
Matahari terbit dari ufuk timur, cahayanya yang hangat membuat seorang wanita terbangun dari tidurnya.
Masha menggeliat diatas kasur, lalu bangun dari tidurnya setelah mengucek matanya sebentar.
Ia meraih ponselnya dan melihat kotak pesan, ternyata tidak ada satupun pesan dari Tio, membuatnya mendesah kecewa.
Masha lalu melempar ponselnya diatas kasur, berlalu menuju kamar mandi.
Dibawah guyuran shower, Masha memikirkan kembali mimpi buruknya tadi malam. Mimpi yang terasa sangat nyata, bahkan mungkin bisa dibilang suatu pertanda.
“ Aku mikir apaan sih, mimpikan cuman bunga tidur ” gumam Masha, mematikan shower lalu mengambil handuk dan dililitkan pada tubuhnya.
Setelah itu Masha mengambil pakaian kerjanya, lalu mengenakannya dan berjalan keluar rumah. Tidak lupa ia menutup pintu terlebih dahulu.
...****************...
Masha duduk dimeja kerjanya, memandangi bukti-bukti yang dapat menjadi petunjuk keberadaan Mika, sambil sesekali menulis pada sebuah buku.
“ Kota xy, apakah aku harus pergi kesana? ” tanya Masha kepada dirinya sendiri
Karena menurut Masha, hampir semua bukti yang ia peroleh menunjukkan kota tersebut. Selain itu Karl juga pernah bercerita tentang kerjasama awalnya dengan Mika, dilakukan disana.
“ Iya aku harus kesana ” gumam Masha, membulatkan tekadnya
Ia memasukkan semua bukti yang ada kedalam tas ransel miliknya. Pagi ini juga ia akan berangkat menuju kota xy.
Namun sebelum itu, Masha terlebih dahulu harus memberitahukan kepergiaannya kepada Arthur.
“ Masha, mau kemana ? ” tanya Lyra yang melihat Masha terburu-buru
“ Aku ingin meminta izin melakukan penyelidikan dikota xy, karena menurutku semua bukti berhubungan dengan kota itu ” jawab Masha
“ Apakah aku boleh ikut? ” tanya Lyra lagi
“ Tidak perlu, kamu dibutuhkan disini Lyra. Siapa tau ada kejadian-kejadian janggal ”
Masha kemudian pergi meninggalkan tempat kerjanya, setelah mendapatkan anggukan kecil dari wanita cantik tersebut.
Dan disinilah Masha berada sekarang, kantor walikota yang berada tepat ditengah-tengah kota.
Masha berjalan melewati para penjaga diluar, ia melemparkan senyum untuk mereka, supaya dirinya tidak terlihat tegang.
...****************...
“ Tuan Arthur, ada yang mencari anda ” seru salah satu penjaga
“ Minta dia masuk! ” perintah Arthur
Setelah mendapatkan izin, penjaga tadi meminta Masha untuk masuk sendiri kedalam.
Dengan tangannya yang gemetar, Masha mendorong pintu kayu tersebut.
“ Masha, aku pikir siapa tadi ” kata Arthur yang melanjutkan kegiatan menulisnya
__ADS_1
Masha duduk didepan Arthur, ia menghirup napas panjang terlebih dahulu, sebelum menceritakan alasan kedatangannya disini.
“ Arthur aku ingin mencari Mika dikota xy, karena menurut bukti yang aku temukan, kemungkinan besar Mika berada dikota tersebut. Jaraknya lumayan dekat, jadi menurutku tidak ada salahnya ”
Arthur tertegun mendengar penuturan Masha, sorot matanya berubah tajam, ia menatap Masha dengan pandangan dingin.
“ Jangan pergi kesana, setiap orang yang menginjakkan kaki dikota ku tidak boleh mengunjungi kota itu ”
“ Tapi kemungkinan besar Mika ada disana, jika ingin kota ini kembali aman. Kita harus secepatnya menangkap Mika ” jelas Masha, berusaha menyakinkan Arthur
“ Tidak boleh, apapun alasannya kamu tidak bisa pergi kesana ” tolak Arthur tegas
Masha menatap Arthur kecewa. Tanpa permisi, ia berlari meninggalkan ruang kerja Arthur.
“ Menemuinya hanya membuang-buang waktu, lebih baik aku pergi langsung dari tadi. Menyebalkan ” gerutu Masha
Ia terus berjalan kembali menuju penginapan, Setelah sampai ia berlari menuju kamarnya untuk mengambil barang, lalu turun kebawah memanaskan mesin mobil terlebih dahulu, kemudian menjalankan mobilnya menuju kota xy. Hanya berbekal bukti dan tekat.
Jarak kota xxx dan kota xy sangat berdekatan, hanya dipisahkan oleh sebuah jembatan. Jadi, Masha hanya butuh waktu sejam untuk sampai dikota xy.
“ Uhh disini sangat panas ” gumam Masha sambil menutup wajahnya yang terkena sinar matahari langsung
Masha memarkirkan mobilnya didepan salah satu kawasan apartemen, tempat yang akan ia tinggali selama melakukan penyelidikan.
