
Kicauan burung gereja membangunkan Masha, ia mengucek matanya sambil sesekali menguap.
Setelahnya, ia bangkit lalu berjalan menuju Tio. Niat awalnya ingin membangunkan pria itu, namun ternyata dia sudah bangun terlebih dahulu.
“ Sekarang, ayo! kita pergi ” ajak Tio
Melihat arloji dipergelangan tangannya, ini masih sangat pagi. Mengapa Tio sangat terburu-buru?
“ Masih pagi. Tunggu beberapa menit lagi ”
“ Aku tidak mau ” kata Tio yang sudah mengganti pakaiannya.
Dia ingin melepaskan infus ditangannya dengan cara menariknya, namun sangat sulit. Tidak sesuai dengan film-film yang pernah Tio tonton.
“ Kamu tidak bisa melakukannya. Aku akan memanggil dokter dan bilang, salah satu pasiennya tidak sabar untuk keluar ” seru Masha keluar dari sana.
Beberapa menit kemudian, Masha kembali bersama seorang perawat. Perawat itu membawa kapas dan alkohol.
“ Apa itu tidak sakit? ” tanya Tio, ketika perawat itu ingin melepaskan plester ditangannya.
“ Sama sekali tidak tuan, hanya akan sakit saat saya mencabut jarum infusnya keluar ” jawabannya sejujur mungkin.
Napas Tio langsung tercekat, ketika mendengar perkataan perawat tadi.
“ Akan saya mulai Tuan. Tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ”
Perawat itu memulai aksinya, dia membasahi kapas tersebut dengan alkohol terlebih dahulu, kemudian dengan perlahan mengusapnya pada plester yang masih menempel di tangan Tio. Dan menariknya dengan perlahan.
Akhirnya plester tersebut bisa lepas, menyisakan jarum yang berada didalam punggung tangan Tio.
“ Akhh ” pekik Tio, pembuluh darah arterinya seperti ikut tertarik. Ketika perawat itu menarik jarumnya keluar.
...****************...
Didalam mobil, Tio sibuk mengusap tangannya yang sudah ditempeli plester.
“ Masih sakit? ” tanya Masha penasaran
“ Iya ” jawabannya singkat
“ Apa ini pertama kalinya untukmu? Maksudku kamu terlihat sangat ketakutan, tidak pernah di infus sebelumnya ”
“ Aku tidak pernah, jika sakit, orangtuaku akan membiarkan diriku sembuh dengan sendirinya. Aku juga begitu, makanya aku tidak pernah masuk kerumah sakit sebagai pasien. ”
Penjelasan itu cukup membuat Masha heran, ia memilih diam dan fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang lenggang.
“ Ternyata aku memang belum tau banyak tentang dirinya ” batin Masha menambahkan kecepatan mobilnya.
Beberapa menit mengemudi, akhirnya mereka sampai pada bangunan yang bertuliskan kota xxx.
“ Akhirnya kita berada disini lagi ” Ujar Tio dengan suara yang lemah, kemudian dia jatuh kearah Masha.
__ADS_1
Jatuhnya yang secara tiba-tiba, membuat Masha kehilangan fokus pada mobilnya. Tanpa sengaja, ia membanting stir nya kearah kiri dan menabrak sebuah pohon.
Untungnya, Masha sudah mengurangi kecepatan mobil sebelumnya. Sehingga tabrakan mereka tidak terlalu keras.
“ Masha ” teriak Caroline, dia berlari dengan khawatir kearah mobil Masha.
Awalnya Caroline ingin menuju kearah pabrik, namun diperjalanan ia melihat mobil yang hilang kendali. Dengan cepat Caroline mengetahui, bahwa mobil itu milik Masha.
“ Masha bertahanlah ” ujar Caroline sambil membukakan pintu mobil.
“ Terima kasih ” ucap Masha yang sudah keluar.
Keadaannya tidak terlalu buruk, hanya keningnya yang terluka dan... sepertinya luka dikakinya terbuka lagi.
“ Bantu aku mengangkat Tio, Caroline ”
“ Ada apa ini? ” secara tiba-tiba Edgar muncul dari belakang.
“ Edgar. Tolong bawa Tio kerumah sakit, dia tiba-tiba pingsan tanpa sebab ” pinta Masha menarik tangan Edgar mendekat kearah Tio.
Tanpa berlama-lama Edgar mengeluarkan Tio dari dalam mobil, lalu menaikan Tio di punggungnya.
Dapat Edgar rasakan, punggungnya yang terasa sangat panas ketika Tio sudah berada diatasnya.
Dengan cepat, dia berlari membawa Tio menuju laboratorium.
