
Lorong rumah sakit yang awalnya sepi, seketika menjadi ramai, saat penemuan mayat seorang wanita didalam toilet, ada yang melaporkan.
Terlihat petugas kepolisian yang mulai berdatangan memeriksa TKP, tak lama setelahnya, garis polisi terpasang diarea toilet rumah sakit tersebut.
“ Apa Nona mengenal korban? ” salah satu polisi disana bertanya kepada Masha.
Lalu, Masha menjawab sambil menggelengkan kepalanya “ Kami tidak saling kenal, kemarin kebetulan saja bertemu. Saat dia menunggu hasil pemeriksaan suaminya ”
Wanita itu mencatat yang Masha katakan pada sebuah buku kecil “ Bagaimana dengan keluarga? Apa wanita itu, ada membahas tentang keluarganya? ”
Lagi, Masha menggeleng “ Tidak, dia bilang hanya berdua dengan suaminya. ”
“ Lalu apa saja yang anda bicarakan, apakah ada hal penting? ”
Pertanyaan itu membuat Masha terdiam sejenak, jika ia menceritakan tentang pembahasan kota xy, pasti akan terjadi sebuah bencana besar.
“ Kami tidak membicarakan hal-hal yang penting, hanya memberikan perkataan yang saling menguatkan satu sama lain. Karena keadaan suami kami sama, tengah terluka parah diatas ranjang rumah sakit ”
Kemudian polisi itu mencatatnya kembali.
“ Terima kasih banyak atas penjelasan anda, itu sangat membantu kami ” ucap polisi wanita itu sambil membungkukkan badannya sedikit.
“ Tunggu, apa anda mencatat kasus ini, sebagai bunuh diri? ” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Masha, mampu membuat polisi tadi menahan badannya yang ingin melangkah.
“ Iya. Sesuai dengan penyelidikan yang kami lakukan, hanya ada korban sendiri didalam toilet tersebut, tidak ada jejak kaki orang lain yang masuk kesana. Dugaan kami Korban mengakhiri hidupnya, karena suaminya telah meninggal ”
“ Seperti yang anda katakan, korban hanya berdua dengan suaminya.”
“ Kami pergi dulu, permisi ” kata Polisi itu sembari membenarkan posisi topinya. Dia langsung melangkah pergi dari hadapan Masha.
Di tempat tadi Masha masih setia berdiri, memandangi kepergian petugas polisi yang berjalan menjauhinya.
Ada setitik rasa tidak puas dihatinya, ia masih belum menerima kematian wanita itu disebabkan karena bunuh diri.
Selain itu, Masha juga merasa ada sesuatu yang janggal, seperti ada satu hal yang disembunyikan oleh para polisi. Tidak seperti investigasi biasanya. Yang ini terasa lebih asal-asalan dan terlalu cepat diambil kesimpulannya.
“ Dari mana dia mendapatkan tali itu yah? seingat ku, wanita itu berjalan ke toilet tanpa membawa apapun ” Batin Masha memicing curiga kearah garis kuning didepannya.
__ADS_1
Ingin rasanya, ia masuk kedalam dan memeriksanya sendiri. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai surat izin, dan bila memaksakan diri masuk itu sama saja dengan melanggar.
Masha mengalihkan pandangannya dari garis kuning tersebut, mungkin memang dirinya yang terlalu berpikir macam-macam. Mungkin memang, aslinya wanita itu mengakhiri hidupnya sendiri.
Meninggalkan tempat itu, Masha memilih kembali ketempat Tio dirawat.
...****************...
“ Ada yang sedang kamu pikirkan? ” tanya Tio, saat melihat Masha yang sedari tadi melamun.
Masha mengalihkan pandangannya dari jendela kearah Tio “ Iya. Aku masih memikirkan kematian wanita itu ”
“ Apa yang membuatmu ragu, bahwa itu bukan bunuh diri tapi pembunuhan? ” tanya Tio lagi, menghentikan kegiatan mengupas apelnya.
“ Pertama, aku ingat wanita itu tidak membawa apa-apa saat menuju ke toilet, namun ketika ditemukan tadi ada tali yang melilit di lehernya ” Jelas Masha sedikit heboh.
“ Mungkin kebetulan saja, ada sebuah tali disana. Akhirnya ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan tali itu ” ujar Tio berusaha berpikir positif. Dia mengira Masha akan setuju dengan pendapatnya, tetapi malah sebuah gelengan yang dia dapatkan.
