
"Makasih pujiannya, Cantik." Narendra tersenyum, tulus sekali senyumannya karena terlihat jelas dari sorot matanya yang penuh kasih sayang.
"Lo kok bisa di sini sih?" Hara mengucek matanya karena masih sedikit mengantuk. Dia sedikit malu karena ketahuan tidur di kelas saat jam pelajaran walau sekarang sudah istirahat sebenarnya.
"Ini udah jam istirahat, makannya gue bisa bebas masuk ke kelas lo." Narendra mengusap tengkuk lehernya karena mendadak dia merasa sangat malu sekarang.
"Oh." Hara mengangguk pelan.
"Lo kenapa deh bisa tidur nyenyak banget di kelas. Sakit?" tanya cowok itu dengan sangat khawatir.
"Ngantuk doang," jawab Hara pelan.
"Nggak pengen ke kantin?" Narendra bertanya lembut sekali.
Cowok itu terlalu perhatian dengan Hara sehingga menimbulkan kesalahpahaman murid-murid yang lain di mana mereka beranggapan jika Hara dan Narendra memiliki hubungan yang spesial.
"Nggak!" Hara menggeleng.
"Kenapa?"
"Males, gue nggak bawa uang juga." Hara melipat kedua tangan di depan dada kemudian menyandarkan kepala di dinding kelas. "Lo ngapain ke sini?" tanyanya penasaran karena dia menganggap dirinya dan Narendra tidak sedekat itu sampai Narendra harus sering-sering menemuinya.
"Pengen lihat lo aja." Narendra menyugar rambutnya yang membuat aura kegantengan cowok itu langsung keluar.
"Sekarang udah lihat gue, terus mau ngapain?"
"Nanti sore gue mau tanding main futsal sama timnya Juan, lo mau lihat nggak?" Narendra berharap Hara mau datang dan menjadi suporter timnya.
"Gue nggak suka bola." Hara langsung menolak, dia paling malas menyaksikan pertandingan tentang bola, kecuali basket dan voli.
"Kalau gue undang lo buat datang, lo bakal datang nggak?"
"Mau ngasih apa kalau gue dateng?" Hara menatap cowok itu sinis, malas sekali kalau diminta pergi tetapi tidak diberi apa pun, apalagi melihat pertandingan yang sama sekali tidak dia sukai, sudah dipastikan dia akan sangat bosan nanti.
"Apa pun yang lo minta bakalan gue kasih." Narendra serius, dia mau memberikan apa pun asal Hara mau datang dan ada di pihaknya.
__ADS_1
"Tiket konser idol gue boleh?" Hara berharap Narendra akan mengiyakan.
"Boleh, sekalian nanti gue beliin albumnya juga sama gue temenin nonton konser dan bayarin semua kebutuhan, Lo."
"Serius, Lo?" Juan tentunya tidak akan mudah percaya dengan ucapan cowok itu.
"Dua rius." Narendra mengangguk sambil tertawa melihat Hara yang kegirangan.
"Kalau gitu gue mau, gue bakal dateng dan dukung lo nanti, em ... tapi kayaknya Lo harus jemput gue biar orangtu gue percaya dan ngizinin."
"Ok, nanti sore setelah pulang sekolah langsung siap-siap karena gue bakal langsung jemput, Lo." Narendra tersenyum puas, dia yakin bisa menang bertanding nanti jika Hara datang.
"Oke."
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu, sampai bertemu nanti sore." Narendra menepuk kepala Hara beberapa kali kemudian langsung keluar dari kelas Hara dan pergi ke kantin karena sudah sangat lapar dan ingin makan.
Baru juga Narendra keluar kelas, Juan langsung masuk ke kelas Hara dan duduk di sudut meja.
Hara yang sedang sibuk membaca komik di ponsel tidak menyadari kehadiran cowok itu.
"Hara!" panggilnya pelan sambil menepuk puncak kepala cewek itu dan berhasil membuat Hara mendongak kemudian menatap malas ke arahnya.
"Ngapain Lo ke sini? Ganggu aja!" Hara kesal.
"Kangen."