“ Edgar, arah rumah sakit disana. Mengapa kamu menuju kelab? ” tanya Masha yang berlari mengejar Edgar.
“ Bertahanlah Tio, sebentar lagi kita sampai ”
...****************...
Edgar langsung menutup pintu ruang pribadinya, lalu meletakkan Tio diatas kasur miliknya sambil menepuk pipi pria yang lebih muda darinya itu.
Berharap pria itu dapat membuka matanya atau sekedar mengeluarkan gumaman.
“ Aku mohon bangun, hei Tio ” Edgar masih saja menepuk kecil pipinya.
Namun hasilnya nihil, Tio sama sekali tidak ada pergerakan. Edgar kemudian menghela napasnya, kira-kira siapa yang bisa membantunya sekarang?
Tiba-tiba sebuah nama terlintas dikepalanya, orang yang pernah menyekapnya dan mengaku dirinya sebagai Serigala. Mungkin meminta bantuan orang itu, tidaklah terlalu buruk.
Dengan perasaan panik, Edgar membongkar setiap laci yang berada disana. Seingatnya dia menyimpan ponsel milik Tio disalah satu laci tersebut.
Setelah membuat ruangan pribadi miliknya berantakan, akhirnya Edgar berhasil menemukan ponsel tersebut.
Jarinya dengan cepat menggulir layar ponsel, mencari satu nama yang terlintas dipikirannya tadi. Setelah ketemu dengan cepat, ia menekan panggilan disana.
“ Maaf, aku mengganggu waktumu tapi aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang. Tio sedang sakit dan aku tidak tau cara mengobati manusia serigala, kau manusia serigala bukan? Jadi aku mohon bantu aku sekar_ ”
Panggilan milik Edgar dimatikan sepihak. Padahal dia belum selesai bicara tadi, sekarang pupus sudah harapan Edgar. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa, untuk menyelamatkan Tio.
__ADS_1
“ Eum ” suara lenguhan mengalihkan atensinya.
Dia menuju kearah Tio, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening pria itu.
Rasanya masih sama seperti sebelumnya, sangat panas. Seakan-akan tubuh itu sedang mendidih.
“ Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa sekarang kamu bisa mendengarkan suaraku” ujar Edgar dengan suara serak.
Memejamkan matanya sembari menggenggam tangan itu, Edgar berharap panas badan Tio bisa segera turun.
“ Aku ingin masuk kedalam ” teriak suara ada luar
“ Tio sedang sakit, jangan membuat kekacauan disini ”
“ Karena dia sakit. Makanya aku datang menolong ”
“ Menolong? kamu hanya mencari kesempatan untuk menghabisinya kan? ”
“ Jawab Karl ”
Sayup-sayup Edgar mendengar keributan dari luar, sampai sebuah nama disebutkan. Membuat Edgar senang bukan kepalang.
“ Tio. Aku yakin kamu baik-baik saja setelah ini ” Edgar membuka pintu dengan kasar, menyebabkan orang-orang yang sedang berdebat didepan ruangannya tiba-tiba terdiam.
Pandangan orang-orang disana langsung menuju kearahnya. Menatapnya dengan heran.
“ Aku pinjam dia sebentar ” Edgar menarik tangan Karl masuk kedalam, lalu menutup pintu berwarna coklat itu kembali.
...****************...
“ Sebelumnya aku_ ”
“ Bantu aku dan jangan banyak bicara ” potong Karl dengan cepat.
Edgar menutup mulutnya rapat-rapat, duduk mendekat tepat disamping Karl. Kemudian melihat dengan serius apa yang akan dia lakukan.
“ Badannya sangat panas ” ujar Karl
Dia lalu mengambil sebuah pil dari saku celananya, dan memasukkannya kedalam mulut Tio.
“ Apakah itu bisa tertelan dengan sempurna? ” tanya Edgar dengan penasaran, karena melihat kondisi Tio yang sama sekali tidak sadarkan diri.
“ Pil itu dapat larut, dengan hanya terkena air liur saja ” jelas Karl, menjawab rasa penasaran Edgar.
Kemudian Karl mendekatkan bibirnya pada bibir Tio, sebelum kedua benda kenyal tersebut sempat menempel, Edgar menghentikannya terlebih dahulu.
“ Tunggu ! Ma-mau apa kau ? ”
“ Memberikannya napas buatan. Kamu lihat wajahnya yang sangat pucat ini? Itu berarti dia tengah mengalami henti napas, dan itu normal terjadi pada manusia serigala. Aku tebak dia habis terkena racun. ”
Edgar menutup kedua matanya, walaupun itu cuman memberikan napas buatan tapi tetap saja. Dia tidak terbiasa melihat yang seperti itu.
__ADS_1