
“ Tio bertahanlah ”
Dengan perlahan Masha membaringkan Tio disamping gedung apartemen. Setelah itu ia menatap Megan nyalang.
“ Maju aku tidak takut denganmu ” teriak Megan
Tanpa aba-aba Masha maju menyerang Megan dengan pisau ditangannya, pergerakan Masha yang gesit menyebabkan Megan sulit menghindar. Sehingga tangannya tergores pisau cukup dalam.
“ Hahahaha rasakan itu ”
Megan menatap Masha tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa terluka oleh manusia?
“ Apa kau mau tau satu hal? sebelum menjadi detektif aku terlebih dahulu bekerja sebagai pembunuh bayaran. Jadi tidak sulit untuk melumpuhkan mu ”
Merasa dirinya dalam bahaya, Megan berusaha kabur menjauh sembari memegang tangannya yang terluka.
“ Hei mau kemana kamu ”
Masha menyipitkan matanya, ia mencari posisi yang pas untuk melempar pisau tersebut agar mengenai kaki Megan.
Dan
Srek.....
Berhasil !, pisau tadi menancap tepat di bagian paha Megan, terdengar jeritan kesakitan darinya.
Tanpa berlama-lama Masha segera merangkul Tio, membawanya pergi dari area apartemen yang berbahaya tersebut.
****************
“ Aku mohon bertahanlah ”
Keadaan Tio jauh dari kata baik-baik saja, seluruh wajahnya sudah berwarna pucat pasi seperti tidak memiliki darah.
Melihat keadaan Tio yang semakin parah membuat Masha khawatir, ia menaikkan gas hingga kecepatan tinggi membelah jalan raya yang lumayan sepi.
Setelah sampai dirumah sakit, Masha terlebih dahulu menepikan mobilnya sebelum memanggil perawat untuk mengobati Tio.
“ Dia terkena tusukkan dari pisau beracun dok ” jelas Masha yang ikut membawa Tio
“ Baiklah, kami akan berusaha menyelamatkannya. Nona silahkan menunggu diluar ”
Dokter tersebut menghilangkan dibalik pintu perawatan bersamaan dengan Tio.
****************
Hening, itulah yang dapat Masha katakan saat ini. Ternyata rumah sakit sebesar ini tetap sepi jika sudah larut malam.
“ Tidak akan ada hantu kan? ”
“ Ahh aku bicara apa sih, keluar masuk hutan tengah malam berani masa menunggu sendiri dirumah sakit tidak berani ”
Tak ingin terus kepikiran hantu atau segala macamnya, ia memilih untuk membaca komik di ponselnya.
“ Kenapa komik yang keluar semuanya tentang hantu ? ” Masha berdecak sebal
Ia keluar dari aplikasi khusus komik tersebut dan pindah ke aplikasi lain.
Baru saja ia ingin mencoba aplikasi tersebut, namun tidak jadi karena suara ambulance mengalihkan atensinya.
__ADS_1
Karena penasaran Masha berjalan menuju suara ambulance tersebut, belum saja dirinya sampai, dari kejauhan sudah terlihat tenaga medis yang sedang berlari sambil mendorong bangkar.
“ Suamiku hiks...hiks ”
“ Anakku, mengapa Serigala tersebut harus menyerangnya ”
“ Serigala itu telah membunuh anakku juga , haaaa ”
Suara tangisan pilu terdengar dari tiga orang wanita yang tengah ditenangkan oleh seorang tenaga medis.
“ Nona anda harus tabah ” salah satu perawat disana mulai memberikan kata-kata penenang.
Masha menajamkan pendengarannya dari tadi dan telinganya baru saja menangkap kata yang paling dia cari ‘ Serigala ’.
Merasa ini merupakan petunjuk baru, Masha berjalan mendekati wanita yang tengah menangis tersebut dan duduk disampingnya.
“ Jangan terlarut dalam kesedihan, itu tidak baik untuk kesehatan anda ”
Seketika wanita itu menghentikan tangisnya yang terdengar hanya suara sesenggukan.
Penjelasan tentang kejadian tadi, mulai meluncur dengan sendirinya dari bibir pucat wanita itu tanpa Masha minta sedikitpun.
“ Seharusnya aku tidak datang ke kota itu lagi, suamiku jadinya harus menjadi korban dari keganasan Serigala ”
“ Maksudnya kota xy? Apa yang anda ketahui tentang kota itu ” tanya Masha rasa penasarannya menggebu-gebu.
Wanita itu merapatkan duduknya kearah Masha “ Kota xy menyembah Serigala dari dulu, mereka tidak mau memburu para Serigala. Walaupun kejadian seperti ini sering terjadi ” bisik wanita tersebut.
“ Aku sudah menduga bahkan akan ada korban, namun aku tidak menyangka hal ini menimpa suamiku ” seru wanita itu menatap sendu.
Ingin rasanya Masha memeluk wanita tersebut sebagai bentuk penenangan, tetapi ia takut akan dibilang lancang.
