
Mengitari jalan setapak kota xxx yang ramai. Tio dan Masha masih bergandengan tangan, mereka berdua memutuskan, untuk berbelanja terlihat dahulu. Sebelum tiba di penginapan.
Kantong belanja, sudah memenuhi kedua tangan Tio, pemuda itu sempat mengeluh beberapa saat , dan mengajak Masha untuk pulang.
“ Kakimu sakit, ayo pulang ” ajak Tio, untuk yang kedua kalinya
“ Aku masih harus membeli sesuatu lagi ” ujar Masha yang masih melihat-lihat sekelilingnya
Tio hanya bisa menghela pasrah, ia lanjut mengikuti setiap langkah Masha, tentu saja dengan tidak bersemangat.
“ Aku ingin yang ini ” tunjuk Masha, pada salah satu dress transparan berwarna putih
Mendengar itu, seketika membuat Tio bersemangat, dengan cepat ia mengambil dress yang telah dibungkus, lalu menyerahkan sejumlah uang.
“ Masha cepat pulang sekarang ” seru Tio dengan nada memohon
“ Baiklah, lagipula aku sudah selesai ”
Pasangan tersebut, sampai didepan pintu penginapan, tangan Tio baru saja terulur untuk membuka ganggang pintu. Sebelum sebuah tangan besar, menghalangi niatnya.
“ Kalian masih berani tinggal disini? ” tanya seorang petugas berbadan besar, dengan melototi mereka berdua
“ Kami sudah menikah sekarang ” ujar Masha
“ Akan aku ambilkan buku pernikahan kami ” lanjut Masha, sambil berlalu masuk kedalam, meninggalkan Tio yang menjadi jaminan
Para petugas tersebut, terus menatap kearah Tio dengan tatapan membunuh, seolah-olah berkata “ Jika tidak ada, akan aku habisi kamu sekarang ”
Tidak lama, terdengar suara langkah kaki dari dalam, Masha keluar dan berdiri tepat didepan petugas, sambil mengangkat sebuah buku serta cincin kawin. Kemudian memberikannya kepada petugas.
Mereka mengambil benda tersebut, memeriksanya dengan teliti, lalu mengembalikannya kepada Masha. Setelah itu kedua petugas tadi pergi dari sana.
Masha menarik tangan Tio yang masih mematung masuk kedalam. Sesampainya didalam kamar, Masha mengunci pintu tersebut.
Berjalan kearah kotak kesehatan, lalu mengambil perban. Ia akan mengganti perbannya sekarang, kebanyakan berjalan membuat perban tersebut berubah warna.
Masha mulai membuka perbannya, dengan cara memutar. Kemudian memasang perban yang baru, dengan cara yang sama.
Selesai dengan urusan lukanya, Masha mulai mengeluarkan barang belanjaan tadi, meletakkannya di tempat yang semestinya, sampai semua kantong belanja tadi kosong.
Tangan Masha meraih dress transparan tadi, memperhatikan modelnya yang sangat cantik, baru pertama kali lihat, ia sudah dibuat terpikat oleh dress tersebut.
Begitupun dengan Tio, melihat Masha memegang dress tersebut, menyebabkan pikiran melayang kemana-mana.
Tanpa sadar, Tio mulai tersenyum-senyum sendiri. Masha yang melihatnya menaikkan satu alisnya.
“ Tio, kenapa sih? ” batin Masha bertanya
Masha mulai melipat dress tadi, meletakkannya di dalam lemari, lalu kembali naik keatas tempat tidur.
Seketika senyum Tio menjadi luntur, digantikan dengan ekspresi datar.
__ADS_1
“ Kenapa tidak jadi dipakai? ” tanya Tio
“ Itu hadiah untuk Caroline ” ujar Masha tersenyum tanpa dosa
“ Kenapa tidak bilang, biar aku belikan 2 tadi. Aku ingin melihatmu menggunakannya ” seru Tio dengan nada protes
Pipi Masha bersemu merah, setelah mendengar permintaan dari Tio. ia menepuk-nepuk pipinya, untuk menghilangkan rasa panas yang menjalar.
“ Apa-apaan yang kamu bicarakan, aku tidak paham ” kata Masha, sambil menutupi badannya dengan selimut
Tio memajukan badannya, menarik selimut yang Masha gunakan, dengan tujuan menggoda wanita tersebut.
“ Hahaha, kamu malu yah ” goda Tio, sambil terus menarik selimut tersebut, membuat Masha makin mengeratkan pelukannya
...****************...
Sebuah mobil, berhenti tepat didepan rumah tua yang terlihat tidak terurus, daun-daun kering mengotori rumah tersebut, sarang laba-laba dapat terlihat jelas dari luar, cat rumah juga mulai mengelupas. Menambah kesan angker dan seram dari rumah tersebut.
Kriet....
Karl membuka pintu pagar dengan perlahan, sangat perlahan namun tetap saja bersuara, karena pintunya yang telah berkarat.
Ia mulai berjalan masuk ke area rumah, kakinya selalu saja tanpa sengaja menginjak ranting-ranting kering, yang jatuh dari pohon besar.
