
Malam semakin larut, kicauan burung hantu mulai terdengar semakin nyaring. Orang-orang yang bekerja di laboratorium sudah pada pulang, menyisakan Masha dan Caroline yang masih duduk dengan cemas dikursi.
“ Mereka lama sekali, sekarang sudah pukul dua malam ” ujar Caroline melihat kearah arloji dipergelangan tangannya.
“ Caroline. Semuanya akan baik-baik saja kan? ” tanya Masha sambil menggigit kukunya. Kekhawatiran terlihat jelas pada raut wajahnya.
Menetap Masha sekilas, sebelum menganggukkan kepalanya yakin. Caroline kemudian membawa Masha kedalam pelukannya. Dia sangat cemas dengan kondisi temannya sekarang, dengan muka kusut dan rambut berantakan. Masha sama sekali tidak mau beranjak dari tempat ini.
“ Dia kuat, aku yakin semuanya akan baik-baik saja ” Ujar Caroline memberikan semangat kepada Masha.
Masha makin menelungkupkan wajahnya pada bahu Caroline, menyalurkan semua rasa khawatirnya disana. Dia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini, rasa kecewa dan cemas bercampur menjadi satu.
Sementara Caroline sedang sibuk saat ini, tangan kirinya dia gunakan untuk mengelus kepala Masha, sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk memegang ponsel.
Yah. Caroline diam-diam tengah bertukar pesan dengan suaminya Edgar, mereka sudah melakukannya sedari tadi tanpa diketahui oleh Masha.
Sebenarnya Caroline ingin memberitahukan kepada Masha. Tetapi, Edgar melarangnya dengan alasan Masha akan semakin khawatir.
...****************...
Keadaan didalam tidak cukup bagus, sudah lebih dari tiga jam, Karl terus mencoba berbagai cara agar demam Tio turun.
“ Sudah ada perubahan? Apakah panasnya sudah turun? Makin membaik atau memburuk? ” tanya Edgar dengan pertanyaan beruntun, membuat Karl mengusap wajahnya kasar.
“ Aku tidak yakin, tapi ini sama sekali tidak ada perubahan. Padahal, aku telah melakukan semua jenis pengobatan. Memberikannya ramuan terbaik. Namun, hasilnya tidak berubah ”
“ Panggil dokter Serigala yang kamu kenal kesini, sekarang! ” titah Edgar mutlak
“ Tapi _ ”
“ Tidak ada tapi-tapian, cepat lakukan Karl aku mohon. Pasti ada satu atau dua dokter Serigala yang kamu kenal.” potong Edgar makin memaksa Karl.
Melihat keadaan pria didepannya yang sudah sangat-sangat menyedihkan, Karl pun meraih ponselnya dan menghubungi salah satu orang, yang merupakan seorang dokter khusus manusia Serigala.
“ Aku sudah menghubunginya, dia akan sampai beberapa menit lagi. Sekarang aku mau merokok dulu ” adu Karl bangkit dari duduknya, disusul oleh Edgar.
Kedua pria beda ras itu, keluar secara bersamaan dari balik pintu ruangan. Membuat kedua wanita yang sedang duduk menunggu seketika bangun.
“ Bagaimana? ” tanya Masha mendekati Karl
“ Maaf nona aku tidak sanggup menyembuhkan Tio, tapi tenang saja temanku bisa melakukannya, karena dia adalah seorang dokter sedangkan aku. Pengangguran ”
“ Lalu, mengapa tidak kamu panggil temanmu dari tadi? ” tanya Masha memicing curiga, ia masih tidak bisa sepenuhnya percaya dengan Karl.
__ADS_1
“ Karena tadinya, aku merasa sanggup ”
Karl mengambil korek gas di kantongnya, menyalakan rokok yang sedari tadi telah bertengger di mulutnya. Tidak lama, bau asap rokok mulai tercium dan membentuk gumpalan.
Deru mobil terdengar dari luar, memecahkan keheningan yang berada diruangan tersebut. Tiba-tiba....
Brak.....
Pintu ditendang dari luar dengan sangat keras, persis seperti adegan penggerebekan. Terlihat seorang wanita seumuran mereka berdiri disana, sambil berkacak pinggang.
Tatapan semua orang yang ada disana, langsung menuju kearah wanita itu. Caroline dan Edgar yang menatap bingung, sedangkan Masha dan Karl menatap datar.
Dengan langkah lebar, Masha maju kedepan, menarik rambut wanita yang masih berdiri didepan pintu.
“ Lepaskan rambutku, *****. ” marah Megan, membalas tarikan rambut Masha.
“ Hei, hentikan! ” Karl mematikan rokoknya, mendekati kedua wanita itu dan memisahkan mereka. Terlihat keadaan mereka berdua yang berantakan.