Setelah melakukan pembayaran dimuka, Masha dapat menempati apartemen barunya. Ia mengatur semua barang bawaannya, yang sempat ia bawa.
“ Aku belum memberitahu Tio, dia pasti mencari ku ” Masha meraih ponselnya, kemudian mengetik beberapa pesan untuk Tio
...Tio ...
^^^ [ Mungkin akan memakan waktu yang lama, jadi aku menyewa apartemen, tepat dipusat kota ] ^^^
^^^ [ apartemen wolf, kamar 6. Itu nama apartemenku ] ^^^
Tidak lama setelah mengirim pesan tersebut, pintu apartemen milik Masha diketuk.
Masha menggenggam erat ponselnya sambil berjalan menuju pintu apartemen. Ia langsung membukakan pintunya, mengira yang mengetuk pintu adalah orang kamar sebelah.
Dirinya dibuat terkejut, ketika melihat sosok Tio dengan keringat yang bercucuran berdiri tepat didepannya.
“ Kamu langsung kesini” seru Masha, disatu sisi ia heran dengan kedatangan Tio namun disisi lain ia cukup senang
Tanpa menjawab, Tio langsung mendorong Masha untuk masuk, lalu mengunci pintu apartemen tersebut.
“ Pergi dari kota ini, sekarang! ” perintah Tio dengan suara dingin
Membuat Masha ketakutan, namun ia tidak akan meninggalkan kota ini, sebelum menemukan keberadaan Mika.
“ Aku tidak mau ” tolak Masha dengan suara pelan
Tio memandang kearah Masha dengan datar, kemudian ia berjalan mendekat dan memegang dagu Masha agar menghadap kearahnya.
“ Dengar baik-baik, segera tinggalkan kota ini. Sebelum hal buruk terjadi ”
__ADS_1
Masha menggeleng sebagai bentuk penolakan, membuat kesabaran Tio habis dan melepaskan dagu Masha dengan kasar.
Tio mulai melampiaskan kemarahannya pada barang-barang disekitar, ia membanting semua yang ada didepannya.
Masha yang melihat hal tersebut hanya bisa meringkuk sambil terisak di sofa. Ini pertama kalinya ia melihat perilaku Tio yang sangat berbeda.
“ Dimana kamarmu? ” tanya Tio, setelah puas menghancurkan seisi rumah
Dengan tangan gemetar, Masha menunjuk ke salah satu pintu yang berada diujung ruangan.
Melihat arah jari Masha, Tio langsung bergegas masuk kedalam kamar tersebut dan menutup pintunya.
“ Astaga, aku harus membersihkan ulang ” keluh Masha ketika melihat ruangan yang telah berubah menjadi kapal pecah
Masha mulai mengambil sapu, membersihkan bekas pecahan kaca dengan sangat hati-hati. Kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibuang ketempat sampah.
...****************...
“ Akhirnya selesai ” ujar Masha meregangkan jari-jarinya
Lalu berjalan kearah kamarnya untuk melihat keadaan Tio.
Dapat Masha lihat Tio yang sedang tertidur dengan wajah polosnya, Masha mendekatinya sambil mengusap wajah polos itu. Sama sekali tidak ada pergerakan, Tio masih merasa nyaman dalam tidurnya.
“ Wajah ini terlihat sangat berbeda dengan yang tadi ” seru Masha tersenyum
Masha berjalan keluar kamar, ia ingat niat awalnya kesini adalah mencari keberadaan Mika.
Dengan memakai topi dan masker, Masha meninggalkan apartemen miliknya. Ia akan berjalan mengitari kota ini terlebih dahulu.
“ Harus jalan kemana dulu yah ” gumam Masha bingung
Tepat didepannya lewat sebuah rombongan, Masha menepuk pundak seorang anak kecil yang kebetulan berada didekatnya.
“ Mau kemana rombongan ini ? ” tanya Masha kepada anak itu
“ Kami akan menuju gedung walikota, ada sebuah pertunjukan menarik disana ” jelas anak kecil tersebut
Mendengar kata walikota membuat otak Masha berputar, ia memilih mengikuti rombongan tersebut. Berharap dapat menemukan Mika ditempat seramai itu.
Sedangkan ditempat lain, Tio baru saja bangun dari tidurnya.
Ia melenguh kecil, lalu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Masha.
“ Masha ” teriak Tio namun tidak ada sahutan
Lalu Tio mencarinya di seluruh penjuru apartemen, mulai dari dapur, kamar mandi dan ruang tamu tetapi ia sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan Masha.
“ Jangan bilang dia keluar. Aku harus cepat menemukannya ” ujar Tio
Kakinya mulai melangkah keluar sambil berlari tergesa-gesa.
Tio menanyai semua orang yang ia temui tentang keberadaan Masha “ Maaf nyonya, apa anda melihat wanita ini? ” tanya Tio dengan menunjukkan foto Masha
__ADS_1
Wanita itu menatap sebentar lalu menggelengkan kepalanya, membuat Tio menghela napas kasar. Ini sudah yang kedua puluh enam kalinya ia bertanya kepada orang yang lewat.