
“ Arthur ”
“ Arthur, apa kau ada didalam ” panggil Masha, sejak setengah jam yang lalu ia sudah berada didepan pintu rumah Arthur, memanggil-manggilnya berharap pria itu membukakan pintu
“ Apa dia tidak ada dirumah ? ” gumam Masha, bertanya pada dirinya sendiri
Masha pergi dari sana dan menuju kesamping rumah, seingatnya ada jendela kecil disana yang bisa ia masuki.
“ Ahh ini dia jendelanya ” Masha berusaha naik keatas papan kayu untuk bisa menggapai ujung jendela. Untung saja papan kamu itu lumayan tinggi, sehingga bisa dijadikan pijakan.
Masha mulai membuka jendela tersebut dan memasukkan seluruh tubuhnya kedalam, ia telah berada didalam rumah milik Arthur.
Masha mulai jalan mengendap-endap, mendekati kamar milik Arthur. Ternyata pintunya tidak terkunci, dengan langkah lebar Masha masuk kedalam sana.
Awal yang Masha lihat, setelah masuk kesana adalah botol minuman yang berceceran serta asap rokok yang bertebaran.
Makin masuk kedalam, penciuman Masha langsung disuguhi oleh bau alkohol yang sangat menyengat.
“ Arthur, apa kau baik-baik saja ? ” ujar Masha, kondisi yang sangat gelap membuatnya tidak bisa melihat Arthur ada dimana. Kecuali botol dan asap rokok yang berada tepat dijalan masuk.
Masha cemas karena tidak ada jawaban dari Arthur, kamar Arthur sangat luas menyebabkan Masha sulit untuk menemukan keberadaannya.
“ Argh ” Masha merintih kesakitan, ketika merasakan sebuah pecahan kaca menembus telapak kakinya.
Masha mendudukkan dirinya dengan perlahan, ia menajamkan penglihatannya untuk melihat kondisi kakinya yang jauh dari kata baik, pecahan kaca tadi berukuran lumayan besar dan menancap sangat dalam.
Dengan tangan yang gemetar dan cahaya yang minim, Masha berusaha menarik pecahan kaca yang menancap di telapak kakinya.
“ uhh...Argh ” pecahan kaca tersebut sudah ditarik keluar. Masha merasa lega namun disisi lain, darah mengalir dengan deras dari luka yang terbuka itu.
Masha merobek tangan bajunya lalu mengikatkannya pada luka tadi, agar darahnya berhenti mengalir.
Memaksakan dirinya untuk bangkit, Ia mulai berjalan tertatih kearah depan.
“ Arthur ”
Masha terus berjalan tertatih, sambil memegangi tembok yang berada disampingnya.
Duk....
Lutut Masha terasa nyut-nyutan, ketika tanpa sengaja ia menabrak papan yang ada didepannya.
Masha mulai meraba sesuatu didepannya, ternyata itu adalah kasur tapi atasnya kosong. Padahal Masha berpikir Arthur sedang tidur sehingga tidak menjawab panggilannya.
Masha menghela napasnya, telapak kakinya masih terasa nyeri. Ia memilih duduk ditepi kasur, mungkin Arthur memang tidak ada di kamarnya.
Cklek.....
Lampu menyala secara tiba-tiba, Masha harus mengedipkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
“ Masha apa yang kamu lakukan disini ” seru Arthur, ia cukup terkejut ketika melihat ada Masha di kamarnya, ditambah lagi darah yang ia lihat sebelumnya.
“ Astaga kakimu berdarah, akan aku ambilkan obat agar tidak infeksi. Tunggu dulu disitu ” ujar Arthur
__ADS_1
Arthur mulai membuka laci mejanya, mengambil obat merah dan perban. Meletakkannya diatas tempat tidur kemudian berlalu kearah kamar mandi.
Arthur keluar dari kamar mandi sambil membawa mangkuk berisi air dan sebuah handuk kecil yang bersih.
“ Maaf, kakimu aku angkat sebentar ” ujar Arthur
Dengan telaten, ia mulai membuka kain yang menutupi luka Masha lalu membersihkan luka itu dengan handuk kecil yang basah. Setelah itu meneteskan obat merah yang sempat ia bawa.
“ Uhh ” mendengar rintisan yang keluar dari mulut Masha, membuat atensi Arthur teralihkan
“ Tahan sebentar ini akan terasa perih ” jelas Arthur dan kembali meneteskan obat
Untuk sentuhan terakhir, Arthur menutupi luka tadi dengan perban, hingga semua permukaan luka yang terbuka dapat tertutupi dengan baik.
“ Terima kasih ini sudah lebih baik ” seru Masha tersenyum tulus
Arthur membereskan semua, meletakkan kembali alat-alat tadi kedalam laci. Setelah itu Arthur jalan mendekati Masha.
Tapi Arthur terlalu fokus melihat kedepan, sampai-sampai ia tidak menyadari ada botol dibawah kakinya. Arthur menginjak botol tersebut membuat ia kepeleset dan jatuh kearah depan.
Duk....
