan tendangan ke kiri gawang. Dia menjawab tantangan Alfian. Sedangkan Alfian lompat ke sisi kanan. Wah, Alfian benar-benar terkena perangkapnya sendiri.
"Lo jual gue beli coy." Eril melirik Alfian dengan ekor matanya, jangan lupakan sudut bibirnya yang tertarik, jelas dengan tujuan memprovokasi sang kiper yang berani coba-coba adu ketengilan dengan dirinya.
Alifian berdecak kesal, baru saja dia bilang akan menghadang segala bola yang akan datang, sialnya dia kebobolan di tendangan pertama. Bahkan jika dia bermental baja sekalipun, gol pertama ini mampu mempengaruhi kepercayaan dirinya.
Skor kembali imbang 1 sama.
Penendang Wismaraja yang kedua sudah bersiap di kotak pinalti. Dia menendang ke arah tengah. Tapi Al berhasil menebak itu. Dia tidak bergerak dan berhasil menangkap bolanya.
Al tampak senang karena 1 saja penendang gagal di babak pinalti bisa berakibat fatal.
Skor masih 1 sama.
Ridwan menjadi penendang kedua SMA 70, dan sangat mudahnya dia berhasil mencetak gol kegawang Alfian.
Skor 2-1 untuk SMA 70.
David yang menjadi penendang ketiga Wismaraja juga sukses mencetak gol.
Skor kembali imbang 2 sama.
Doni menjadi penendang, penendang ketiga gagal melaksanakan tugasnya dengan baik. Bola yang ditendang Doni hanya terkena tiang gawang.
Skor masih 2 sama.
Tapi sayang, penendang keempat Wismaraja juga gagal memasukan bola ke gawang yang dijaga oleh Al
Skor masih 2 sama
Riski yang menjadi penendang keempat SMA 70 melakukan tugasnya dengan baik. Berkat gol Riski SMA 70 berhasil memimpin, dan berharap penendang kelima dari Wismaraja gagal melakukan tugasnya.
Riski menatap Al, dia menyombongkan dirinya. Al juga menarik sudut bibirnya tipis, memang tidak sia-sia menaruh kepercayaan pada anak itu.
SMA 70 3-2 SMA Wismaraja.
Kebahagiaan pemain tampak hilang setelah melihat Chandra yang akan menjadi eksekutor pinalti kelima Wismaraja.
Chandra membawa bola ke titik putih. Sesekali dia meletakan bola itu dikeningnya seakan meminta bola itu untuk masuk ke gawang Al.
Suasana saat itu menjadi hening ketika Chandra akan menendang. Chandra dan Al menunjukan ekspresi fokusnya mereka. Hasrat ingin juara tergambar di benak mereka.
Al dan Chandra memikul beban yang sangat berat, ini kesempatan juara bagi Al dan SMA 70, dia harus menggagalkan tendangan pinalti dari Chandra. Begitu juga dengan Chandra, jika dia gagal maka habislah sudah.
Chandra mundur untuk mengambil ancang-ancang.
*prit...
__ADS_1
Wasit meniup peluitnya.
Fokus fokus perhatikan bolanya, tatap pergerakan matanya, gunakan insting untuk menghadang bola.
Batin Al.
Chandra menendang bola ke arah kanan gawang. Bola sedikit naik ke atas.
Al sudah memprediksi itu. Dengan insting tajamnya ditambah refleknya yang cepat dia berhasil menangkis bola itu menggunakan ujung jarinya. Walau hanya sedikit, tetapi itu cukup membuat putaran bola keluar dari lapangan.
Prit... prit... prit...
Para pemain SMA 70 berlari menuju ke arah Al, mereka bangga, sorak-sorai ramai, terutama Riski yang menjadi pemimpin selebrasi. Soal meledek tim lain, jangan diragukan, Riski dan Eril mendadak sangat kompak.
"Mantap Al kita juara."
"Penyelamatan yang bagus Al."
Pujian dari pemain SMA 70 untuk Al yang sudah mengantarkan SMA 70 menjadi juara.
"Yakali udah sok keren begitu gajadi menang." Tambah Riski, Al sih cukup tersenyum saja, Dia masih merasakan sensasi menyenangkan dari menahan bola itu, apalagi ekspresi Chandra yang tampak agak frustasi karna bola itu tidak berhasil menembus gawangnya.
Singkatnya, Al puas dengan segala hasilnya.
Sementara di Wismaraja ekspresi sedih terlihat diwajah pemain. Kesal, sakit, kecewa semua tercampur menjadi satu. Mereka yang di unggulkan menjadi juara malah harus bertekuk lutut di hadapan tim kuda hitam SMA 70.
"Wismaraja kalah? Yang benar saja ini gak mimpikan?"
"Tim kecil seperti SMA 70 bisa mengalahkan Wismaraja yang tim unggulan? Gak percaya aku ini setingan kayaknya. Ada yang ngatur ini turnamen sepertinya."
Ungkap dari beberapa penonton yang tidak percaya SMA 70 menjadi juara.
"Itulah kalian tidak boleh menanggap remeh tim non unggulan. Ayo Nando kita pulang." Ucao Ferza lalu meninggalkan tribun penonton.
Dengan skor adu pinalti 3-2 membuat SMA 70 menjadi juara di turnamen mini ini, dan menjadi tim tamu pertama yang menjadi juara di turnamen ini.
......................
Waktu pembagian tropy pun dilakukan. Satu persatu pemain SMA 70 mendapatkan medali mereka.
Al dinobatkan sebagai kiper terbaik di turnamen ini.
Doni dinobatkan sebagai pemain terbaik.
Sedangkan Chandra menjadi top skor dengan 3 golnya.
Ridwan sebagai kapten menerima piala dari panitia turnamen. Lalu menangkat piala bersama dengan rekan setimnya.
Merekapun mengangkat tropy kemenangan bersama-sama di atas podium.
__ADS_1
Tidak begitu meriah, tapi tetap para penonton memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi kemenangan tim tamu ini. Baru kali ini ada tim tamu yang berhasil mengalahkan Wismaraja dan juga Trisatya.