"Halah!" Hara kembali fokus membaca, tetapi ponselnya langsung Juan ambil dan dimasukkan ke saku celananya. "Balikin ponsel gue!" pintanya dengan menahan emosi.
"Nggak akan." Juan menolak.
"Ngeselin banget jadi cowok." Hara berdiri, dia akan pergi ke perpustakaan saja dan membaca buku di sana karena yakin Juan tidak akan bisa berisik di tempat itu jika nanti mengikutinya. Namun, niat Hara tidak berjalan mulus karena Juan langsung pindah duduk di sebelahnya dan mengurungnya sehingga tidak bisa pergi ke mana-mana.
Hara berdecak kesal, dia pun akhirnya duduk lagi di kursi dan memilih melihat tembok karena malas berdebat dengan cowok tampan di sebelahnya itu.
Hara mendengar suara berisik dari murid cowok yang lain dan dia sangat mengenali suara mereka.
__ADS_1
Arion, Dhimas, Nino, dan Gilang. Keempat cowok itu masuk ke kelas Hara dan membuat keributan di sana. Mereka datang karena mengikuti Juan yang mendadak pergi dan ternyata malah pergi ke kelas Hara.
"Bos, ngapain lo malah ke sini? Bukannya tadi mau pergi ke lapangan buat latihan futsal?" tanya Gilang seraya menghampiri Juan kemudian berdiri di sebelah cowok itu.
"Malah enak-enakan pacaran si Bos, padahal katanya sibuk mau latihan," sahut Arion yang sekarang duduk di bangku kosong tepat di depan Hara.
"Pacarannya nanti aja, Bos! Penting latihan dulu biar menang tanding nanti!" kata Dhimas yang duduk di meja depan Juan.
"Berisik!" Juan menggebrak meja karena kesal dengan kedatangan teman-temannya itu.
Nino hanya diam mengamati, dia sebenarnya malas datang ke sana kalau saja tidak dipaksa Gilang sebagai wakil ketua. Padahal dia lapar pengen ke kantin buat jajan dan makan, tetapi Gilang memaksanya agar ikut sebagai tanda solidaritas.
Nino menatap Hara yang terlihat kesal karena kedatangan mereka. Dia yakin kalau Juan sudah membuat mood cewek itu buruk karena terus cemberut dan seperti menahan kesal sekarang.
"Pergi kalian semua, gangguin gue aja!" teriak Hara sambil mendorong tubuh Juan sampai cowok itu oleng dan hampir jatuh kalau saja tidak ditahan Gilang.
"Galak banget ini ibu negara." Arion tertawa mengejek. "Sakit, woy!" teriaknya kemudian ketika lengannya dicubit keras Hara.
"Bawa pergi bos kalian dari sini! Gue mau tidur!" perintah Hara sambil melotot galak kepada cowok-cowok tampan itu.
"Nggak berani gue." Dhimas langsung angkat tangan.
"Bisa babak belur kalau maksa dia pergi tanpa kemauannya sendiri," jawab Gilang.
"Ayo pergi, Bos!" Arion menarik tangan Juan, tetapi langsung ditepis kasar oleh cowok itu.
"Kalian aja yang pergi dari sini, gue nggak mau latihan!" bentak Juan sambil mendorong satu per satu anggota gengnya itu. Namun, ketika dia hendak mendorong tubuh Nino, cowok itu langsung mengurungkan niatnya karena Nino menatap tidak ramah padanya.
"Kalian semua sama aja, berisik dan bikin gue sakit kepala. Pergi dari sini sekarang atau gue yang pergi?" Hara menatap mereka dengan penuh amarah.
"Sabar dong, Sayang. Jangan marah-marah begini sama calon suami sendiri!" Juan mencubit kedua pipi Hara dan menariknya gemas sampai pipi itu memerah karena sakit.
"Juan!" Hara meninju perut cowok itu dan membuatnya memekik sakit karena pukulan Hara cukup kencang.
"Sakit, bodoh?" Dia mendorong tubuh Hara dengan refleks sampai kepala cewek itu membentur tembok.
__ADS_1
Bersambung...