“ Itu hal yang paling tidak masuk akal, siapa juga yang mau meninggalkan tali, di toilet rumah sakit. Atau, pihak rumah sakit sengaja menaruh tali disana? Itu lebih tidak masuk akal ”
“ Aku berusaha mengiyakan semuanya, namun otakku menolaknya. Seakan-akan otakku merasa, bahwa semua kejadian itu adalah rekayasa ” Jelas Masha. Sudah berbagi ekspresi yang ia gunakan, untuk menjelaskan ketidakpuasannya terhadap hasil investigasi.
“ Jangan terlalu banyak berpikir, nanti kulitmu cepat keriput ”
Satu kalimat yang Tio lontarkan diakhir, mampu membuat Masha melotot. Dengan cepat, ia meraih cermin didalam tasnya dan memperhatikan kulit wajahnya.
Sama sekali tidak ada tanpa kerutan disana, kulit itu masih sangat kencang dan terawat.
“ Kau berbohong ” kesal Masha memukul bahu Tio.
“ Siapa yang tau kedepannya, maka dari itu aku memberikan peringatan dari sekarang. Jangan terlalu banyak pikiran ” ujar Tio mengulang kata-katanya.
Menggigit bibir bawahnya, Masha merasa perkataan Tio ada benarnya. Tidak seharusnya ia terlalu ambil pusing tadi.
Kemungkinan, memang dirumah sakit perbatasan kota xy, menyediakan tali didalam toiletnya. Walaupun itu kedengarannya cukup aneh untuk diterima akal sehat.
“ Ayo kita pulang sekarang. Aku sudah merasa sehat ” ucap Tio bangun dari duduknya.
__ADS_1
“ APA? ”
“ Tidak, tidak. Kita akan pulang besok, sekarang kamu harus istirahat disini dulu. Sampai sembuh total. ”
Masha mendorong Tio kembali duduk kasurnya dan memaksa Tio agar istirahat untuk hari ini.
“ Bagaimana dengan Caroline? kamu sudah janji bukan ” tanya Tio, dia masih berusaha untuk membujuk Masha pulang.
“ Aku sudah menghubunginya, dah yah, dia tidak mempermasalahkannya ”
“ Tap_ ” Perkataan Tio terpotong, ketika sebuah potongan apel masuk kedalam mulutnya.
“ Jangan mencari alasan lagi. Aku tetap kukuh pada pendirianku, kita akan pulang besok hingga kamu sembuh ” seru Masha memasang wajah galaknya.
Tio mendengarkan Masha sambil mengunyah apel di mulutnya, mustahil jika dia bisa membantah keputusan Masha. Maka dari itu, Tio hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.
...****************...
Pada siang yang sangat terik ini, tepat pukul 2 siang. Seorang dokter masuk kedalam ruangan tempat Tio dirawat, sambil diikuti oleh suster dibelakangnya.
Kebetulan sekali suster itu membawa nampan berisi suntikan, serta beberapa ampul.
Bulu kuduk Tio seketika berdiri, ketika melihat berbagai macam jenis suntikan diatas nampan tersebut.
“ Aku tidak mau disuntik ” pekik Tio
“ Tenang saja Tuan, ini tidak sakit sama sekali. Rasanya cuman seperti digigit ” Jelas dokter tua itu sambil menunjukkan senyum malaikat, tetapi menurut Tio itu adalah senyuman iblis.
“ Tio aku mohon tenang, itu hanya sebuah jarum kecil ” ujar Masha menepuk keningnya, ia sudah bosan, melihat drama yang dilakukan Tio sedari tadi.
Meneguk salivanya dengan kasar, Tio lalu memejamkan matanya. Dia menyerahkan hidupnya pada dokter tersebut, terlalu hiperbola? memang benar.
Dengan perlahan, dokter tadi memindahkan cairan dari ampul kecil, kedalam suntikan berukuran 5cc tersebut.
Kemudian menyuntikkannya pada lengan Tio.
“ Tidak sakit kan Tuan. Silahkan buka mata anda ”
__ADS_1
Dengan perlahan Tio membuka mata kirinya dan diikuti dengan mata kanannya. Setelah itu, dokter dan suster tadi keluar dari sana.
Sedangkan Tio masih saja diam memang Sepertinya dia masih shock.