Dari jendela rumah, terdapat sepasang mata yang tengah mengawasi gerak-gerik Karl, ketika Karl tepat didepan pintu, sepasang mata tadi menghilang secara tiba-tiba.
Karl merogoh sakunya, mengambil kartu nama yang diberikan oleh Mika, ia mulai menekan kunci pintu, sesuai dengan kode yang berada di kartu tersebut.
Karl mengetuk meja didepannya, menunggu kedatangan Mika, sambil menunggu ia mulai menghidupkan ponselnya untuk bermain game.
Ia sama sekali belum menyadari, sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya, mata tersebut mulai melotot tajam kearah Karl, kemudian tersenyum lebar, menampilkan gigi taringnya yang tajam.
“ Grrr ” terdengar suara geraman dari belakang, Karl langsung mengalihkan atensinya, dari ponselnya berpindah kearah belakang.
Terlihat Serigala mutasi yang sangat besar, dengan bulu berwarna silver, dan mata merah menyala menatap Karl dengan nyalang. Jangan lupakan giginya yang tajam, dengan lendir berwarna hijau. Menambah kesan mengerikan dari serigala tersebut.
Tapi itu semua tidak membuat Karl takut, ia mulai bangun dari kursinya, mendekat kearah Serigala mutasi tersebut, dengan tampang mengejek.
“ Jelek sekali dirimu ” ejeknya
Karl mulai mengeluarkan pistol dari sakunya, mengarahkan tepat didepan mata serigala mutasi tersebut.
Dor.....
Darah mengucur dengan deras dari mata serigala itu, erangan kesakitan keluar dari mulutnya.
“ Kamu bertemu lawan yang salah ”
Karl berlari sambil meloncat kearah Serigala tersebut , dengan tangannya yang selalu menembakkan peluru secara acak. Tubuh Serigala silver tersebut mulai mengeluarkan darah yang banyak, tidak ada perlawanan sama sekali. Serigala tersebut hanya bisa pasrah, merasakan kesakitan ditubuhnya, sampai nyawanya terenggut.
Tubuh besarnya jatuh ketanah, dengan mata yang masih melotot kearah Karl.
__ADS_1
Karl menyimpan kembali pistolnya, setelah memastikan Serigala tersebut telah tewas. Ia kembali berjalan kearah kursi tadi, dan kembali duduk dengan santai.
Tidak lama, terlihat Mika yang masuk sambil membawa seorang wanita disampingnya.
“ Bagaimana dengan serigala tadi ? ” Mika bertanya dengan basa-basi
“ Kau bisa lihat sendiri ” jawab Karl menunjuk Serigala tadi dengan dagunya
Dapat Mika lihat, seekor Serigala besar yang sudah tidak bernyawa, tergeletak dilantai ruangan dengan badan yang penuh dengan darah.
“ Hebat....hebat ” puji Mika bertepuk tangan
“ Tapi sayangnya, kamu sangat payah dalam menjaga 5 tawanan saja ”
Karl tidak mendengarkan perkataan Mika, ia terus fokus menatap ponselnya, yang tengah menampilkan permainan sepak bola.
“ Kamu tidak berubah, padahal sudah bertahun-tahun aku merawat mu ” ujar Mika mengacak rambut Karl
“ Silva, ambilkan map biru di kamarku ” perintah Mika
Wanita yang dipanggil Silva tadi, menganggukkan kepalanya dengan sopan, lalu berjalan kelantai atas menuju kamar Mika.
“ Apa dia ibu baruku lagi ? semoga saja dia memiliki niat, membersihkan rumah ini ” ujar Karl, yang masih sibuk menatap kearah ponselnya
“ Dia sekretarisku, ibumu tetaplah Hana ”
Karl tertawa kecil, ia mematikan ponselnya dan memberikan tatapan mengejek kearah Mika.
“ Dia meninggalkan mu, demi pria lain. Apa ayah lupa ? ” tanya Karl, tiba-tiba suaranya menjadi sendu
Mika menutup wajahnya dengan tangan, tentu saja ia mengingat hal itu. Tapi namanya juga cinta, membuat dirinya menjadi orang bodoh.
“ Kamu akan mengerti, saat merasakannya sendiri ”
“ Aku akan merasakan jatuh cinta, namun aku tidak akan sebodoh dirimu ” balas Karl sambil melipat kedua tangannya
...****************...
Silva datang dengan tergopoh-gopoh, sambil membawa map dikedua tangannya. Ia mulai meletakkan map tersebut didepan Mika.
“ Aku lelah mencarinya, semua map milikmu berwarna biru ” keluh Silva sambil mengusap peluh yang membasahi pipinya
Mika tersenyum manis kearah wanita itu, sebagai bentuk ucapan terima kasih.
Ia mulai membuka salah satu dari map didepannya, memperlihatkan isinya kepada Karl.
Dapat Karl lihat kode-kode aneh, tertulis dengan jelas pada isi kertas didalam map tersebut.
Karl mengambilnya, lalu membacanya, cukup sulit karena ia harus mengartikan kode-kode tersebut satu persatu.
Sampai akhirnya, Karl memahami isi kertas tersebut, ia awalnya nampak gelisah, namun mengingat rencana ini disusun oleh Mika, ia berusaha mempercayainya.
__ADS_1