Arthur membuka matanya dengan perlahan, ia melihat Masha yang berada dibawahnya, mata keduanya bertemu dan saling mengunci.
Ntah mengapa tubuh keduanya jadi membeku, Masha tidak mau bangun dari posisinya dan Arthur juga begitu. Kejadiannya begitu cepat membuat kepala mereka seketika kosong.
“ ARTHUR!!! ”
Buak....
Dengan membabi-buta, Tio terus melayangkan pukulan kearah wajah Arthur, Arthur hanya pasrah menerima pukulan dari Tio.
Darah mulai keluar dari hidung Arthur, Tio sama sekali tidak mau menghentikan pukulannya.
“ Tio berhenti !!! Dia bisa mati ” teriak Masha
Tio sama sekali tidak mengindahkannya, darahnya sudah mendidih, ia terus saja menghujamkan beberapa pukulan.
“ Tio, sudah berhenti ” ujar Masha
Ia mulai mendekati Tio yang sedang memukuli Arthur lalu memeluknya dari belakang, berusaha menenangkan suaminya tersebut.
Tio mulai melunak, ia berhenti memukuli Arthur dan mengatur ritme napasnya. Perlahan Tio melepaskan tangan Masha yang melingkar diperutnya.
“ Dengarkan dulu penjelasan ku ” pinta Masha, matanya sudah mulai memerah
“ Apa yang harus dijelaskan, aku melihat semuanya. Apa itu bisa menipu ” seru Tio dengan suara rendah
Masha menjatuhkan kepalanya di dada Tio, ia mulai terisak “ Iya terkadang apa yang kamu lihat tidak benar ”
Tio menghembuskan napasnya perlahan, ia mulai memeluk Masha “ Maaf ” serunya lirih
Tio melepaskan pelukannya, memegang kedua pipi Masha untuk menghadap kearahnya lalu menghapus air mata yang keluar dari sana.
__ADS_1
“ Jangan menangis. Itu membuat hatiku terasa tersayat ” ujar Tio
Mereka saling bermesraan diruangan tersebut, melupakan keadaan Arthur yang tengah babak belur.
Setelah tangisan Masha berhenti, ia mulai menceritakan semua kejadian yang tadi kepada Tio, seketika Tio menjadi kikuk. Ternyata ia sudah salah paham.
“ Maafkan aku Arthur ” ujar Tio sambil memeluk Arthur erat
“ Iya, lepaskan aku. Aku sulit bernapas ”
Tio melepaskan pelukannya pada Arthur, ia berjalan mendekati laci untuk mengambil obat. Sekarang ia harus mengobati wajah Arthur yang lebam akibat dirinya.
Tio mulai menekan-nekan kapas yang sudah ia lumuri obat kearah lebam Arthur. Sangat pelan sampai-sampai Arthur tidak merasakan apa-apa.
“ Sudah selesai ” seru Tio sambil membereskan kapas-kapas tadi
“ Aku tidak akan mengucapkan terima kasih karena ini salahmu, sekarang belikan aku makanan ” perintah Arthur sambil memberikan 3 lembar uang kepada Tio
“ Kamu tidak akan macam-macam dengan istriku kan ? ” tanya Tio penuh curiga
Arthur menaikkan sebelah alisnya “ Kamu lupa aku tidak tertarik dengan wanita ”
“ Siapa tau kamu sudah menuju jalan yang benar ” ujar Tio mengambil uang tersebut dan berjalan keluar
...****************...
Hening, hanya satu kalimat tersebut yang bisa menggambarkan suasana didalam sana. Baik Arthur maupun Masha hanya diam belum ada yang mau buka suara.
“ Maaf Arthur karena aku kamu_ ”
“ Sudahlah ” ujar Arthur memotong ucapan Masha
“ Masha apa ini pertama kalinya kamu melihat Tio semarah itu ? ” tanya Arthur ia mulai membaringkan tubuhnya
Masha hanya menanggapi dengan anggukan membuat Arthur mengernyitkan dahinya.
“ Apa Tio pernah menceritakan tentang masa lalunya, atau kamu tau siapa Tio sebenarnya ” seru Arthur dengan suara pelan diakhir
Masha menggeleng lagi, ia penasaran tentang Tio yang sebenarnya. Jadi Masha mendekatkan tubuhnya kearah Arthur.
“ Ceritakan apa yang kamu ketahui Arthur ” ujar Masha setengah berbisik
“ Aku takut hubungan kalian berdua akan rusak, biarkan Tio sendiri yang jujur ” seru Arthur tegas
Masha cuman mengiyakan namun dalam hatinya sangat penasaran, sebenarnya bagaimana masa lalu Tio ?
“ Intinya kamu harus hati-hati, yah walaupun Tio itu kekasihmu. Jangan sampai lengah” perintah Arthur
Setelah berkata seperti itu, pintu terbuka menampilkan Tio dengan sebungkus makanan yang berada ditangannya.
“ Ini sekarang aku akan membawa Masha pulang ”
“ Yah pergi sana, aku muak melihatmu ”
__ADS_1
Tio lalu menggenggam tangan Masha dan membawanya keluar dari kediaman milik Arthur.