“ Aku tidak tau apa masalah kalian berdua. Namun, aku mohon tenanglah dulu ”
“ Masha, ini temanku Megan. Dia yang akan memeriksa keadaan Tio, dia sudah lama menjadi Dokter. Jadi kau tidak perlu ragu lagi”
Masha membulatkan matanya tidak percaya, ia mundur perlahan sambil menggelengkan kepalanya.
“ Apa maksudmu Masha? ” Karl sama sekali tidak paham. Tio tengah berbaring sakit karena ulah Megan?
“ Akan aku jelaskan nanti. Sekarang nyawa Tio lebih penting ” ujar Megan, masuk kedalam ruangan pribadi Edgar.
Karl menahan langkah Masha yang ingin ikut masuk, dia menggelengkan kepalanya kearah Masha. Sengaja dia lakukan, agar mengantisipasi hal buruk yang bakal terjadi.
...****************...
Didalam ruangan tersebut hanya ada Megan dan Tio yang tengah tidak sadarkan diri.
Megan mulai mendekati tempat tidur, menempelkan telinganya pada dada Tio, ternyata detak jantungnya masih ada, hanya saja sedikit melemah. Mungkin karena efek racunnya yang sudah menyebar.
Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik berukuran 5cc, membuka tutupnya. Kemudian menyuntikkannya secara perlahan pada bahu kanan Tio.
Tidak lama setelahnya, mata Tio terbuka sedikit demi sedikit. Dia mulai melenguh dan menggerakkan mulutnya.
“ Akkkkhh ” teriak Tio kaget, melihat sosok wanita yang menjadi mimpi buruknya semenjak seminggu yang lalu.
Brak....
__ADS_1
Edgar mendobrak pintu ruangannya dengan kencang, tidak perduli sisi depannya yang terlihat rusak.
Telinga Karl rasanya sangat sakit malam ini, sudah dua kali, dia mendengar suara pintu didobrak dengan kasarnya. Padahal pada masing-masing pintu memiliki kenop, mengapa mereka tidak memutarnya saja?
“ Kau pasti mau berbuat aneh kan? ” teriak Masha, satu pukulan mendarat tepat di pipi Megan.
“ Seharusnya kamu mengucapkan terima kasih, lihat aku berhasil menyembuhkan suamimu ”
Masha menghembuskan napasnya, dia berusaha menenangkan degup jantungnya yang menggebu-gebu ingin meninju Megan lagi.
“ Jika kau tau diri. Berikan dia padaku!! ” Perintah Megan yang diakhiri dengan tawanya.
Masha mengepalkan tangannya hingga memutih, mungkin memberikan pukulan sebanyak 2x pada wanita didepannya bukan masalah.
“ Ckck.... Sudah, hentikan semua ini ! Biarkan Tio istirahat terlebih dahulu. ” Saran Edgar sembari berdecak kesal.
...****************...
“ Kemana perginya temanmu membawa Tio, Hah? ” teriak Edgar menarik kerah kemeja Karl.
Karl yang baru saja bangun, hanya dapat menatap Edgar dengan heran. Ayolah....ini masih pagi, dan pria ini sudah mengganggu tidurnya.
“ Bicara apa kamu? Aku baru saja bangun dan langsung dituduh!! ”
“ Wanita tadi malam temanmu kan!? Pasti hilangnya Tio sudah kalian rencanakan. ”
“ Yang benar saja. Kamu menuduhku tanpa bukti. ” Marah Karl dan balik menarik kerah seragam Edgar.
Keributan kedua pria itu tak luput dari pandangan Masha dan Caroline, yang baru saja sampai disini.
“ Kalian kenapa? Apa terjadi sesuatu? ” tanya Masha ,sambil memandangi kedua pria didepannya.
Secara spontan keduanya langsung melepaskan tarikan masing-masing.
“ Karl dan wanita tadi malam, mereka menculik Tio. ”
“ Sudah aku duga. Niat mereka aslinya buruk. Aku cukup menyesal memintanya untuk datang. ” Jelas Edgar menatap Karl dengan sengit.
Disisi lain Karl menatap Masha sambil menggelengkan kepalanya, mencoba menjelaskan bahwa perkataan Edgar tidaklah benar.
“ Aku tidak tau akhirnya akan begini. Aku juga tidak habis pikir, mengapa Megan bisa senekat ini!? ”
“ Lebih baik, kita cepat mencari Tio. Wanita itu pasti belum jauh. ” Titah Masha. Ia berusaha tidak terprovokasi oleh tuduhan Edgar kepada Karl.
__ADS_1
Masha mengajak ketiga orang disana untuk naik keatas mobilnya. Mobil sport itu membelah jalanan yang amat dingin. Masha tidak tau ingin mencari Tio dimana, ia hanya mampu mengikuti nalurinya.