
Masha bangun lebih awal dari pada Tio, sekarang ia tengah berada di halaman apartemen, membersihkan dedaunan yang berguguran.
“ Hei, namaku Megan. Siapa namamu? ” tanya sosok yang tiba-tiba ada didepannya. Seketika Masha terkejut dan menghentikan aktivitas menyapunya sebentar
“ Aku Masha ” Masha kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti
Megan tidak bertanya lagi, ia hanya sibuk memandangi Masha, dari atas hingga bawah dengan pandangan menelisik. Masha yang dipandang seperti itu merasa risih, ia mempercepat kegiatan menyapunya.
Setelah dirasa sudah bersih, Masha dengan cepat membalikkan badannya. Kemudian berjalan dengan langkah lebar, menjauh dari Megan yang masih terus menatapnya.
...****************...
“ Akhirnya aku tau nama wanita pengganggu itu ” batin Megan menyeringai
“ Nanti malam, aku akan bersembunyi lagi disana. Dan menghabisinya ”
...****************...
Masha bergegas masuk kedalam apartemennya, setelah masuk kedalam ia mengunci semua pintu dan menutup seluruh jendela.
Lalu menuju arah dapur untuk mengambil pisau. Sebagai bentuk perlindungan diri jika Megan datang menyerangnya.
“ Dia sudah pergi kan? ” monolog Masha, sambil mengintip dari arah jendela
Disana masih terlihat Megan yang berdiri diam, namun dengan tatapan membunuh kearah apartemennya.
Masha menelan salivanya dengan cepat. Sambil terus menatap kearah luar, menunggu Megan pergi dari sana.
“ Sedang apa ? ” tanya Tio, menepuk bahunya. Masha langsung terkejut dan menatap Tio dengan kesal
“ Wanita itu tad_ ”
“ Wanita apa? ” tanya Tio penasaran
Masha menatap Tio dan menggelengkan kepalanya. Mungkin hanya perasaannya saja, bahwa Megan mengawasi dirinya.
“ Kau benar-benar aneh ” kata Tio dan pergi dari hadapan Masha
Sedangkan Masha, ia ikut kemanapun Tio berjalan. Membuat langkah pria itu terhenti dan menatap Masha heran sembari menaikkan satu alisnya.
“ Ada yang salah denganmu. Apa kau sedang sakit? ” Tio menempelkan punggung tangannya di kening Masha. Mengecek suhu wanita tersebut.
“ Suhu tubuhmu Normal atau badanmu ada yang sakit? ” tanya Tio lagi
“ Aku baik-baik saja. Hanya ingin mengikuti kamu ” jawab Masha cepat, sebelum Tio semakin curiga
Tio memutar bola matanya, ada sesuatu yang sedang berusaha Masha sembunyikan. Ia harus segera mencarinya.
Meraih dompet diatas meja, Tio mengajak Masha untuk keluar dari apartemen. Awalnya wanita itu menolak, dengan alasan takut dikejar seperti kemarin, tetapi dengan segala paksaan dari Tio akhirnya Masha mau ikut.
...****************...
Mereka sudah sampai ditengah kota, suasana disini sangat ramai dan orang-orangnya sangat banyak, membuat kota ini terlihat padat.
“ Mau makan apa? ” tanya Tio
__ADS_1
“ Aku tidak tau apa saja yang enak disini, jadi aku ikut kamu saja ” jawab Masha
Tio menggandeng tangannya, mengajak Masha menuju kearah pedagang makanan pinggir jalan.
Tio mulai berbicara dengan pria yang menjual makanan tersebut, sedangkan Masha hanya menatap kearah jalanan didepannya.
Dari kejauhan ia melihat Megan yang menyeringai kearahnya. Masha mengucek matanya, untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah lihat.
Ia kembali melihat kearah depan, Namun Megan sudah tidak ada disana. Digantikan oleh sekumpulan orang yang sedang sibuk berlalu lalang.
“ Jangan melamun ! ” seru Tio mengibaskan tangannya didepan wajah Masha
Masha seketika tersadar dari lamunannya, ia menggelengkan kepalanya, lalu menatap kearah Tio yang sedang menunjukkan ekspresi khawatir.
“ Sebaiknya kita pulang ” Tio kembali menggenggam tangan itu, dan menariknya menjauh dari sana
...****************...
“ Tega sekali Masha tidak mengajakku, Edgar ayo kita kesana ” rengek Caroline sedari tadi
Edgar sudah menulikan pendengarannya, jadi ia sama sekali tidak menggubris keinginan Caroline.