“ Apa kamu berasal dari kota xxx? ” pertanyaan wanita itu memecahkan keheningan.
“ Bukan. Aku adalah seorang detektif kebetulan aku ditugaskan disana, aslinya aku orang Palmdale ”
“ Itu hebat. Aku tebak kamu mengurus tentang kasus pembunuhan berantai ”
“ Bagaimana kamu tau ? ” tanya Masha cukup heran.
“ Berita selalu membicarakan tentang mu, pantas saja tadi aku melihatmu seperti tidak asing. Hahahaha ” wanita itu tertawa diakhir kalimatnya.
Hanya sebuah senyuman manis yang Masha tunjukkan, untuk menanggapi penjelasan wanita itu.
Sama seperti tadi, setelah itu tidak terdengar percakapan dari keduanya.
“ Nyonya, maafkan kami suami anda tidak dapat kami selamatkan. Luka yang ia dapatkan sangat parah, menembus hingga jantungnya. Menyebabkan terjadinya kebocoran ” Seru dokter tersebut sembari menghela napas.
“ Kami turut prihatin atas segala hal yang menimpa anda dan suami anda ” lanjut dokter tadi.
Seperti yang dibayangkan wanita tersebut, cepat atau lembat hal buruk ini pasti terjadi. Ia tersenyum dengan tenang berusaha menutupi semua kesedihan dihatinya.
“ Terima kasih dokter anda telah melakukan yang terbaik ”
Dokter tersebut masuk kembali kedalam ruangannya, meninggalkan Masha dan wanita tadi yang masih berdiri mematung.
“ Saya turut berduka cita mendengarnya ”
“ Hah, terima kasih ” wanita itu tersenyum manis kearah Masha
__ADS_1
Namun Masha tau senyuman tersebut hanyalah sebuah kebohongan belaka, aslinya wanita tersebut tengah menyembunyikan kesedihannya.
“ Maaf, tapi bolehkah saya bertanya satu hal tentang pembunuhan yang menimpa suami anda ? ” tanya Masha sopan
Wanita itu mengangguk, setelah mendapatkan persetujuan Masha mulai membuka bibirnya “ Pembunuh suami anda apakah seekor Serigala asli atau manusia Serigala? Maksud ku jika seorang manusia serigala, ada kemungkinan suami anda masih bisa hidup tetapi menjadi bagian dari mereka”
“ Aku ingat betul yang menyerangnya tadi adalah Serigala asli, Serigala peliharaan walikota xy ”
“ Jika yang membunuhnya adalah manusia Serigala aku tidak akan menangis, aku akan tetap menerimanya apapun wujudnya ”
Terharu ! Masha dibuat terharu oleh kata-kata yang keluar dari mulut wanita tersebut. Kata-kata terdengar sangat pasrah.
“ Dimana suamimu dirawat ? ”
“ Ruangan paling ujung ” tunjuk Masha kearah lorong yang remang.
“ Ayo aku temani kesana ”
Wanita tadi menarik tangan Masha untuk bangun, kemudian berjalan mengikutinya menyusuri lorong rumah sakit dengan pencahayaan yang minim.
Sesampainya disana wanita itu meminta Masha untuk duduk terlebih dahulu.
“ Terima kasih kau telah menemaniku dan menghiburku. Aku sungguh senang, apalagi jika ini memang hari terakhir bagiku ”
“ Anda bicara apa? tidak perlu sungkan, saya kebetulan melihat anda disana”
“ Kalau begitu aku ke toilet sebentar ”
“ Akan saya teman_ ”
“ Ah tidak perlu, takutnya nanti suamimu bangun dan dia membutuhkanmu ” tolak wanita itu sambil berlari kecil.
...****************...
Tiga jam sudah berlalu, wanita itu belum juga kembali menyebabkan rasa cemas pada diri Masha.
“ Apa dia pulang yah? ”
“ Tapi itu tidak mungkin masa tidak memberitahu ku, sebaiknya aku susul menuju toilet ”
Dengan langkah lebar Masha berjalan kearah toilet terdekat.
“ Nyonya ”
Tok...tok..tok...
Semakin panik ketika sudah lebih dari lima kali ketukan tetapi belum ada sahutan dari dalam.
Dengan kepanikan Masha berusaha mendobrak pintu tersebut, namun usahanya gagal. Jadi terpaksa ia harus meminta bantuan petugas rumah sakit.
“ Mundur Nona, akan saya coba dobrak ”
Buk...buk...buk
Setelah dihantam berkali-kali, akhirnya pintu tersebut terbuka. Perlahan petugas tadi mendorong pintu tersebut.
Sontak keduanya menutup mulutnya melihat keadaan wanita tersebut.
Tubuhnya yang terbujur kaku berada ditengah-tengah toilet dengan tali dilehernya dan lidah yang menjulur keluar.
__ADS_1
Yah.... Wanita itu menghabisi nyawanya sendiri.