“ Kalian tidak boleh kesana, itu sangat berbahaya ” larang Arthur
“ Kalau berbahaya, berarti kita harus cepat mencari Masha dan membawanya kesini ” saran Caroline
“ Jangan itu merepotkan, dia bisa pulang sendiri ” bantah Arthur menatap Caroline dengan tajam
Caroline mendengus kesal, tidak ada satupun orang yang mau membantunya mencari Masha. Padahal ia sudah dilanda rasa khawatir, mengingat Masha yang sudah 2 hari tidak menelponnya.
Caroline makin mempercepat langkahnya, ia benar-benar kesal dengan kedua pria itu sekarang.
Caroline menuju kearah pabrik, ia duduk disalah satu pohon besar yang ada disana. Sambil menggenggam ponselnya dengan erat. Dari tadi ia mencoba menghubungi Masha, namun hanya ada suara operator yang menjawab.
“ Apa yang kamu lakukan disini? ini daerah kekuasaanku pergilah ” usir William yang berada disampingnya
Caroline menatap kearah William dengan tajam, Mengapa semua pria hari ini sangat menyebalkan ?
“ Dasar menyebalkan, pergilah ! ” balas Caroline mengusir
“ Aku yang membangun tempat ini, berani sekali kamu mengusirku ” marah William
“ Mika yang membangun tempat ini, dan ia sama sekali tidak menganggap kamu sebagai adiknya lagi. Jadi kamu tidak berhak mengusirku ” Perkataan Caroline benar-benar menohok hati kecil William, semua yang Caroline katakan memang fakta
“ Terserah ” setelah berkata demikian, William berlalu meninggalkan Caroline
“ Tunggu ” Caroline berlari kearah Wiliam dan berhenti didepan pria tinggi itu “ apa kamu tau jalan menuju kota xy? ”
Seketika ekspresi William berubah menjadi serius, ia mendekatkan tubuhnya kearah Caroline.
“ Jangan berani datang kesana, atau kau akan mati ” bisik William
Caroline dibuat merinding seketika, suara William yang rendah dan dingin sangat menyeramkan, membuat auranya berubah.
“ Kenapa ? ” Caroline makin penasaran, ketika semua orang melarangnya pergi kesana
__ADS_1
“ Kau tidak perlu tau alasannya. Yang terpenting adalah jangan sekalipun coba menginjakkan kaki disana ” seru William dengan nada peringatan
Caroline mematung sejenak. Ia semakin takut nyawa Masha dalam bahaya, apalagi setelah tiga pria yang ia kenal, tidak mengijinkan dirinya pergi menuju kota tersebut.
Caroline kembali menghubungi Masha, sambil berharap telponnya diangkat. Tidak lama kemudian panggilan milik Caroline tersambung.
“ Caroline ada apa ? ” terdengar Masha bertanya dari sebrang telpon
“ Cepat kembali kesini, disana sangat berbahaya. Aku sangat mengkhawatirkan mu”*
“ Iya aku akan kembali, besok ” *
“ Tidak, kamu harus kembali sekarang juga* ”
Masha mematikan panggilan telponnya sepihak. Caroline hanya bisa berharap, permintaannya dikabulkan oleh Masha.
Sedangkan orang yang dikhawatirkan oleh Caroline, tengah membereskan barang-barangnya. Masha akan mengikuti keinginan Caroline untuk kembali ke kota xxx.
“ Tio, kita harus kembali sekarang. Nada Caroline terdengar khawatir, pasti tengah terjadi hal buruk disana ”
“ Baiklah ” Tio membantu meliput baju milik Masha dan meletakkannya didalam tas.
Dirasa sudah beres, mereka keluar secara bersamaan.
Sert....
“ Arg ” teriak Masha kesakitan, ketika sebuah pisau menggores dadanya
“ Jika aku tidak bisa mendapatkan Tio, kamu harus juga tidak boleh ” teriak Megan didepan mereka, dengan seringai yang menyeramkan
Tio menatap Megan dingin, sambil mengeratkan pelukannya pada Masha.
“ Perih Tio ” adu Masha meringis kecil
Megan mulai mendekati mereka, dengan pisau tajam ditangan kanannya.
Megan melempar pisau tersebut, niatnya ingin mengenai Masha. Namun Tio menghalanginya menggunakan tubuh besarnya.
Pisau itu menancap tepat di tubuhnya. Tubuh Tio lemas seketika, ternyata ujung pisau tersebut telah dilumuri dengan racun.
__ADS_1
Tangan Masha bergetar, menarik pisau yang menancap ditubuh Tio. Kemudian menatap pisau tersebut dengan pandangan nanar.